
Dokter tersebut pun masuk ke ruang gawat darurat itu. Tak
selang beberapa lama, Sheena pun datang.
“Bagaimana keadaan Ghufran mbak..!” tanya Sheena panik.
“Masih di periksa di dalam nyonya...!” kata mbak Jum.
Ara, Mbak Jum dan Sheena pun berharap harap cemas. Mereka
takut terjadi apa apa dengan anak kecil itu.
“Maaf nyonya..! saya teledor..!” kata Mbak Jum mengungkapkan
penyesalannya.
“Sudahlah Mbak... doakan agar Ghufran bisa sehat kembali..!
tidak ada gunanya sekarang mencari siapa yang salah..!” kata Sheena.
“Saya benar benar minta maaf nyonya..! saya tidak tahu kalau
Den Ghufran akan berlari ke luar kamar mandi saat saya sedang merapikan peralatan
mandinya..!” ucap Mbak Jum terisak.
“Sudah mbak...! saya lah yang paling merasa bersalah Karen ahanya
mampu menitipkan anak saya kepada Mbak Jum..! tidak bisa bersamanya setiap
saat..!” kata Sheena sedih.
“Andaikan...” Ucapan Sheena terputus.
Ara dan Mbak Jum pun tahu kemana arah pembicaran tersebut.
“Nyonya... sudah sangat bekerja keras membesarkan anak anak
yang hebat..! jangan merasa bersalah nyonya..!” kata Mbak Jum yang sudah di
penuhi air mata.
“Terimakasih mbak Jum..! kalau tidak ada mbak Jum, Syaa juga
nggak tahu bagaimana nasib anak anak saya..!” kata Sheena memeluk erat baby
sitternya itu.
Ruang gawat darurat itu pun di buka. Seorang dokter muncul
dari ruang tersebut. Sheena yang melihat dokter tersebut langsung tersentak
kaget.
“Mas Adhi..!!” gumam Sheena lirih.
“Maaf siapa yang bertanggung jawab atas pasien Ghufran?” kata
Dokter tersebut.
“Sa-saya dok..! saya ibunya..!” kata Sheena yang mencoba
tersadar dari lamunannya.
Dokter itu menghela nafas kasar.
“Saya tidak tahu urusan apa yang lebih penting dari
keselamatan putra anda nyonya..! sepertinya anda sama sekali bukan ibu yang
pantas di jadikan contoh untuk anak anak anda..!” kata Dokter tersebut langsung
menghujam dada Sheena.
Sheena mengambil nafas dalam dalam untuk meredam emosinya
itu.
“Sebaiknya anda melakukan tugas anda sebagai dokter yaitu mengobati
orang sakit... selebihnya jangan pernah berkomentar apapun tentang kehidupan
pasien yang anda sendiri tidak tahu..!!”
“Dan Satu lagi..! setelah anda selelsai mengobati, para
pasien akan membayar anda...! hubungan seperti itu saja yang harusnya
diciptakan.. tidak usah anda terlalu dalam mencampuri urusan keluarga pasien..!”
Ucap Sheena kesal.
“Saya sudah sering melihat wanita wanita seperti anda
nyonya..! mau enaknya saja tapi tidak mau susah mengurus anak..!ck..!” Ucap
Dokter tersebut.
“Anda..!!” kata Shena mengacungkan telunjuknya ke muka
dokter tersebut. Namun dengan sigap dokter tersebut menarik tangan Sheena dan menurunkannya.
“kalau anda hendak menggoda pria jangan di rumah sakit..!
ini kawasan umum..!” bisik dokter tersebut di telinga Sheena.
Sheena yang tidak mengerti pembicaran dokter tersebut pun
melirik ke arah Mbak Jum. Mbak Jum memeberi isyarat kepada Sheena menunjuk ke
kancing atas kemejanya.
“Sial..!!” ucap Sheena ketiak melihat satu kancing atasnya
sepertinya terlepas.
“ Setelah ini kalian bisa menemani pasien di ruang rawat
inap.. silahkan urus administrasinya...!” kata Dokter itu data.
“Tapi Den Ghufran baik baik saja kan Dok..?” tanya Mbak Jum.
“Untuk sementara masih dalam pemantauan saya...! nanti
setelah pindah ke ruang rawat inap akan saya check up lagi kondisinya...!” kata
dokter dengan perawakan tinggi itu. Dokter itupun melangkah pergi dan tidak meninggalakn
ruang gawat darurat itu.
“Rasanya ingin aku pindahkan saja Ghufran dari rumah sakit
ini..! jika dokternya itu dokter yang kaku seperti itu..!” umpat Sheena.
