
Tanpa sadar air mataku pun jatuh, ketika barusan aku mendengar kabar kalau Ibu dan adikku tidak bisa hadir di acara pernikahan aku. Padahal ini adalah momen yang paling aku tunggu-tunggu, aku ingin memiliki foto yang lengkap di mana ada aku dan kedua orang tuaku serta ada adikku lengkap dengan keduaa mertuaku dan juga berdiri aku dan Mas Gala di tengah-tengah mereka. Meskipun bukan pernikahan yang mewah, tapi rasanya cukup bahagia karena adanya keluarga yang lengkap, sebagai saksi pernikahan kita.
Namun, khayalanku nyatanya tidak akan pernah terwujud, karena sore ini di mana Bapak mengabarkan kalau Ibu dan adikku tidak bisa ikut, alasanya Ibu kurang enak badan, meskipun aku sendiri kurang yakin dengan kabar yang Bapak berikan, tetapi aku mencoba untuk percaya. Yah, hati nuraniku mengatakan kalau Ibu mungkin masih berat melepaskan anaknya menikah dengan seorang duda.Sehingga beliau memilih tidak menghadiri pernikahan kami.
Malam ini aku pun kembali tidak bisa tidur dengan tenang. Besok adalah hari bahagiaku, tetapi ibu dan adikku tidak bisa hadir. Masihkan aku akan melanjutkan pernikahan ini sedangkan ibu dan adikku tidak hadir? Segala pikiran datang menghampiri otakku. Ingin berpikir positif tapi nyatanya otakku berpikir lain.
Malam ini Bapak dengan Ibu serta Lili seharusnya datang ke Jakarta sebagai saksi dan pendukung pernikahanku dan Mas Gala, tetapi nyatanya hanya Bapak yang bisa hadir. Aku berharap kalau apa yang Bapak katakan memang benar. Ibu tidak hadir di acara pernikahan putrinya bukan karena tidak setuju dengan pilihanku, tetapi memang karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh.
Tanpa terasa pagi pun telah menyapa. Seperti biasa jeritan alarm dari ponselku membangunkan tidur ku, yang baru terlelap tidur ketika pagi menyapa. Tanganku pun langsung merabah benda pipih yang sejak semalam selalu aku pegang. Aku hanya ingin memastikan kalau Bapak sudah sampai belum ke Jakarta.
Kini aku bisa bernafas dengan tenang ketika membaca pesan dari Bapak mengabarkan kalau Bapak sudah sampai di rumah yang memang disediakan untuk menyambut Bapak, memang tidak datang ke rumah majikan aku karena pernikahan aku dan Mas Gala akan dilangsungkan di rumah pribadi Mas Gala, yang saat ini Bapak berada.
"Tia kamu sudah bangun?" Suara Momy Bela dari balik pintu mengagetkan aku yang masih melamun di atas kasur.
"Sudah Mom, Tia mau bersih-bersih dan sholat dulu," jawabku dengan bergegas bangun dan membuka pintu kamar dan menemui Momy Bela tidak pantas kalau aku hanya menjawab tanpa menemui calon mertuaku.
__ADS_1
"Kalau gitu cepatlah, karena nanti kita akan langsung ke rumah yang akan dijadikan tempat untuk pernikahan kamu," ucap Momy Bela yang nampak sudah segar dan itu tandanya calon mertuaku sudah mandi di jam sepagi ini.
Aku menghirup nafas dalam dan membuangnya perlahan. "Mom, Ibu dan adik Tia tidak bisa datang menjadi saksi dari pernikahan Tia dan anak Momy, apa mungkin Ibu dan adik Tia tidak setuju dengan pernikahan ini." Aku yang sudah sangat akrab dengan calon mertuaku pun rasanya ada yang kurang kalau belum bercerita apa yang sejak malam membuat aku tidak bisa tenang.
Momy Bela mengusap pundaku yang sedang menunduk lesu. "Momy juga sudah dengar dari Bapak kamu semalam, dan Momy juga semalam sepat bertanya apakah ini benar karena Ibu kamu yang kurang enak badan
, atau karena ibu kamu yang tidak setuju dengan pernikahan kamu dan anak Momy? Tapi baik bapak kamu maupun ibu kamu mengatakan kalau memang ibu kamu kondisinya kurang sehat, dan juga ibu kamu yang tidak bisa melakukan perjalanan jauh karena tidak kuat di jalan takut mabok dan lain sebagainya, maka yang berangkat hanya bapak kamu." Momy Bela ternyata sudah tahu juga, dan jawaban dari beliau berhasil membuat aku sedikit tenang.
