
Masih dengan diam... Mereka memandang langit malam yang begitu indah..
"apa mas Adhi tahu... Tadi siang aku sempat ke ruangan mas Adhi." kata Sheena.
Adhi mendesah pelan.
"lalu apa yang kamu lihat...?!"tanya Adhi.
Sheena menatap kosong ke depan menerawang apa yang akan Ia ucapkan.
"wanita itu adalah Indira.. Dia kekasihku waktu aku kuliah... Dan ya.. Ia meninggal kan aku karena lebih memilih pacar yang kaya.. Dan setelah dia di campakkan dan kemungkinan dia sedang jamil.. Di berusaha kembali padaku...."lanjut Adhi yang lama menunggu pertanyaan dari Sheena namun tak ada sepatah kata pun yang keluar.
Ia tahu mungkin ia enggan bertanya tentang itu karena mungkin saja Sheena berpikir terlalu berlebihan menanyakan hal itu. Tapi Adhi ingin memulai semuanya tanpa ada rahasia apapun. Dan memang Adhi telah menempatkan Sheena menjadi prioritasnya saat ini.
"apa mas Adhi pernah melakukan having ***??!" Tanya Sheena tiba tiba.
Adhi membelalakkan mata nya. Dia tidak habis pikir Sheena menanyakan hal rendah seperti itu. Apa sebegitu buruknya Adhi di matanya.
Dengan helaan nafas... Ia menjawab pertanyaan Sheena.
"apa menurutmu aku sebejat itu Na..?!" lanjut Adhi.
Sheena memandang Adhi dengan mata berkaca kaca.
"aku tidak pernah memandang rendah mas Adhi...! Tapi aku memandang rendah diriku sendiri..!" jawab Sheena.
"apa maksudku Na...?!" kata Adhi.
Air mata Sheena meluncur bebas di pipinya. Isak tangis Sheena sangat menyakitkan di dada Adhi. Seperti ada luka yang teramat dalam dihatinya. Adhi masih menunggu jawaban dari Sheena yang masih tidak bergeming.
"seharusnya aku menolak perjodohan ini...!" tangisnya semakin pecah. Rasa sakit yang Ia pendiam selama ini tak terelakkan.
Duaaarrr...!
Bagai di sambar petir mendengar kata kata Sheena. Ia tidak menyangka kata kata itu terucap dari mulut Sheena.
Bukankah kita saling mencintai?tapi kenapa seperti ini?!"batin Adhi.
"apa maksudmu Na...! katakan dengan jelas..!kamu marah soal Indira?! hah!"
"aku katakan, Indira hanya masa lalu aku yang sudah aku kubur dalam dalam Na,,!" ucap Adhi kesal.
__ADS_1
Adhi mendekat ke Sheena, Membalikkan badannya dan menatap lekat matanya.
"Saat ini, sampai nanti aku sudah tidak bernafas lagi di dunia ini, yang aku inginkan hanya bisa menua bersamamu, membesarkan anak anak kita nantinya.."
"aku bukan orang suci yang tidak pernah melakukan dosa tapi aku bisa jamin satu hal padamu bahwa aku masih punya agama dan masih tahu batasannya Na..!" lanjut Adhi.
"sekarang aku bertanya padamu...maukah kamu menerima aku yang penih dengan luka dan dosa ini menjadi satu satunya cinta keduamu setelah ayah Rizwan?"tanya Adhi dengan raut wajah yang sangat sendu bahkan air mata nya sudah hampir tumpah di pipinya.
"Justru aku mas...!Aku yang penuh dengan dosa..!aku yang tidak layak untukmu..!aku bukan orang yang bersih..!bahkan aku sangat kotor..!sangat kotor mas..!" kata Sheena.
"kamu jangan bercanda Na...!" apa maksudku..! "tanya Adhi setengah Marah. Ia menahan amarahnya meledak ledak. Tangannya mengepal kuat. Dan wajah yang semula sendu sudah berubah memerah menahan emosinya.
" aku kotor mas..!Aku tidak layak untuk kamu mas..! "kata Sheena dengan derai air mata yang tak henti henti.
Adhi yang terkaget dan shock akhirnya melangkahkan kakinya keluar rumah tanpa pamit. Pikirannya kacau, Ia bahkan tak tahu harus berpikir bagaimana. Bagaimana gadis yang lugu itu bisa berbuat serendah itu... Ia bahkan tidak menyangka wajah polosnya membohongi semua orang yang ada di sekitarnya.Dan sialnya...dia baru mengatakan ketika dua keluarga sudah merencanakan pernikahan ini.
Dengan perasaan kalut iamenaiki sepeda motornya. menyusuri jalan yang remang remang. Malam yang dingin dan angin yang menembus tulang rusuk pun tak dihiraukan. Ia bahkan seperti debu yang siap di bawa terbang oleh angin kapan saja.
sesampainya di Apartemen, Adhi membanting pintu dengan keras.
"siaaalll...!" umpat Adhi sambil memporak porandakan barang barang yang ada di dalam ruangan tersebut. Tangannya terluka dan banyak darah yang keluar. Namun luka tersebut tidak lah seberapa dibanding luka yang ada di dalam hatinya. Rasa suka telah menjadi benci yang sangat mendalam.
