Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Mati kutu


__ADS_3

Dunia itu bagaikan ruang hampa yang gelap, suram dan juga sepi. Tidak mengerti apa yang dilihat, tidak mengerti juga dengan apa yang didengar. Layaknya badan yang berjalan, tanpa nyawa, di jalan panjang kehidupan ini. Inilah yang saat ini tengah aku rasakan. Aku benar-benar gelap mau melakukan apapun aku tidak tahu.


Aku mengingat pertama kali aku menginjakan kaki di rumah ini saat itu aku masih merasakan takut, belum tahu apakah majikan aku adalah orang yang benar-benar baik, atau justru sebaliknya. Aku takut kalau nasibku nanti tidak sebaik dari pekerjaan sebelumnya, aku takut nanti justru akan membuat susah orang tuaku dengan memutuskan diri untuk bekerja menjadi pembantu. Banyak ketakutan di hatiku saat pertama kali menginjakan kaki ke rumah ini, dan aku pun saat ini merasakan hal yang sama, aku merasakan kalau hidupku akan kembali kehilangan arah.


Dengan tubuh yang lelah dan juga pikiran yang terlalu banyak memikirkan hal yang tidak seharusnya aku pikirkan. Aku pun merebahkan tubuh ini di atas kasur yang empuk, untuk sekelas pembantu seperti aku. Pandangan mataku tertuju pada langit-langit yang berwana putih.


Ya Tuhan peganglah tanganku, dengarkan hati ini merintih. Aku panjatkan doa, agar aku bisa menghadapi masalah ini semua. Aku tahu Engkaulah penentu hidupku ini, tetapi aku mohon jangan Engkau buat hidupku semakin sulit. Aku ingin hidup damai Tuhan.


Tokkk... Tokkk... Tokkk...


Sontak aku terkejut, siapa yang malam-malam ketuk pintu kamarku, aku pun melihat jam yang ada di dinding, di mana sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Rasanya tidak mungkin kalau Momy Bela yang mengetuk pintu kamarku, lalu kalau bukan Momy Bela berati.... Pak Gala....


Aku semakin bingung ketika pintu diketuk lagi. Perasaan cemas dan takut pun semakin menyelimutiku, yah aku sangat yakin kalau yang mengetuk pintu adalah Pak Gala, tidak mungkin majikan aku mengetuk pintu tanpa memanggil namaku, kebiasaan Momy Bela adalah memanggil namaku dengan nada khasnya. Tia... dengan nada mendayu dan panjang.


"Tia, aku tahu kamu belum tidur, buka pintunya! Atau mau aku dobrak dan Momy akan bangun?" Suara yang sangat aku kenal kembali mengusik pikiranku. Jantungku semakin berdetak lebih kencang, ketika Pak Gala mengancam aku, tidak mungkin aku diam saja dan pura-pura tidur sedangkan Pak Gala tahu kalau aku belum tidur.


"Tia..." Namaku kembali dipanggil kali ini dengan suara yang semakin keras.

__ADS_1


"Iya tunggu..." Akhirnya aku pun tidak bisa pura-pura tidak mendengar ketika Pak Gala mengulang memanggil namaku dengan ucapan yang lebih keras lagi.


Bruggg!!! Baru juga kuci aku putar tiba-tiba pintu di dorong dengan kecang. Membuat aku terpental dan parahnya jidatku kebentur pintu.


"Awhhh... Pak Gala apa-apaan sih, jidat Tia kepentok pintu jadi sakit kan," cerocosku dengan nada yang kesal persis seperti dulu aku kalau ngomong dengan Pak Gala.


"Jelaskan kenapa kamu pergi dari aku tiba-tiba! Tiga tahun Tia, aku mencari kamu kaya orang gila, tapi kamu malah bersembunyi di rumah Momy, apa salah aku kenapa kamu tega lakukan itu pada aku," ucap Pak Gala dengan suara pelan dan duduk di kasur kamarku. Yah bukanya menjawab ucapanku malah, laki-laki itu memberondong ku dengan pertanyaan yang lain.


"Pak Gala, jangan masuk kamar Tia, nanti Momy tahu kita bisa dituduh sedang berbuat yang tidak-tidak," ucapku mengabaikan pertanyaan dari mantan kekasihku tentu aku mengucapkannya seperti orang yang sedang bergosip yaitu bisik-bisik.


"Aku ingin itu terjadi," balas Pak Gala yang justru membuat aku semakin serba salah. Aku mungkin lupa kalau Pak Gala itu sebenarnya sedikit memiliki sifat keras kepala.


