
"Papi anggap masalah kita sudah selesai dan kalian harus bisa jaga diri jangan sampai berbuat yang tidak-tidak terutama kamu Gala, kamu harus bisa jaga Tia jangan bawa dia ke lembah dosa," ucap Papi Yusuf memperingatkan anak laki-lakinya. Aku hanya menyimak ketika suami dari majikanku memperingati putranya, dan tentunya aku terharu karena baik Momy Bela maupun Papi Yusuf baik dan ingin menjaga aku dari perbuatan yang menyesatkan.
"Ok Pih," balas Pak Gala yang membuat aku cukup tenang.
"Ayo Sayang." Papi Yusuf meminta agar sang istri mengikutinya, aku yang polos ini hanya menatapnya dengan bingung pasangan suami istri itu akan ke mana?
"Papi dan Momy mau ke mana?" tanya Pak Gala, mewakilkan rasa penasaranku.
"Mau ngecas dulu lah, masa sudah datang nggak isi batrei," balas Papi Yusuf yang membuat aku semakin bingung maksudnya apa? Eh salah maksud aku, semakin bingung mau pura-pura tidak tahu, tapi aku bukan anak kecil lagi. Meskipun aku belum menikah tapi aku tahu arti kenyamanan dari kode yang Papi Yusuf berikan pada sang istri.
"Aduh Mom, Papi, bisa hargai anaknya yang sedang puasa nggak? Jomblo ini?" rengek Pak Gala yang wajahnya lagnsung berubah, begitupun dengan aku yang langsung menunduk, pura-pura tidak mendengar dengan apa yang mereka bicarakan.
"Itu sih DL (Derita Lu), makanya jangan kelamaan segera halalin biar ga bisa isi batrei juga." Benar-benar Papi Yusuf dan Pak Gala seperti nya sangat akrab. Aku jadi iri karena mereka bisa bercanda sebegitu dekatnya.
Aku pun memilih meninggalkan ruang makan dan menuju dapur untuk melanjutkan pekerjaan aku yang tertunda, dan membiarkan Papi dan Momy mengecas baterai-nya. Sedangkan Pak Gala biarkan dia istirahat.
"Ehemz... ada yang bisa dibantu tidak?" Suara yang sangat aku kenal berhasil mengagetkan aku yang sedang mencuci piring. Dengan yakin aku pun menggelengkan kepalaku sebagai jawaban kalau aku bisa mengerjakan ini semua seorang diri lagi pula aku tidak yakin seorang bos besar, dan laki-laki tampan seperti Pak Galaxi bisa mencuci piring.
__ADS_1
"Kenapa, apa kamu tidak yakin kalau aku bisa mencuci piring?" tanya Pak Gala yang sontak saja aku terkejut dengan pertanyaan Pak Gala karena aku memang sangsi kalau Pak Gala bisa mencuci piring.
Aku menatap Pak Gala yang sedang berdiri di sampingku. "Pak Gala serius bisa cuci piring?" tanyaku dengan kaget, yah jelas aku kaget pasalnya dia adalah cucu orang yang kaya raya yang mana mau apa tinggal tunjuk masa iya bisa cuci piring.
"Perlu bukti?" tanya Pak Gala dengan yakin, laki-laki itu langsung melipat lengan kemejanya dan bersiap menggantikan posisi aku yang sedang mencuci piring.
Aku pun yang ingin mengetis calon suami membiarkan Pak Gala untuk membuktikannya. Laki-laki itu harus belajar hidup susah karena bisa saja ketika menikah dengan aku kehidupanya akan berubah menjadi susah dan langkah awal adalah bisa mencuci piring.
"Asal kamu tahu aku bukanlah orang kaya, yang kaya itu Kakek, jadi aku sudah biasa mencuci piring bahkan cuci baju, aku juga bisa. Jadi kamu jangan ragu pilih aku jadi suami kamu karena nanti aku akan membantu semua urusan rumah tangga kita," ucap Pak Gala mempromosikan dirinya dengan percaya diri sembari mencuci piring.
Mungkin aku adalah asisten rumah tangga paling tidak tahu diri yang justru berdiri dengan santai dan
"Iya Tia yakin, tapi apa nanti kata Momy dan Papi kalau tahu anaknya mencuci piring, jadi sekarang biarkan Tia yang melanjutkanya. Tia di sini adalah pembantu, tidak pantas rasanya kalau pembatu justru membiarkan anak majikan mencuci piring, sedangkan dia sendiri hanya berdiri memperhatikan," ucapku dengan bersiap akan melanjutkan pekerjaanku.
