Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Gosip Baru


__ADS_3

Aku pikir dengan keputusan Mbak Fany di pindah ke gudang pusat, aku bakal tenang dengan tidak adanya yang jilid, gosip atau apalah. Aku pikir bisa cekakak cekiki dengan temanku, oh tidak nyatanya gosip tetap saja semakin gencar. Mungkin sesuai dengan singkatannya GOSIP maka di gosok makin sip, sehingga aku merasa hidupku makin ke sini justru semakin banyak banget masalahnya. Usia pernikahan Mbak Fany yang belum sampai satu bulan. Dengar-dengan rumah tangganya kurang bahagia, yang disalahkan aku. Yuda berubah sikap yang disalahkan aku. Aku seolah selalu menjadi bayangan gelap untuk rumah tangga mereka. Padahal aku nggak ngapa-ngapain. Aneh kan?


Aku selalu dituduh kalau selama ini masih berkomunikasi dengan Yuda. Dih PD banget memang kalau sering berpapasan, sering lah wong masih bekerja di satu gedung, tapi untuk berkomunikasi mah nggak banget deh. Biar aku anak kampung, bekerja hanya sebagai OG dan pernah diselingkuhi tanpa aku tahu kurangku di mana, tetapi kalau soal jatuh ke tangan laki-laki yang sama maaf banget lebih baik jomblo seumur hidup dari pada harus berhubungan lagi dengan mantan. Itu prinsipku.


Lagian kayak nggak laku banget harus balik lagi sama mantan tidak ada istilah CLBK cinta lama belum kelar dalam kamusku, kalau sudah di selingkuhi ya cari yang lain.


Masih banyak cara untuk membalas perselingkuhan tanpa harus merusak hubungan mantan dengan yang baru, aku bukan pecundang yang menggunakan cara-cara kotor, apalagi membalas dengan menyakiti lagi.


Sama seperti sebelumnya semakin aku diterpa gunjingan yang tidak berbobot aku pun semakin cuek dan hanya fokus dengan pekerjaanku, dan hiburan untuk diriku sendiri. Menanggapi gosip hanya buang-buang waktu.


Lebih baik aku bekerja serius untuk mendapatkan uang yang banyak dan bisa nabung lagi mengingat tabunganku sudah habis untuk modal datang ke pernikahan Yuda.


[Tia nanti makan siang tolong kamu belikan gedeg yah, aku lagi ingin makan gudeg, beli dua untuk kamu sekalian] Itu adalah pesan dari Pak Gala, yang cukup membuat aku lupa dengan gosip yang menimpa ku saat ini. Yah, hanya Pak Gala yang seolah membuat aku tetap betahan di tempat ini bekerja, mengingat ada saja gunjingan yang menyangkut aku terutama tentang Yuda dan Fany aku sampai bingung seolah gosip tentangku tidak ada habisnya.

__ADS_1


Andai mencari kerja itu gampang aku udah ke luar dan cari kerja yang lain. Apalagi gajih di perusahaan ini juga lumayan, meskipun aku hanya seorang pesuruh  nyatanya gajihku jauh lebih besar dari staff, yah sebenarnya hampir sama sih, hanya saja aku lebih banyak lemburnya sehingga aku bisa mendapatkan gajih yang jauh lebih besar dari gajih Yuda dulu yang mana bahkan kadang gajihku dua kali lebih besar dari pada gajih Yuda dalam satu bulan, itu sebabnya dulu uangku banyak di pinjam oleh Yuda dengan alasan untuk makan dan beli bensin, tetapi sekarang aku baru tahu kalau uang-uangku ternyata untuk kebutuhan yang lain.


[Pedas nggak Pak?] tanyaku dengan mengirim balas pesan Pak Gala.


[Pedas] Aku pun begitu jam istirahat langsung ke luar kantor untuk mencari pesanan Pak Gala, tidak harus berjalan jauh karena memang di barisan tukang jualan makanan depan kantor ada nasi gudeg yang terkenal enak, ya meskipun kalau kata aku untuk kelas kami nasi gudeg itu cukup mahal, tetapi berhubung yang minta bos besar dan aku juga sudah di beri uang dua lembar berwarna merah untuk membeli nasi gudeg dua porsi, mau nggak mau aku pun mengikuti apa perintah pak bos besar. Toh tidak sering Pak Gala traktir aku. Mungkin ganti kemarin nasi goreng.


Aku pun langsung masuk begitu suara Pak Gala memintaku masuk.


"Buat kamu satu, tapi makan sini yah!" Aku pun menatap Pak Gala untuk memastikan ucapanya sekali lagi.


"Kenapa?" tanya Pak Gala yang melihat tatapanku yang berbeda.


"Tia makan di pantry ajah yah, enggak enak kalau nanti ada yang masuk," jawabku dengan jujur yah seorang pesuruh rasanya sangat tidak pantas kalau aku makan bersama bos besar.

__ADS_1


"Bisa di kunci pintunya," jawab Pak Gala dengan santai.


"Jangan! Justru akan semakin curiga  yang lain kalau tahu pintunya Pak Gala kunci, kalau gitu Tia makan sini," balasku yang tidak enak karena Pak Gala sudah traktir makanan yang untuk kelas aku cukup mahal gudeg dengan satu porsi hampir menyentuh harga seratus rebu. Yah maklum bagi aku seratus rebu udah jatah makanku dua hari.



"Aku pun lagi-lagi makan dengan Pak Gala dengan sesekali di selingi candaan, sebenarnya kalau untuk makan bareng Pak Gala, ini bukan pertama kalinya, tetapi apabila di dalam lingkungan kantor ini memang pertama kali sehingga aku masih merasa kurang bebas dan juga takut ada yang memergoki aku tengah makan berdua di ruangan Pak Gala. Makin menjadi nanti kalau yang lain pada tahu, udah mah gosip dengan Yuda masih aja terus bergulir, di tambah gosip dengan Pak Gala, berasa artis beneran aku jadinya.


Sebenarnya gosip-gosip. aku dan Pak Gala. sudah mulai berhembus, tetapi aku tetap tidak pernah tanggapi. Sehingga kewarasanku masih sedikit normal sampai detik ini.


Bersambung...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2