Elegi Hati Si Cewek Jutek

Elegi Hati Si Cewek Jutek
Dokter Hisyam...


__ADS_3

Dokter tersebut pun masuk ke ruang gawat darurat itu. Tak


selang beberapa lama, Sheena pun datang.


“Bagaimana keadaan Ghufran mbak..!” tanya Sheena panik.


“Masih di periksa di dalam nyonya...!” kata mbak Jum.


Ara, Mbak Jum dan Sheena pun berharap harap cemas. Mereka


takut terjadi apa apa dengan anak kecil itu.


“Maaf nyonya..! saya teledor..!” kata Mbak Jum mengungkapkan


penyesalannya.


“Sudahlah Mbak... doakan agar Ghufran bisa sehat kembali..!


tidak ada gunanya sekarang mencari siapa yang salah..!” kata Sheena.


“Saya benar benar minta maaf nyonya..! saya tidak tahu kalau


Den Ghufran akan berlari ke luar kamar mandi saat saya sedang merapikan peralatan


mandinya..!” ucap Mbak Jum terisak.


“Sudah mbak...! saya lah yang paling merasa bersalah Karen ahanya


mampu menitipkan anak saya kepada Mbak Jum..! tidak bisa bersamanya setiap


saat..!” kata Sheena sedih.


“Andaikan...” Ucapan Sheena terputus.


Ara dan Mbak Jum pun tahu kemana arah pembicaran tersebut.


“Nyonya... sudah sangat bekerja keras membesarkan anak anak


yang hebat..! jangan merasa bersalah nyonya..!” kata Mbak Jum yang sudah di


penuhi air mata.


“Terimakasih mbak Jum..! kalau tidak ada mbak Jum, Syaa juga


nggak tahu bagaimana nasib anak anak saya..!” kata Sheena memeluk erat baby


sitternya itu.


Ruang gawat darurat itu pun di buka. Seorang dokter muncul


dari ruang tersebut. Sheena yang melihat dokter tersebut langsung tersentak


kaget.


“Mas Adhi..!!” gumam Sheena lirih.


“Maaf siapa yang bertanggung jawab atas pasien Ghufran?” kata


Dokter tersebut.


“Sa-saya dok..! saya ibunya..!” kata Sheena yang mencoba


tersadar dari lamunannya.


Dokter itu menghela nafas kasar.


“Saya tidak tahu urusan apa yang lebih penting dari


keselamatan putra anda nyonya..! sepertinya anda sama sekali bukan ibu yang


pantas di jadikan contoh untuk anak anak anda..!” kata Dokter tersebut langsung


menghujam dada Sheena.


Sheena mengambil nafas dalam dalam untuk meredam emosinya


itu.


“Sebaiknya anda melakukan tugas anda sebagai dokter yaitu mengobati


orang sakit... selebihnya jangan pernah berkomentar apapun tentang kehidupan


pasien yang anda sendiri tidak tahu..!!”


“Dan Satu lagi..! setelah anda selelsai mengobati, para


pasien akan membayar anda...! hubungan seperti itu saja yang harusnya


diciptakan.. tidak usah anda terlalu dalam mencampuri urusan keluarga pasien..!”


Ucap Sheena kesal.


“Saya sudah sering melihat wanita wanita seperti anda


nyonya..! mau enaknya saja tapi tidak mau susah mengurus anak..!ck..!” Ucap


Dokter tersebut.


“Anda..!!” kata Shena mengacungkan telunjuknya ke muka


dokter tersebut. Namun dengan sigap dokter tersebut menarik tangan Sheena  dan menurunkannya.


“kalau anda hendak menggoda pria jangan di rumah sakit..!


ini kawasan umum..!” bisik dokter tersebut di telinga Sheena.


Sheena yang tidak mengerti pembicaran dokter tersebut pun


melirik ke arah Mbak Jum. Mbak Jum memeberi isyarat kepada Sheena menunjuk ke


kancing atas kemejanya.


“Sial..!!” ucap Sheena ketiak melihat satu kancing atasnya


sepertinya terlepas.


“ Setelah ini kalian bisa menemani pasien di ruang rawat


inap.. silahkan urus administrasinya...!” kata Dokter itu data.


“Tapi Den Ghufran baik baik saja kan Dok..?” tanya Mbak Jum.


“Untuk sementara masih dalam pemantauan saya...! nanti


setelah pindah ke ruang rawat inap akan saya check up lagi kondisinya...!” kata


dokter dengan perawakan tinggi itu. Dokter itupun melangkah pergi dan tidak meninggalakn


ruang gawat darurat itu.


“Rasanya ingin aku pindahkan saja Ghufran dari rumah sakit


ini..! jika dokternya itu dokter yang kaku seperti itu..!” umpat Sheena.