Tuhan lah maha yang membolak balik kan hati. rasa senang, cinta yang teramat kini berubah menjadi rasa benci dan kecewa yang melebihi gunung merbabu. rasa sakit yang teramat menghujam hatinya. mematahkannya menjadi berkeping keping. bahkan serpihannya saja kembali menusuk hatinya lagi.
Di tempat lain, Sheena yang masih menahan isak tangisnya pun meratapi nasibnya. Ia sudah berjanji tadi pagi untuk mengunci perasaannya agar tidak ada yang membukanya. Namun hatinya terlalu rapuh dan egois untuk memiliki Adhi. Dan akhirnya malah melukai perasaan Adhi.
Tangisannya bahkan sudah tanpa suara lagi. airmata terus saja mengalir deras. Sheena bersimpuh di pojok kamarnya. Kamar bernuansa merah muda seharusnya menjadi awal keabngkitan cinta dan kebahagaiaan Sheena, namun hancur sejketika.
Ibunya yang Sedari tadi mendengarkan percakapan mereka memghampiri Sheena dengan wajah sendu.
"nggak papa Na... Suatu saat pasti ada orang yang akan menerimamu apa adanya..Dan ingat Tuhan tidak akan menguji manusia di luar batas kemampuannya..!" kata ibu menenangkan.
"berarti Sheena pasti kuat ya bu...!" ucapnya sambil menghapus air matanya.
"tentu saja..! Anak ayah pasti kuat..!" kata ayah Sheena menghampiri dan memeluk anak gadisnya.
"kurasa kali ini kita harus pergi lagii dari kota ini...ayah akan membawamu pergi meninggalkan Indonesia..!" kata ayah Sheena.
Ibu dan Sheena pun terkejut.
"sekali kali lah... Kita bepergian ke luar negeri..! Bosen di dalam negeri melulu..!" kata ayah Sheena terkekeh.
__ADS_1
"ayah ini...! Nggak lucu tahu..!" ucap Sheena.
"lho beneran... Nggak percaya kalo ayah bisa membawa kalian ke luar negeri..?!"lanjut ayah Sheena.
"Ish...ayah kepedean ih...! Kakakmu yang paling ganteng ini lah yang akan membawa kalian ke luar negeri besok..!"kata seseorang yang baru datang dari arah ruang tamu.
" mas Fahri...!" Sheena langsung memeluk kakaknya yang sudah lama Ia rindukan.
"mas Fahri sengaja dateng malem malem begini mau sekalian jemput kalian.. Karena besok sore kita harus segera berangkat... Semuanya sudah mas siapkan...!" kata Fahri.
Ibu dan ayah pun tersenyum melihat kebahagiaan keluarga mereka ini. Kebahagiaan seperti ini mereka rasa Sudah cukup. dan dalam hati mereka masing masing pun berjanji tidak akan ada yang akan menggantikan kebahagiaan mereka berempat.
Pagi harinya...
Adhi masih meringkuk disudut ruangan. Sinar mentari yang memasuki celah celah ruang kamar membuat mata Adhi silau. Ia pun masih malas beranjak dan tetap diam di sudut ruangan itu.
Sementara Sheena berusaha untuk melanjutkan hidupnya. Ia tahu bahwa cowok seperti Adhi tidak akan menerima dia yang punya Luka di masa lalu. Ia mencoba berdamai dengan masa lalu. Ia akan mengunci hatinya rapat rapat dan tidak akan pernah membukanya kembali. Entah dengan alasan apapun itu karena Ia tidak akan bisa bertahan lagi jika terluka untuk yang kedua kalinya.
Sheena mengemasi semua barang barangnya. Ia membantu ibunya juga menyiapkan barang barang yang diperlukan nantinya di sana.
Ia memberitahukan bu Beta kalau dia resign hari ini. Alasannya karena Ia akan pindah keluar kota.
Awalnya bu Beta Marah dan tidak menerima pengajuan resign Sheena. Namun setelah Sheena menjelaskan dengan panjang lebar akhirnya bu Beta pun menyetujuinya.
Sore harinya Sheena sudah berada di Bandara. Ia menunggu panggilan masuk ke pesawat. Sambil menunggu Ia mencoba mengirim Pesan ke Adhi. Ia mencoba berdamai dengan hatinya sendiri dan setelahnya akan mengunci hatinya dalam dalam.
Terima kasih atas cinta yang luar biasa...
Terimakasih atas Luka yang begitu manis...
Terimaksih atas bahagia yang hanya sementara..
Dan maaf telah membuat mu terluka...
Maaf atas diamku yang menyiksa hati...
Maaf atas keegoisanku yang ingin mengekang hatimu...
Berbahagialah...
-dari wanita yang mungkin selalu kau benci dalam lubuk hatimu-
__ADS_1
Setelah melihat pesan terkirim Sheena pun melangkahkan kalinya ke pesawat. Sebelum pergi sekali lagi dia melihat kebelakang
"selamat tinggal kenangan... Selamat tinggal cinta pertama ku..." batin Sheena sambil mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Pesawat itu pun tinggal landas membawa sebuah cerita hati yang tak sampai.