
Perasaanku semakin bingung bagaimana kalau Pak Gala nanti bertanya alasan aku tiba-tiba pergi dan menghilang dari Pak Gala. Bagaimana kalau Pak Gala bercerita pada Momy Bela siapa aku sebenarnya? Apa aku nanti akan kembali dipecat? Padahal aku sudah sangat nyaman dengan bekerja di sini.
"Tia ini bau apa...?" Suara Momy Bela membuat aku tersentak kaget ketika tiba-tiba Momy Bela berteriak. Sontak saja aku langsung panik ketika serbet terbakar. Dengan gerakan cepat aku menarik serbet yang terbakar dan melemparkannya ke tempat pencucian piring. Aku pun mengelus dada, tetapi ternyata bukan hanya itu saja, ikan yang aku goreng juga ternyata gosong.
"Astaga Tia, kamu kenapa sih? Ikan bisa jadi negro begini," umpatku pada diriku sendiri yang sangat ceroboh.
"Ini bau apa Tia?" tanya Momy Bela ulang yang tiba-tiba sudah ada di belakangku. Kembali aku yang sedang panik dan pikiran entah sedang di mana pun terkejut dengan Momy Bela yang tiba-tiba ada berdiri dengan bingung. Jangan majikanku aku sendiri juga bingung kenapa bisa ceroboh begini.
"Ini Mom gosong." Aku menunjuk ikan yang gosong dan juga serbet yang terbakar. Aku memang benar-benar teledor. Selama ini Momy Bela memang baik dan juga tidak macam-macam, tetapi bukan berati Momy Bela tidak bisa marah, kali ini mungkin saja aku akan kena marah karena keteledoranku.
"Kalau gitu kamu ambil ikannya lagi di kulkas, biar Momy yang lanjutkan masak, kamu istirahat saja, mungkin kamu seharian ini cape karena sudah bekerja keras. Merapihkan kamar pasti sangat lelah dan bikin tenaga kamu terkuras." Tanpa menunggu jawaban dari aku, Momy Bela langsung mengambil sodet yang ada di tanganku.
"Tapi Mom, apa Momy marah karena Tia sudah sembrono?" tanyaku jujur aku baru merasakan sangat tidak berguna. Apalagi tatapan Momy Bela juga sangat mengerikan.
Bukanya menjawab Momy Bela justru tersenyum dengan teduh, dan mengusap pundakku. "Namanya orang tidak ada yang luput dari salah dan juga dari kelalaian. Momy tidak seharusnya marah pada kamu karena kamu juga sangat baik dan juga sangat pekerja keras, salah satu atau dua itu wajar. Sudah sana ambil ikannya lagi, kasihan anak Momy nanti kelaparan."
Setelah Momy Bela berkata seperti itu, aku pun tidak lama menunggu, langsung aku mengambil ikan lagi. Dan memberikannya pada Momy Bela, sedangkan aku memilih untuk mengupas telur dan memisahkan antara kuning dan putihnya. Berkat bantuan Momy Bela pekerjaan pun sudah selesai dengan cepat. Mungkin dari segi umur Momy Bela sudah tidak muda lagi, tetapi untuk kekuatan dan cekatannya masih bisa terbilang sangat baik dan juga sangat rapih.
"Kamu bantu Momy untuk rapihkan ke meja makan yah, anak Momy sudah nunggu untuk makan bersama." Momy Bela menunjukan alat untuk merapihkan meja makan.
Namun, bukanya aku bergegas untuk merapihkan meja makan, aku justru menunduk bingung.
__ADS_1
"Loh, Tia kamu kenapa?" tanya Momy Bela yang melihatku seperti kebingungan pasti.
"Mom, apa Pak Gala masih ada di meja makan?" tanyaku dengan suara setengah berbisik.
Kali ini Momy Bela yang gantian kebingungan. "Kanapa panggilnya Pak Gala? Dia anak Momy panggil Mas atau Abang, panggil Pak kaya sudah bapak-bapak saja," kelakar Momy Bela, tetapi aku bukan fokus pada panggilanya, tetapi pada jawaban Momy Bela yang ternyata tidak menjawab Pak Gala ada di mana.
Aku pun yang penasaran mengintip dari dapur ke meja makan yang ternyata Pak Gala memang masih ada di meja makan dengan ponsel di tangannya seolah sedang menungguku (GR banget yah) selalu seperti itu sibuk, dari dulu maupun sekarang di mana-mana yang diurus adalah pekerjaan.
