Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Tia Yang Super Kepo


__ADS_3

Aku yang sedang membersihkan halaman langsung berhenti ketika mobil Momy Bela tiba-tiba sudah pulang. Ini kurang lebih masih jam sepuluh pagi, tapi majikanku sudah pulang, hal yang sangat jarang terjadi. Apabila hari biasanya pasti majikanku akan pulang di pukul sembilan malam, atau paling awal di jam lima sore. Tapi hari ini seperti ada hari yang spesial sehingga pulang lebih awal dari biasanya.


"Mom, ada yang tertinggal?" tanyaku dengan memegang sapu di tangan.


"Tidak, hari ini Momy tidak ke toko," balas Momy Bela dengan senyum teduhnya.


"Alhamdulillah... Akhirnya Tia ada temanya di rumah." Aku pun langsung menutup mulut ini yang keceplosan.


"Emang selama ini kesepian yah kalau nggak ada Momy?" tanya Momy bela, ketika dengar jawabanku.


Ah, kenapa harus tanya sih, kan jawabanya sudah pasti ia, kerja selama tiga tahu, jarang-jarang majikan di rumah lebih sering di toko. Kalau tidak malu juga tanaman aku ajak ngobrol, biar nggak kesepian.


"Hehe... sedikit Mom, tapi kalau ada Momy rasanya seneng. Ada yang diajak cerita. Apalagi Momy baik jadi Tia tidak merasa sepi," balasku dengan menyengir kuda.


"Kalau kamu kesepian ke toko aja, minta Sono buat jemput kamu, jadi kamu nggak lagi kesepian. Oh iya ngomong-ngomong kamu udah sarapan belum?" tanya Momy Bela yang langsung duduk di teras dengan menatap bunga anggrek kesayangan Momy yang sedang mekar dengan cantik.


"Sudah Mom, dan soal ke toko. Tia lebih baik di rumah saja. Kalau ke toko suka lupa pulang, nanti malah kerjaan di rumah nggak ada yang pegang," elakku padahal aku kurang suka keramaian, mending di rumah dengan nonton TV atau baca-baca novel karya  Author Ocy. Ea... promo.


"Kamu lagi cape nggak?" tanya Momy Bela lagi. Aku pun langsung membalas dengan gelengan kepala. Memang kerja di sini santai dan tidak berat masa ia cape.

__ADS_1


"Kerja di rumah Momy itu bisa dibilang kerja paling santai Mom, dan tidak ada target, jadi Tia tidak merasa cape," jawabku dengan sangat jujur.


"Kalau gitu Momy ingin minta tolong yah, setelah kamu selesai sapu-sapu halaman. Kamu rapihkan kamar yang di depan. Karena tadi anak Momy bilang nanti pulang dari rumah sakit mau tinggal di sini untuk penyembuhannya," ucap Momy Bela yang langsung membuat aku terkejut dengar ucapan majikanku.


"Hah, anak Momy mau tinggal di sini? Selamanya?" tanyaku entah kenapa aku seperti akan melakukan uji nyali. Jantung ini langsung berdisko-disko. Ada rasa takut kalau nanti anak Momy Bela justru sangat berbeda jauh dengan majikan aku. Udah gitu aku tidak terlalu kenal, bagaimana kalau dia galak dan bawel serta rese seperti majikan-majikan di luar sana? Ah, aku mengerjapkan kedua bola mataku untuk menghilangkan pikira-pikiran buruk yang belum tentu terjadi. Bisa saja anak majikan aku justru baik dan bisa saja baiknya melebihi Momy Bela. Semoga saja kenyataanya seperti itu.


"Kalau itu tidak tahu. Mungkin hanya sampai sembuh saja atau bahkan selamanya, Momy tidak bisa memastikan," jawab Momy bela.


"Berati nanti istrinya juga tinggal di sini yah Mom?" Aku terus melemparkan pertanyaan. Doaku agar di rumah ini ada temanya nampaknya akan segera terkabur. Padahal itu doanya tadi nggak serius-serius banget. Hanya sepi sedikit kalau di rumah tidak ada temanya, tapi selama aku masih punya Misi yang bisa aku kerjai, aku tidak akan begitu kesepian. Yah, jadi jangan heran kalau Misi tiba-tiba ngerjai aku, karena pada kenyataanya ide awal untuk mengerjai adalah dari aku. Efek kesepian jadi muncul ide-ide kreatif untuk ngecek kewarasan Misi, dan alhamdulillah hasilnya sedikit menghibur dengan kegilaannya.


Aku melihat wajah Momy Bela seperti murung, aku jadi merasa tidak enak hati takut ucapanku menyinggung Momy Bela.


