
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Juan Galaxy Al-Azam bin Yusuf Al-Latif dengan anak saya yang bernama Mutia Arum Wulandari bin Dharsono dengan maskawin berupa satu set perhiasan seberat lima puluh gram, uang tunai satu milliar, dibayar tunai."
Bapak menghentakkan tangannya dengan kuat agar Mas Gala segera melafalkan kabul. Hatiku terkejut ketika mendengar maskawin nya, sebelumnya baik Mas Gala, maupun Momy Bela tidak mengatakan maskawin akan sebanyak ini.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Mutia Arum Wulandari bin Darsono dengan maskawin tersebut, tunai.” Mas Gala dengan pantang langsung menjawab kabul dalam satu kali tarikan nafas.
"Bagaimana saksi, sah...?"
"Sah..."
Hati ini langsung berdesir hebat, ketika mendengar kata 'Sah' aku masih merasa kalau ini mimpi. Dalam hitungan minggu aku kembali bertemu dengan Pak Gala dan hari ini aku sudah sah menjadi istri dari laki-laki yang ada di sampingku. Laki-laki yang pernah aku dambakan.
Acara pun terus bergulir, hingga tiba di acara sungkeman meminta restu pada orang tua kami, dan Bapak juga tahu kalau pernikahan ini hanya pernikahan sederhana yang penting sah di mata hukum dan juga agama. Bapak juga tahu alasan kami melangsungkan pernikahan secara sembunyi-sembunyi, sedangkan calon suamiku orang yang mampu apabila mau melakukan pesta pernikahan yang mewah. Aku bisa melihat wajah Bapak yang nampak sangat bahagia karena aku kini sudah menikah.
Tanpa terasa air mata ini terus mengalir ketika aku mulai sungkem pada Bapak dan juga kedua mertuaku. Yah, hati ini rasanya belum ikhlas kalau tidak ada Ibu dan Lili yang berada di sini bahkan foto keluarga pun kurang karena tidak adanya ibu dan Lili.
__ADS_1
"Maaf kalau kamu sedih dengan pernikahan ini, aku janji kalau ada waktu nanti kita akan berkunjung ke rumah kamu dan nanti kita akan foto keluarga agar kamu punya foto keluarga, dan kalau Kakek sudah merestui hubungan kita, aku janji akan melakukan pesta pernikahan seperti pernikahan aku sebelumnya, dan nanti di sana akan ada keluarga kita yang lengkap," ucap Mas Gala, dengan mengusap air mata yang turun membasahi pipi. Untung make up yang aku gunakan adalah make up yang cukup mahal sehingga tidak luntur ketika terkena air mata.
"Tia bukan ingin pesta pernikahan, Tia hanya takut nanti tidak bisa membahagiakan Mas, dan juga nanti bakal mengecewakan orang tua kita," jawabku sedikit berbohong, meskipun yang aku katakan itu benar, tetapi ada perasaan lain yang membuat aku tidak bisa tenang. Aku takut kalau ibu tidak merestui pernikahan kami nantinya banyak masalah, hanya itu yang mengganjal dalam pikiranku, belum pernikahan kami juga tanpa restu dari tertua dalam keluarga suamiku, siapa pun yang jadi aku pasti merasakan ketakutan yang sama, takut kalau nantinya aku tidak bisa membuktikan kalau cinta kita tidak berjalan dengan mulus.
"Yah, aku tahu apa yang kamu rasakan, tapi aku hanya minta satu pada kamu, apapun yang terjadi pada kita nanti jangan pernah lepaskan genggaman tangan ini agar kita bisa menghadapi masalah bersama-sama," balas Pak Gala yang langsung aku balas dengan anggukan kepala yang kuat.
"Tia justru takut kalau nanti malah Mas yang meninggalkan Tia, Mas belum tahu betul sifat Tia yang buruk, selama ini yang Mas tahu adalah sifat Tia yang baik-baik saja yang buruk belum terbongkar. Tia takut nanti malah Pak Gala akan benci dan ilang filing ketik tahu Tia seperti apa, terutama tabiat jelek Tia," ucapku, aku hanya ingin mengetes bagaimana reaksi Mas Gala, apakah laki-laki yang baru saja menyandang status suamiku akan menyerah dengan perjuangan cinta kita.
"Entah berapa kali aku berjanji kalau aku tidak akan meninggalkan kamu. Kamu adalah wanita satu-satunya yang berhasil menggetarkan hati ini, dan selama tiga tahun ini rasa itu tetap sama, bahkan baru dengan nama kamu saja aku sudah deg-degan. Mungkin kamu lihat aku biasa saja, tapi tidak hatiku, rasanya dada ini mau meledak ketika mengucapkan ijab kabul tadi. Aku senang sekali karena pada akhirnya aku bisa menikah dengan kamu, dan kamu mulai saat ini bisa aku peluk," bisik suami baruku yang membuat aku jadi merinding.
