
Setelah tiga jam aku ke luar kontrakan bersama Pak Gala, akhirnya kembali juga dengan aman. "Aku turun dulu yah, terima kasih," ucapku bingung mau ngomong apa juga sehingga hanya ucapan itu yang ke luar dari bibirku.
Selama pacaran dengan Yuda dulu aku lebih santai dan seperti teman pada umumnya mungkin karena kami memang yang berawal dari teman sekolah sehingga kita tidak pernah seperti orang pacaran pada umumnya, tetapi lebih seperti orang temanan saja. Hanya ada embel-embel tambahan pacar.
"Kok kamu yang terima kasih. Harusnya aku yang terima kasih karena sudah mau jadi pacar aku. Eh salah maksud aku calon istri," balas Pak Gala yang langsung membuat wajahku rasanya panas, seperti terbakar tiba-tiba.
"Amin. Awas loh kalau nanti ada malaikat lewat dan diaminkan lalu kejadian bener nggak boleh nyesel," ancamku dengan setengah berkelakar.
"Loh, kenapa nyesel. Seneng malah, atau mau nikah sekarang biar langsung jadi istri," tawar Pak Gala yang membuat aku seolah langsung terbang ke angkasa.
"Pak Gala, apaan sih Tia masih dua puluh dua tahu, ya nantilah tunggu sampai setengah mateng, biar Pak Gala nggak nyesel," balas, yah seperti inilah aku yang mancing-mancing tapi giliran diseriusin kelabakan sendiri.
"Ok ditunggu deh, biar setengah mateng jadi lebih manis."
Aku pun membalas dengan senyum samar yang cukup membuat aku bahagia, karena baru kali ini aku memiliki pacar yang satu frekuensi yaitu dia sangat hangat dan juga humoris, sangat sesuai dengan sifatku.
"Kalau gitu Tia masuk dulu yang Pak, udah ngantuk banget. Biasanya kalau libur tidurnya suka bablas, habis sholat subuh langsung tidur lagi bangun-bangun kalau perut udah lapar," ucapku, dan tentunya langsung di balas dengan gelengan kepala oleh Pak Gala.
"Ya udah sana masuk terus cuci tangan, dan bobo, jangan lupa mimpi yang indah yah, dan panggilnya jangan Pak dong, berasa lagi ngasuh anaknya," ucap Pak Gala yang langsung membuat aku kembali terkekeh yah yang diucapkan Pak Gala benar, jadi berasa ngobrol dengan Bapak.
"Ok, kali ini dikabulkan, panggilnya dengan sebutan Ayang, eh jangan lah terlalu norak panggil Mas saja lebih menghormati dan juga lebih terlihat netral tidak terlalu lebai.
__ADS_1
Meskipun aku lihat Pak Gala seperti tidak begitu setuju, tetapi pada akhirnya mau juga apabila aku panggil Mas. "Ya udah tidak apa-apa panggil Mas juga dari pada di panggil Pak, berasa lagi ngasul anak sendiri."
Setelah pamitan dan sedikit ada candaan kami pun akhirnya berpisah juga. Langkah kaki ku pun terasa sangat ringan bahkan hati rasanya ditaburi dengan ribuan kelopak bunga (Jangan bayangin tanah kuburan). Benar-benar bahagia banget di hari ini, akhirnya yang disemogakan terjadi juga. Meskipun tidak memungkiri di dalam hati ku ada perasaan yang mengganjal mengenai restu tetapi aku sangat bahagia karena pada akhirnya apa yang aku nginkan tercapai juga.
"Ini Tuhan yang terlalu baik dengan aku, atau memang Pak Gala diam-diam sudah naksir aku yah," batin ku, dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi.
"Tia, lu dari mana aja sih, gue bolak-balik ke kamar lu kenapa lu tumben banget nggak ada. Mana aura-auranya lu sangat bahagia banget lagi, kamu kenapa sih?" tanya Misi dengan tangan berkacak pinggang seperti ibu kos yang nagih bulanan.
"Abis jalan, kenapa? Ngapain lu ke kamar gue. Bukan mau minta sumbangan makan kan? Nggak ada gue lagi pelit." Tangan ku yang membawa bungkusan bekal makanan yang di bungkus dari restoran tadi aku dan Pak Gala makan pun langsung di sembunyikan ke belakang punggungku.
