
Setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu semalaman, akhirnya aku sampai di tanah kelahiranku. Menurut perkiraanku sekitar sepuluh sampai lima belas menit lagi aku sampai di rumah orang tuaku. Sebelumnya aku memang sudah membertahukan alasan aku pulang kampung, aku beralasan kalau masa kerjaku sudah habis sehingga aku mau tidak mau pulang kampung.
Beberapa kali aku menarik bibir ini seolah aku sedang belatih tersenyum, aku seperti orang yang lupa bagaimana caranya tersenyum. Setelah beberapa kali berlatih aku pun bisa tersenyum yang terlihat natural, segudang jawaban atas pertanyaan tetangga dan juga orang tuaku sudah aku siapkan. Mungkin saja nanti akan banyak paparazi yang kepo dengan alasan aku pulang kampung.
Sudah menjadi kebiasaan orang kampung ketika kita pulang tidak di hari raya, maka akan banyak yang bertanya ada apa dan kenapa pulang? Untung rumah aku dan Yuda tidak satu desa, alias beda desa sehingga kabar kepulanganku setidaknya bisa aman sampai ke telinga keluarga Yuda, dan aku pula sudah mewanti-wanti keluargaku agar tidak membahas kisah cintaku yang gagal bersama Yuda.
"Mbak..." Adikku yang nampaknya sudah nunggu sejak tadi langsung menghambur ke dalam pelukanku, ketika tahu kalau aku sudah sampai rumah.
"Ibu, Bapak kemana Li?" tanyaku ketika aku hanya melihat adikku yang menyambut ku pulang.
"Lagi panen kacang Mbak, tadi Lili mau ikut tapi kata Ibu biar di rumah aja nunggu Mbak Tia pulang," adu Lili yang mana adikku saat ini masih sekolah menengah atas kelas satu terlihat bahagia sekali karena aku pulang ke rumah setelah sekian lama merantau.
"Ya udah yuk masuk, Mbak udah cape banget," ucapku, padahal aku sebenarnya sedikit belum siap apabila tetangga tahu kalau aku sudah pulang, kebetulan kampung halamanku jarak dari satu rumah ke rumah tetangga cukup jauh sehingga kepulanganku tidak begitu diketahui oleh tetangga. Sebenarnya tetangga tahu aku pulang pun tidak masalah, hanya saja kadang orang kampung itu teralu ikut campur apa yang bukan urusanya, berbeda dengan di kota kadang tetangga cuek-cuek.
Aku sih sudah bersiap untuk menebalkan telinga. "Mbak, emang katanya Mbak Tia kontrak kerjanya habis makanya pulang?" tanya Lili sembari membuka oleh-oleh ala kadarnya yang aku beli saat di jalan.
"Iya Li, makanya Mbak pulang dulu sembari cari kerjaan lain," jawabku asal, padahal aku sendiri masih bingung apa yang akan aku lakukan kedepanya mengingat aku sendiri apabila di kampung tidak bisa mencari pekerjaan, dan apabila membuka usaha pun kemungkinaan untuk berhasil sangat sulit mengingat kampungku penduduknya tidak seramai di kota, buka toko, warung sembako kadang modal habis untung tidak ada, dan mayoritas di Kampung ku adalah petani dan kebun sehingga seperti sudah menjadi tradisi turun temurun kalau besar ya pilihanya hanya dua yaitu menjadi petani meneruskan usaha keluarga turun temurun, atau kalau tidak akan pergi merantau seperti yang aku lakukan.
"Emang Mbak Tia mau cari kerjaan apa?" tanya Lili seolah dia malah yang lebih kepo dengan rencana mbaknya.
__ADS_1
Aku menghirup nafas dalam, belum juga rasa capeku hilang aku sudah di tanya mau cari kerja apa? "Apa aja lah yang penting ada kerjaan, kamu tahu sendiri kalau Mbak di kampung itu kerjaanya cuma ngerusuhin Ibu sama Bapak," jawabku pasrah, yang penting kerja apa ajah lah.
Sebenarnya bisa saja aku ikut ide Misi kemarin tetap diam di kontrakan dan cari kerjaan yang baru, tetapi kalau seperti itu Pak Gala nanti akan mudah melacak aku dan aku tidak menepati ucapan Tuan Piter. Meskipun aku sendiri sudah berjanji tidak akan memakai uang-uang yang orang kaya itu berikan, aku akan menyimpan uang itu di bank dan mungkin apabila Tuhan mempertemukan kita kembali aku akan kembalikan uang-uang itu. Bukan sombong, tetapi aku lebih baik memakan uang yang sudah jelas hasil kerja kerasku. Dari pada makan uang yang tidak jelas.
"Mbak, kemrin Bi Isah nyariin orang buat kerja jadi pembantu Mbak Tia mau nggak kalau jadi pembantu? Kalau mau bilang aja sama Bi Isah, kata Bi Isah kerjaanya santai majikanya baik, kan dulunya majikan Bi Isah, tapi anaknya Bi Isah kan sakit, jatuh dari motor jadi Bi Isah nggak bisa balik lagi ke rumah majikanya makanya cari buat gantiin kerjaan Bi Isah," jelas Lili dengan semangat. Aku hanya diam menyimak penjelasan Lili.