Mbak Jum mengurus semua urusan administrasi Ghufran dan
sekarang ia sudah pindah ke kamar rawat inap.
__ADS_1
“Gimana kondisinya sus? Baik baik saja kan ya...!” kata
Sheena Cemas ketika suster datang untuk memeriksa kondisi Ghufran.
“Lebih baik anda tanyakan ke dokter Hisyam ibu... karena
yang menangani langsung kebetulan tadi dokter Hisyam..” kata Suster tersebut.
“Kenapa anak saya belum sadar ya sus..?” tanay Sheena kembali.
“Sebentar lagi pasti sadar kok bu... tenang saja...” jawab
Suster tersebut
“Jadi yang menangani anak saya Dokter Hisyam sus? Dokter
Hisyam... saya belum pernah mendengar namanya..! dokter baru kah?” Tanya
Sheena.
“Iya... anak dari pemilik Rumah sakit ini...! baru saja
kembali dari luar negeri menyelesaikan kuliahnya..!” kata Suster tersebut.
“Bukankah tadi ibu juga bertemu dengannya ketika di luar
ruang gawat darurat..!” jawab Suster tersebut.
“Oh My God..!! jadi maksudnya Dokter Hisyam itu... dokter
itu...! tanya Sheena.
“Iya... meemnagnya kenapa bu..? Dokter Hisyam baik kok,
ramah walaupun agak kaku sih... tapi anak anak yang di tanganinya suka sama
beliau...” jelas suster tersebut.
“Oh..! apa nanti dokter itu akan ada jadwal kunjungan ke
sini?” tanya Sheena.
“Biasanya tetap di pantau terlebih dahulu sebelum dokter Hisyam
sebelum dokter Hisyam pulang... kurang lebih jam setengah empat mungkin..!” Jawab
Suster tersebut.
“berarti sebentar lagi sus?” tanya Sheena kembali.
“Iya... di tunggu saja ya ibu..!” balas Suster tersebut dan
berlalu pergi.
“Ara dan mbak Jum mau beli makan dulu ya bun...” pinta Ara
pada bundanya.
“Iya ... hati hati..!” jawab Sheena.
Setelah kepergian Ara dan Mbak Jum, terdengar sura ketukan
dari luar.
Tok tok tok
“Masuk..!” jawab Sheena.
“Permisi... saya mau check kondisi pasien..!” kata Dokter Hisyam
yang sudah berada di ruangan Ghufran.
Sekarang Sheena bisa melihat jelas wajah dokter yang ia
temui tadi di depan ruang gawat darurat.
“Wajah itu berbeda sekali dengan wajah Mas Adhi.. walaupun
tatapan matanya hampir sama...tidak..! bahkan tatapan matanya itu terasa jelas
bahwa itu adalah tatapan seorang Adhi Dharma... “ batin Sheena.
“Tapi... wajahnya tidak sama dengan wajah mas Adhi..!
mungkin aku saja yang terlalu rindu kepada Mas Adhi...!” Kata Sheena dalam
hatinya.
Sheena hanya terdiam ketika dokter tersebut melakukan
medical check up kepada Ghufran. Diliriknya ke kanan dan ke kiri tidak ada
suster yang mendampingi.
“Tidak usah di cari..! saya tidak suka bekerja dengan tangan
orang lain...!” kata dokter Hisyam tanpa memandang Sheena.
“Orang ini sombongnya minta ampun...!” batin Sheena.
“Sebaiknya anda lebih memperhatikan anak anda..! lukanya
cukup serius..! untung tidak terjadi pendarahan bagian dalam...!” kata Dokter
hisyam.
“oh..!” jawab Sheena.
Dokter Hisyam pun menaikkan alisnya.
“Lucu sekali..! anak sedang sakit mendengar penjelasan
seperti itu anda hanya ber “Oh” saja..!” kata Dokter Hisyam.
“Terus saya harus bagaimana dok..! tidak semua orang bisa
mengekspresikan rasa khawatirnya dengan kata kata..!” ucap Sheena.
Dokter hisyam pun menatap Sheena tajam.
“terserah anda saja... kan anda yang bilang saya hanya
mengobati dan anda membayar saya..! sudah seperti itu..!” kata dokter Hisyam.
“benar sekali...! saya juga sudah mengurus kepindahan anak
saya ke rumah sakit keluarga saya sendiri..! dari pada disini setiap saat saya
bisa makan hati..!!” kata Sheena.
“Baguslah kalau begitu..! Semoga ada dokter yang bisa
menangani masalah anak anda..!” kata Dokter Hisyam.
“Maksud anda anak saya bermaslah?” tanya Sheena.