Mbak Jum mengurus semua urusan administrasi Ghufran dan


sekarang ia sudah pindah ke kamar rawat inap.

__ADS_1


“Gimana kondisinya sus? Baik baik saja kan ya...!” kata


Sheena Cemas ketika suster datang untuk memeriksa kondisi Ghufran.


“Lebih baik anda tanyakan ke dokter Hisyam ibu... karena


yang menangani langsung kebetulan tadi dokter Hisyam..” kata Suster tersebut.


“Kenapa anak saya belum sadar ya sus..?” tanay Sheena kembali.


“Sebentar lagi pasti sadar kok bu... tenang saja...” jawab


Suster tersebut


“Jadi yang menangani anak saya Dokter Hisyam sus? Dokter


Hisyam... saya belum pernah mendengar namanya..! dokter baru kah?” Tanya


Sheena.


“Iya... anak dari pemilik Rumah sakit ini...! baru saja


kembali dari luar negeri menyelesaikan kuliahnya..!” kata Suster tersebut.


“Bukankah tadi ibu juga bertemu dengannya ketika di luar


ruang gawat darurat..!” jawab Suster tersebut.


“Oh My God..!! jadi maksudnya Dokter Hisyam itu... dokter


itu...! tanya Sheena.


“Iya... meemnagnya kenapa bu..? Dokter Hisyam baik kok,


ramah walaupun agak kaku sih... tapi anak anak yang di tanganinya suka sama


beliau...” jelas suster tersebut.


“Oh..! apa nanti dokter itu akan ada jadwal kunjungan ke


sini?” tanya Sheena.


“Biasanya tetap di pantau terlebih dahulu sebelum dokter Hisyam


sebelum dokter Hisyam pulang... kurang lebih jam setengah empat mungkin..!” Jawab


Suster tersebut.


“berarti sebentar lagi sus?” tanya Sheena kembali.


“Iya... di tunggu saja ya ibu..!” balas Suster tersebut dan


berlalu pergi.


“Ara dan mbak Jum mau beli makan dulu ya bun...” pinta Ara


pada bundanya.


“Iya ... hati hati..!” jawab Sheena.


Setelah kepergian Ara dan Mbak Jum, terdengar sura ketukan


dari luar.


Tok tok tok


“Masuk..!” jawab Sheena.


“Permisi... saya mau check kondisi pasien..!” kata Dokter Hisyam


yang sudah berada di ruangan Ghufran.


Sekarang Sheena bisa melihat jelas wajah dokter yang ia


temui tadi di depan ruang gawat darurat.


“Wajah itu berbeda sekali dengan wajah Mas Adhi.. walaupun


tatapan matanya hampir sama...tidak..! bahkan tatapan matanya itu terasa jelas


bahwa itu adalah tatapan seorang Adhi Dharma... “ batin Sheena.


“Tapi... wajahnya tidak sama dengan wajah mas Adhi..!


mungkin aku saja yang terlalu rindu kepada Mas Adhi...!” Kata Sheena dalam


hatinya.


Sheena hanya terdiam ketika dokter tersebut melakukan


medical check up kepada Ghufran. Diliriknya ke kanan dan ke kiri tidak ada


suster yang mendampingi.


“Tidak usah di cari..! saya tidak suka bekerja dengan tangan


orang lain...!” kata dokter Hisyam tanpa memandang Sheena.


“Orang ini sombongnya minta ampun...!” batin Sheena.


“Sebaiknya anda lebih memperhatikan anak anda..! lukanya


cukup serius..! untung tidak terjadi pendarahan bagian dalam...!” kata Dokter


hisyam.


“oh..!” jawab Sheena.


Dokter Hisyam pun menaikkan alisnya.


“Lucu sekali..! anak sedang sakit mendengar penjelasan


seperti itu anda hanya ber “Oh” saja..!” kata Dokter Hisyam.


“Terus saya harus bagaimana dok..! tidak semua orang bisa


mengekspresikan rasa khawatirnya dengan kata kata..!” ucap Sheena.


Dokter hisyam pun menatap Sheena tajam.


“terserah anda saja... kan anda yang bilang saya hanya


mengobati dan anda membayar saya..! sudah seperti itu..!” kata dokter Hisyam.


“benar sekali...! saya juga sudah mengurus kepindahan anak


saya ke rumah sakit keluarga saya sendiri..! dari pada disini setiap saat saya


bisa makan hati..!!” kata Sheena.


“Baguslah kalau begitu..! Semoga ada dokter yang bisa


menangani masalah anak anda..!” kata Dokter Hisyam.


“Maksud anda anak saya bermaslah?” tanya Sheena.


