
"Tia, kamu kenal dengan anak Momy?" tanya Momy Bela, yang justru mengabaikan pertanyaanku dan mengganti dengan pertanyaan yang lain.
Kali ini aku kembali dibuat terkejut, hari ini aku benar-benar ingin hilang dari muka bumi ini. Ini adalah hari yang paling tegang dari hari-hari yang sudah aku lalui, semua pertanyaan membuatku mati kutu. Seperti pertanyaan Momy ini, aku harus jawab apa? Tidak mungkin aku cerita yang sebenarnya, tetapi juga pasti majikan aku tahu perubahan sikap aku yang jadi bodoh seperti ini, bukan hanya bodoh, tapi juga aku jadi seperti orang bingung.
"Kamu tidak usah jawab, Momy sudah tahu jawabannya. Kalau gitu ayo kita segera bawa makanan ini ke meja makan, ini sudah waktunya makan malam,"ucap Momy Bela, yang justru membuat aku semakin bingung.
Apa yang Momy katakan dengan istilah Momy sudah tahu jawabannya. Apakah Momy Bela sudah bertanya pada Pak Gala tentang kebenaranya dan juga Momy bertanya pada aku hanya untuk menguatkan jawaban Pak Gala?
Aku pun langsung mengerjapkan mata ini, dan segera mengikuti Momy Bela membawa makanan ke meja makan. Lagi-lagi ke dua mataku bertemu pandang dengan Pak Gala. Aku tidak bisa mengelak ketika Pak Gala terus memperhatikanku. Bahkan rasanya tubuh ini sulit sekali diajak bekerja sama. Sekujur tubuhku seolah tengah mengejekku, gemetaran seolah aku sedang kelaparan, padahal aku tidak merasakan lapar, tapi untuk meletakan piring di atas meja tanganku terlihat sekali gemetaran.
"Tia, kamu ambilkan air minum yah." Lagi dan lagi aku merasa terselamatkan dengan Momy Bela yang seolah tahu kalau aku sedang menahan kegugupan.
Ini adalah kesempatanku untuk menghilangkan kegugupanku. Aku pun menyempatkan diri ke kamar mandi dan mengambil wudhu sekaligus menyamarkan wajah gugup ku. Berharap dengan mengambil wudhu aku bisa lebih tenang. Setelah aku mersa cukup tenang aku pun mengisi teko dengan air mineral, dan membawa kembali ke meja makan.
"Apa ada lagi yang harus Tia ambil Mom?" tanyaku ketika pekerjaan terakhir sudah aku selesaikan.
Momy Bela menggelengkan kepalanya dengan lembut. "Tidak ada, kamu duduklah, kita makan bersama sekalian, kamu juga pasti cape setelah seharian membereskan kamar," ucap majikanku dengan menepuk kursi yang ada di sampingnya.
Pandangan mataku tertuju pada kursi yang Momy Bela tunjuk. "E... nanti saja Mom, Tia masih kenyang," jawabku dengan setengah terbata, jujur meskipun makan bersama sudah sering kami lakukan, bahkan majikanku biasanya akan meminta aku untuk menemani makan ketika di rumah, tetapi kali ini aku justru tidak siap untuk makan bersama seperti biasanya.
"Tia, ayolah. Momy tahu kamu sedang menghindar dengan anak Momy, tapi ini Permintaan Momy, masa kamu tega Momy tidak ada teman ngobrol. Kalau ngobrol dengan anak Momy ini pasti tidak jauh dari pekerjaan, Momy tidak nyambung kalau ngobrol dengan dia, kamu kan lebih seru," ulang Momy Bela dengan tatapan mengiba dan nada bicara yang terdengar sangat memohon.
"Makan saja Tia, bukanya kamu punya sakit lambung, kamu tidak mau kan masuk rumah sakit lagi." Kembali suara tegas dan dingin itu membuat aku tidak bisa mengelak lagi. Yah, bagaimana Momy Bela pasti sudah tahu kalau aku dan Pak Gala adalah mantan kekasih karena mungkin anaknya yang sudah cerita.
__ADS_1
Aku pun tidak bisa beralasan lagi, nanti malah majikan aku berpikir macam-macam kalau aku menolak permintaan Momy. Sesuai yang majikan aku mau, aku pun duduk di samping Momy Bela.
"Makan yang banyak, Momy tidak mau nanti kamu tambah kurus, nanti Ibu, Bapak kamu mengira kalau kamu tidak betah kerja di rumah Momy." Seperti biasanya Momy Bela selalu berbicara seperti itu dan menggeser nasi dan lauk pauk yang cukup jauh dari hadapanku.
Aku pun mengambil nasi, ikan yang majikan aku masak dan sayur sop, yah aku lebih suka sayur sop dari pada sayur bening.
"Terima kasi Mom," ucapku ketika Momy Bela meletakan sambel di piringku, beliau tahu betul kalau aku suka sambel, meskipun tidak kuat yang pedes banget, tapi sambel adalah menu wajib ada di piringku.
"Tia, ini kalau makan selalu harus ada sambel," ujar majikanku, yang mana Pak Gala sejak tadi memperhatikan isi piringku.
"Makan Pak, Mom," ucapku ketika lagi-lagi dari ekor mataku menangkap Pak Gala yang terus menatapku dengan tatapan yang dingin, terpaksa aku pun menarik bibir ini seperti orang yang tidak saling kenal.