“Baru sadaar..!” kata Dokter hisyam.
__ADS_1
“Jangan berkata yang
tidak jelas..! apa maksud anda dengan Ada masalah dengan anak saya..!” kaat
Sheena.
“Anak anda mengalami masalah pada pencernaannya... dan untuk
benturan tadi sebaiknya anda harus memeriksakanya ke bagian syaraf... hanya
untuk mengantisipasi adanya cidera..!” kata dokter Hisyam.
“Baik akan saya ingat itu..! hanya itu..?” tanya Sheena.
Dokter hisyam pun menghela nafasnya kasar.
“Sebaiknya anda juga harus memeriksakan diri anda ke
psikiater..! saya rasa anda butuh konseling seorang psikiater..!” kata Dokter
Hisyam berlalu pergi.
“Ish... dokter sombong itu..! benar benar menguras emosi
jiwa..!” umpat Sheena.
“Ada apa Na..?!” tanya Naysa dan Gery dari balik pintu.
“Eh, kalian datang kenapa tidak bilang bilang..!” kata
Sheena.
“Kami sudah ketuk pintu berulang ulang, kamunya yang nggak
denger..!” gerutu Naysa.
“masak sih...!” balas Sheena.
“Gimana keadaan Ghufran nyonya?” tanya Gery.
“Baik baik saja... tapi besok aku akan memeriksakan dia ke
dokter syaraf...” jawab Sheena.
“Apa yang baru keluar itu tadi dokter yang memeriksa
Ghufran?” tanya Gery.
“Iya benar..! ada apa Ger?” Ucap Sheena.
“Tidak.. hanya saja... maaf nyonya... saya merasa dokter
tersebut sanagt mirip dengan tuan Adhi..!” kata Gery.
“Ish..! mana ada..! orang wajahnya aja berbeda gitu kok..!”
kata Naysa.
“Dari tatapan matanya..! Sangat jelas sekali itu adalah
tatapan mata tuan Adhi Dharma...!” kata Gery.
“sekali lagi saya minta maaf... kalau membuat nyonya
bersedih..!” kata Gery.
“Tidak apa apa..!” jawab Sheena.
“Tapi memang benar... pertama kali aku bertemu juga awalnya
aku berpikir seperti itu, namun setelah berbincang bincang dengan dokter
tersebut dia benar benar bukan mass Adhi..! Sikapnya saja sombong, Angkuh sok
berkuasa dan omongannya setajam silet..!” ucap Sheena.
“Eh Na...! bukannya suamimu juga kayak gitu...! loenya aja
yang nggak ngerasa..!” balas Naysa.
“Nggak lahh... Mas Adhi itu jauh jauh lebih baik..!” kata Sheena.
“iya iya... percaya dech..!” jawab Naysa.
Gery setelah pertemuannya dengan dokter yang merawat Ghufran
pun terus saja berpikir..
“Tidak mungkin kalau itu tuan Adhi ... kalau tuan Adhi
pastinya akan mengenali saya..! tapi.. jika dia bukan tuan Adhi mengapa sangat
mirip sekali...! walaupun wajahnya berbeda namun tatapan mata dan auranya
memang seperti tuan Adhi..!” batin Gery.
“Haruskah saya selidiki hal ini? Ah..! tapi apa memang hanya
perasaanku saja..!” kata Geri dalam hatinya.
“Ger..! kenapa diam Saja..!” tanya Sheena.
“Eh, i-tu nyonya... tidak tidak ada..! hanya saya kasihan melihat
tuan muda seperti ini..!” kata gery mengalihkan pembicaraan.
“Kamu tenang saja... aku yakin Ghufran anak yang kuat..!”
kata Sheena.
“Iya... pasti itu nyonya..!” kata Gery.
“Om Gery..!” kata Ara yang muncul dari balik pintu.
“Om Gery ada di sini juga..!” tanya Ara.
“Iya... Om khawatir dengan keadaan tuan muda... jadi Om segera ke sini..!” kata
Gery.
“O iya oma dan opa belum bisa dataeng ke sini... sedang ke
dokter untuk memeriksakan kesehatannya yang semakin menurun akhir akhir
ini...!” kata gery.
“Owh..! tidak apa papa om...! lagian emang oma juga sudah
sering sakit sakitan...! kasihan kalau di minta bolak balik ke sini..!” kata
Ara.
“kamu bawa apa Ra..?” tanya Naysa.
“Eh tante.. ini makann dan camilan..! tante mau..? kalau mau
nanti tak minta mbak Jum untuk beli lagi...” kata Ara.
__ADS_1
“Boleh dech..! belum makan soalnya..!” kata Naysa.