
"Tia tidak ingin Allah marah." Kali ini aku yakin kalau Pak Gala pasti akan mengerti jalan pikiranku.
"Ok, kalau gitu bagaimana kalau kita nikah!"
Uhuk... Uhukk..... Aku tersentak kaget dengar ucapan Pak Gala. Bagaimana tidak kaget, pikiran aku laki-laki itu akan percaya dengan yang aku katakan, dan tidak bertanya macam-macam lagi, tapi malah Pak Gala mengajakku menikah. Aku menghirup nafas dalam dan menyembuhkannya perlahan dan aku juga pejamkan mataku untuk mencoba menenangkan pikiran ini dan tidak lagi terpancing dengan ucapan Pak Gala. Andai saja keluarga Pak Gala menyetujui hubungan kita sudah pasti aku akan sangat bahagia kalau dilamar oleh laki-laki yang masih aku cintai sampai detik ini.
Namun, kenyataan tidak semanis perandaian. Yah, hubungan kita sampai kapan pun tidak akan pernah bersatu, karena terhalang oleh restu.
"Pak Gala ini sudah malam baiknya kembali ke kamar, Tia juga harus istirahat karena besok kerja," ucapku mengabaikan apa yang dikatakan oleh Pak Gala meskipun aku tahu kalau aku tidak akan pernah bisa mengabaikannya, dalam pikiran aku pasti akan semakin serba salah.
"Aku tidak akan kembali ke kamar kalau kamu belum menjawab ucapan aku tadi," balas Pak Gala dengan tegas, kembali keras kepalanya kambuh lagi.
"Pak Gala, harus bagaimana lagi Tia memohon sama Pak Gala agar mengerti dengan keadaan Tia, saya di sini kerja. Ingin kerja dengan tenang bukan dengan masalah-masalah yang lain. Intinya kita sampai kapan pun tidak akan pernah bersatu. Sudah berapa kali Tia bilang tembok yang memisahkan kita terlalu tinggi sehingga kita tidak mungkin bersama," balasku dengan nada yang sedikit ditekankan. Yah besar harapanku kalau Pak Gala mengerti dengan apa yang aku katakan.
"Jadi benarkan apa yang aku tebak, ada keluarga aku yang mengancam kamu. Katakan siapa yang melakukan itu. Aku akan pastikan dia tidak akan lagi berani berkata seperti itu."
Aku sudah sangat lelah dengan pertanyaan yang tidak ada habisnya. Kalau aku layani terus Pak Gala pasti tidak akan berhenti untuk menekan aku sehingga aku tidak akan bisa istirahat. Aku harus cepat mengambil keputusan.
__ADS_1
"Pak Gala, mau sampai pagi di kamar Tia? Kalau ia biar Tia istirahat di tempat sholat saja." Aku berjalan mendekat ke tempat tidur untuk mengambil bantal dan selimut, lalu aku akan istirahat di tempat sholat. Namun, tangan aku malah digenggam dengan kuat oleh Pak Gala.
"Aww... Pak Gala lepaskan Tia sakit,"rengek ku ketika Pak Gala justru memegang tanganku dengan kuat.
"Tia... kamu kenapa?" Suara Momy Bela membuat aku semakin panik. Yah, pasti aku akan terkena masalah setelah ini.
"Pak Gala ada Momy Bela, cepat sembunyi, nanti Momy bisa marah dengan Tia dan Tia akan di pecat, belum nanti dituduh gangguin Pak Gala." Dengan reflek aku mendorong dada Pak Gala agar sembunyi tetapi laki-laki dengan badan tegap dan tinggi justru tetap bergeming. Tubuhku yang lebih kecil pun tidak bisa mendorong tubuh Pak Gala. Hingga aku tidak ada kesempatan untuk mengelak lagi ketika Momy Bela masuk ke kamarku, dan posisiku sangat dekat dengan anaknya. Belum tangan aku di pegang oleh Pak Gala.
