Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Dukungan dari Momy Bela


__ADS_3

"Apa ini uang dari orang yang sama dengan yang tadi Momy ceritakan? Dan kamu juga menjadi orang yang mereka coba singkirkan?" tanya Momy Bela lagi, ketika aku memilih duduk kembali, tetapi tidak juga menjawab apa yang Momy Bela tanyakan.


Aku melihat sorot mata majikanku yang terlihat memerah menandakan kalau wanita itu sedang mencoba menahan air mata yang akan menetes. Bisa aku rasakan bagaimana sedihnya Momy sa'at ini.


Aku mengangguk memberikan jawaban atas apa yang Momy Bela tanyakan. "Tia tidak bisa menolaknya, itu sebabnya Tia pergi dari Pak Gala dan menghilang dengan menganti semua nomor telepon dan juga sosial media," jawabku dengan jujur tidak ada alasan lagi aku berbohong. Toh tanpa aku berbicara jujur, Momy Bela juga sebenarnya sudah tahu dengan apa yang terjadi, dan sepertinya kecemasan aku tidak akan terjadi karenya sepertinya jalan pikiran aku dan Momy sejalan, berbeda dengan Tuan Piter yang terlalu berkuasa itu, dan selalu menyingkirkan siapa pun yang dia anggap kurang pantas untuk jadi bagian dari anggota keluarganya.


"Oh ya Tuhan Tia, apa kamu tahu gara-gara kamu yang meninggalkan anak Momy begitu saja, Gala sempat berubah seperti orang gila cari kamu ke sana dan ke sini tapi tidak juga ketemu, dan akibatnya dia kembali terjebak dalam pernikahan bisnis yang kembali gagal, dia stres berat, dia sakit dan itu semua terhubung dengan kisah masa lalunya."


Aku melihat raut wajah kekecewaan yang Momy Bela tunjukan, dan aku pun memakluminya. Yah, ibu mana pun pasti akan merasa kecewa seperti yang dirasakan oleh majikanku dan aku terima semua konsekuensinya.


"Tia tidak bisa menghindar Mom, karena Tia juga tahu kalau bertahan pun akan sangat banyak ujiannya, sehingga Tia melakukan itu semua. Tia tahu mereka tidak akan terima begitu saja kalau Tia diamkan Tia pasti akan diteror terus atau bahkan fitnah yang mengerikan akan terjadi," jawabku dengan jujur, dan itu yang dulu aku rasakan. Oleh sebab itu aku memilih mundur. Dari pada berurusan dengan orang yang berkuasa.


"Yah, Momy tahu bagaimana rasanya ada di posisi kamu dan Momy berharap kalau kamu akan jujur pada perasaanmu kedepannya, dan kamu bisa omongkan semuanya dengan Gala, dan nanti Momy akan bantu berbicara dengan papahnya Gala, beliau pasti tahu dengan apa yang Gala inginkan. Momy ingin melihat Gala bahagia, seperti dulu. Sekarang hidup anak Momy penuh dengan tekanan sehingga mudah sakit dan Momy sangat sedih."

__ADS_1


Aku pun hanya bisa menjawab dengan menganggukkan kepalaku mencoba mengerti dengan apa yang Momy katakan, kalau memang majikan aku mendukung aku untuk maju maka aku akan maju. Apalagi umurku sudah dua puluh lima hampir dua puluh enam tahu, di kampung umur segitu sudah pada menggendong anak, aku juga ingin seperti mereka yang memutuskan untuk menikah dan mempunya anak, tidak usah hidup bergelimangan harta cukup hidup sederhana yang penting bahagia.


"Baiklah ini sudah terlalu malam, kamu istirahatlah. Momy juga sudah ngantuk. Jangan lupa pintu kamar kamu kunci, Momy tidak mau terjadi sesuatu hal di luar pernikahan, dan Gala nanti Momy yang akan bicara dengan anak Momy, jadi kamu untuk sementara waktu diam dulu yah, biar Momy yang bicara dengan Gala. Agar anak Momy tidak gegabah, dan besar harapan Momy kamu nanti bisa jadi pasangan yang bisa menerima anak Momy dengan tulus, merawat dan menjaga dia dengan kasih sayang yang seharusnya kalian dapatkan, dan hidup bahagia memberikan Momy cucu, agar rumah ini tidak sepi lagi," ucap Momy Bela yang langsung membuat wajahku memanas, untuk membayangkan menikah sama Pak Gala saja rasanya terlalu lancang dan kini malah Momy Bela sudah membahas tentang cucu rasanya terlalu tingga kalau aku langsung mengharapkan sampai titik itu.