Untung Momy Bela menyelamatkan aku dari rasa malu ini. Ah, aku sendiri tidak tahu mau ku sebenarnya apa, dulu aku sangat menginginkan menjadi pasangan mantan atasanku itu, bahkan setip mau tidur aku selalu membayangkan menjalin hubungan dengan atasanku, tapi sekarang impian itu sudah menjadi kenyataan. Namun, malah aku malu, bahkan untuk menatap matanya aku juga tidak berani, lalu bagaimana nanti malam kalau suamiku meminta haknya sebagai suami?
Aku berjalan menghampiri keluargaku dan juga beberapa karyawan toko dan sopir yang menjadi saksi di pernikahan aku dan Mas Gala. Aku memilih duduk di samping Bapak, sedangkan suami baruku duduk bersebelahan dengan Momy Bela dan Papi Yusuf.
"Tia, Bapak tidak bisa lama di Jakarta karena di kampung juga banyak kerjaan. Bapak hanya ingin berpesan sama kamu dan Nak Gala, jalani pernikahan ini dengan tulus, dan terima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Setiap rumah tangga pasti bakal banyak cobaannya, semoga kalian bisa menghadapi cobaan yang menghadang dengan kepala dingin, jangan pernah saling melempar kesalahan, selalu introspeksi diri dan saling terbuka." Bapak dengan sabar memberikan wejangan untuk aku dan juga suami baruku.
__ADS_1
Meskipun jujur aku masih sangat kangen dengan Bapak, tapi sekali lagi, aku harus tahu kalau pekerjaan Bapak di kampung memang banyak, apalagi musim tanam seperti sekarang ini, Bapak tidak bisa terlalu lama meninggalkan pekerjaannya.
"Jujur, Gala masih kangen, dan ingin cerita panjang kali lebar dengan Bapak, tapi kalau Bapak memang mau pulang karena banyak pekerjaan belum Ibu juga lagi kurang sehat badanya. Gala tidak bisa menahan Bapak lebih lama tinggal di sini. Nanti ada supir yang akan antar Bapak. Gala juga nitip salam untuk Ibu dan juga adik Lili. Nanti kalau pekerjaan Gala tidak banyak, kami akan pulang ke kampung Tia, untuk silahturahmi," jawab Mas Gala lebih dulu.
"Ibu dan Lili pasti senang kalau kalian pulang," balas Bapak, sedangkan aku tidak bisa berkata apa-apa. Yah, aku kalau dalam posisi ramai seperti ini malah rasanya tidak bisa berbicara dengan bebas, aku lebih nyaman dan bisa berbicara kalau aku dan Bapak saja, kalau dalam posisi kumpul seperti ini, bibirku jadi kaku. Bukan hanya bibir, otak ku pun jadi tidak bisa berpikir apa-apa.
"Sama dengan Gala, kami juga sebenarnya masih kangen dan ingin bercerita panjang dengan besan, tapi kalau memang besan di kampung banyak kerjaan kami juga tidak bisa menahan. Kami selalu orang tua Gala, hanya bisa nitip salam untuk ibunya Tia dan juga adiknya. Apabila suatu saat kangen dengan Tia dan ingin main ke Jakarta tinggal bilang saja pada Tia. Nanti sopir kita bakal jemput ke kampung halaman. Jadi tidak perlu naik bis ataupun travel." Kali ini Papi Yusuf yang menitipkan salam untuk keluargaku di kampung. Aku sangat senang karena kedua mertuaku sangat baik dan pengertian.
"Itu gampang besan, masalah ibunya Tia itu mabokan, jangankan ke Jakarta ke kota yang jaraknya tidak terlalu jauh juga mabok, kalau tidak mabokan ini juga pasti ikut ke Jakarta, apalagi Lili sebenarnya ingin ikut ke Jakarta, maklum sampai usianya dua puluh tahun belum tahu kota Jakarta seperti apa," kelakar Bapak yang berhasil membangun suasana jadi lebih hangat.
"Wah, kalau gitu Lili bisa main ke sini kalau sedang libur sekolah," balas suamiku yang sangat penasaran wajah Lili seperti apa.
Setelah mengobrol dengan hangat dan juga makan siang paska pernikahanku. Sore hari Bapak bersiap untuk kembali pulang ke kampung halaman. Dan secepatnya kalau urusan aku dan keluarga suamiku sudah lumayan tenang, aku berjanji akan pulang untuk silahturahmi pada Ibu dan mengenalkan menantunya.
Bersambung....
__ADS_1
...****************...