
"Kamu sangat cantik tanpa kerudung, aku suka rambut kamu yang hitam," ucap Mas suami ketika hijab ku di buka untuk pertama kalinya di hadapan mas suami.
"Terima kasih pujiannya, tubuh Tia sampai ingin terbang," balasku dengan setengah berkelakar, berusaha menghilangkan rasa malu. Terlebih Mas suami terus menatapku seolah aku aka hilang kalau Mas suami mengedipkan matanya.
"Aku sangat beruntung karena bisa dipertemukan dengan kamu, keberuntunganku bertambah ketika kamu mau menerimaku menjadi suami kamu. Meskipun sebagai status duda dua kali gagal membina rumah tangga." Wajah Mas suami terus mendekat ke wajahku dengan tangan yang juga mulai menyusuri wajahku dan aku pun semakin tidak bisa menghindar, terutama ketika tangan Mas Gala berada di belakang kepalaku dan mendorong dengan lembut kepalaku hingga rasa hangat pun aku rasakan di bibir ini. Cukup lama kami larut dalam pemanasan yang berhasil membuat sekujur tubuhku mere-mang sempurna. Rasa yang aneh terus menguasai tubuhku.
"Kamu belum pernah ciuman bibir?" tanya Mas suami yang mungkin merasakan kalau aku masih sangat kaku, bukan hanya kaku tapi di wajahku langsung keluar keringat sebesar biji jagung. Kamar ini rasanya sangat panas padahal suhu ruangan sudah dingin, tapi aku masih merasakan panas di tubuhku.
Aku menggeleng memberikan jawaban atas pertanyaan Mas suami. Yah, meskipun aku dan Yuda dulu menjalin kasih cukup lama, tapi aku masih bisa menjaga tidak melakukan hal yang Allah larang. Dalam prinsip ku dulu aku tidak ingin membuat Ibu dan Bapak malu, kalau aku melakukan hal yang terlarang seperti itu, dan ketahuan oleh pihak sekolah atau warga, aku dan keluargaku yang akan malu.
"Jadi aku yang pertama?" tanya Mas suami lagi dengan senyum yang semakin lebar dan penuh arti.
Kembali aku memberikan anggukan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Mas suami.
"Ya Tuhan, aku sangat bersyukur karena ternyata aku adalah orang yang pertama bisa bersilahturahmi ke dalam tubuh kamu, untuk menanamkan benih cinta kita." Mas Suami terus memuji ku hingga aku larut dalam situasi yang tegang.
Aku merasakan kalau tangan Mas suami perlahan membuka kancing piyama yang aku pakai. Aku pun membiarkannya, meskipun tidak memungkiri kalau aku merasakan malu, tetapi bukanya pasangan suami istri sudah biasa saling membuka pakaiannya, rasanya pasti tidak akan nikmat kalau pakaian yang masih menempel di tubuh kita.
Dengan hitungan detik tubuh ku pun sudah polos sama seperti tubuh laki-laki yang sudah halal untuk aku sentuh. Aku memejamkan mataku ketika Mas suami menautkan jemari tangannya dengan tanganku. Jujur aku sangat risih dan belum terbiasa ketika tubuh ini polos tanpa adanya sehelai benang pun yang menempel.
Dengan gerakan lembut Mas Gala menahan tanganku ke atas, serta sorot matanya terus menatap wajahku dengan tajam. Aku pun melakukan hal yang sama. Hati nurani ku yang menuntun untuk melakukan hal yang sama, menatap Mas suami penuh damba. Seolah pandangan mata kami saling berkomunikasi.
Apabila biasanya aku ketika di tatap Mas Gala maka menunduk malu maka tidak kali ini aku justru menatap balik Mas suami, pandangan mataku terus tertuju pada wajah tampan Mas suami, aku tengah mengagumi makhluk ciptaan Tuhan yang sangat sempurna di hadapanku. Pantas saja dari dulu banyak yang bermimpi jadi pasangan kencan Mas Gala, termasuk aku. Itu semua karena wajah mas suami yang tampan dan rupawan, dengan jarak yang begitu dekat.
