
Pov Tia.
Aku tersenyum dengan hati yang sangat senang, saat pagi-pagi buta mas suami sudah pulang ke rumah.
"Bagaimana keadaan Kakek?" tanyaku begitu kami sudah selesai melepas rindu dengan kang mas bojo.
"Sudah sadar, dan tentunya sudah jauh lebih baikan dari kemarin, makanya Mas pulang..."
"Ngomong-ngomong sakit apa kakek kamu?" tanya Momy Bela yang sebenarnya aku juga penasaran dengan sakit kakek, tapi sudah diwakilkan pertanyaanya oleh Momy.
"Biasa, sudah tua. Mungkin kurang olahraga dan terlalu banyak pikiran yang seharusnya tidak dipikirkan."
"Syukurlah kalau sudah sadar dan sudah membaik. Mudah-mudahan Kakek cepat baikan dan tidak terulang lagi sakit seperti itu." Meskipun Momy Bela adalah menatu yang sampai saat ini tidak diberikan restu oleh Tuan Piter, tetapi aku salut dengan caranya bersikap, tidak sedikit pun Momy menujukan kalau ia marah dan kecewa dengan apa yang laki-laki itu lakukan, Momy masih bersikap ramah dan baik sekali meskipun laki-laki itu bersikap kurang menghargai Momy. Meskipun aku tahu kalau Momy juga pasti ingin merasakan bagaimana rasanya diterima oleh keluarga suaminya.
__ADS_1
"Amin, sebenarnya Gala pulang awal karena ingin menyampaikan kabar gembira. Kakek ingin bertemu dengan Tia," ucap Mas Gala, yang langsung membuatku diam seribu bahasa. Aku tidak bisa berkata apa-apa, saking kagetnya.
Pandangan aku pun saling bertemu dengan Momy, yang ternyata juga kaget dengar apa kata mas suami. Siapa yang tidak kaget dan pastinya ada rasa curiga pada Kakek di mana Kakek sebelum-sebelumnya menentangku cukup kuat dan keras kalau cucunya tidak boleh menikah dengan rakyat jelata, tetapi kenapa saat ini secepat kilat ingin bertemu. dengan ku.
"Apa yang kamu katakan itu benar Gala? Kamu sudah memastikan kalau Kakek itu ingin bertemu dengan Tia? Kakek bukan sedang merencanakan niat kurang baik pada Tia kan?" Akhirnya apa yang aku pikirkan terwakilkan juga oleh Momy Bela. Aku tidak sekuat orang lain, ketika sudah diperingatkan dan diberi ancaman aku akan sangat mudah untuk menyerah, karena aku tidak ingin menyakiti hati ini dan orang-orang yang sayang denganku. Lebih baik aku berkorban dan memutuskan masalah yang mungkin saja makin berat kalau aku tetap bertahan.
Aku bisa merlihat hembusan nafas kasar dari mas suami. "Awalnya Gala juga berpikir demikian, tetapi kata Papi, tidak ada salahnya Gala mulai mendekatkan Tia dengan Papi beri kesempatan untuk Kakek tahu bagaimana Tia. Tanpa adanya interaksi anatar Tia dan Kakek, selamanya Kakek tidak akan tahu bagaimana Tia sesungguhnya. Selamanya Kakek akan terus berpikir kalau Tia itu buruk."
"Tia sih tidak pernah tersinggung Mom, dan Tia juga akan berusaha mencoba mengerti watak Kakek," jawabku dengan yakin, meskipun dalam hatiku masih ada rasa yang mengganjal, tetapi tidak ada salahnya aku kembali memberanikan diri untuk bertemu dengan Tuan Piter.
"Kalau gitu sekarang Mas berangkat kerja dulu, tapi nanti siap-siap yah. Pulang kerja Mas akan jemput kamu."
Aku hanya membalas dengan anggukan samar. "Mas hati-hati yah."
__ADS_1
Mau tidak mau aku harus siap menghadapi ini semua, bukanya ini adalah yang aku inginkan, mulai memperbaiki hubungan dengan Kakek. Agar pernikahan kami direstui.
"Kamu santai saja, jangan tegang, semuanya akan baik-baik saja." Mungkin mas suami bisa baca dari raut wajahku yang terlihat sangat tegang.
"Iya, Tia santai kok. Kalau ada tegang-tenang dikit mah itu wajar, namanya juga mau ketemu kakek mertua, semua orang pasti merasakan hal yang sama," kelakarku, sembari menujukan senyum terbaik dan tentunya agar mas suami tidak tahu kalau sebenarnya keteganganku sudah di atas rata-rata. Bahkan jantung ini rasanya mau pecah saking deg-deganya. Belum ketemu dengan Kakek saja sudah secemas ini bagaimana nanti kalau ketemu beneran.
Mudah-mudahan saja aku tidak melakukan. kesalahan. Itu adalah harapanku saat ini. Melakukan kesalahan bisa-bisa aku langsung kena peringatan dari kakek.
Bersambung...
sembari nunggu kelanjutannya Tia bertemu dengan tuan Piter. Yuk, mampir ke novel bestie othor. Dijamin bikin baper....
__ADS_1