Elegi Hati Si Cewek Jutek

Elegi Hati Si Cewek Jutek
Kekuatan dari Sebuah Harapan...


__ADS_3

Sheena dan semuanya kembali ke mansion Adhi. Di dalam


mansion itu sudah menunggu dokter Elmira yang sudah siap dengan peralatannya


untuk memeriksa Sheena.


“Dokter Elmira ada disini?” tanya Bu Shinta.


“Iya .. Sheena memintaku untuk datang ke sini..!” jawab


Dokter Elmira


“Kita ke atas..! kalian semua tunggu disini terlebih dahulu..!”


kata Sheena kepada rekan rekannya.


Sheena, Ara dan dokter Elmira berjalan ke lantai dua di


bantu dengan beberapa asistennya untuk membawakan perlatannya itu.


“Sheena .. benar benar jadi sultan sekarang...! gila aja,


ruang periksa kandungan sekarang berada di kamarnya dan lengkap dengan


peralatannya..!” kata Aries.


“Kau ini si Ar..! kayak baru ketemu orang kaya saja..! norak


tahu..!” kata Naysa.


“Eh, Nay... ini tidak ada hubungannya antara norak dan


tidak..! tapi baru kali ini gue lihat dengan kepala gue sendiri, Ruang pemeriksaan


kandungan pindah ke kamar Sheena..!”


“Loe nggak lihat itu...Alat alat yang di bawa..! beuuuhhh


harganya bisa puluhan juta bahkan ratusan..!” tambah Aries.


“Sudah Ah..! diem...!” perintah Naysa membungkam ucapan


Aries.


Setelah mereka menutup pintu kamar rapat rapat, dokter Elmira


pun mulai memasang alat pemeriksaan dan mulai memeriksa Sheena.


“Kamu rebahan di kasur Na...! biar aku cek dulu...!“


perintah Dokter Elmira.


Dokter Elmira pun memulai memeriksa kandungan Sheena.


“Gimana keadaan Adik bayiku dokter?” Kata Ara.


“Waah.. calon kakaknya perhatian sekali ya...!” goda Dokter


Elmira.


“Dia sehat..! baik...!harus di perhatikan pola makannya ya


Na...dan yang terpenting jangan terlalu stress..!” kata Dokter Elmira.


“Ara juga harus perhatikan Bunda ya..harus di pastikan agar


bunda baik baik saja..! agar adek bayinya juga sehat dan kuat kayak kakaknya..!”


Ucap Dokter Elmira kepada Ara.


“Siap bu dokter..!” kata Ara.


“Akan aku resepkan vitamin untuk kandunganmu Na...!” kata


Dokter Elmira.


“Terimakasih dok...!” ucap Sheena.


Setelah kepergian dokter Elmira, Sheena dan yang lainnya berkumpul


di ruang tengah.


“Pi... mulai besok aku akan kembali bekerja untuk


menggantikan posisi mas Adhi sementara..! aku ingin semua data tentang proyek


itu diserahkan kepadaku besok..!” kata Sheena.


“Namun sebelum itu... aku ingin memastikan siapa yang akan


ikut ke dalam proyek ini... karena proyek ini sudah memakan korban kemungkinan


akan ada korban korban berikutnya... jadi sebelum kalian memutuskan alangkah


lebih baiknya kalian pikirkan lebih dahulu..!” kata Sheena.


“Kalau gue si nggak perlu berpikir Na... pastilah gue


ikut..!” kata Aries.


“Aku juga..!” kata Gery dan Naysa.


“Kalian tahu kan resikonya apa... jadi mulai sekarang aku


ingin kalian lebih berhati hati dan selalu saling mengawasi.. jangan sampai ada


kejadian seperti ini lagi...!” kata Sheena.


“Dan aku butuh data data terakhir dari ponsel mas Adhi,


siapa yang menghubunginya dan juga kerja sama yang akhir akhir ini di tanda


tangani..” kata Sheena.


“It’s a piece of cake.. Na..! Adel dan Marco akan


mengtasinya..!” kata Aries.


“Ger... besok kamu ikut aku ke perusahaan...adakan rapat


darurat...! walaupun kondisimu belum pulih, aku harap kau bisa bekerja


cepat..!” lanjut Sheena.


“Dan untuk mami dan papi... kalian jangan terlalu lelah...


istirahatlah lebih dulu... jaga kondisi kalian..!” tambah Sheena.


“Tidak bisa Na... papi tidak bisa berpangku tangan..!” kata


Papi Adhi.


“Dengarkan Aku pi... serahkan saja  semuanya padaku... kalau aku butuh bantuan


aku akan menghubungi papi..!” kata Sheena.


Pak Atmaja pun hanya mendesah pelan mendengar permintaan


menantunya itu.