"Bismillahirrahmanirrahim, mudah-mudahan Pak Gala tidak kenal aku," batinku sebelum merapihkan meja makan seperti yang Bela katakan. Berhubung urusan masak di pegang Momy aku pun mau tidak mau harus merapihkan meja makan dan bersikap biasa saja, sembari berdoa agar Pak Gala lupa dengan aku.
Ya bisa saja kan ketika Pak Gala jalan kepentok tiang listrik terus lupa ingatan sebagian dan ternyata yang lupa memory tentang aku.
"Ehemmm, maaf Pak saya mau rapihkan meja makan," ucapku dengan suara yang lembut dan lirih.
Berharap akan dijawab, iya tidak apa-apa, tapi nyatanya sepatah kata pun tidak keluar dari laki-laki yang sedang duduk dengan santai. Seperti yang Momy Bela katakan aku pun langsung merapihkan meja makan dengan hati-hati.
"Kenapa kamu tiba-tiba menghilang? Kamu hutang penjelasan pada aku." Suara yang sangat aku kenal tiba-tiba membuat aku tercekat.
Deg! Jantungku seolah berhenti berdetak ketika Pak Gala ternyata masih mengenali aku. Ingin aku membalas ucapan mantan kekasihku yang jujur, meskipun Pak Gala bukanlah yang pertama untuk aku, tetapi untuk melupakan namanya di hatiku itu sungguh sulit. Mungkin karena selama aku kenal dan cerita-cerita dari teman dan juga dari Momy Bela yang tanpa ku sadari beliau sering bercerita sosok mantan kekasihku tidak ada rekam jelek sehingga aku merasa kesulitan untuk menyingkirkan namanya dari hati ini.
Aku pun hanya bisa diam, dan pura-pura tidak mendengar. Aku belum siap memulai obrolan dengan laki-laki yang sedang menatapku tanpa kedip.
__ADS_1
"Tia, kalau sudah selesai ini bawa ke meja yah."
Untung suara Momy Bela bisa menyelamatkan aku dari intimidasi Pak Gala. Membersihkan meja makan biasanya hanya butuh lima menit, tetapi ketika kerja diamati oleh Pak Gala terus tangan rasanya sulit sekali untuk gerak. Padahal dulu aku sudah biasa kerja di bawah tatapan Pak Gala tapi sekarang rasanya sangat berbeda.
"Maaf Pak, saya permisi dulu."
Sama dengan sebelumnya kali ini aku juga tidak mendengarkan Pak Gala menjawab ucapanku. Mungkin beliau masih marah dengan keputusan aku yang hilang tiba-tiba padahal aku dan Pak Gala sebelumnya masih berkomunikasi masih berhubungan dengan baik-baik, tetapi tiba-tiba hilang bak ditelan bumi.
Aku pun memejamkan mataku dengan kuat, aku tahu mantan kekasihku pasti merasakan kalau aku buat sangat bodoh hari ini.
"Mana yang harus Tia bawa Mom?" tanyaku untuk mengurangi kegugupanku.
"Tia, kamu kenal dengan anak Momy?" tanya Momy Bela, yang justru mengabaikan pertanyaanku dan mengganti dengan pertanyaan yang lain.
Deg! Kali ini aku kembali di buat terkejut, hari ini aku benar-benar ingin hilang dari muka bumi ini. Ini adalah hari yang paling tegang semua pertanyaan membuatku mati kutu. Seperti pertanyaan Momy ini, aku harus jawab apa? Tidak mungkin aku cerita yang sebenarnya, tetapi juga pasti majikan aku tahu perubahan sikap aku yang jadi bodoh seperti ini. Ah dunia memang sulit di tebak.
Bersambung...
Catatan : Berhubungan sepertinya editor sebagian sudah libur sepertinya up bakal ngaret, tapi tenang dari othor insyaAllah kalau tidak ada halangan up tetap 2 Bab, tapi kalau sedang ada halangan paling 1 bab tapi insyaallah akan tetap up setiap hari....
Sembari nunggu up yuk mampir ke novel CINTA BERSELIMUT DENDAM, seru dan no menye-menye semua tokoh ceweknya badass....
__ADS_1