
Pov Gala
Tidak harus menempuh perjalanan yang lama, kini aku pun sudah sampai di halaman rumah Kakek. Dengan yakin aku pun mengayunkan kaki ke rumah dengan tiga lantai itu. Rumah yang sangat mewah, kalau dibandingkan dengan rumah Momy Bela. Namun, rumah yang mewah tidak menjamin kenyamanan untuk aku tinggali. Orang-orang di rumah ini yang membuat aku kurang betah untuk tinggal di sini.
"Tumben kamu Gala pagi-pagi sudah datang." Orang yang pertama kali menyapaku adalah Papi.
"Iya Pi, ada yang ingin Gala sampaikan pada Kakek dan juga semuanya." Pandangan mataku dialihkan pada Kakek dan juga Papi serta terakhir Tante Mizel.
"Apa tidak lebih baik sarapan dulu." Lagi-lagi Papi yang menawariku makan. Kakek sendiri nampaknya tetap acuh dengan kedatanganku. Yah, Kakek memang sedang marah dengan aku, karena aku yang lebih memilih tinggal di rumah Momy Bela. Bahkan Kakek kemarin sempat bilang kalau aku yang sekarang sudah jauh berbeda, tidak lagi memperduliakan beliau, aku lebih memilih Tia dan ibu tiriku.
"Tidak usah Pih, Gala sudah sarapan," ucapku, aku membiarkan mereka selesai sarapan dulu rasanya tidak enak kalau aku harus langsung menyampaikan apa yang jadi tujuanku datang ke rumah ini.
Sembari menunggu keluargaku selesai makan, aku pun lebih fokus mengecek pekerjaanku dari layar pintar. Sayang kan ada waktu luang malah dianggurin.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong kamu ada apa datang ke sini?" tanya Papi yang lebih dulu selesai makan malam, sedangkan Tante Mizel pun nampak kepo dengan obrolan kami. Biarkanlah ini kan kabar bahagia, mungkin saja wanita itu juga nantinya tidak terlalu bisa mengompori Kakek terus, dari dulu sifat buruknya nggak berubah-ubah selalu memancing keributan, dengan memanfaatkan kebaikan Kakek. Mentang-mentang menatu yang paling disayangi oleh Kakek sampai-sampai ingin menyingkirkan semuanya. Cukup Momy Bela yang mengalah buat wanita pilihan Kakek, Tia tidak akan aku biarkan tersisih. Tia juga harus mendapatkan perlakuan yang sama oleh Kakek, kalau perlu lebih malah.Biar tau rasa tuh wanita.
Aku mengulas senyum sebagai jawaban atas pertanyaan Papi, di bawah sana tanganku merogoh saku celana di mana kado dari Tia aku simpan.
"Gala datang ke sini ingin menangih ucapan Kakek." Pandangan mataku menatap Kakek yang langsung mengangkat wajahnya. Sehingga pandangan kami pun saling bertemu.
"Maksud kamu apa?" tanya Kakek, dari raut wajahnya aku bisa menyimpulkan kalau Kakek sangat penasaran dengan ucapanku, ternyata bukan hanya Kakek saja yang penasaran, melainkan Papi dan Tante Mizel juga nampak menunggu jawabanku.
Tanpa menjawab dengan ucapan, aku langsung saja memberikan kotak kado yang Tia berikan untukku. Kakek pasti tahu apa yang harus dilakukan setelah melihat ada kado lucu di hadapanya.
"Buka saja pasti Kakek tahu maksud janji yang Gala katakan tadi. Gala datang ke sini hanya untuk menangih janji atas apa yang pernah Kakek ucapkan di hadapan Gala dan juga Tia.
"Udah buka aja Pah, apa mau Yusuf yang buka?" tanya Papih, dan baru saja aku akan kembali meminta agar Kakek segera membuka kado yang aku bawa, bukan hanya dipandangi terus nggak akan tahu-tahu malah isinya.
__ADS_1
Perlahan, tetapi pasti tangan Kakek pun menyentuh kotak yang ada di hadapanya. Tanpa menunggu lama Kakek pun membuka kotak kado itu. Kakek bergeming bahkan matanya pun tidak berkedip.
"Astaga apakah sakit jantung Kakek kambuh lagi?" batinku ketika melihat reaksi Kakek yang sangat aneh. "Aku takut nanti kalau Kakek kenapa-napa malah aku lagi yang disalahkan. Ya Tuhan aku lupa banget kalau Kakek tidak boleh terlalu mendapatkan kejutan."
Aku bisa bernafas lega ketika Kakek akhirnya mengedipkan matanya.
"Apa Tia benar-benar hamil, dan anak itu anak kamu?" tanya Kakek. Yang langsung mebuat aku kaget dengan pertanyaan Kakek. Aku tidak menyangka Kakek akan bertanya seperti itu, andai Tia ikut ke sini sudah pasti hatinya sedih mendengar pertanyaan Kakek, bahkan aku saja sangat sedih mendengar pertanyaan Kakek yang terlalu menyudutkan Tia.
"Ya Tuhan, Kakek kenapa ngomong kaya gitu. Apa pikir menurut Kakek, Tia itu wanita gampangan. Dia itu wanita yang paling baik yang pernah Gala temuai. Dia bisa menjaga kesucianya sampai Gala yang jadi suaminya yang merenggutnya, dan Kakek sekarang bertanya seperti itu, seolah-olah Tia adalah wanita murahan. Gala datang ke sini hanya ingin menangih janji Kakek yang pernah berjanji di hadapan Gala dan Tia kalau Kakek akan merestui hubungan kita, tapi kalau Kakek tidak mau merestu hubungan kita Gala tidak akan memaksa. Tapi tolong jangan cap Tia seperti wanita gampangan, karena itu artinya Gala gagal melindungi Tia. Tidak apa-apa Kakek tidak terima anak Gala. Gala tidak akan memaksa biarkan kami hidup bahagia dengan cara kami." Tanpa menunggu jawaban dari Kakek aku pun langsung meninggalkan rumah mewah itu.
Persetan aku mau dicap kurang ajar, berubah, atau apalah itu, intinya aku tidak suka Kakek merendahkan Tia. Aku adalah kepala keluarga yang artinya aku wajib melindungi Tia, makmumku. Toh aku sudah berusaha berbicara baik-baik dengan Kakek, semua hasil aku serahkan pada Tuhan, kalau tidak akan dapat restu juga aku tidak akan memaksa. Aku tidak ingin merusak kebahagiaanku dengan ucapan Kakek.
Bersambung....
__ADS_1
...****************...