
"Mulai besok, aku akan kembali bekerja, dan juga tinggal di rumah Kakek, kamu jaga diri baik-baik dan juga jangan nakal dengan laki-laki lain," pesan Pak Gala, ketika kami sedang ngobrol bersama di teras rumah.
Aku terkekeh dengan renyah ketika mendengar nasihat dari laki-laki yang saat ini duduk di sampingku. "Jangan nakal dengan laki-laki lain? Memang di rumah ini ada berapa laki-laki? Bahkan Tia saja paling ke luar rumah untuk beli sayur, masa ia abang sayur mau Tia godain."
Aku kembali terkekeh ketika mengingat abang sayur yang memang sedikit genit, bahkan hampir semua asisten rumah tangga di kompleks ini dipanggil Ayang. Kira-kira bagai mana reaksi Pak Gala kalau dengar aku juga dipanggil Ayang, kalau aku sih santai saja yah, toh kami semu bahkan Momy Bela tahu kalau abang sayur hanya bercanda. Dia memanggil Ayang hanya untuk mengarahkan diri dengan para pelanggannya, tapi tidak tahu Pak Gala apakah akan mengerti atau nanti juga akan cemburu dengan abang sayur langganan aku.
"Ya takutnya, pokoknya aku tidak rela kalau kamu godain laki-laki lain selain aku," ucap Pak Gala yang membuat aku kembali terkekeh. Nah kan aura-aura posesif-nya calon suami sudah ke luar.
"Kalau Tia mau melakukanya sudah Tia lakukan sejak dulu, tapi Tia tidak melakukanya kan. Lagi pula Pak Gala tahu kalau Tia itu kan wanita yang kalem, sertakan baik-baik, tidak mungkin lah berani godain laki-laki duluan, kecuali laki-laki itu yang Tia taksir," balasku, dan jawabanku berhasil membuat wajah Pak Gala memerah.
"Jadi secara tidak langsung kamu mau bilang kalau kamu dari awal sudah naksir aku dan berani memberikan sinyal-sinyal yang berhasil membuat aku tertarik?" Pak Gala pun nampak tersenyum bangga. Yang jelas pasti laki-laki itu sedang membayangkan pertama kali kita pendekatan dulu.
"Tidak Tia jawab, juga Pak Gala pasti mengira seperti itu, jadi kayaknya lebih diam dan biarkan Pak Gala tahu sendiri jawaban dari Tia," jawabku dengan santai.
"Tapi bisa nggak kalau panggil itu jangan Pak Gala, jujur aku kurang nyaman banget ketika kamu panggil Pak Gala, kayak mau nikah dengan anaknya sendiri."
Pak Gala kembali membahas soal panggilan sayangku. Mungkin Pak Gala tidak tahu kalau panggilan itu bagi aku adalah panggilan sayang dan perhatianku pada calon suami. Yah, meskipun kalau didengar oleh yang lain kurang nyaman, tapi aku suka panggilan itu.
__ADS_1
Bahkan Momy Bela sendiri sudah beberapa kali meminta aku mengganti panggilan pada calon suami, tetapi bagi aku merubah panggilan tidak gampang, lidah ini tetap saja keseleo dan kembali panggil dengan panggilan yang sudah melekat di otakku.
"Panggil sayangnya, nanti saja kalau kita sudah sah jadi suami istri saja yah. Untuk sekarang panggilnya seperti biasa saja," tawarku dengan memberikan senyum terbaik, agar Pak Gala setuju.
"Sekarang panggilnya Mas saja gimana?" Pak Gala masih terus berusaha agar aku tidak panggil Pak Gala, padahal aku sangat menyukai panggilan yang langka itu.
"Baiklah, Tia akan biasakan panggil dengan Mas," jawabku pada akhirnya mengalah, karena bosan membahas panggilan. Lagi pula mungkin benar apa Momy Bela, apa kata orang kalau tahu panggil calon suami dengan panggilan Pak Gala, udah kaya bapak dan anak saja.
Sejak obrolan malam ini, aku pun perlahan merubah panggilan pada kang mas calon suami, awalnya tentu kagok dan malu juga kalau di dengar oleh majikanku, tapi lama-lama biasa saja.