"Baik Mom, Tia akan ikut apa kata Momy," ucapku dengan pasrah dan juga ada rasa kelegaan di dalam hatiku, aku akhirnya bisa tidur dengan tenang setelah bercerita dengan majikan aku, dan beliau tidak marah, apalagi sampai memecat aku, seperti yang aku bayangkan.


"Ingat tidur yah." Kembali Momy bela mengingatkan aku dengan senyum yang sangat manis, dan usapan dipunggung tanganku seolah beliau ingin memberikan dukungan untuk aku.


"Memecat? Kenapa Momy harus memecat kamu, selama ini kamu kerja bagus dan juga kamu anak yang jujur mana mungkin Momy akan memecat kamu, jangan berpikir yang tidak tidak, tidur!" Meskipun nada bicara Momy seperti mengancam tetapi aku tahu Momy Bela adalah orang yang sangat baik, aku pun kembali menggunakan kepala.


Tanpa ada obrolan lagi Momy Bela pun langsung meninggalkan kamarku dan kembali ke kamarnya. Aku mengusap dadaku dengan penuh kelegaan ketika majikanku sudah ke luar dari kamar. Seperti yang Momy katakan aku langsung menutup kamarku dan menguncinya. Ya jelaslah aku takut kalau Pak Gala akan nekad masuk ke dalam kamarku dan berbuat yang tidak-tidak seperti yang Momy Bela takutkan.


Meskipun rasanya tidak mungkin kalau Pak Gala akan berbuat demikian, aku yakin laki-laki yang masih mencintaiku adalah laki-laki baik dan juga tidak mungkin melakukan dosa. Aku merebahkan tubuhku yang sempat tegang. Yah tegang sekali malah ketika aku memikirkan sesuatu hal yang belum tentu terjadi.

__ADS_1


Rasanya aku seperti di lepaskan oleh tali-tali yang mengikat tubuhku aku sangat lega. "Terima kasih Tuhan aku sekarang seperti mendapatkan dukungan untuk mendapatkan cintaku," gumamku dalam hati, berbeda dengan sebelumnya kini aku seperti mendapatkan kekuatan untuk megapai cintaku. Tanpa terasa aku dan Momy Bela ngobrol menghabiskan waktu yang cukup lama.


"Pantas saja aku ngantuk sudah mau jam dua belas. Kira-kira Pak Gala sudah tidur belum yah, terus kalau memang Momy Bela merestui cinta kita begitupun papahnya Pak Gala merestui cinta kami. Apa kami akan bisa menikah dan hidup bahagia, atau justru kami akan hidup dalam sandiwara, pernikahan kami akan dirahasiakan karena pasti keluarga Tuan PiterĀ  tidak akan merestuinya lagi." Aku kembali terpikirkan akan cerita Momy Bela.


Justru kini aku tidak mengantuk lagi, aku kembali duduk dan mengingat kembali apa yang Momy Bela tadi ceritakan, ada rasa takut dalam hatiku, kalau aku nantinya akan mendapatkan nasib yang sama dengan Momy Bela, tidak juga bisa memiliki keturunan dan malah aku nanti akan di paksa berpisah dan Pak Gala kembali menikah dengan wanita lain.


Yah, kali ini aku gelisah dengan ketakutan itu, aku tidak sekuat Momy Bela yang tetap menerima takdir dengan sangat legowo, andai itu terjadi pada aku, sepertinya aku akan berubah menjadi wanita paling jahat di muka bumi ini.


Yah, aku tidak boleh pasrah, seperti yang Momy Bela katakan kalau aku harus perjuangkan, jangan pasrah, dan jangan menyerah. Aku harus berjuang untuk kebahagiaanku. Kali ini semangat itu kembali lagi untuk memperjuangkan cintaku, aku tidak akan menyerah seperti Momy Bela, aku sepatutnya berbangga hati karena ada majikan aku yang mendukung hubunganku dengan Pak Gala. Mungkin saja nanti malah aku bisa mendapatkan restu dari semuanya. Ah, aku harus tunjukan kalau aku memang wanita yang pantas untuk Pak Gala, meskipun aku berasal dari keluarga kurang mampu, bukan berati aku tidak pantas untuk bersanding dengan mantan bosku, cinta bukanya tidak diukur dari kaya dan miskin bukan?


Bersambung....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2