"Tidak, Momy baru tahu kalau dia udah berpisah lagi dengan istrinya. Pernikahan mereka karena perjodohan. Pernikahan bisnis bisa dibilang begitu dan ternyata hanya bertahan satu tahu. Ini adalah pernikahan bisnis yang ke dua dia alami dan dua-duanya gagal. Jadi hanya pernikahan demi menaikan bisnis orang tua masing-masing, dan anak-anak bahagia atau tidak itu bukan urusan mereka dan dampaknya pernikahan yang lagi-lagi gagal. Jujur Momy merasa kasihan dengan anak Momy karena sekarang dia kurus. Mungkin tekanan juga. Dan efeknya tubuhnya sakit. Bahkan tadi anak Momy bilang selama dia di rawat mantan istrinya tidak juga datang untuk menjenguk. Jangankan untuk menjenguk bertanya kabar melalu telepon atau pesan singkat pun nampaknya tidak ada."


"Tapi sekarang kondisi anak Momy bagaimana? Apakah udah sembuh atau justru masih harus menjalani rawat inap lagi?" tanyaku, semakin kepo.


"Sekarang sudah jauh lebih baik, tapi kayaknya berkat sop buatan kamu. Bahkan tadi anak Momy ngucapin terima kasih untuk sop yang kamu masak loh. Dia bilang masakan kamu enak," puji Momy Bela, dan itu berhasil aku besar kepala.


"Astaga Mom, Tia berasa dapat uang satu gepok. Padahal Tia bisa masak itu karena gurunya yang super keren. Momy yang ngajarin Tia bisa masak enak, jadi kayaknya ucapan terima kasih itu pantasnya untuk Momy." Yah, inilah salah satu yang membuat aku betah menjadi pembantu di rumah Momy Bela, itu karena Momy Bela yang sering memuji cara kerja aku dan juga Momy Bela tidak pelit ilmu alias apa yang beliau bisa diajarkan padaku. Sehingga aku jadi lebih baik lagi.

__ADS_1


"Berati kira-kira pulang besok atau nanti sore Mom. Oh iya apa anak Momy itu tidak punya anak? Mungkin nanti Tia juga bisa siapkan untuk anaknya," tanyaku lagi, sebenarnya bukan urusan menyiapkan sih lebih tepatnya mungkin untuk kepo saja.


Kembali Momy Bela menggeleng. "Belum ada anak, padahal sudah nikah dua kali tapi dua-duanya tidak ada rezeki yang di titipkan. Padahal kalau punya anak mungkin akan ramai dan pastinya juga orang tuanya tidak akan saling egois, keluarga sang Papah juga tidak akan menuntut nikah-nikah terus karena pastinya mereka ingin memiliki generasi penerus untuk perusahaan mereka."


Aku pun menggerakkan kepala naik turun sebagai tanda kalau aku paham dengan apa yang Momy Bela katakan.


"Kalau gitu Tia izin untuk mulai merapihkan kamar yah Mom. Momy mau dibikinkan jus dulu tidak?" tanyaku mengingat udara ini cukup panas dan kayaknya kalau minum jus lumayan seger.


"Boleh deh Tia, adanya buah apa?" tanya Momy balik, dan aku pun membalas dengan menyengir kuda.


"Maaf Mom, Tia baru ingat di dalam kulkas tidak ada setok buah. Abis Momy jarang di rumah jadi Tia jarang setok buah deh."


Momy Bela pun menarik masam bibir merahnya. "Terus adanya apa?" tanya Momy bela lagi.


"Teh Mom, paling adanya es teh."


"Udah kalau gitu tidak usah biar nanti Momy beli online aja. Kamu bisa lanjutkan kerja yang lain."


Aku pun mengelus dada, untung majikan aku jelmaan malaikat sehingga aku tidak usah takut dimarahin. Yah, jujur niatnya aku tadi nawarin jus hanya basa basi, iseng aja eh taunya Momy Bela serius alhasil aku bingung karena memang di kulkas tidak ada setok buah. Eh ada sih, tapi buah pepaya. Tidak enak dong pepaya dibuat jus.

__ADS_1


Aku pun setelah pamitan langsung pergi merapihkan kamar yang Momy Bela maksud. Akhirnya selma kerja tiga tahu rasa penasaranku akan segera terjawab. Yah, aku sangat penasaran sosok anak yang Momy Bela maksud. Dan mungkin nanti bonusnya tahu juga seperti apa sosok suami Momy Bela yang punya istri dua itu. Dua istri tapi tidak pernah menyambangi ke rumah ini, aneh sih. Mungkin saja istri yang mudah galak dan tidak mengizinkan mengunjungi yang tua. Ah anggap saja begitu.


Bersambung....


__ADS_2