"Jadi kamu pergi karena keluargaku?" Ah, laki-laki ini memang sangat keras kepala. Aku minta pergi malah semakin santai dan membahas yang tidak seharusnya dibahas.


"Pak Gala tolong, Tia masih butuh pekerjaan ini dan jangan buat Tia kehilangan pekerjaan ini dengan masa lalu kita. Hubungan kita sudah selesai sejak tiga tahu lalu, jadi Pak Gala jangan bikin hidup Tia semakin sulit." Aku pun kembali memohon dengan sangat, agar Pak Gala kali ini mau mendengarkan apa kataku dan tidak mementingkan diri sendiri.


"Momy tidak akan memecat kamu," ucap Pak Gala dengan tatapan yang semakin tajam menatapku, aku justru kembali bingung, harus dengan apa agar aku bisa mengusir laki-laki yang sedang duduk di atas kasurku, agar tidak terus menekanku untuk menjawab pertanyaanya yang tidak bisa aku jawab. Yah, aku tidak bisa menjawab karena aku sudah janji kalau aku tidak akan mengatakan pada siapapun kalau aku resign dari tempat kerja karena dipecat secara sepihak. Mereka harus tahu bahwa aku ke luar dari tempat kerja sebelumnya ya dengan info masa kontrak aku habis.

__ADS_1


"Yah, Tia percaya kalau Momy Bela memang majikan yang paling baik, tetapi bukan tidak mungkin yang lain akan membuat Tia kehilangan pekerjaan ini. Tia masih ingin menyenangkan orang tua Tia. Belum Tia juga sudah berjanji pada adik Tia, kalau saya akan membantu biaya kuliahnya, jadi kalau Tia terlibat masalah dan kehilangan pekerjaan, akan sulit Tia mendapatkan pekerjaan yang nyaman sekaligus majikanya baik," balasku dengan nada yang semakin lembut, besar harapanku kalau Pak Gala akan mendegar ucapan aku dan dia tidak lagi egois dengan memikirkan dirinya sendiri dan mengabaikan aku.


"Siapa yang kamu maksud sih. Apa ada orang tuaku atau keluargaku yang mengancam kamu?" tanya Pak Gala lagi, kali ini dengan tatapan yang lebih tenduh dan juga suara yang jauh lebih lembut, mungkin laki-laki itu tahu betul kalau aku tidak bisa dikerasin.


Kembali aku menggelengkan kepala ketika Pak Gala kembali bertanya tentang masa lalu yang tiba-tiba aku meninggalkan dirinya.


"Kalau semua bukan, lalu kenapa kamu meninggalkan aku secara tiba-tiba, dan semua kontak kamu tidak bisa aku hubungi?" tanya Pak Gala lagi. Aku semakin bingung, aku tahu Pak Gala tidak akan berhenti bertanya sebelum mendapatkan jawabanya.


"Tia tidak mau pacaran. Dalam agama kita tidak diizinkan pacaran. Tia tidak mau menambah dosa, lagi pula orang tua Tia tidak mau kalau Tia pacaran, itu sebabnya Tia pergi dari Pak Gala. Lagi pula Tia berhijab apa kata orang nanti kalau penampilan saja berhijab tapi pacaran?" Aku yang bingung mau menjawab apa pun langsung terpikirkan jawaban itu yang pasti Pak Gala akan percaya dengan jawab aku. Dan juga aku yakin ini adalah jawab paling aman, tanpa mengatakan yang sebenarnya terjadi kalau aku diancam oleh keluarganya, kalau Pak Gala tahu pasti beliau bisa saja marah dan protes dengan sang kakek dan aku justru memicu konflik dalam keluarga pak Gala. Aku yang cinta perdamaian pun memilih berbohong demi kebaikan.


"Jadi alasan kamu tiba-tiba pergi dari aku adalah kamu tidak ingin berdosa karena pacaran, karena dalam islam tidak diizinkan berpacaran?" tanya Pak Gala, mengulang jawaban aku. Dan aku pun langsung menjawab dengan mengangguk kuat aku berharap kalau Pak Gala akan percaya dan tidak membahas kesalahnku tiga tahun silam.


"Tia tidak ingin Allah marah," imbuhku, kali ini aku yakin kalau Pak Gala pasti akan mengerti jalan pikiranku.


"Ok, kalau kitu bagaimana kalau kita nikah!"


Uhuk... Uhukk...

__ADS_1


# Ini sih namanya senjata makan sendiri... 🤭


Bersambung....


__ADS_2