Tangan Mas suami kembali menelusuri setiap wajah ku, hidungnya yang mungil tetapi menantang ke depan, pipi mulus dan ada bulu-bulu halus yang tumbuh di dagunya, dan bulu mata yang lentik menambah kadar ketampannya. Aku benar-benar terbuai dengan wajah dan tubuh mas suami yang sangat sempurna.
Aku membiarkan Mas suami menguasai tubuhku, dan sesekali mata ini terpejam ketika sentuhan tangan Mas suami mulai berkeliaran ke mana-mana.
Kembali tangan mas suami mengusap bibir ku yang tipis dan merah, mungkin rasanya laki-laki itu tidak sabar lagi menjamah tubuh ini. Mas suami menggeser tubuh polosnya menjadi semakin dekat dengan posisi aku, dan aku pun sudah berusaha siap untuk melayani kang mas suami. Tangan mas suami meraih dagu ku dan mulai menyatukan kembali benda kenyal, tidak banyak yang dilakukanya hanya ciuman singkat. Aku yang baru pertama kali belum tahu bagai mana harus memuaskan suami dan untungnya Mas suami pun sangat maklum dengan apa yang aku rasakan. Toh nanti apabila sudah terbiasa justru bisa-bisa aku yang akan lebih bisa mengimbangi permainannya. Atau justru aku sebagai pengendali di setiap permainan.
__ADS_1
Sentuhan lembut yang Mas suami berikan terus membuat aku merasakan rasa yang aneh, rasa panas pun mulai menjalar di tubuhku. Bahkan bibir mungilku tidak bisa di ajak kerja sama, erangan kecil terdengar sesekali dari bibirku. Ketika suara itu lolos, aku pun buru-buru membekapnya dengan telapak tangan dan menyembunyikan wajahnya dibalik telapak tanganku.
"Tidak apa-apa Sayang, lepaskan saja suaranya, karena itulah nikmatnya. Kalo ditahan tidak enak," ucap Mas suami di balik daun telinga ku, nafasnya yang hangat membuatĀ bulu-bulu halus di tubuh ini berlomba-lomba memberikan tanda bahwa aku sudah merasakan siapa, untuk Mas suami melanjutkan keritual selanjutnya. Namun sepertinya Mas suami masih terlalu suka dengan bukit yang tidak terlalu besar milikku, tapi pastinya pas di tangan kang Mas bojo, pucuk bukit yang ranum menjadi tempat favorit untuk Mas suami mainkan. Otakku sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Terlebih ketika bibir seksi Mas suami bermain dengan manja di atas puncak gunung yang menantang.
Bahkan bukan hanya desa'han halus yang lolos dari bibirku. Aku pun beberapa kali menyebutkan Mas suami.
Aku memang belum pernah melakukan penyatuan, tetapi insting dan respon tubuh menuntun ku untuk melakukan hal yang lebih, menuju surga yang memabukkan, sentuhan dari tangan ku di punggung Mas suami seolah itu adalah dorongan agar kang Mas bojo melakukan lebih.
Percobaan demi percobaan yang Mas suami lakukan agar bisa membuka jalan menuju surga, membuat aku beberapa kali meringis menahan rasa sakit.
"Sa... sakit..." ringis ku.
Mas suami pun kembali merilekskan tubuhnya, dan usahanya ditunda dulu yang terpenting aku tidak lagi meringis karena rasa sakitnya.
Mas Gala mengusap wajahku yang banyak mengeluarkan keringat. "Apa mau setop dulu, dan besok dicoba lagi, kalau memang kamu sakit," ucap Mas suami dengan suara yang lembut. Mungkin Mas suami tidak tega melihat aku yang meringis dan merasakan sakit. Mas Gala tentu tahu kalau untuk pertama kalinya pasti tim cewek akan merasakan sakit yang luar biasa.
"Jangan!! Sekarang ajah, tapi lakukannya pelan-pelan!!" ucap ku dengan spontan, dan lagi-lagi wajah memerah karena sudah terlanjur malu. Ya, mana enak udah pemanasan dan siap untuk melakukan penyatuan masa gara-gara sakit mau distop. Kepala pusing juga nanti.
