Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Perhatian yang Berlebihan


__ADS_3

Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal di dalam mobil bos besar, aku pun benar-benar turun dan mengayunkan kaki dengan pelan.


"Tia..." Langkah kakiku kembali aku hentikan setelah aku mendengar ada yang memanggil namaku lagi. Dalam hati bertanya, sebab aku yakin mobil Pak Gala sudah pergi, baru aku berjalan masuk ke dalam area kosan. Namun, suara itu sudah sangat saya kenal.


Aku pun menghentikan langkahku dan membalikan tubuh lagi ketika namaku ada yang panggil.


"Untuk kamu?" Pak Gala memberikan kantong makanan yang cukup besar. Aku mengernyitkan kening karena bingung dari mana PakĀ  Gala dapatkan makanan itu sedangkan tadi kita pulang dan satu mobil bareng tidak ada kantong makanan itu.


"Kenapa?" tanya Pak Gala lagi ketika aku justru bingung dengan yang Pak Gala berikan.


"Tidak, apa ini tidak terlalu banyak, dan tidak terlalu berlebihan?" tanyaku balik. Aku lama-lama berpikir kebaikan Pak Gala itu keterlaluan, terlalu berlebihan, sehingga aku merasa semakin sulit dengan posisi ini, dan tentunya aku juga jadi merasa besar kepala karena Pak Gala sangat baik denganku.

__ADS_1


"Kalau untuk kamu terlalu banyak, kamu bisa membaginya bersama Tulip dan juga Misi, mungkin mereka belum makan malam."


Yang dikatakan Pak Gala benar, lagian udah di beli, dan kalau aku tolak jatuhnya tidak menghargai, dan juga sekali-kali nyenengin sohib dengan makanan enak, meski makanan dapat sumbangan dari Pak Bos.


"Kalau gitu Tia ambil, dan terima kasih untuk makanannya," ucapku dengan mengambil kotak makanan yang Pak Gala berikan.


"Sama-sama, ingat besok kalau belum sembuh tidak usah berangkat kerja dulu. Istirahat saja sampai kamu benar-benar sembuh," ucap Pak Gala lagi, yang membuat aku semakin tidak bisa menolak.


Kali ini aku pun benar-benar masuk ke dalam kontrakan setelah beberapa kali mengucapkan terima kasih untuk kebaikan Pak Gala. Yang justru membuat aku semakin sulit untuk mundur dan menghindar, karena seperti ada magnetnya setiap aku ingin mundur daya tarik itu kembali datang, dan semakin membuat aku kembali dekat.


Sesampainya di dalam kontrakan aku langsung meletakan makanan yang di berikan oleh bosku ke atas meja sedangkan aku kembali rebahan lagi. Rasanya aku belum lapar dan hanya ingin rebahan. Belum serentetan kejadian yang membuat aku merasa semakin bingung dengan jalan takdir ini. Tanpa terasa aku pun kembali tertidur.

__ADS_1


Hingga tidurku terusik dengan suara bising dari sahabatku yang tiba-tiba mengganggu mimpi indahku. Yah siapa lagi kalau bukan Tulip dan Misi. Seolah mereka benar-benar dapat amanah dari Pak Gala, malam ini mereka berencana tidur di kamarku, hal itu bisa aku lihat dari Tulip dan Misi yang membawa selimut dan juga bantal serta alat-alat nonton drama korea. Yah, ini mungkin dia kira sedang ada acara nobar.


"Tia lu masih sakit?" tanya Tulip ketika baru saja masuk ke kamar. Aku hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban, karena aku memang sudah tidak merasakan sakit lagi. Aku hanya merasakan lemas saja. Tadi dari rumah sakit sudah jauh membaik tetapi saat ini rasa lemas itu kembali datang.


"Terus kenapa lu tidur doang?" tanya Tulip lagi, yang lagi dan lagi dapat toyoran dari Misi.


"Hai, Sutini. Tia lagi sakit dan baru pulang berobat, dia lagi datang bulan biarpun nggak sakit lagi, tapi mungkin dia lemas, emang kalau orang nggak sakit nggak boleh tiduran? Lu ajah kalau pulang kerja, nggak sakit nggak apa tiduran nggak ada yang larang," protes Misi di mana dua sohibku memang seperti itu selalu saja ada saja obrolan yang mancing keributan.


Lagi, Tulip pun terkekeh dengan jawaban Misi, yang Kadang-kadang otaknya waras, tapi sering gila juga sih.


"Ngomong-ngomong, Tia kamar lu kok bau makanan sih. Mana wanginya enak banget sampai cacing pada memanggil," ucap Misi sembari mengendus endus aroma makanan yang hampir mengkontaminasi ruangan kosan ku.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2