
Selama belasan jam aku di dalam mobil untuk menempuh perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya sampai juga ke rumah yang justru membuat aku sedikit heran. Bayangan aku akan kerja di rumah yang mewah dan besar, tetapi ternyata aku akan tinggal di rumah yang jauh dari bayanganku itu. Rumah sederhana satu lantai dengan tumbuhan rindang di depanya. Aku pun cukup sangsi kalau ini adalah rumah calon majikan aku yang akan meberikan aku gajih empat juta selama satu bulan.
"Kenap Neng? Rumahnya kecil yah, tenang saja Nyonya memang lebih suka tinggal di rumah seperti ini, dan beliau juga sebenarnya cari pembantu itu lebih diperuntukan untuk menemani masa tuanya. Cari teman ngobrol gitu," ucap Mang Sono yang sepertinya tahu betul kalau aku seperti kurang nyaman dengan tempat yang aku lihat.
Jujur aku sempat berpikir yang macam-macam dengan calon majikanku, tetapi aku kembali mencoba menepisnya aku mencoba berpikir positif, tidak mungkin tetanggaku akan menjebloskan aku ke dalam hal-hal yang tidak mengenakan, sehingga aku pun mengikuti Mang Sono untuk turun dari mobil.
Kesan pertama ketika melihat rumah ini cukup asri, dengan halaman super luas dan banyak pohon-pohon bunga dan juga beraneka buah cangkok, yang aku lihat pohonya masih kecil, tetapi buahnya cukup banyak, dan juga aku melihat kalau rumahnya bersih nyaman untuk bersantai, dan sebenarnya aku malah bersyukur dengan rumah yang tidak besar aku tidak akan terlalu cape untuk merawatnya. Bayangkan saja ketik majikan aku memiliki rumah yang besar dan juga luas, mungkin aku kerjaanya tidak ada hentinya.
"Ayo Neng masuk, Nyonya sudah nunggu di dalam." Mang Sono mengetuk pintu, sedangkan aku masih berdiri yang jaraknya cukup jauh dari Mang Sono, antisipasi kalau-kalau terjadi sesuatu dengan aku. Maklum ini adalah pengalaman pertamaku untuk bekerja menjadi pembantu.
Tidak lama menunggu seorang wanita yang tidak lagi muda mungkin usianya sekitar enam puluh tahun datang membuka pintu. "Mana No, anaknya?" ucap wanita itu begitu membuka pintu, dengan suara yang sangat lembut.
Mang Sono pun menatap aku, dengan memberikan kode agar aku menyapa sang calon majikan.
"Selamat pagi Nyonya, saya Mutia. Tapi sering disapa Tia." Aku langsung berjalan menghampiri sang Nyonya dan mengulurkan tangan untuk menyapa.
__ADS_1
Dan lagi-lagi kejadian hal tidak terduga membuat aku cukup terkejut dan diam mematung. "Panggil Momy saja, sama dengan yang lainya. Momy senang akhirnya ada temanya lagi di rumah ini," ucap majikanku dengan mengusap punggungku, yang mana aku langsung di peluk dengan hangat oleh majikanku yang ingin di panggil Momy. Sebut saja namanya Momy Bela, itu nama yang aku tahu dari Mang Sono.
Aku hanya membalas dengan senyum ramah. Yah, aku sangat senang karena apa yang Bi Isah, dan Mang Sono katakan memang benar kalau majikan aku sangat ramah, baik dan juga penyayang. Pantas saja Bi Isah seperti sangat berat untuk meninggalkan beliau karena memang Momy Bela sangat baik.
"Ayok Tia masuk! Kamu pasti sangat cape abis menempuh perjalanan jauh, dan juga melelahkan. Sono, bawa barang Tia, kita sarapan dulu. Abis itu kamu istirahat dulu, mulai kerja besok saja." Momy Bela langsung menuntunku untuk masuk ke rumah yang terlihat sangat rapih dan nyaman. Meja makan adalah tujuan utama kami. Aku pun hanya diam dan sesekali tersenyum, rasanya aku masih kaget, karena bayanganku memiliki majikan yang menggerikan nyatanya tidak terjadi, Majikanku sangat ramah dan seru. Itu yang aku lihat dari pertemuan pertama kita.
"Momy tadi sengaja masak, untuk menyambut kamu. Ayo kamu makan." Momy Bela mengambilkan piring untukku, dan juga Mang Sono. Lagi dan lagi aku merasa kalau saat ini tinggal di rumahku sendiri.
