Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Takut Sinar Matahari


__ADS_3

Pov Gala


Aku tidak pernah menyangka kalau dipernikahanku yang ke tiga kalinya, akhirnya aku dipercayakan untuk memiliki buah hati. Bahagia pasti, itu yang aku rasakan. Entah aku harus membayangkan bahagia seperti apa yang jelas aku sangat bahagia dengan kado yang istri berikan. Padahal usia pernikahan kami baru berjalan dua bulan, tetapi Tuhan sudah percaya pada kami buah hati sebagai pelengkap rumah tangga kami.


Tak henti-hentinya aku mengucapkan rasa syukur ini. Terlebih aku memiliki anak dari wanita yang sangat aku cintai. Aku terus menatap wajah Tia, istriku yang tengah tertidur pulas. Seperti hari kemarin Tia pun tidur lagi setelah menjalankan ibadah sholat subuh, aku tidak keberatan sama sekali karena mungkin ini bawaan bayi kami yang inginya tidur terus.


"Sayang." Aku membelai rambut istriku yang lembut dan hitam legam.


"Hemz ...." jawabnya, tetapi tetap ke dua bola matanya masih terpejam. Aku mengulas senyum, lucu tingkah Tia sekarang sejak hamil dia jadi seperti anak-anak yang manja, bahkan tidur selalu ingin diusap-usap dulu rambutnya. Ternyata istri hamil itu sangat menikatkan mood.


"Mas mau berangkat kerja yah," bisikku di balik daun telinga istriku.


Kelopak mata Tia pun terbuka dengan mata yang menyipit karena silau dari cahaya matahari yang sudah mulai masuk ke dalam kamar kami lewat kaca jendela yang gordenya sengaja aku buka.


"Mas tolong tutup gordenya, Tia tidak suka cahaya matahari silau dan bikin pusing," rajuk istriku dengan menujuk gorden yang terbuka. Aneh banget memang, sekarang bahkan kalau masuk kamar dan mau tidur harus benar-benar gelap, padahal biasanya Tia adalah tim orang yang tidur dengan cahaya lampu tetap menyala. Tia tidak suka gelap. Bahkan kalau lampu dimatikan dia akan bilang pengap, takut dan masih banyak lagi alasan yang Tia berikan agar lampu jangan di matikan. Sebagai suami yang baik, aku pun mengalah. Lama kelamaan aku terbiasa juga tidur dengan lampu menyala.

__ADS_1


Namun sekarang justru Tia tidak suka kalau lampunya menyala, sehingga kalau sudah masuk kamar lampu wajib mati, dan sekarang dia tidak suka cahaya matahari yang masuk lewat jendela.


Lagi, aku yang tidak tega karena melihat Tia tidak bisa melihat cahaya matahari pun kembali menutup goden hingga duikamar kami seperti masih malam.


"Udah, sekarang Mas mau berangkat kerja yah. Nanti kamu akan ditemanin oleh Momy, tadi Momy bilang hari ini tidak ke toko sehingga kamu ada temanya. Dan kamu juga jangan sampai lupa sarapan yah."


Aku melihat Tia hanya mengangguk tanpa memberikan jawaban, mungkin sudah ngantuk lagi, karena aku melihat beberapa kali Tia menguap.


"Sayang, Papah berangkat kerja dulu yah. Kamu di rumah sama Bunda jangan nakal yah Sayang. Nanti kalau mau sesuatu bilang sama Papah, biar Papah belikan." Aku mengusap perut Tia dengan lembut dan menciumnya dengan mesra.


"Hati-hati Mas." Suara Tia akhirnya keluar juga. Aku membalas dengan anggukan, dan memberikan simbol ok dari jari jempolku.


"Mas akan secepatnya pulang kerja." Tanpa menunggu jawaban dari Tia aku pun langsung meninggalkan Tia agar kembali istirahat.


******

__ADS_1


"Tia tidur lagi Sayang." Baru juga aku menutup pintu suara Momy Bela sudah mengagetkanku.


"Iya Mom, mungkin bawaan hamil yah. Bahkan sekarang lihat sinar matahari nggak mau, aneh sih tapi lucu," aduku, sangat lucu tingkah-tingkah wanita hamil itu.


"Biarkan dia istirahat, mungkin memang bawaan bayi kamu kaya gitu. Apa kamu akan langsung kasih tahu Kakek kamu dengan kehamilan Tia?" tanya Momy Bela dengan hati-hati.


"Iya Mom. Lebih cepat lebih baik bukan. Kasihan Tia juga kalau belum direstui oleh Kakek sepenuhnya takut malah nanti penasaran. Ini rencananya Gala sebelum berangkat kerja akan mampir ke rumah Kakek dulu untuk memberikan kabar bahagia ini. Setelah itu baru berangkat ke kantor. Gala titip Tia yah Mom, dia belum sarapan tadi diajak sarapan jawabnya nanti ajah, jadi takut nanti malah kelupaan Momy bisa ingatkan Tia agar tidak lupa makan," pamitku pada Momy.


"Kamu tenang saja Tia aman dengan Momy."


Aku pun berpamitan dengan Momy dan berangkat ke rumah kakek. Yah kabar berhubung ini adalah kabar baik aku pun ingin Kakek segera tahu, dan berharap restu itu akan datang dengan sendirinya. Karena apa yang Kakek inginkan sudah terjadi. Tia sudah hamil sebagai tanda kalau Tia memang benar-benar mencintaiku.


Yah aku sih sebenernya tidak terlalu ngoyo banget pengin restu dari kakek, toh pernikahan aku sebelumnya sangat ditemui oleh Kakek pun kandas-kandas juga.


Yang terpenting bagi aku adalah restu Papi dan Momy dan semuanya sudah aku dapatkan. Jadi kalau pun Kakek merestui itu hanya pelengkap.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2