"Hist kok panggilnya Pak lagi sih. Kan Momy bilang Gala ini anak Momy jadi kamu panggil Mas atau Abang, atau panggilan apa lah yang penting jangan Pak, Gala nggak setua bapak-bapak Tia." Momy Bela kembali membahas panggilanku pada anaknya dengan tangan kanan mengusap lengan sang anak.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Momy Bela, yang membuat aku benar-benar pasrah dikuliti saat ini juga. Kali ini aku sudah pasrah sepasrah pasrahnya, apabila aku kembali di pecat, karena dikira akan menumpang hidup enak dengan berpacaran dengan Pak Gala.
Yah, mungkin memang rezeki aku bekerja di rumah ini hanya sampai usia tiga tahu, tetapi aku sudah sangat beruntung karena diperkenalkan dengan majikan seenak, sebaik Momy Bela. Aku yakin dan percaya bahwa Allah sudah mengatur jalan rezeki lain, sehingga aku tidak boleh berkecil hati karena kehilangan pekerjaan. Mungkin Tuhan sedang merencanakan rezeki yang jauh lebih baik lagi. Aku pun memberanikan diri untuk mengangkat wajah ini dan siap menjawab pertanyaan Momy Bela dengan yang aku bisa.
"Tia, Gala. Sebenarnya Momy bisa lihat kalau kalian sudah saling kenal, tetapi Momy ingin tahu, Momy ingin dengar dari kalian jawaban yang bisa membuat Momy tenang," ucap Momy lagi.
"Pak Gala adalah atasan Tia sebelum kerja di rumah Momy," jawabku dengan suara yang lirih dengan menunduk kembali, aku tidak berani menatap lawan bicaraku maupun Pak Gala.
"Loh kenapa dunia sempit sekali. Dan kamu sekarang kerja di rumah Momy setelah masa kontrak kamu dengan perusahaan anak Momy habis," ucap Momy Bela yang membuat aku seperti sedang menggali kuburanku sendiri. Benar saja aku bisa melihat kalau Pak Gala menatapku semakin tajam.
__ADS_1
"Sejak kapan kontrak kerja kamu habis? Katakan Tia kamu keluar kerja kenapa? Karena aku tidak pernah ada kontrak kerja dengan kamu, aku dari awal sudah bilang sama kamu kamu kerja di kantor sampai kamu sendiri yang menginginkan resign, tapi secara baik-baik bukan dengan kabur dan kontak tidak bisa dihubungi," ucap Pak Gala yang membuat aku tidak bisa mengelak.
Memang Tuhan sudah mengatakan kalau berbohong itu dosa, tapi aku terus melakukanya dan kini bukan dosa saja yang aku dapatkan tetapi juga pertanyaan yang membuat aku semakin sulit untuk membela diri ini.
"Kalian ada masalah yang belum selesai?" tanya Momy Bela.
"Ada..."
"Tidak..."
Jawaban aku dan Pak Gala secara bersamaan yang berbeda.
Aku lihat majikan aku nampak bingung dengan jawab aku yang mengatakan tidak sedangkan putranya mengatakan sebaliknya.
"Tia, kamu rapihkan sisa makan malam yah, dan kamu Gala baiknya istirahat dulu, masalah kamu dan Tia bisa kita bahas besok lagi. Momy khawatir kalau kamu malah akan kembali sakit, kamu baru pulang dari rumah sakit." Momy Bela beranjak dari duduknya dan mencoba memapah Pak Gala yang sudah jelas tubuhnya jauh lebih besar dan tinggi dari Momy Bela.
Aku menghirup nafas dalam, dan mengeluarkannya dengan perlahan, aku memejamkan mata ini dan mengucapkan rasa syukur ini, karena aku bisa bernafas lega, berkat Momy Bela aku sedikit bisa menyiapkan jawaban untuk esok hari yang entahlah nasibku akan seperti apa. Tetapi aku benar-benar sudah pasrah dengan keputusan Momy nanti, aku akan mengatakan yang sejujurnya dan kalau perlu aku akan kembalikan uang seratus juta yang sampai detik ini aku akan kembalikan pada kakek dari Pak Gala. Kembali aku menata hati ini kalau perjalanan hidup itu memang tidak selalu mulus.
Tiga tahun bisa dibilang perjalanan aku lurus, enak, happy dan nyaman, dan kali ini aku mulai memasuki jalan hidup yang sedikit terjal dan bukan tidak mungkin ujian besar di hadapanku akan menghadang. Aku hanya perlu bersiap, dan ikhlas atas apa yang mungkin saja terjadi dan di luar jalan pikiranku. Setelah aku merasa tenang aku pun langsung kembali merapihkan meja makan, mencuci piring dan merapihkan dapur serta perabotan sebelum aku istirahat. Dan bersiap menyambut hari esok yang mungkin akan banyak warna baru dalam perjalan hidup ini.
Aku bukanlah pasir yang ada di bibir pantai, yang begitu sabar mengikuti sapuan ombak, yang begitu kuat menghadapi gulungan gelombang, yang begitu tegar diterpa panasnya matahari sepanjang hari, lalu memutar dirinya mengikuti putaran waktu. Panas dan dingin silih berganti berpelukan di semua sisi, seolah menerima semua yang ada dan terjadi. Aku bukan manusia yang rela di permainkan, diinjak injak, di pukul. Perlu kalian tahu, segenggam harapan membuatku bergerak ke depan, meninggalkan masa lalu dan menjadikan pijakan menatap jauh ke depan, menggapai cita-cita, mimpi dan harapan. Namun, kali ini masa lalu itu justru hadir lagi tanpa aku kehendaki, masa lalu kembali hadir tanpa aku pinta. Lalu aku harus apa? Apakah aku harus menjadi gunung tinggi yang kokoh meskipun mereka terus menghantam, atau justru aku mundur dan kembali mencari masa depanku?
Bersambung....
__ADS_1
...****************...