Di Ujung Penghianatan

Di Ujung Penghianatan
Sifat Yang Sangat Berbeda


__ADS_3

Pov Tia.


Seperti pada hari-hari sebelumnya aku pun terbangun di jam sepuluh pagi, bahkan matahari sudah hampir naik ke tengah tengah poros bumi, tetapi di jam ini mataku baru terbuka dan rasanya aku sangat segar setelah bangun tidur, dan seperti sebelumnya perut pun sangat lapar setiap baru bangun tidur. Aneh, padahal kalau pagi aku mendengar kata sarapan atau makan untuk membayangkanya sudah sangat malas dan bergidig tidak senang, tapi sekarang perut rasanya keroncongan ingin buru-buru diisi.


Tanpan nunggu waktu lama, aku pun langsung ke luar kamar. ruang makan adalah tujuan utamaku, ingin buru-buru makan dan dalam jumlah yang banyak. Biar perut tidak keroncongan.


"Kamu udah bangun Tia," sapa Momy Bela,


"Astagfirullah." Aku justru terkejut ketika mendengar suara Momy Bela, padahal niat Momy Bela bertanya pada ku, tetapi malah aku kaget sendiri mendengar sapaan dari Momy Bela.


"Loh kamu kok kaget gitu. Apa Gala tidak bilang kalau Momy hari ini tidak ke toko?" tanya Momy Bela seperti biasa dengar suara lembutnya dan menghampiri aku.


Aku hanya menyengir kuda. "Kayaknya bukan Mas Gala tidak kasih tau, kalau Momy hari ini nggak ke toko deh, tapi karena Tia yang saking pulasnya tidur sampai tidak ingat," jawabku sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.


Yah tepatnya selain mas suami mengajak ngomong aku yang sedang tidur, aku juga karena saking laparnya hingga tidak fokus ke mana-mana. Fokusku hanya ke makanan yang ada di meja makan.


"Ya udah, kamu sekarang mau makan kan?" tanya Momy Bela lagi. Dan aku pun menjawab langsung dengan anggukan.


"Iya Mih, perut Tia sudah sangat lapar. Aneh banget yah jadi orang hamil berasa Tia kaya meranin kebiasaan orang lain. Bawaanya ngantuk terus nggak suka cahaya matahari, kalau pagi nggak pengin sama sekali sarapan, giliran sekarang langsung kelaparan sampai tubuh gemetar." Aku menujukan tubuhku yang gemetaran seolah sudah berhari-hari nggak makan.

__ADS_1


"Astaga Sayang, kalau gitu ayo makan." Momy Bela pun langsung repot menyiapkan ini itu agar aku cepat makan. Lagi-lagi asal ada Momy Bela aku benar-benar dilayani seperti anaknya sendiri. Makanan diambilkan berserta lauknya, air minum pun aku diambilkan bahkan buah pun aku tinggal bilang mau apa pasti Momy Bela akan mengupaskanya untuk aku.


Kadang-kadang aku merasa tidak enak. Di mana-mana yang melayani itu menantu melayani mertuanya, tetapi kalau aku itu justru aku yang terus-terusan dilayani oleh mertuaku. Kalau aku menolak, Momy akan menunjukan raut wajah sedih, dan juga Momy Bela selalu berkata kalau Momy sangat suka melayani aku, yang sudah Momy anggap anaknya sendiri. Aku jadi terharu kalau selalu dimanjakan seperti ini. Udah mah suami baik, mertua juga baik, berasa dunia ini hanya milik Tia seorang.


"Ayo makan kok malah ngelamun sih." Suara Momy Bela dan tepukan lembut ditanganku berhasil mengagetkan aku dari lamunan.


"Terima kasih Mom, Tia hanya sedih campur bahagia karena Momy sangat baik, padahal Tia bisa loh ambil makanan sendiri, tapi Momy selalu melayani Tia seperti anak sendiri." Aku justru melow dengan apa yang aku rasakan.


"Udah ayo makan, lagian Momy itu melakukanya dengan senang hati, jadi kamu jangan berbicara seperti itu. Momy Ikhlas kok."


Yah, setelah mendengar jawaban Momy aku pun langsung melanjutkan makan, cacing di perutku sudah memanggil-manggil jadi harus segera diisi. Momy Bela menatapku seperti tanpa kedip seolah aku itu sangat aneh.


"Mom kenapa?" tanya aku yang melihat Momy Bela melihatku seperti ada yang berbeda.


Uhukkk...Uhukkk aku terkejut dengan ucapan Momy Bela. "Emang ciri-ciri anak lahirnya cowok apa Mom?" tanyaku yang penasaran kenapa Momy Bela bisa berpikiran seperti itu.


"Biasanya ciri-cirinya kaya yang kamu alami, tapi Momy juga kan hanya menebak semuanya hanya Alloh yang menentukan kamu jangan terlalu percaya ucapan Momy."


Aku hanya mengangguk tandanya paham. Setelah makan aku pun baru mandi dasar males banget yah. Bangun sesuka sendiri, makan juga banyak banget bahkan untuk mandi aku pun nunggu matahari sudah hampir di tengah-tengah poros bumi. Sungguh aku lama-lama sudah benar-benar seperti nyonya. Tidak malas untuk beres-beres.

__ADS_1


Yah, aku malas gerak hanya penginnya rebahan dan rebahan, untung mas suami bukan orang yang bawel sehingga tidak pernah mengeluh dengan kelakuan istrinya yang pemalas.


*****


Sore hari aku pun bantu-bantu Momy Bela untuk masak. Kalau pagi hari aku seperti jadi ratu, mau apa-apa sangat malas sesuka sendiri dan ingin dilayani. Kalau sore hari justru aku merasa seperti semangat sekali beberes. Yah, aku sangat rajin bahkan untuk bersih-bersih rumah aku sangat semangat. Untuk masak dan lain sebagainya, siapa takut. Gas pokoknya selama rasa malas belum datang aku akan kerjakan dengan senang hati.


Keseruan kami harus terhenti ketika ada yang memencet bel.


"Wah, siapa yang datang sore-sore begini?" gumam Momy Bela, dan tentu aku bisa mendengarnya.


"Kurang tau Mom, kalau Mas Gala kan enggak pernah pencet bel, langsung buka pintu dan mengucapkan salam. Biar Tia yang buka." Aku pun langsung mencuci tangan dan bersiap untuk membuka pintu.


"Kamu intip dulu dari jendela Tia, kalau tidak kenal jangan dibuka." Itu adalaah pesan Momy Bela, kalau ada tamu jangan langsung dibukakan pintu.


Aku pun mengikuti apa kata Momy Bela membuka gorden dulu untuk mengintip siapa gerangan yang mengganggu keseruan masak kami.


Deg!!! Jantungku seolah langsung berhenti berdetak, ketika melihat siapa gerangan yang datang ke rumah kami.


#Hayo, kira-kira siapa yang datang yah?

__ADS_1


Bersambung.....


...****************...


__ADS_2