"Terima kasih Mom, Tia bisa ambil sendiri," ucapku ketika majikanku justru melayani aku seperti layaknya aku ini adalah majikan di rumah ini.
"Nanti kamu istirahat saja dulu, kalau sudah cukup kamu bisa mulai dari mencuci pakian dan menyetrika. Untuk merapihkan rumah mulai besok pagi aja. Ini masih bersih kok. Momy setiap hari akan ke toko, dan Sono pun akan ikut Momy untuk membantu di toko. Tugas kamu hanya mengurus rumah, dan soal masak, kalau Momy ingin akan minta kamu masak, tapi kalau tidak nggak usah masak karena Momy akan jarang di rumah, lebih banyak di toko, untuk makan bisa beli." Momy Bela dengan telaten membertahukan kerjaan aku, dan aku pun mengingatnya dengan sangat baik.
"Apa ada yang kamu ingin tanyakan?" tanya Momy Bela, ketika merasa sudah cukup memberi tahukan tugas tugasku. Dan aku pun sudah paham dengan apa yang seharusnya aku lakukan.
"Untuk tamu, apakah Tia boleh membukakan pintu apabila ada orang yang datang ke sini?" tanyaku dengan suara yang lirih. Aku pun harus menyesuaikan cara berinteraksi di sini, yang aku lihat Momy sangat lemah lembut, sedangkan aku biasanya akan berbicara cukup nyablak dan kasar. Namun, di sini aku dituntut untuk merubah ini semua untuk mengikuti kebiasaan orang di rumah ini.
__ADS_1
"Kamu jangan bukakan pintu siapa pun yang datang, kecuali anak Momy tapi biasanya anak Momy kalau datang itu akan memberi kabar dulu sehingga Momy nanti akan infokan sama kamu. Tukang paket atau apa juga kamu cukup ambil barang saja dan jangan bukakan pintu."
Aku pun mengangguk tanda mengerti. "Momy punya anak?" tanyaku lagi mengingat aku pikir majikan aku hanya tinggal seorang diri oleh sebab itu mencari teman sekaligus pembantu untuk menemani kesendirianya.
"Lebih tepatnya anak dari suami Momy, jadi dia tinggal dengan suami Momy dan juga ibu kandungnya serta keluarga besarnya, tapi sesekali datang ke rumah Momy, katanya di rumah ini nyaman untuk istirahat sehingga kadang datang untuk istirahat abis itu kembali ke rumahnya." Momy Bela yang bercerita terlihat tenang-tenang saja sedangkan aku yang mendengar cukup nyesek. Di mana aku tarik garis kesimpulan kalau Momy Bela adalah wanita bersuami, tapi suaminya punya istri lagi. Ah, ribet sekali hidup Momy bela...
Ini memang bukan urusan aku, tetapi aku yakin Momy Bela sangat menderita dengan hidupnya, tetapi beliau orang hebat mampu menunjukan sifat baik-baik saja dengan semua keadaanya.
Kami pun terus ngobrol ringan terutama tentang kerjaan, dan setelah aku paham dengan kerjaan ini dan membantu membereskan sisa kami sarapan, Momy Bela pun berpamitan akan ke toko. Tempat Momy mengais rezeki, eh tapi kata Mang Sono, mengurus toko itu hanya hoby-nya, untuk menghilangkan kejenuhannya hidup sebatang kara. Maksudnya, Momy Bela lebih banyak menghabiskan hidupnya sendiri dari pada bersama suaminya. Di mana laki-laki yang sudah menikahinya lebih dari empat puluh tahun itu lebih sering pulang ke rumah istri yang lain.
Kalau di tanya kenapa tidak memilih bercerai, mungkin Momy Bela ingin membuktikan bahwa cintanya tulus dengan sang suami. Sehingga meskipun suaminya sudah memiliki istri baru dan bisa dikatakan hidupnya jauh lebih bahagia, tetapi dia tidak pernah berkecil hati. Wanita itu tetap memiliki cara untuk menggapai bahagianya sendiri.
Pantas saja saat aku datang ke rumah ini sangat disambut dengan hati gembira dan penuh harapan, karena mungkin dengan adanya teman di rumah ini Momy Bela bisa bahahgia.
Bersambung....
__ADS_1
****************