“Dan Kau Ara..! aku yakin kamu mengerti kondisinya... aku


harap kamu juga bisa menjaga dirimu..! karena tidak setiap saat kami bisa


mengawasimu...! aku akan tempatkan pengawal di dekatmu..! Maaf.. karena kamu


harus ikut dalam masalah orang dewasa seperti ini..! Bunda hanya ingin kamu


tahu... bahwa perjuangan kita itu akan sulit nantinya...! kelak jika kamu


dewasa jangan pernah lupakan bagaimana kita berdua melewati titik krisis


seperti ini..!” ucap Sheena sendu.


“Its okay bunda...! Ara tahu...! dan Ara juga mengerti...!


yang Ara inginkan hanya selalu bersama bunda...! that’s enough..!” kata Ara.


“Terimakasih sayang...!” balas Sheena dengan tersenyum


getir. Ia tidak menyangka Seorang Ara mampu memahami kondisi saat ini dan


menjadi dewasa sebelum waktunya.


“Oke... sekarang kalian bisa kembali ke tempat masing


masing...! mulai besok pindahkan semua peralatan yang di butuhkan di ruang


kantor mas Adhi... kita akan bekerja dari sini..!” kata Sheena.


“As you wish Na..!” kata Aries.


Mereka semua akhirnya kembali ke posisi semula. Pekerjaan


yang berat akan menanti merekake depannya.


Selepas kepergian sahabat sahabtanya, Sheena masih duduk


termenung di sofa tersebut.

__ADS_1


“Kamu yakin Na... melakukan ini semua?” Tanya Pak Atmaja.


Tidak ada jawaban dari Sheena, ia hanya menerawang jauh


menatap langit langit rumah tersebut.


“Kamu bisa saja memilih hidup bahagia dengan Ara dan anakmu


nantinya... tidak perlu membuat dirimu semakin terjatuh ke dalam bisnis yang


sangat keras dan kejam..!” Ucap Pak Atmaja.


“Tidak Pi, Sheena tidak ingin hidup seperti itu tanpa mas


Adhi..! Sheena akan menjalankan amanat mas Adhi.. dan menunggunya kembali..!”


jawab Sheena.


“Apa sebaiknya tidak kau pikirkan lagi Nak...!” tanya bu Shinta.


“Tidak bu... Sheena sudah yakin akan melakukannya.. Sheena


akan menghakimi orang orang yang telah bermain curang dan culas..!” Jawab Sheena.


Tiba tiba suara pelayan mengejutkan Sheena dan yang lainnya.


“Permisi Nyonya..! ada yang ingin bertemu... katanya orang


tua nyonya Sheena..!” ucap Mbok Minah.


“Ayah dan ibuk?” kata Sheena tidak percaya.


“Iya nyonya..!” jawab Mbok Minah.


“Baiklah suruh masuk saja Mbok..!” Ucap Bu Shinta memberikan


iin.


“Baik... akan saya minta mereka untuk masuk..!” kata mbok


minah kemudian pamit undur diri.


Di depan pintu masuk, Sheena melihat ayah, ibuk dan juga mas


Fahri.


Sheena pun menghampiri mereka dengan setengah berlari kecil


karena saat ini ia harus waspada dengan kondisinya yang tengah hamil muda.


“Ayaah...ibuk...!” ucap Sheena bahagia dan memeluk kedua


orang tersebut.


“Sheena kangen sekali dengan ayah dan ibuk..!” lanjutnya.


“Kami juga kangen sama kamu Na...! kamu nggak papa kan..!


kamu kuat kan ya..!” Tanya Ibuk Sheena.


Sheena merenggangkan pelukannya dan menatap kedua


orangtuanya dengan penuh Kasih.


“Sheena kuat buk..! tenang saja..! lagian ada bayi kecil di


rahim Sheena....!” Jawab Sheena.


“Kamu hamil Na..?” tanya Fahri.


“Iya mas...!” balas Sheena.


Sebenarnya ada perasaan sedih di mata kedua orang paruh baya


itu saat mengetahui Sheena hamil, ia mengkhawatirkan bayi yang ada dalam


kandungan Sheena. Betapa sedihnya jika anak tersebut harus lahir tanpa adanya


sosok figure seorang ayah.


“Ayah.. ibuk... ayo masuk dulu..!” Ucap Sheena.


Mereka bertiga pun masuk ke rumah tersebut. Diruang tengah mereka


sudah di sambut oleh bu Shinta dan dan Pak Atmaja.


“Maaf bu shinta.. baru bisa ke sini..! kalau kami tidak


dikabari fahri pasti kami tidak tahu apa yang terjadi..!” kata Ibu Sheena.


“Iya nggak papa besan...! kami sudah ikhlas kok..!” balas Bu


Shinta.