Sejak malam itu juga, calon suami keesokan harinya kembali ke rumah keluarga besarnya, yang mana ia tinggal dengan sang kakek dan juga papah serta istri mudanya. Namun, jangan ditanya hampir sepanjang hari setiap ada waktu luang maka calon suami selalu bertukar kabar dan cerita dengan hari-harinya.
"Tia, Momy dan papinya Gala sudah berbicara dengan keluarga kamu, dan kami semua sepakat kalau pernikahan kamu dan anak Momy akan dilangsungkan lusa, apa kalian sudah siap?" tanya Momy Bela pagi tadi. Pertama mendengar kabar itu pasti aku kaget, kenapa rasanya cepat sekali, tetapi Momy Bela sekali lagi mengatakan, pernikahan kami dilangsungkan dengan sangat cepat hal itu karena Tuan Piter sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negri.
Menurut majikanku, ini adalah waktu yang sangat baik dan juga tepat, karena pernikahan kami tidak akan ada yang mengganggu. Perihal setelah pernikahan kami akan di terjang masalah, dari awal kami semua sudah siap untuk menghadapi ini bersama-sama, bahkan Momy Bela sudah siapa memberikan punggungnya untuk melindungi kami, nyatanya bukan Momy Bela saja Papi Yusuf pun sama, beliau ingin melihat putra semata wayangnya bahagia, dan ingin segera menimang cucu sehingga beliau rela menikahkan kami secara diam-diam.
Perasaan aku pun semakin tidak menentu ketika kembali aku terpikirkan nasihat Ibu dan Bapak beberapa hali ke belakang, bahwa ketika aku sudah siap untuk menikah maka aku juga harus siap untuk memasuki kehidupan yang baru, hidup di saat aku sudah menikah dengan masih lajang itu sangat berbeda dan aku harus siap.
__ADS_1
Yah, aku pun sempat bertanya pada Tulip dan juga Misi bagaimana rasanya menikah, dan apa yang mereka katakan rata-rata sama dengan yang Ibu dan Bapak katakan, yaitu hidup paska menikah itu sangat jauh berbeda dengan kehidupan sebelum menikah.
Saking aku terpikirkan akan nasihat Ibu dan Bapak, serta pengalaman dua sahabatku, aku pun sempat tidak bisa tidur dengan nyenyak, banyak pikiran yang mengganggu dan membuat aku berpikir ulang, akan keputusanku yang dengan mudah menerima lamaran dari calon suamiku.
Bahkan aku sempat membandingkan kehidupan Momy Bela dan juga Papi Yusuf yang menurutku sangat tidak masuk akal, seorang wanita rela suaminya memiliki istri lain, entah cinta atau tidak, tetapi bagi aku sangat sulit untuk menerimanya. Yah, meskipun sekali lagi, cara berpikir aku dan Momy Bela pastinya tidak sama.
Aku bahkan sampai berkali-kali tanya dengan calon suamiku, apakah serius dan yakin memilih aku sebagai istrinya, dan akan menjadikan wanita satu-satunya untuk di jadikan istrinya.
Dan jawaban Pak Gala pun selalu membuat aku yakin kalau laki-laki yang lusa akan menikahi aku memang laki-laki yang serius dengan niatnya, dan tidak akan menghianati pernikahan kami.
Lusa aku akan menikah, tetapi aku merasa seperti tidak ada kesibukan apapun, bahkan pernikahan aku akan dilangsungkan di mana aku tidak tahu, semuanya serba misterius.
"Ya Tuhan, semoga pilihan hamba adalah pilihan yang terbaik, dan Pak Gala adalah orang yang tepat dan juga laki-laki yang terbaik untuk hamba. Semoga ini adalah pernikahan pertama untuk hamba dan juga Pak Gala. Semoga hamba dan suami hamba kelak bisa mendapatkan restu dari semua keluarga, dan bisa menjadi keluarga yang bahagia."
Tidak henti-hentinya aku selalu berdoa untuk kebaikanku, aku tidak ada keyakinan lain, selain pertolongan dari Allah dan petunjuk dari Allah, dan setelah beberapa kali aku ragu dan meminta petunjuk dari Sang Penciptaku, aku pun yakin kalau aku akan menikah dengan Pak Gala, meskipun ini adalah pernikahan yang serba tertutup dan secara diam-diam.
Aku yakin Tuhan pasti akan membukakan jalan kebahagiaan pada keluargaku kelak. Dan akan meluluhkan hati Tuan Piter yang keras itu.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...