
"Tante, tolong jangan buat kegaduhan." Mas Gala dengan suara pelan memperingatkan ibu tirinya. Aku tetap dengan mode santai, apalagi dengan Tante Mixel yang aku lihat memang sedikit menyebabkan. Ah, lebih tepatnya aku masih tidak suka sejak kejadian pertama kali kami bertemu.
"Dia yang mancing." Sudah menjadi tabiat Tante Mixel kalau dia selalu tidak mau kalah, itu yang aku dengar dari penjelasan Mas Gala maupun Momy Bela.
"Mih, kita keluar yah." Lagi-lagi Papi Yusuf yang selalu menjadi penengah. Tante Mixel pun meskipun bisa aku lihat kalau ia masih terlihat gondok dan kesal dengan ku, tetapi setelah di tarik tanganya agar mengikuti Mami Mixel langsung bangun dan ikut dengan papi mertua untuk keluar.
Sedangkan aku kini duduk di samping Mas Gala dan Kakek terbaring, masih terlihat sangat pucat. Cukup lama dalam ruangan terlibat kebisuan baik aku sendiri, Mas Gala maupun Kakek semua seolah tengah berlomba-lomba untuk mengunci mulutnya, tidak ada yang ingin memulai untuk memulai obrolan.
"Apa yang Gala janjikan sama kamu, sampai kamu mau menikah dengan dia?" tanya Kakek, akhirnya yang lebih tua mengalah juga untuk membuka obrolan duluan.
Di bawah sana tangan Mas Gala menggenggam dengan kuat tanganku untuk memberikan dukungan, Aku memang sedikit gugup, tetap selama dalam perjalanan aku sudah menyiapkan semuanya sehingga tidak terlalu tegang sekali lah. Gugup dan tangan dingin bagi aku itu masih wajar.
"Cinta, dan kesetiaan," jawabku dengan sangat yakin meskipun aku yakin jawabanku hanya akan diremehkan oleh Kakek.
__ADS_1
Benar saja aku melihat Kakek mengangkat sebelah bibirnya memberikan senyum yang mengejek. "Harta?" tanya Kakek lagi.
Yah, aku sih tidak kaget selalu dituduh mencintai mantan atasanku dengan embel-embel harta. Logikanya memang ia sangat masuk akal aku mau menikah dengan Pak Gala hanya karena ingin numpang hidup enak. Sangat sulit apabila dilihat dengan nalar dengan segala perbedaanku, baik dari harta, umur dan setatus kami. Pandangan orang-orang pasti akan selalu berpikir seperti itu. Aku mau menikah dengan mantan atasanku semua karena harta. Si miskin akan selalu dituduh menumpang hidup pada si kaya.
"Andai Tia mau harta, kenapa uang yang Anda berikan bersama dengan Tante Mixel saya tetap simpat tanpa ingin memakai barang serebu pun. Padahal saya tidak pernah berpikir bakal ketemu lagi dengan Pak Gala maupun Anda. Memang saya bertekad kapan pun itu saya akan menemui Anda untuk mengembalikan uang-uang itu, tetapi semua rencana saya belum terlaksana saya sudah bertemu dengan cucu Anda." Lagi, aku menjawab dengan sangat yakin, terserah apa penilaian Tuan Piter, tetapi asal ia tahu kalau Tia tidak pernah ingin menikahi cucunya karena harta.
"Aku masih belum percaya kalau belum benar-benar kamu membuktikanya."
"Bukti? Maksud Kakek bukti yang seperti apa lagi. Boleh Anda tanyakan apa saja yang sudah saya minta dari cucu Anda, Tuan. Entah berapa kali saya bilang pada Pak Gala jangan belikan saya barang maupun pakaian yang mahal-mahal kalau uang itu hasil warisan, saya tidak pernah takut tinggal di rumah kos-kosan dari pada tinggal di rumah mewah, tapi hati saya tersakiti setiap hari. Kita adalah pasangan yang sudah berjanji akan terus bersama meskipun nanti tidak punya apa-apa." Entalah hatiku selalu tidak terima apabila aku dicap sebagai wanita yang hanya numpang ingin hidup enak, pada suami.
"Tanpa Kakek minta, saya sebagai wanita juga ingin memberikan keturunan untuk suami saya. Saya ingin rumah tangga ini bahagia dengan hadirnya buah hati. Saya ingin sempurna sebagai wanita," jawabku dengan yakin. Genggaman tangan Mas suami pun semakin kuat.
"Kakek tidak usah takut kalau Tia akan meminta jatah warisan dari Kakek, dari awal Gala tegaskan sekali lagi kalau Gala dan Tia tidak akan menguasai harta Kakek, kami akan hidup dengan harta yang dihasilkan oleh kita berdua."
__ADS_1
Kali ini Mas Gala pun angkat bicara dan aku pun heran kenapa Kakek selalu berpikiran yang tidak-tidak tetang hartanya apakah semua itu akan dibawa mati?
Ah, sudahlah aku tidak mau ambil pusing dengan ucapan Kakek. Saat ini aku hanya perlu fokus untuk bisa cepat hamil dan membuktikan kalau rumah tangga kami akan lebih bahagia dengan adanya anak, dan mungkin dengan adanya buah hati di tengah-tengah pernikahan kami Kakek akan merestui hubungan kita dan tahu kalau tujuan aku menikah dengan Mas Gala bukan karena harta semata.
Ruangan pun kembali sepi, dan kami pun pamit untuk menunggu di luar ruangan karena saat ini sudah jatah Kakek istirahat dan sudah ada perawat yang ditugaskan untuk memantai kesehatan untuk Kakek sehingga kami hanya menunggu di luar ruangan saja. Biasa orang kaya semua diatasi oleh tenaga ahlinya. Termasuk perawatan untuk Kakek, bukan anak dan cucunya yang bertugas untuk mengurusnya, tetapi ada anggota khusus yang ditugaskan untuk memastikan semuanya baik-baik saja.
Kembali tatapan tante Mixel benar-benar tidak enak ketika aku dan Mas Gala baru keluar dari ruangan Kakek. Aku sih santai aja ketika tante Mixel tidak suka dengan aku, asal Momy Bela baik sudah lebih dari cukup. Toh aku tinggal juga bersama Momy Bela bukan dengan tante muka judes itu. Ah, mungkin tante Mixel takut kedudukannya tergeser oleh aku. Apalagi Papi Yusuf menikah dengan tente Mixel belum juga dapat keturunan. Padahal jelas kakek ingin punya cucu lebih dari satu.
Bersambung....
...****************...
Sembari nunggu kisah kelanjutan kisah Tia yuk mampir ke novel bestie othor....
__ADS_1