Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Tamu Tidak di Undang


__ADS_3

Gegas aku berjalan ke arah pintu, dan aku pun mengikuti apa kata Momy Bela membuka gorden dulu untuk mengintip siapa gerangan yang mengganggu keseruan masak kami.


Deg!!!


Aku tersentak kaget ketika melihat siapa yang datang. Tanpa menunggu lama aku pun langsung membukakan pintu untuk tamu yang berdiri di depan pintu.


"Kakek masuk Kek." Aku langsung mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan kakek. Meskipun akuĀ  tidak yakin kalau Kakek akan menerima salam dari aku, tetapi aku justru dikejutkan kedua kalinya. Untuk pertama kalinya Kakek mau berjabat tangan dengan aku. Senang, sudah pasti aku yang mendapatkan perlakuan baik dari Kakek sangat senang.


Bahkan Momy Bela sampai kaget ketika ada mertuanya datang ke rumah kami.


"Ayo Kek masuk." Aku menuntun Kakek, yang berjalanya menggunakan tongkat penyangga pada tanganya, untuk menopang tubuhnya paska sakit sekarang kalau jalan jadi harus menggunakan bantuan tongkat. Lagi-lagi tanpa penolakan Kakek menerima tawaranku untuk menuntun beliau.


"Ngomong-ngomong Kakek datang sendirian. Kondisi Kakek sekarang gimana? Udah enakan?" tanya aku.


"Sama sopir. Kondisi Kakek sudah jauh lebih baik."


Aku kembali terkejut, nada bicara Kakek sangat berbeda dengan biasanya yang ketus dan selalu ada nada menyakitkan yang kakek lontarkan dari mulutnya. Kali ini jauh lebih halus dan enak untuk di dengar.

__ADS_1


"Syukurlah, Kakek mau minum apa? Kakek mau nunggu Mas Gala pulang?" tanya aku lagi, terserah kalau Kakek mengatakan aku rame, bawel atau apalah, tetapi yang jelas aku sangat bahagia karena, dari perlakukan Kakek pada aku sudah jauh berbeda.


"Air putih aja."


"Kalau begitu tunggu yah, Tia akan ke dapur untuk mengambilkan air putih." Tanpa menunggu jawaban dari Kakek aku pun langsung masuk ke dapur di mana Momy Bela masih sibuk memasak.


"Tia, apa yang datang kakeknya Gala?" tanya Momy Bela dengan setengah berbisik.


"Iya Mom, Tia juga kaget, mana sekarang ramah banget," jawabku, tak kalah bisik-bisik juga. Terserah dah, mau dikata bisik-bisik tetangga juga yang jelas aku memang lagi ngegosipin kakek biar nggak ketahuan sama yang kami omongin.


"Tia juga nggak tahu Mom, apa Momy mau menemu Kakek, mungkin saja Kakek juga sudah berubah dengan Momy?" tanyaku, siapa yang tidak sedih bertahun-tahun menikah tanpa adanya restu dari mertua laki-laki bahkan Momy Bela terpaksa berbohong dengan mengatakan sudah berpisah dengan Papi Yusuf demi bisa hidup tenang. Bertemu pun harus sembunyi-sembunyi. Meskipun aku tahu Kakek pasti tahu kebohongan Momy dan putranya.


Cukup lama Momy tidak menjawab pertanyaanku.


"Lebih baik kamu saja yang temui kakeknya Gala, beliau datang ke sini untuk menemui kamu, bukan Momy. Takutnya nanti malah Momy membuat suasana jadi tidak nyaman. Biarkan Momy tetap memasak di sini," jawab Momy Bela masih dengan suara yang bisik-bisik.


Jujur kalau aku jadi Momy Bela tidak akan sekuat ini. Pasti sedih hatiku. "Momy yang sabar yah. Tia tidak akan pernah berhenti berdoa agar Momy bisa mendapatkan apa pun yang selama ini Momy inginkan, termasuk restu dari Kakek," ucapku sembari mengelus tangan Momy.

__ADS_1


"Momy tidak apa-apa kok, Momy sudah biasa mengahadapi semua ini, kamu tenang saja. Momy sudah biasa seperti ini. Udah kamu bawa minum ke sana, nanti malah Kakek nunggu kamu kelamaan. Biar masak urusan Momy."


Meskipun berat aku meninggalkan Momy yang justru mengambil alih masak sendirian, tetapi aku pun nurut saja. aku membawa air dan beberapa kue untuk suguhan meskipun aku tahu Kakek tidak akan makan kue yang disuguhkan oleh aku.


"Silahkan di minum Kek, maaf kalau hanya ada ini di sini," ucapku dengan senyum ramah. Kakek yang nampak melihat-lihat rumah Momy Bela, beliau pun hanya menjawab dengan anggukan.


"Kamu betah tinggal di sini?" tanya Kakek.


Tanpa menunggu lama aku pun langsung mengangguk sebagai jawaban kalau aku sangat betah tinggal di sini. Yah, ini adalah tempat paling nyaman setelah rumah Bapak dan Ibu di kampung.


"Tia betah di sini Kek."


"Gala sudah mengatakan kalau kamu sekarang sedang hamil, dan Kakek senang mendengarnya. Maksud Kakek datang ke sini adalah ingin meminta maaf dan sekaligus merestui hubungan kamu dan Gala. Karena Kakek dulu pernah berjanji kalau kamu hamil anak Gala maka Kakek akan merestu hubungan kamu. Jadi dengan kedatangan Kakek ke sini ingin merestui hubungan kamu dan Gala."


Deg!!! Aku terkejut dengan ucapan Kakek. "Apakah ini Mimipi, Tuan Piter yang sangat keras kepala, dan angkuh datang ke sini untuk merestu pernikahan kami?" batinku sangat terkejut mendengar ucapan Kakek.


"Tia sadarlah, mungkin ini adalah mimpi. Yah ini mimpi karena akhir-akhir ini aku selalu ngantuk terus. Apa mungkin aku sekarang sedang tidur sembari berjalan?"

__ADS_1


__ADS_2