Aku pun bisa mengerti apa yang jadi alasan ibu tidak ikut hadir ke acara pernikahan aku, itu karena ibu yang sedang kurang sehat dan juga ibu yang selalu mabok apabila naik kendaraan cukup jauh.
"Kamu jangan kawatir, Momy yakin Ibu dan adik kamu pasti juga mendoakan yang terbaik untuk kamu, sekarang semuanya sudah disiapkan dengan matang, jadi kamu bersiaplah, setelah ini kamu bisa buktikan pada mereka kalau kamu pasti bahagia dengan Gala. Momy akan menjadi saksi melihat kamu bahagia dengan keluarga kecil kamu nanti."
Tanpa menunggu lama aku pun langsung bersiap dan akan langsung menuju rumah di mana aku dan Mas Gala akan melangsungkan pernikahan.
Bahkan saksi dan orang-orang yang menghadiri pernikahanku sangat-sangat sedikit, itu semua karena pernikahan aku yang masih di rahasiakan, bahkan Tulip dan juga Misi tidak aku beri kabar dulu kalau aku akan menikah, bukan karena aku melupakan mereka, tetapi mulut mereka kadang-kadang bocor banget, aku tidak ingin dari mulut dua sahabatku malah Tuan Piter akan tahu kalau cucunya menikah denganku, karyawan yang pernah di pecat, karena menjadi kekasih sang cucu. Aku yang tidak direstui oleh beliau hanya karena keluargaku yang miskin.
__ADS_1
Tidak menunggu lama kini aku dan Momy Bela pun sudah sampai di tempat akan dilakukan pernikahan, orang yang pertama aku temui adalah Bapak. Aku ingin berbicara empat mata dengan Bapak, selain memastikan lagi dengan kondisi Ibu, aku juga ingin secara langsung kembali meminta restu pada Bapak.
Aku langsung mencium punggung tangan Bapak dengan takzim begitu sampai di rumah mewah itu dan melihat Bapak sedang bercerita dengan Papi Yusuf. Kedua mataku awas memindai mencari sosok calon suami, tetapi aku tidak menemukannya. Mungkinkah calon suami masih belum bangun?
"Pih, apa boleh Tia ngobrol dengan Bapak sebentar," ucapku ketika Bapak dan calon mertuaku sedang mengobrol yang nampaknya sangat serius.
Setelah pamit pada calon papi mertua Bapak pun mengikuti aku ke taman belakang.
"Apa kamu mau bertanya mengenai Ibu kamu?" tanya Bapak begitu kamu duduk di bangku taman belakang rumah mewah yang akan menjadi saksi bisu dilangsungkan pernikahan aku dan laki-laki pilihanku.
"Tia hanya ingin memastikan lagi kalau Ibu memang baik-baik saja, dan tentunya Ibu merestui pernikahan Tia dan calon suami," ucapku dengan suara yang lirih.
"Bapak sudah bertemu dengan calon suami kamu, bahkan Bapak tadi sempat ngobrol dengan serius bareng calon suami kamu, dia anak yang baik dan soal ibu kamu, dan Lili mereka setuju dengan pernikahan ini, jadi kamu jangan berpikir yang tidak-tidak. Mungkin Ibu terlalu cemas dengan putrinya yang akan menikah sehingga tiba-tiba badanya kurang enak badan dan soal adik kamu, Bapak yang minta agar tidak ikut untuk menemani ibu kamu, mereka juga nitip salam untuk kamu. Kalau kamu tidak percaya kamu bisa telpon ibu kamu dan Lili untuk memastikan kalau mereka merestu kamu," jawaban dari Bapak cukup membuat aku tenang.
"Terima kasih karena Bapak sudah meridhoi Tia menikah dengan calon suami pilihan Tia, meskipun mungkin tidak sesuai dengan yang Bapak inginkan, tapi Tia janji akan berusaha menjadi istri yang baik, dan juga tidak akan mengecewakan Bapak dan Ibu yang sudah memberikan restu atas pernikahan ini," balasku dengan hati yang sudah cukup tenang setelah mendengar jawaban Bapak.
__ADS_1
Di hari ini tanpa hadirnya ibu dan adik kandungku, aku akan melangsungkan pernikahan dengan laki-laki pilihan aku. Mungkin memang bukan laki-laki muda, dan bujang, tetapi aku yakin dan sangat percaya kalau aku dan Pak Gala bisa menjadi pasangan yang saling mengerti, saling sayang dan membuktikan bahwa cintaku pada mantan atasan bukan semata-mata karena harta.
Bersambung...