Sebenarnya tidak masalah sih mau jadi pembantu atau pengasuh, tapi masalahnya ini bokoong aja masih panas masa iya harus naik bis lagi kalau jadi berangkat ke Jakarta.
"Mbak mau nggak?" tanya Lili lagi, mungkin adikku bermaksud baik, dia yang sudah tahu orang-orang sini pasti takut kalau aku nanti di gibahin tetangga karena hanya jadi beban hidup orang tua.
"Ya udah kamu tanya sama Bi Isah kih. Mbak mau tidur dulu, semalam di jalan nggak bisa tidur," ucapku dengan bersiap mengganti pakaian dan istirahat menghilangkan cape dan pikiran, karena terlalu keras berpikir sehingga aku sepanjang perjalan tidak bisa istirahat. Hampir semua teman-teman dalam satu mobil travel pada istirahat, aku justru tidak bisa istirahat. Sejak aku meninggalkan ibu kota ponselku sudah aku matikan, semua sosial media aku hapus dan aku pun sudah ganti nomor baru, aku yakin saat ini pasti Pak Gala sedang kalang kabut karena biasanya aku selalu bertukar kabar, tetapi sejak semalam aku sudah menghilang, semua kontak sudah aku putus sehingga Pak Gala tidak bisa menemukan keberadaanku.
Mata beratku terpaksa aku buka, ketika telinga ini terusik oleh suara gaduh. Aku melihat jam di ponselku. "Pantas saja masih terasa ngantuk, aku baru tidur satu jam," batinku tetapi aku pun yang penasaran karena sepertinya namanku di sebut-sebut terpaksa ke luar kamar dengan menggunakan hijab saat aku sekolah dulu.
Aku bersalaman dengan Ibu dan Bapak yang ternyata sudah pulang dari kebun, dan tidak lupa aku juga bersalaman dengan Bi Isah, yah aku tahu beliau Bi Isah setelah wanita paruh baya itu mengenalkan diri. Aku memang tidak begitu kenal, sebab rumah beliau cukup jauh dari rumah ku.
"Tia, kata Lili kamu lagi cari kerjaan?" tanya Bi Isah tanpa basa basi langsung ke topik masalah.
Aku menatap Emak dan Bapak yang wajahnya nampak sangat lelah, setiap hari kalau tidak ke kebun ya ke sawah semua demi membiayai adikku sekolah, andai aku tidak kerja yang ada aku semakin nambah beban kebutuhan orang tua, jadi sebagai kakak tertua aku pun ingin membantu meringankan kebutuhan Emak dan Bapak.
__ADS_1
"Iya Bi, Tia baru aja habis kontrak makanya pulang kampung, dan kalau Bibi ada kerjaan Tia mau, dari pada di kampung nggak tahu mau usaha apa?" jawabku sedikit berbohong, tapi tidak apa-apa bohong demi kebaikan.
"Ada Bibi kerjaan jadi pembantu, tapi mantan majikan Bibi baik banget, sebenarnya kalau Bibi nggak ngurusin anak Bibi, pengin berangkat lagi, tapi kalau berangkat lagi anak Bibi nggak ada yang urus, kerjaanya hanya bersih bersih rumah, masak juga nggak setiap hari dan nemanin majikan karena dia cuma tinggal sendirian, majikan enak nggak bawel bikin betah gajih empat juta sudah bersih, dan soal sabun dan segala kebutuhan lain sudah ditanggung sama majikan. Gimana kamu mau tidak?" tanya Bi Isah.
sekelas pembantu gajih empat juta sudah termasuk besar, kemarin gajih pokok aku saja empat juta berhubung aku rajin lembur makanya kadang dapat lima juta atau bahkan enam juta, dan kalau ini pembantu bersih sudah empat juta, tidak ada alasan aku untuk nolak.
"Boleh lah Bi, siapa tau malah rezeki Tia dari situ," ucapku tanpa banyak pikir aku langsung sanggupin. Perihal cape itu urusan sekian, biarlah bokoong panas duduk di kursi bis yang penting aku bisa kembali kerja.
Iya lah, di coba dulu, Bibi aja dulu kerja di majikan itu dari masih muda sampai tua gini, insyaAllah kamu bakal betah majikanya enak enggak bawel dan kayak teman sendiri. Malah Bi Isah ngerasa udah kaya rumah sendiri, tapi gimana yah, beratan sama anak kan dari pada majikan," ucap Bi Isah, yang mana aku pun jadi semangat untuk kembali mengais rezeki, bersemangat kembali merantau.
Kami pun terus ngobrol-ngobrol terutama tentang kebiasaan majikan Bi Isah dan banyak lagi yang cukup jadi ilmu dasar aku sebelum benar-benar kerja jadi pembantu.
"Terus ngomong-ngomong kapan Tia mulai berangkat Bi?" tanyaku bia aku bisa siap siap.
"Nanti Bi Isah mau tanya majikan dulu. yang penting kamu siap-siap aja jadi kalau Bibi bilang berangkat kamu udah siap."
#Lah pulang kampung cuma setor muka doang Tia?....
Bersambung....
__ADS_1