
Di sebuah pemakaman yang jauh dari perkotaan, Sesosok laki
laki sedang bersimpuh dihadapan pusara yang bersih dan terawat. Ia bahkan
menampakkan wajah yang datar dan dingin. Laki laki itu menatap sedih onggokan
tanah di depannya itu. Ia seperti baru kemarin bersama dengan gadis itu. Baru
kemarin ia bertengkar dan bercanda dengan gadis itu. Sekarang bahkan suara
gadis itu tidak bisa ia dengar lagi. Teriakan, bentakan, makian dan tawanya
sudah menghilang di telan bumi.
“Apa yang harus aku lakukan..! katakan padaku..! kenapa
Cinta selalu saja melukaiku seperti ini..!” kata pria tersebut.
“Aku berharap ini hanyalah mimpi dan aku akan terbangun dan
melihatmu lagi..!” tangisnya perlahan mulai keluar.
“Andai waktu bisa di putar kembali, Aku akan segera kesana
menyusulmu...!”
“Aku benar benar menyesal telah terlambat menyelamatkanmu...”
“Makilah aku..! tampar aku..! Tapi bisakah kamu kembali..!”
“Maafkan aku..! Maafkan aku yang dulu mengabaikan perasaanmu..!
“
“Maafkan aku.. karena meninggalkanmu malam itu..!”
Tangis lelaki itu pun pecah dan air matanya deras mengalir
membasahi kedua pelupuk matanya. Lelaki yang selalu dingin dan tegas pada
siapapun sekarang menjadi orang yang paling rapuh di dunia ini ketika berada di
depan pusara itu.
Hujan turun dengan lebatnya. Petir menggelegar seakan
mengungkapkan kekecewaan. Semesta seakan
tahu akan kesedihan laki laki itu. Dua hati yang telah jatuh cinta namun
terpisahkan oleh waktu. Hujan itupun seakan menjadi saksi bahwa kesedihan
mereka abadi.
Di tengah guyuran hujan laki laki tersebut mencoba berdiri meninggalkan
pemakaman dengan keadaan yang basah kuyup dan tanpa ada rasa ingin hidup lagi.
“Tuan...” kata Sopir itu khawatir dengan keadaan bossnya.
Gery pun melangkah masuk ke mobil tanpa menghiraukan
panggilan sopirnya itu. Ia menyandarkan dirinya di jok moobil dengan menutup
matanya. Dunianya seakan akan runtuh.
“Kita langsung ke apartemen tuan?”
Hening tidak ada jawaban apapun dari tuannya itu.
Mobil itupun akhirnya melaju menuju apartemen Gery.
Sesampainya di sana, masih dengan basah kuyup Gery melangkahkan kakinya ke
apartemennya. Ia membuka kunci apartemen
dan masuk ke dalam.
Disandarkannya tubuh kaku di dinding apartemen yang dingin
itu. Rasanya terasa sepi dan tidak berpenghuni. Ia kemudian terduduk di lantai
dan mengendarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
“Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku ingin menyusulmu
ke sana saja...! aku tidak ingin merasakan cinta seperti ini lagi...!” ucapnya
dengan sesunggukan.
“Tolong bawa aku juga...” lirih Gery yang kemudian meringkuk
di apartemen tersebut masih dengan baju yang basah dan terlelap ke alam mimpinya.
Sementara di bawah, laki laki yang mengantarkan Gery
menelpon Tuan Adhi Dharma karena khawatir dengan keadaan tuannya.
“Halo..” Suara Adhi menjawab telpon yang masuk.
“Maaf tuan Adhi mengganggu waktunya..” kata laki laki
tersebut.
“itu... tuan Gery... saya khawatir dengan keadaan tuan
Gery...!”
__ADS_1
“Bisakah tuan Adhi ke sini melihatnya sebentar..!” pinta
laki laki tersebut.
“Baiklah... aku akan ke sana..!” kata Adhi kemudian menutup
panggilan tersebut.
“Ada apa mas?” kata Sheena.
“Kurang tahu... Kelihatannya ada masalah dengan Gery..!”
jawab Adhi.
“Memangnya ada apa?” tanya Sheena khawatir.
“Entahlah..! aku ke sana sebentar..!” pamit Adhi.
“Iya hati hati...!” Ucap Sheena.
Adhipun melajukan mobilnya ke apartemen Gery. Dengan rasa
cemas dan khawatir ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Gery adalah
satu satunya orang yang selalu mendukungnya, berada di sampingnya dan selalu
ada saat ia terpuruk sekalipun. Jadi rasa khawatir Adhi semakin besar. Assisten
yang sudah dianggap sebagai teman, sahabat, bahkan kakak itu menjadi fokus utama
dalam pikirannya. Ia takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada Gery.
Sesampainya disana Adhi membuka pintu apartemen tersebut dan
terkejut ketika melihat Gery yang meringkuk dengan tubuh yang basah.
“Ger..! Ger..!” kata Adhi panik. Ia kembali ke bawah dan
meminta sopir dan satpam disana membopong Gery ke mobilnya untuk di bawa ke
rumah sakit.
Mobil melaju dengan cepat dan menembus dinginnya AC yang
menusuk tulang. ErKra Hospital rumah sakit yang menangani Gery itu langsung sigap. Gery di bawa ke ruang perawatan
khusus untuk keluarga Atmaja.
