
"Tia, lu serius mau pulang? Apa tidak lebih baik lu itu mencari kerjaan lain di Ibukota, nanti gue bantu deh, carikan loker (Lowongan Pekerjaan) sama teman-teman gue, yang gajinya cukup buat kebutuhan lu, dan tidak berat," ucap Misi yang mana Misi dan Tulip saat ini sedang membantu merapihkan pakaian aku. Setelah tadi aku sempat mengobrol dengan Tulip dan Misi, akhirnya mereka sepakat untuk membayar perabotan aku. Niat awal aku ingin menitipkanya pada Misi dan juga Tulip, tapi mereka mungkin kasihan atau bagaimana justru mereka membayar perabotan aku yang mereka tidak punya.
"Tidak usah Mis, Lip, gue sudah yakin kalau gue akan pulang saja kok, bahkan gue sudah bilang sama Ibu dan Bapak kalau setelah ini gue akan pulang dan akan membantu mereka jualan di kampung," ucapku dengan yakin.
"Terus kalau Pak Gala tanya kita tentang kamu, kita harus bagaimana, tidak mungkin kita bisa bohong dan berkata tidak tahu dengan apa yang terjadi sama lu, sedangkan Pak Gala sudah sangat tahu kalau kita ini adalah sohib yang paling dekat." Kali ini gantian Tulip yang angkat bicara.
"Maaf Tulip, Misi kalian malah jadi terbawa dalam masalah ini, tapi tolong pake banget rahasiakan apa yang seharusnya dirahasiakan, bilang saja tidak tahu, dan tidak tahu. Gue tidak ingin menambah masalah lagi dalam hidup gue, sudah cukup selama ini gue masalah bertubi-tubi menghadang gue sangat lelah dengan perjalanan hidup terutama tetang cinta-cintaan, kalian tahu kan kalau usia gue masih sangat muda dua puluh dua tahu, seharusnya yang gue lakukan adalah sibuk dengan cita-cita dan juga sibuk dengan pekerjaan yang bisa gue gunakan untuk membantu perekonomian keluarga. Lagi pula Pak Gala itu sudah dijodohkan dan akan menikah gue tidak ingin menggagalkan pernikahan orang, biarkan kalau memang kami ada jodoh biarkan bertemu dengan sendirinya," balasku dengan sangat yakin, agar Misi dan Tulip tidak mengatakan apa yang terjadi dengan aku selama Pak Gala pergi.
Mungkin efek aku tidur siang barusan, kali ini otakku sedikit bisa diandalkan, tidak bersedih lagi. Kami pun terus bekerja mengemas pakaian ku yang tidak seberapa. Setelah hampir tiga jam merapihkan pakian dan nanti barang-barang di pindahkan kalau aku sudah pergi dan tentunya, aku sebelum pergi terlebih dahulu pamit dengan ibu kost dan memberitahukan kalau barang-barang aku akan diangkut oleh Misi dan juga Tulip.
Pukul sembilan malam aku pun pamitan pada Misi dan juga Tulip setelah mobil jemputan (Travel) sudah datang.
Untuk terakhir kalinya aku berpelukkan dengan Misi dan juga Tulip, kita adalah sahabat di mana yang awalnya tidak saling kenal dan juga tidak saling tahu satu sama lain, selama dua tahun ini Tulip dan Misi adalah teman terbaik teman yang tidak baperan dan juga tidak ada masalah apa pun.
__ADS_1
"Misi, gue minta maaf yah kalau selama kita berteman ucapan gue maupun perbuat gue yang disengaja maupun tidak sedikit banyak melukai perasaan lu. Gue minta maaf dan kalau ada hutang gue yang mungkin lupa gue bayar nanti lu tagih saja yah. Meskipun kita tidak akan lagi berteman secara langsung, tetapi kita akan terus saling berhubungan. Nanti gue akan kasih tahu nomor baru yang akan gue pakai, jadi kita akan tetap berkomunikasi," ucapku dengan pandangan mata yang sudah mengabur, itu karena adanya selaput bening yang melapisi bola mataku.
Hikhikhik... Misi justru terisak dengan ucapanku. "Lu nggak pernah salah Tia, kayaknya yang banyak salah memang gue. Pokoknya lu harus hubungi gue, dan lu kabarin gue kalau mau kawin," ucap Misi yang aku tahu kalau temanku itu sedang bermaksud menghiburku, yang sudah berkaca-kaca.