Pak Gala langsung menatapku dengan tatapan yang tajam. "Mulai detik ini kamu bukan pembantu, kamu adalah calon istriku. Jadi kamu tidak boleh bicara seperti itu lagi, kamu adalah wanita yang aku cintai aku tidak akan membiarkan kamu bekerja keras, aku bisa membayar orang lain untuk mengantikan pekerjaan kamu, dan kamu hanya duduk manis," ucap Pak Gala yang justru membuat aku semakin tidak nyaman, aku memang ingin menjadi istri dari mantan bos besarku, tapi bukan ingin menjadi majikan yang kerjaanya duduk manis dengan menunggu pulang kerja dan hanya dinas di saat malam hari.
"Maaf Pak Gala, Tia memang mau menjadi istri dari Pak Gala, tapi bukan ingin menjadi majikan yang selalu dilayani, justru Tia ingin hidup yang normal saja seperti Momy Bela yang tidak terlalu menggantungkan pada asisten rumah tangga. Selagi kita bisa kerjakan sendiri Tia rasa tidak membutuhkan orang lain untuk membantu kita," ucapku dengan yakin, dan berharap Pak Gala bukan tipe laki-laki yang memaksakan kehedaknya.
__ADS_1
"Hati memang tidak pernah salah memilih, kamu memang wanita yang baik dan wanita yang aku cari. Jujur aku tipe orang yang lebih suka di rumah kita itu ditempati dengan keluarga, rasanya lebih hangat dan kamu adalah orang yang aku cari," balas Pak Gala dengan menatapku dengan senyum terbaiknya.
"Cucian piring sudah selesai, bisa kita ngobrol sebentar," ucap Pak Gala yang langsung mengagetkan lamunan aku.
Dengan gugup, aku mengerjapkan mataku, dan melihat kalau peralatan makan memang sudah bersih semua, aku akui kalau Pak Gala memang bukan tipe laki-laki yang manja dia bisa mencuci piring di mana biasanya kalau orang kaya itu jangankan cuci piring bahkan untuk makan saja hanya tinggal nunggu dilayani.
"Kamu jangan bingung gitu, aku cuci piringnya bersih ko. Kamu bisa lihat kalau aku adalah calon suami yang baik bukan," imbuh Pak Gala dengan nada yang menggoda aku. Dan aku membalas dengan senyum, dan tatapan yang memuji hasil pekerjaan calon suami ku.
"Mau ngobrol apa?" tanyaku dengan suara lirih, jujur aku juga kangen ingin ngobrol banyak hal dengan Pak Gala seperti tiga tahun silam. Aku jadi teringat Tulip dan juga Misi yang selalu meledeku setiap aku habis kencan dengan Pak Gala, terus kalau mereka tahu aku bakal nikah dengan Pak Gala, bagaimana yah. Apakah mereka akan meledek aku habis-habisan atau justru akan setuju dan selalu mendukung aku seperti dulu? Aku kangen dengan ke usil mereka.
"Kita duduk di luar, lagian di dalam takut nanti dengar suara-suara goib," ucap Pak Gala dengan menujuk ke teras rumah.
Aku pun mengangguk dengan kuat. Dan mengikuti langkah Pak Gala yang lebih dulu berjalan di depan. Meskipun aku tidak yakin kalau Papi dan Momy akan membuat suasana rumah jadi horor.
Kami duduk di kursi yang ada di teras rumah dengan memandang tanaman kesukaan majikanku. Susana yang sangat hangat sangat mendukung kita untuk mengobrol banyak hal, dan saling berbagi kisah selama tiga tahun yang kita lalui tanpa bersama. Meskipun sebenarnya aku tanpa sadar sudah tahu kisah Pak Gala dari Momy Bela, termasuk pernikahan ke dua Pak Gala yang kembali gagal, karena lagi dan lagi hanya pernikahan bisnis.
"Aku mewakilkan Kakek dan juga Mami, minta maaf atas perbuatan mereka tiga tahun yang lalu. Momy sudah cerita semua dengan apa yang terjadi tiga tahun silam. Jujur aku sangat malu ternyata Kakek dan Mamih membuat kamu tidak bisa berkutik, aku sempat menuduh kamu yang tidak-tidak dan aku juga sempat marah dengan kamu yang tiba-tiba pergi dari hidupku, padahal aku sangat nyaman dengan kamu, dan kamu adalah wanita pertama yang membuat aku nyaman dan sangat bahagia apabila berada di dekat kamu, tapi kamu malah memilih pergi meninggalkan aku. Meskipun dalam hatiku aku masih terus tidak percaya kalau kamu sama dengan wanita yang pernah singgah dihatiku." Pak Gala memulai obrolan yang justru membuat kau semakin tegang.
__ADS_1
Aku sebenarnya tidak ingin membahas masalah tiga tahun silam, aku ingin mengubur masalah itu. Aku hanya ingin memikirkan masa depan kita tanpa terhubung dengan masa lalu yang gagal. Namun, rasanya akan sangat sulit untuk menguburnya karena kisah aku saat ini adalah bagian dari lanjutan kisahku tiga tahun silam. Mau tidak mau aku akan tetap menjadi bagian dari kisah tiga tahun yang lalu, dan tetap terus terhubung.
Bersambung...