... tapi malah terjadi seperti ini..!” keluh Ibuk Sheena penuh rasa menyesal.


“Sudahlah... kalian pasti lelah... istirahatlah terlebih


dahulu..!” kata Bu Shinta mempersilahkan mereka masuk ke kamar tamu.


“Iya buk... istirahatlah dulu... besok baru kita bicarakan


lagi... “ ucap Sheena.


“Sebenarnya banyak yang ingin ibu tanyakan kepadamu Na..!


tapi ya sudahlah... besok saja..!” kata Ibuk Sheena.


Fahri dan keluarganya pun di antar ke kamar tamu oleh


pelayan yang ada di rumah itu.


“ Fahri... kamu harus selalu jagain Sheena... kasihan anak


itu... kenapa hidupnya selalu saja menderita..!” kata Ibuk Sheena duduk di


kasur yanga ada di kamar itu.


“Tenang saja buk... Fahri Akan selalu menjaga Sheena, karena


dia adalah adik fahri satu satunya.. kalau perlu Fahri korbankan nyawa Fahri


untuk melindungi Sheena...!” kata Fahri menghampiri ibunya dan menggenggam erat


tangan ibunya tersebut.


“Jangan berkata seperti itu Nak.. kami tidak ingin kalian


celaka..!kami hanya ingin kalian selalu bersama dan bahagia selamanya...!” kata


ayah Sheena.


“Iya .. Fahri paham..! sekarang Ayah dan ibuk istirahat saja


dulu... Fahri akan keluar sebentar..!” kata Fahri pamit dari hadapan kedua


orang tua itu.


“Mau kemana kamu Nak..?” tanya Ibuk Sheena.


“Ada urusan sebentar buk... ! nanti Fahri segera kembali..!”


ucap Fahri dan berlalu pergi.


Fahri menghubungi seseorang ada rasa penasaran dengan


kejadian yang telah terjadi.


“Bisa bertemu sebentar?” kata Fahri.


“Iya.. baiklah..!” sahut seseorang yang ada di sambungan


telpon tersebut.


“Kita bertemu di halaman belakang..!”lanjutnya.


“Oke... aku tunggu..!” kata Fahri.


Kemudian ia menutup sambungan telpon tersebut dan melangkah


menju ke halaman belakang.


“Ada apa mas..?” kata Sheena yang sudah dulu berada di


halaman belakang.


Fahri masih tidak menjawab ia kemudian duduk di Gazebo dan


menatap langit langit.


“Sebenarnya apa yang terjadi Na..?” tanya Fahri membuka


pembicaraan.


Sheena pun ikut duduk bersama dengan Fahri.


“Semua terjadi begitu cepat... bahkan kami saja belum sempat


istirahat dan bersantai..!” kata Sheena memulai ceritanya.

__ADS_1


“Setelah dari rumah sakit menjenguk Gery yang di culik dan


di pukuli hingga babak belur..mas Adhi menerima panggilan telpon dari Pak Rizal


dan diminta ke kantor..!”


“Setelahnya, tiba tiba mas Adhi di temukan kecelakan jatuh


kedalam jurang dan mobilnya terbakar..!”


“Pada saat itu Mas Adhi sedang menandatangi proyek


pembangunan jalan yang menjadi sengketa itu.. menuurt firasatku.. ada hubungan


antara kecelakaannya mas Adhi dengan proyek tersebut..!” ucap Sheena menerawang


jauh.


“Proyek itu bukankah tidak jadi diberlakukan..!” Kata Fahri.


“Benar.. aslinya Mas Adhi tidak mau menandatangani proyek


tersebut.. entah mengapa ia tiba tiba menandatanganinya dan ternyata banyak


perusahaan investor yang mengundurkan diri dari proyek tersebut..!” Tambah


Sheena.


“Proyek tersebut harusnya sudah di cancel..! pasti ada orang


yang ingin mengkambing hitamkan perusahaan Adhi dan menggulingkannya..!” kata


Fahri.


“Terus apa tindakanmu selanjutnya..?” tanya fahri.


“Aku akan menangani proyek tersebut dan memastikan apa saja


yang terjadi sebenarnya...!” kata Sheena.


“Jangan gila kamu Na..! itu terlalu berbahaya..! aku saja


mengundurkan diri untuk menangani proyek tersebut..!” kata Fahri.


“Tidak Mas.. Aku tidak bisa mundur..! ada jutaan karyawan


yang bergantung di perusahaan itu..! dan juga aku harus mengungkapkan apa


sebenarnya yang terjadi dengan mas Adhi..! mengapa ia sampai kecelakan..! dan


siapa yang membodohi mas Adhi dengan menggunakan nama Pak rizal.. padahal pak Rizal


sudah meninggal beberapa jam sebelumnya..!” ucap Sheena dengan tatapan tajam.