Adhi menghubungi Sheena karena ia sangat kalut dan kacau
saat ini.
“ Na... Gery masuk ke rumah sakit? Kamu bisa ke sini?” tanya
Adhi.
Setelahnya Adhi menutup ponselnya dan menunggu dokter keluar
dari kamar pasien. Adhipun menunggu dengan sangat gelisah ia khawatir terjadi
apa apa dengan Gery.
Terlihat Sheena yang menuju ke arahnya. Berjalan dengan tergesa
gesa dan panik.
“Gimana mas keadaan Gery?” tanya Sheena.
“Entahlah Na... masih di periksa..!’ kata Adhi yang terlihat
kusut.
“Memangnya ada apa mas?” Tanya Sheena.
“Aku juga tidak tahu..!” jawab Adhi.
Ruang tindakan medis pun terbuka.
“Bagaimana keadaan Gery dok?” tanya Adhi.
“Keadaannya baik baik saja... hanya kelelahan dan
kedinginan..!” kata Dokter.
“Segera kami pindahkan ke ruang perawatan..!” kata dokter
tersebut.
“Baik dok, terimakasih..!” kata Adhi lega.
Dokter itupun permisi meninggalkan Adhi dan Sheena.
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan mu Ger!” keluh Adhi.
“Apa Gery pernah seperti ini sebelumnya mas?” tanya Sheena.
Adhi pun menerawang jauh, mencari jawaban dari pertanyaan
Sheena.
“Sepertinya pernah, Waktu ia kehilangan kekasih
hatinya, Nayaka..!” kata Adhi.
“Nayaka...?” Tanya Sheena.
“Iya..!wanita itu meninggal karena kecelakaan lalu lintas...
__ADS_1
Tapi menurut penyelidikan Gery, Nayaka di bunuh oleh saingan perusahaannya..!
namun sampai saat ini masih tidak bisa menemukan semua bukti bukti yang mengarah
ke sana..!” jelas Adhi.
“Lalu?” tanya Sheena.
“Lalu, case closed..!” kata Adhi.
“Dan Gery menjadi semakin terpuruk dan merasa bersalah
karena tidak bisa menjaga kekasihnya itu, wanita yang dicintainya...!” kata
Adhi.
“Tapi, mengapa Gery kembali terpuruk seperti ini?” kata
Sheena.
“Kata Sopirnya tadi, ia menjemput Gery di sebuah apartemen
dengan raut muka marah..!” Kata Adhi.
“Bukan Apartemen Gery sendiri?” tanya Sheena.
“Katanya si bukan..! dari penjelasan sopir Gery Sepertinya
apartemen perempuan..” kata Adhi.
“Apa Gery punya kekasih?” tanya Sheena Lagi.
“Sepertinya tidak..!” Jawab Adhi.
“Dan sopir Gery pun naik taksi ke apartemen itu, berarti
mobil Gery sudah ada di sana..!” lanjut Adhi.
“Dan kemudian Ia menuju ke makam... mungkin ia ke makan
Nayaka..!” kata Adhi
“Dan mengingat kembali perasaan yang pernah ada itu..!”
lanjutnya.
“Kasihan ya Gery...!” kata Sheena.
“Kamu tidak kasihan dengan ku Na..! kalau saja aku tidak
bertemu denganmu lagi mungkin aku juga akan meratapi nasibku sama sepertinya..!”
kata Adhi memandang Sheena sedih.
“Mas..!” kata Adhi.
“Bahkan setiap hari yang kuinginkan adalah mengakhiri
hidupku.. kalau saja Ara tidak bersamaku..!” kata Adhi.
“Mas... sudah ya... Yang penting aku ada disini... bersama
dengan mas Adhi.. sekarang mas Adhi tidak akan di tinggal oleh siapa siapa
lagi..!” kata Sheena.
“Aku akan selalu menemani mas Adhi sampai kapanpun..!” kata
Sheena mengecup singkat bibir suaminya itu.
“Na... kalau saja Gery tidak sakit aku ingin membawamu
pulang dari sini dan melakukan olahraga yang menyenagkan..!” kata Adhi.
“Mas adhi..!” kata Sheena kesal.
Drrt drrt drrt
Ponsel Sheena berbunyi.
“Sebentar mas.. Aku angkat dulu..!” kaat Sheena.
Sheena pun mengangkat panggilan tersebut.
“Halo..” Jawab Sheena.
“Na... Naysa kepalanya terbentur..! pendarahannya banyak
banget dan pakaiannya acak acak an..! aku takut dia tadi hampir di perkosa...!
sekarang bahkan ia tak sadarkan diri...!” kata Aries.
“Apa??!! kalau begitu segera bawa ke Erkra Hospital..! Aku
tunggu disini..!” kata Sheena.
“Baiklah... Kami akan segera ke sana..!” Jawab Aries menutup
Panggilannya.
“Sebenarnya ini apa yang sedang terjadi...!” desah Sheena.
“Ada apa Na?” tanya Adhi.
“Ada sedikit masalah dengan Naysa... Aku minta Naysa di bawa
ke sini juga...!” Kata Sheena tidak menjelaskan semuanya.
__ADS_1