Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
09 April 2023


__ADS_3

"Pak Gala sudah pastika kalau keluarga Pak Gala bisa menerima keputusan Pak Gala? Menjalin kasih, apalagi sampai jenjang pernikahan itu tidak bisa dijalani hanya kita berdua, kita tetap butuh restu dari kedua belah pihak."


"Aku akan mengupayakan izin itu, saat ini aku hanya ingin memastikan kalau kamu mau jadi calon istriku, dan setelah ini aku pasti akan meminta restu dari orang tua serta kakek dan nenek aku."


Aku semakin sulit berada di posisi ini di saat aku ingin menjauh dan hanya fokus dengan pekerjaanku justru Pak Gala datang untuk menyempurnakan agamaku. Untuk beberapa waktu aku pun diam. Aku teringat akan beberapa waktu lalu yang sangat menginginkan menjadi kekasih dari Pak Gala, tetapi saat ini aku seolah berpikir sebaliknya, banyak sekali yang mengganjal dalam pikiranku, terutama dengan keluarga Pak Gala.


"Tia, aku tahu aku adalah orang yang mungkin sangat buruk tabiatnya, tetapi aku hanya ingin kamu memberikan kesempatan pada aku untuk membuktikan cintaku pada kamu. Aku bukan hanya  merasa nyaman dan bahagia berada di samping kamu, tetapi kamu adalah wanita yang bisa mengerti aku, sehingga aku sudah putuskan untuk memilih kamu sebagai teman hidupku." Lagi Pak Gala membuat aku semakin tidak enak untuk menolak. Apalagi dia adalah bos besar ku, tetapi di hadapanku seolah tengah memohon agar aku mau menjadi kekasihnya. Kurang beruntung apa lagi aku mendapatkan bos, sekaligus calon suami yang baik.


"Tia, hanya takut nanti kalau saya sudah jadi kekasih, Pak Gala malah nyesel. Saya itu cuma gadis desa yang mana sekolah saja hanya lulusan SMA, kedua orang tua saya hanya bekerja sebagai buruh tani, tidak ada yang istimewa dari Tia, takutnya nanti Pak Gala menyesal di belakang karena telah memilih Tia," ucapku lagi. Aku seolah baru sadar kalau aku hanyalah anak dari buruh tani, yang memiliki mimpi yang terlalu tinggi.


"Bukankah cinta itu tidak selalu tentang harta?" jawab Pak Gala lagi, dengan suara yang lembut. Aku menghirup nafas dalam dan mengembangkannya perlahan.


"Kita jalani dulu Pak, apabila keluarga Pak Gala tidak setuju maka Tia akan mundur," jawabku setelah aku beberapa kali berpikir dengan keras akhirnya aku memutuskan untuk mencoba menjalin kasih lagi dengan Pak Gala, tetapi tentunya lagi dan lagi aku tidak bisa terlalu beharap lebih mengingat jarak perbedaan aku dan Pak Gala seperti bumi dan langit.


"Jadi kamu terima aku?" tanya Pak Gala dengan kedua mata melebar sempurna, dan bukan hanya itu aku melihat kalau bosku itu ternyata sangat lucu bahkan dari cara mengekspresikan kebahagiaanya cukup membuat aku tertawa dengan renyah.

__ADS_1


"Kembali lagi Pak Gala bisa tidak membuktikan pada Tia, kalau perbedaan ini tidak menjadi penghalang kita," ucapku dengan kembali berbicara cukup serius. Yah, aku sudah siap kalaupun tidak mendapatkan restu berati kita memang tidak berjodoh dan soal hubungan ini dari awal aku sudah bersiap kalau tidak akan terlalu serius untuk berharap kalau ucapan Pak Gala itu sepenuhnya akan terjadi. Belajar dari yang sudah-sudah aku pun memilih untuk tidak terlalu mencintai karena takutnya kecewa lagi.