"Wah apa tuh Tia, kayaknya lu punya makanan enak. Lu abis kencang dengan Pak Gala yah, buktinya pagi-pagi buta udah jalan dan pulang-pulang bahagia bener mana kalau dicium dari aroma-aromanya kamu bawa makanan enak yah," ucap Misi dengan menaik turunkan alisnya dalam mode merayu agar di beri makanan yang aku bawa.
Ini adalah pembalasan kemarin Misi dan Tulip bikin seblak, tetapi aku nggak diajak, alhasil aku pun bisa membalas dendam mana makanan yang aku bawa nilainya jauh dari seblak yang mereka buat. Atuh kalau ngaku temen di sisain ke barang satu mangkok, ini mah tidak ada sisa sama sekali kan sakit hati aku jadinya.
"Tia lu mah baperan banget, nyicip doang atuh Tia," Misi terus mengekor di belakangku dan tanpa persetujuan pun begitu kunci di buka tuh makhluk satu langsung masuk.
"Lu ngapain sih Misi, percaya banget gue bakal bagi. Ini khusus Pak Gala beli buat aku yah, kalian nggak ada jatah," ujarku sembari berlaga hidung yang mengendus makanan yang sudah jelas harumnya lebih wangi dari seblak dan lebih enak dari bakso.
"Dih Tia, lu mah kejam banget sama teman juga. Padahal gue udah baik banget sama lu mau tukeran tempat kerja. sama lu, masa nggak ada ungkapan terima kasihnya sama sekali, minimal bakso kek, atau apa gitu, atau makanan itu buruan bagi dua, gue dari kemarin belum makan," balas Misi dengan wajah memelas.
Buuukkkk.... sebuah bantal pun mendarat di wajah Misi. "Lu ngomong dari kemarin belum makan. Lah semalam kita nonton drama korean mulut lu itu goyang terus Jamilah pake segala dari kemarin belum makan, pintar banget cari simpatinya. Dan soal tukeran tempat kerja, lu tiap minta sesuatu jurus andalannya itu, sampai bosen nih telinga dengarnya udah gitu gue juga nyesel tau nggak minta tukeran tempat karena pada kenyataanya malah dimanfaatin sama lu. Udah sana ambil piring dan nih bagi sama Tulip. Lihat tuh gue mah baik setiap dibeliin sesuatu sama Pak Gala selalu ingat sama kalian semua, tapi lu sama Tulip baru punya seblak aja gue nggak di bagi, sakit atu gue Misi," ocehku sembari memberikan dimsum yang tadi sempat aku makan, dan karena enak Pak Gala pun membelikan lagi untuk aku di rumah.
__ADS_1
Ini makanan yang Tia bawa untuk dua sohibnya.
Dan mungkin sebagai sogokan baru jadian sehingga Pak Gala membelikannya lagi-lagi cukup banyak sehingga aku bisa bangi-bagi dengan Misi dan Tulip.
"Ya Allah Tia, jadi lu kesal dan marah sama gue gara-gara seblak. Kalau gitu gue nanti buatkan deh," balas Misi dengan jari jempol menari-nari di atas ponselnya. Yah, udah jelas berkirim pesan pada Tulip agar ke kamarku untuk menikmati makanan dari Pak Gala.
"Tidak usah gue bercanda kok. Lagi. sekarang seblak udah bukan selera makanan gue. Oh iya gue mau tidur, kalau kalian mau nonton-nonton saja, tapi ingat suaranya kecilkan saja, kalau perlu di mute, sehingga tidak ngeganggu gue tidur," ucapku sembari bersiap untuk berganti pakaian yang lebih santai.
"Eh Tia, ngomong-ngomong lu udah jadian yah sama Pak Gala?" tanya Misi sembari senyum-senyum tidak jelas.
"Sok tahu," jawabku dengan tetap masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
"Tia tuh ada pesan dari Pak Gala, katanya Sayang buruan tidur jangan nonton drama korea lagi." Misi pun langsung tertawa renyah, dan aku pun langsung ke luar lagi dan mengambil ponselku yang kelupan aku simpan di atas meja.
"Rese lu..."
Bersambung....
...****************...
__ADS_1