Benar saja aku berhasil terhibur bukan aku saja tapi Tulip yang sejak tadi berdiri dengan sedih pun ikut tertawa dengan candaan Misi.
"Tia, gue minta maaf yah selama ini gue paling jahil sama lu. Pokoknya maafin kejahilan gue... hik...hik... hik..." Tulip pun ikut nangis seperti Misi, sedangkan aku bukan berati tidak sedih, aku juga sedih tetapi aku tahu mana yang harus aku keluarkan kesedihanya dan mana yang tidak. Aku tidak mau teman-teman kost lain curiga dan tahu permasalahanku. Tadi ada beberapa teman kost yang bertanya, aku akan ke mana, dan aku berkata akan pulang kampung. Memang, tetapi dengan alasan keluargaku yang menginginkan aku pulang, jadi bukan karena dipecat oleh kakek dan juga ibu dari kekasihku. Meskipun sepertinya akan tetap meninggalkan banyak pertanyaan. Dan aku yakin setelah aku pergi dari sini akan banyak gosip yang kurang sedap.
Setelah aku bermelow-melow dan juga saling maaf-maafan dari semua yang pernah aku perbuat terutama pada Misi dan Tulip, kali ini aku beneran naik ke dalam mobil dan meninggalkan Tulip dan Misi, dan banyak kenangan di kontrakan ini, bukan hanya kontrakan, tetapi juga kota ini sudah banyak sekali mengajarkan aku banyaknya kenangan indah terutama dengan teman-temanku.
Setelah aku berbasa-basi dengan sopir dan teman yang aku baru temui di mobil, yang bertujuan sama pulang kampung ke kota yang tidak berjauhan. Aku pun memejamkan mata dan mencoba menguatkan hati ini.
Dunia ini memang sangatlah kejam. Ujian demi ujian tak henti menghadang. permasalahan silih berganti menikam. Raga yang rapuh. Hati yang mulai runtuh. Tapi dunia ini memaksa kita untuk tetap melangkah. Meyakinkan untuk tetap kuat bertahan. Aku terus yakin kalau aku kuat melawan. melawan, setiap rintangan yang akan datang. Mengambil pelajaran dari setiap permasalahan. dan menjadikan acuan untuk terus melangkah ke depan. Rating yang rapuh tak akan kembali utuh, tetapi raga dan hati yang rapuh tak boleh runtuh.
__ADS_1
Seharusnya aku bersyukur karena apa yang terjadi di antara aku dan juga Pak Gala belum terlalu jauh, bisa dibilang hubungan aku dan Pak Gala masih seumur jagung, sehingga bisa dibilang aku belum terlalu banyak menaruh harapan pada hubungan ini, meskipun tidak dipungkiri rasa sakit dan kecewa pasti ada apalagi aku sampai kehilangan pekerjaan, tetapi aku yakin Tuhan pasti tengah menyiapkan jodoh yang terbaik untuk aku, atau mungkin aku dan Pak Gala memang belum berjodoh saat ini, tetapi mungkin berjodoh dikedepannya.
Tuhan memang mengizinkan umatnya untuk mengubah alur hidupnya, tetapi Tuhan juga telah menentukan akhir dari setiap kisahnya. Rencana yang yang telah ditentukan tak selamanya memang bisa diwujudkan. Mimpi yang telah diharapkan tak serta merta bisa menjadi kenyataan. Sejatinya manusia bisa berencana, dan tetap Tuhan lah yang menentukan segalanya. Tidak ada yang tahu akan apa yang terjadi kedepannya. Hanya keyakinan baiklah yang selalu diharapkan.
Aku banyak sekali belajar dari setiap kejadian yang menimpaku akhir-akhir ini. Satu sisi aku merasa sangat sakit, tetapi satu sisi aku bisa menikmati sakit itu sebagai cambukan agar aku lebih kuat lagi, aku tidak akan merasakan kuat apabila aku tidak merasakan sakit dahulu seperti yang sekarang aku rasakan.
Cinta tidak harus tentang memiliki, dan juga tidak harus tentang menyayangi. Cinta bisa saja tentang sadar diri dan keikhlasan. Membiarkannya bahagia dengan pilihannya. Cinta tidak harus dari seorang kekasih, cinta dapat mengalir dari mana pun. Bahkan diri sendiri bisa menjadi sumber cinta. Dari orang tua dan saudara bukankah bisa dikatakan cinta, lalu kenapa selalu sang kekasih lah yang sering dikaitkan dengan Cinta?
Selamat tinggal Jakarta semoga kita bertemu di kemudian hari.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1