"Kalau nanti sakit, kamu boleh cakar, gigit atau bahkan menjerit. Kamu keluarkan apa yang mengganjal agar aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan." Suara Mas suami, yang kembali membuat aku yakin ingin merasakan seperti apa surga dunia itu
Aku kembali merasakan sakit, dan perih di bagian pangkal paha, tetapi dorongan sahwat yang semakin menguasai isi otak ku pun semakin mendorong dan menguasai tubuhku dan justru ketika Mas suami mencoba menekan senjatanya, agar usahanya berhasil, aku membuka kakiku dengan lebar. Mas suami semakin kuat mendorong ketika ia sudah yakin kalau sudah tepat sasaran. Erangan panjang terdengar dari bibir Mas suami dan bibirku juga, kali ini aku merasakan benar-benar rasa yang aneh, sakit perih tapi juga enak.
"Tarik nafas dulu, dan buang perlahan, rileks jangan tegang. Apa ini sangat sakit?" tanya Mas suami dengan tangan mengusap rambutku yang sudah pasti acak-acakan.
Aku pun membalas dengan menggeleng kepala.
"Rasa sakitnya hanya sedikit," balasku dengan suara yang tersengal.
Setelah memastikan kalau aku tidak lagi menunjukkan wajah yang tengah menahan sakit. Mas suami pun kembali melanjutkan apa yang sempat tertunda. Gerakan yang halus, enak berhasil membuat mataku terpejam menikmati setiap sentuhan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.
__ADS_1
Arrkhhh... entah merapat kali tubuhku menggelinjang, aku merasakan seperti melayang di atas awan. Ketika rasa enak kembali menguasai ku.
Nafas kami yang saling memburu, menandai bahwa kita tengah dilanda kepuasan duniawi. Keringat yang bercucuran di dahi Mas suami sebagai pertanda bahwa memang permainan kami malam ini sangat melelahkan.
Mas sumi mengecup pucuk kening ku, cukup lama. "Terima kasih sudah mau melayani Mas dengan baik, meskipun Mas tahu untuk pertama kali kamu merasakan rasa yang tidak nyaman," ucap Mas di balik telinga ku sementara tubuh kami masih saling berpelukan seolah Mas suami tidak mau melepaskan tubuhku.
"Tia senang bisa melayani Mas dengan baik. Semoga apa yang kita usahakan bisa cepat membuahkan hasil," balasku masih dengan nafas yang tersengal.
"Amin... Mas sangat puas malam ini. Kamu sangat luar biasa. Mau melayani Mas hingga puas. Pasti ini sakit banget yah."
Tangan Mas suami di bawah selimut sana terus mengusap perutku yang datar.
"Untuk pertama sakit Mas, tapi pas sudah masuk, enak. Bikin ketagihan," jawabku dengan jujur urusan malu nanti saja lah. Toh benar kok dalam otakku masih membayangkan rasa yang enak itu.
"Jadi kamu mau lagi?" goda Mas suami, dengan tangan menjadi hidungku.
"Ya mau, tapi tidak sekarang. Sekarang Tia lagi bingung nanti pipinya gimana, pasti perih banget." Yah, tidak pipis saja aku masih merasakan rasa yang sakit dan aneh. Seperti ada benda yang tertinggal di bagian bawah sana.
Hahaha.... ucapanku justru membuat Mas suami tertawa dengan kencang.
"Mas justru ingin lihat kamu jalannya seperti apa. Pasti lucu kayak robot."
"Mas... kalau meledek terus Tia nggak akan kasih lagi yah," ancam ku, tentu itu hanya bohongan mana tega tidak ngasih jatah, sedangkan aku sendiri juga mau lagi.
"Iya ma'af, tadi hanya bercanda kok."
Hati ini sangat lega ketika bisa memberikan cerita yang pasti berbeda untuk mas suami. Aku berharap malam ini adalah malam yang sepesial untuk mas suami dan tentunya untuk aku juga.
Bersambung...
__ADS_1
...****************...