“Baru sadaar..!” kata Dokter hisyam.

__ADS_1


“Jangan  berkata yang


tidak jelas..! apa maksud anda dengan Ada masalah dengan anak saya..!” kaat


Sheena.


“Anak anda mengalami masalah pada pencernaannya... dan untuk


benturan tadi sebaiknya anda harus memeriksakanya ke bagian syaraf... hanya


untuk mengantisipasi adanya cidera..!” kata dokter Hisyam.


“Baik akan saya ingat itu..! hanya itu..?” tanya Sheena.


Dokter hisyam pun menghela nafasnya kasar.


“Sebaiknya anda juga harus memeriksakan diri anda ke


psikiater..! saya rasa anda butuh konseling seorang psikiater..!” kata Dokter


Hisyam berlalu pergi.


“Ish... dokter sombong itu..! benar benar menguras emosi


jiwa..!” umpat Sheena.


“Ada apa Na..?!” tanya Naysa dan Gery dari balik pintu.


“Eh, kalian datang kenapa tidak bilang bilang..!” kata


Sheena.


“Kami sudah ketuk pintu berulang ulang, kamunya yang nggak


denger..!” gerutu Naysa.


“masak sih...!” balas Sheena.


“Gimana keadaan Ghufran nyonya?” tanya Gery.


“Baik baik saja... tapi besok aku akan memeriksakan dia ke


dokter syaraf...” jawab Sheena.


“Apa yang baru keluar itu tadi dokter yang memeriksa


Ghufran?” tanya Gery.


“Iya benar..! ada apa Ger?” Ucap Sheena.


“Tidak.. hanya saja... maaf nyonya... saya merasa dokter


tersebut sanagt mirip dengan tuan Adhi..!” kata Gery.


“Ish..! mana ada..! orang wajahnya aja berbeda gitu kok..!”


kata Naysa.


“Dari tatapan matanya..! Sangat jelas sekali itu adalah


tatapan mata tuan Adhi Dharma...!” kata Gery.


“sekali lagi saya minta maaf... kalau membuat nyonya


bersedih..!” kata Gery.


“Tidak apa apa..!” jawab Sheena.


“Tapi memang benar... pertama kali aku bertemu juga awalnya


aku berpikir seperti itu, namun setelah berbincang bincang dengan dokter


tersebut dia benar benar bukan mass Adhi..! Sikapnya saja sombong, Angkuh sok


berkuasa dan omongannya setajam silet..!” ucap Sheena.


“Eh Na...! bukannya suamimu juga kayak gitu...! loenya aja


yang nggak ngerasa..!” balas Naysa.


“Nggak lahh... Mas Adhi itu jauh jauh lebih baik..!” kata Sheena.


“iya iya... percaya dech..!” jawab Naysa.


Gery setelah pertemuannya dengan dokter yang merawat Ghufran


pun terus saja berpikir..


“Tidak mungkin kalau itu tuan Adhi ... kalau tuan Adhi


pastinya akan mengenali saya..! tapi.. jika dia bukan tuan Adhi mengapa sangat


mirip sekali...! walaupun wajahnya berbeda namun tatapan mata dan auranya


memang seperti tuan Adhi..!” batin Gery.


“Haruskah saya selidiki hal ini? Ah..! tapi apa memang hanya


perasaanku saja..!” kata Geri dalam hatinya.


“Ger..! kenapa diam Saja..!” tanya Sheena.


“Eh, i-tu nyonya... tidak tidak ada..! hanya saya kasihan melihat


tuan muda seperti ini..!” kata gery mengalihkan pembicaraan.


“Kamu tenang saja... aku yakin Ghufran anak yang kuat..!”


kata Sheena.


“Iya... pasti itu nyonya..!” kata Gery.


“Om Gery..!” kata Ara yang muncul dari balik pintu.


“Om Gery ada di sini juga..!”  tanya Ara.


“Iya... Om khawatir dengan keadaan  tuan muda... jadi Om segera ke sini..!” kata


Gery.


“O iya oma dan opa belum bisa dataeng ke sini... sedang ke


dokter untuk memeriksakan kesehatannya yang semakin menurun akhir akhir


ini...!” kata gery.


“Owh..! tidak apa papa om...! lagian emang oma juga sudah


sering sakit sakitan...! kasihan kalau di minta bolak balik ke sini..!” kata


Ara.


“kamu bawa apa Ra..?” tanya Naysa.


“Eh tante.. ini makann dan camilan..! tante mau..? kalau mau


nanti tak minta mbak Jum untuk beli lagi...” kata Ara.

__ADS_1


“Boleh dech..! belum makan soalnya..!” kata Naysa.


__ADS_2