Reflek aku langsung minggir agar jarak aku tidak terlalu dekat dengan Pak Gala. Jantungku semakin memburu, bahkan lututku seolah tidak ada tulangnya, sekujur tubuhku lemas. Dalam pikiranku sudah memikirkan banyak masalah setelah ini.
"Gala, Tia ngapain kamu di sini? Gala kamu bukanya seharusnya istirahat ngapain di kamar Tia? Tia kamu ada hubungan apa dengan anak Momy?" cecar Momy Bela dengan tatapan mata seolah tengahmenguliti tubuhku.
Perlahan aku pun memberanikan diri untuk mengangkat wajahku dan menatap Momy Bela.
"Apa wanita itu adalah Tia?" tanya Momy Bela dengan suara yang lirih, dan pandangan mata menatap aku, dan aku pun hanya perlu diam, karena aku yakin Pak Gala akan menjelaskan semuanya.
"Iya dia adalah Tia, makanya Gala datang ke kamar Tia untuk menanyakan alasan dia pergi meninggalkan Gala," balas Pak Gala lagi, yah sesuai yang aku yakini laki-laki yang masih memegang tanganku menjawab dengan tegas.
__ADS_1
"Apa perasaan kamu masih sama dengan gadis itu?" tanya Momy Bela kembali, yang membuat aku justru semakin serba salah. Saking aku merasa bersalah aku sampai sakit kepala memikirkannya.
"Sulit bagi Gala melupakan wanita yang sudah Gala cintai," jawaban Pak Gala semakin membuat aku bersalah. Yah, bagaimana tidak sampai detik ini Pak Gala masih mencintai aku, tetapi aku harus kembali mengecewakannya. Cintanya tidak akan pernah bisa bersatu.
"Baiklah, kamu kembali ke kamar kamu. Dan istirahat yang tenang. Biarkan Momy akan bicara dengan Tia," ucap Momy Bela yang membuat jantungku memompa darah semakin kencang. Aku kembali teringat akan kejadian tiga tahun silam yang mana aku di sidang dengan tujuan agar menjauhi Pak Gala. Bukan tidak mungkin kalau Momy Bela juga akan melakukan hal yang sama padaku saat ini.
Yah, menjadi orang yang dari kalangan bawah memang sangat tidak enak terutama ketika kita mencintai seseorang yang dari kelas yang jauh berbeda. Kita akan selalu diingatkan kalau orang kaya hanya untuk orang kaya yang miskin ya cari yang miskin juga. Dalam batinku aku tersenyum getir.
"Gala, kamu percaya kan sama Momy, kalau Tia tidak mau bercerita dengan kamu jangan dipaksa, mungkin ada hal yang harus dia jaga. Biarkan Momy yang akan bicara dengan Tia. Biarpun Momy bukanlah Momy kandung kamu tapi Momy tahu mana yang terbaik untuk kamu, dan Momy akan lakukan semua yang terbaik untuk kamu, dan sekarang tugas kamu kembali lah ke kamar dan biarkan Momy yang bicara dengan Tia." Momy Bela kembali mencoba berbicara dengan Pak Gala, yang kali ini didengar, dan tanganku pun di lepaskan dan perlahan Pak Gala berjalan meninggalkan kamarku dengan gerakan yang pelan.
Aku semakin merasakan situasi yang semakin sulit dan mencekam ketika Momy Bela masuk ke kamarku dan menutup pintu kamar. Aku hanya bisa menunduk dengan jari-jari saling bertaut, dan aku sudah pasrah, dengan keputusan Momy Bela nantinya.
"Duduklah Tia, Momy akan bertanya dengan kamu, tapi tolong jawab dengan sangat jujur, karena Momy tidak suka kebohongan, dan juga Momy tidak suda ada yang ditutup-tutupi." Suara Momy Bela sangat berbeda dari biasanya, dan lagi-lagi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Yah, aku harus mengikuti apa kata Momy Bela, berbicara jujur dengan pertanyaan yang akan Momy Bela tanyakan.
"Tia akan menjawab dengan jujur apapun resikonya," ucapku dengan yakin.
Aku percaya pasti ada terang setelah gelap.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...