"Aku janji Tia, kalau aku akan membuktikan omonganku," jawab Pak Gala lagi dan itu cukup membuat aku bahagia kalau dilihat dari cara Pak Gala memperlakukan aku sangat istimewa, bahkan aku merasa malu sendiri, karena saat aku menjalin kasih dengan Yuda tidak diperlakukan istimewa seperti itu.


Aku pun mengembangkan senyum terbaikku, dan di pagi menjelang siang ini pun kami terus mengobrol hal-hal yang tidak terlalu penting sama sekali, tetapi lagi-lagi cukup menghibur dan berasa tidak canggung lagi.


"Pak Gala, kita pulang yuk, jangan lama-lama yah keluarnya," ucapku setengah memohon karena selain aku yang sudah ngantuk juga pasti nanti kalau Misi atau Tulip tahu yang ada aku jadi bahan ghibah. Meskipun secara tidak langsung aku sudah menjadi langganan gibahan mereka.


"Loh emang kenapa, aku pikir akan sampai sore ngobrol dan jalan-jalan," ucap Pak Gala, yang terlihat sedikit kecewa mungkin Pak Gala masih menginginkan ngobrol dan bercengkrama denganku, tetapi aku sudah ngajak pulang.


"Jadi sekarang kita pulang?" tanya Pak Gala lagi seolah memastikan kalau aku memang benar-benar pingin pulang.


Dan aku kembali menjawab dengan anggukan.


"Ok kita pulang, tapi kamu panggilnya jagan Pak Gala lagi dong, berasa tua banget aku. Padahal aku baru berumur tiga puluh enam tahun," jawab Pak Gala yang niatnya mau pamer umur masih muda justru aku tertawa renyah.

__ADS_1


"Tiga puluh enam itu tua lagi Pak, dan wajar dipanggil Pak Gala. Tia aja baru berusia dua puluh dua tahun, tuh kan usianya bedanya  jauh banget empat belas tahun Pak, apa kita nanti tidak dikira bapak dan anak," kelakarku sembari menutup mulut ini.


"Tidak lagi, kalau baru berjarak empat belas tahun lagi gemas-gemasnya jadi wajar saja, lagian cinta tidak dilihat dari perbedaan umur. Kamu panggil aku Sayang, Mas, Yank, Say, Baby, Honey atau panggilan mesra lainya," ucap Pak Gala dengan senyum mengembang sempurna.


"Tapi kalau di kantor tetap panggil Pak Gala yah," ucapku dengan yakin.


"Kenapa? Biarin lagi bia yang lain tahu kalau kita udah resmi berpacaran, lagian kan biar Yuda tahu juga kalau kamu sudah jadi milik aku," ucap Pak Gala dengan serius.


"Tia kurang nyaman, lebih baik kalau di kantor tetap terlihat seperti bawahan dan atasan saja, agar Tia tidak dapat ucapan yang aneh-aneh," balasku, yang langsung di sanggupi oleh Pak Gala.


"Ya udah semuanya terserah kamu saja, aku tidak masalah kamu panggil Pak atau siapa lah, yang penting kalau berdua panggil Sayang."


Aku pun hanya membalas dengan senyuman dan setelah itu kami pun pulang. Dan mulai hari ini aku pun sudah tidak jomblo lagi, meskipun ada kecemasan kalau keluarga Pak Gala akhirnya tidak merestui hubungan kami, tetapi dari lubuk hati paling dalam aku sangat bahagia. Aku tidak akan melupakan di Ancol tanggal sembilan bulan april tahun 2023 adalah hari aku jadian dengan Pak Gala. Seolah aku saat ini menjadi orang yang sangat beruntung karena menjadi wanita yang dipilih Pak Gala untuk menjadi pendamping hidupnya.


Meskipun aku paham betul ini bukan akhir dari perjalanan ku mencari cinta, tetapi ini adalah awal yang mungkin saja akan banyak halangan, pahit dan juga manisnya hidup mungkin baru akan aku rasakan. Siapa atau tidak aku sudah memilih. Dan inilah keputusanku.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2