“Kamu yakin Na..! kamu sedang mengandung..! kasihan anak


kamu jika terlalu stress..!” Lanjut Fahri.


“Saya akan menjaga anak ini selalu mas.. hanya dia yang bisa


aku lihat dari mas Adhi..! aku tidak mungkin mencelakainya... aku tahu


batasanku..!” kata Sheena.


“Baiklah.. kalau menurutmu itu baik... aku akan membantumu


kalau begitu..!” kata fahri.


“Serius Mas?” tanya Sheena.


“iya..! aku akan membantumu mengungkapkan apa yang


sebenarnya terjadi.. dan memberimu ruang untuk berpikir jernih..!” kata Fahri.


“Apa maksud mas Fahri?” tanya Sheena.


“Kamu harus bisa berpikir jernih dan menerima kepergian


Adhi..! begitu juga Ara.. jangan kau racuni pikirannya dengan berharap bahwa


Adhi masih hidup..!” kata Fahri.


“Tidak.. memang mas Adhi masih hidup.. dia akan kembali..


aku yakin itu..!” Jawab Sheena.


“Na.. buka matamu Na..! di sana sudah ada bukti cincin


nikahanmu dan data diri Adhi yang masih tersisa..!” kata Fahri.


“Tidak mas..! sudah aku tidak mau dengar..! aku yakin mas


Adhi masih hidup dan dia akan kembali..!” kata Sheena sudah menahan emosinya.


Melihat Sheena yang seperti itu, akhirnya Fahri pun


menyerah. Ia tidak mungkin memancaing emosi Sheena yang sedang hamil itu. Fahri


khawatir itu akan mempengaruhi janinnya.


“Baiklah Na...! terserah padamu..! yang pasti aku akan


membantumu kali ini..!” kata Fahri.


“Ingat Na.. apapun masalahmu... aku akan selalu berada di


sampingmu..! jangan pernah merasa sendirian..!” kata Fahri mengusap lembut kepala


Adiknya itu.


“Dan jangan selalu mencoba terlihat tegar..! karena


terkadang terlihat rapuh juga tidak masalah..!” kata Fahri.


Sheena hanya menatap kakaknya itu. Ada perasaan yang hangat menyeruak


di hatinya.


“Mas Fahri juga harus bahagia... jangan selalu mengurusi


Sheena.. menikahlah dan punya anak yang banyak... jalani kehidupan mas Fahri


dengan bahagia juga...!” kata Sheena.


“Mas fahri bukan hanya sosok kakak buatku..! namun juga


sosok sahabat buat Sheena..! jadi berbahagialah..!” lanjut Sheena.


“Aku bahagia jika kamu juga bahagia Na..! Ayah dan ibuk


bahagia..! itu keingainan terbesarku..!” kata fahri.


“Dan jujur aku tidak menyangka kita kan berada pada titik


ini..! titik dimana kita harus berurusan dengan dunia seperti ini.. padahal


dulu impianku adalah bisa hidup tenang dan damai bersama sama keluarga kita..”


kata Fahri sendu.


“Andai bisa ku ulang waktu aku tidak ingin berada di sini...


aku akan selalu melindungimu agar kamu tidak mengalami hal hal yang


menyakitkan...Aku akan bekerja lebih keras lagi agar kehidupan keluarga kita


bahagia...” Lanjut Fahri.


“Kadang aku merasa gagal menjadi tulang punggung keluarga


ini...! Aku benar benar orang yang tidak bisa diandalkan untuk keluarga kita..!


bahkan menjaga adik semata wayang saja aku tidak bisa..!” keluh Fahri.


“mas.. sudahklah... jangan menyesali atas apa yang


terjadi... mungkin ini adalah takdir kita..! takdir yang harus kita lewati


sebelum kita mendapat kebahagian yang sangat besar..!”


“Percayalah.. ini pasti akan ada akhirnya.. akan ada ujung


pemberhentian dari semua masalah yang kita hadapi... dan ketika kita berhenti


itu adalah titik dari kebahgiaan yang paling sempurna buat kita..!” balas Sheena.


“Terkadang aku berharap memiliki kehidupan normal, seperti


layaknya orang orang kebanyakan.. memiliki keluarga yang hangat dan bahagia...


berlibur ke pantai saat libur kerja.. bermain bersama keluarga kita...! pergi


keluar kota dan berjalan jalan bersama..! tapi bayangan ku tidak seindah kenyataanya..!”


kata Fahri.


“Tidak ada orang yang tidak memiliki masalah... semua punya


masalah.. hanya bagaimana kita menghadapinya dan menaklukkannya..! yang terpenting

__ADS_1


ketika kita masih punya harapan untuk bertahan hidup dan berjuang jagan pernah berhenti


dan menyerah..!” kata Sheena


__ADS_2