
Sheena dan semuanya kembali ke mansion Adhi. Di dalam
mansion itu sudah menunggu dokter Elmira yang sudah siap dengan peralatannya
untuk memeriksa Sheena.
“Dokter Elmira ada disini?” tanya Bu Shinta.
“Iya .. Sheena memintaku untuk datang ke sini..!” jawab
Dokter Elmira
“Kita ke atas..! kalian semua tunggu disini terlebih dahulu..!”
kata Sheena kepada rekan rekannya.
Sheena, Ara dan dokter Elmira berjalan ke lantai dua di
bantu dengan beberapa asistennya untuk membawakan perlatannya itu.
“Sheena .. benar benar jadi sultan sekarang...! gila aja,
ruang periksa kandungan sekarang berada di kamarnya dan lengkap dengan
peralatannya..!” kata Aries.
“Kau ini si Ar..! kayak baru ketemu orang kaya saja..! norak
tahu..!” kata Naysa.
“Eh, Nay... ini tidak ada hubungannya antara norak dan
tidak..! tapi baru kali ini gue lihat dengan kepala gue sendiri, Ruang pemeriksaan
kandungan pindah ke kamar Sheena..!”
“Loe nggak lihat itu...Alat alat yang di bawa..! beuuuhhh
harganya bisa puluhan juta bahkan ratusan..!” tambah Aries.
“Sudah Ah..! diem...!” perintah Naysa membungkam ucapan
Aries.
Setelah mereka menutup pintu kamar rapat rapat, dokter Elmira
pun mulai memasang alat pemeriksaan dan mulai memeriksa Sheena.
“Kamu rebahan di kasur Na...! biar aku cek dulu...!“
perintah Dokter Elmira.
Dokter Elmira pun memulai memeriksa kandungan Sheena.
“Gimana keadaan Adik bayiku dokter?” Kata Ara.
“Waah.. calon kakaknya perhatian sekali ya...!” goda Dokter
Elmira.
“Dia sehat..! baik...!harus di perhatikan pola makannya ya
Na...dan yang terpenting jangan terlalu stress..!” kata Dokter Elmira.
“Ara juga harus perhatikan Bunda ya..harus di pastikan agar
bunda baik baik saja..! agar adek bayinya juga sehat dan kuat kayak kakaknya..!”
Ucap Dokter Elmira kepada Ara.
“Siap bu dokter..!” kata Ara.
“Akan aku resepkan vitamin untuk kandunganmu Na...!” kata
Dokter Elmira.
“Terimakasih dok...!” ucap Sheena.
Setelah kepergian dokter Elmira, Sheena dan yang lainnya berkumpul
di ruang tengah.
“Pi... mulai besok aku akan kembali bekerja untuk
menggantikan posisi mas Adhi sementara..! aku ingin semua data tentang proyek
itu diserahkan kepadaku besok..!” kata Sheena.
“Namun sebelum itu... aku ingin memastikan siapa yang akan
ikut ke dalam proyek ini... karena proyek ini sudah memakan korban kemungkinan
akan ada korban korban berikutnya... jadi sebelum kalian memutuskan alangkah
lebih baiknya kalian pikirkan lebih dahulu..!” kata Sheena.
“Kalau gue si nggak perlu berpikir Na... pastilah gue
ikut..!” kata Aries.
“Aku juga..!” kata Gery dan Naysa.
“Kalian tahu kan resikonya apa... jadi mulai sekarang aku
ingin kalian lebih berhati hati dan selalu saling mengawasi.. jangan sampai ada
kejadian seperti ini lagi...!” kata Sheena.
“Dan aku butuh data data terakhir dari ponsel mas Adhi,
siapa yang menghubunginya dan juga kerja sama yang akhir akhir ini di tanda
tangani..” kata Sheena.
“It’s a piece of cake.. Na..! Adel dan Marco akan
mengtasinya..!” kata Aries.
“Ger... besok kamu ikut aku ke perusahaan...adakan rapat
darurat...! walaupun kondisimu belum pulih, aku harap kau bisa bekerja
cepat..!” lanjut Sheena.
“Dan untuk mami dan papi... kalian jangan terlalu lelah...
istirahatlah lebih dulu... jaga kondisi kalian..!” tambah Sheena.
“Tidak bisa Na... papi tidak bisa berpangku tangan..!” kata
Papi Adhi.
“Dengarkan Aku pi... serahkan saja semuanya padaku... kalau aku butuh bantuan
aku akan menghubungi papi..!” kata Sheena.
Pak Atmaja pun hanya mendesah pelan mendengar permintaan
menantunya itu.
“Dan Kau Ara..! aku yakin kamu mengerti kondisinya... aku
harap kamu juga bisa menjaga dirimu..! karena tidak setiap saat kami bisa
mengawasimu...! aku akan tempatkan pengawal di dekatmu..! Maaf.. karena kamu
harus ikut dalam masalah orang dewasa seperti ini..! Bunda hanya ingin kamu
tahu... bahwa perjuangan kita itu akan sulit nantinya...! kelak jika kamu
dewasa jangan pernah lupakan bagaimana kita berdua melewati titik krisis
seperti ini..!” ucap Sheena sendu.
“Its okay bunda...! Ara tahu...! dan Ara juga mengerti...!
yang Ara inginkan hanya selalu bersama bunda...! that’s enough..!” kata Ara.
“Terimakasih sayang...!” balas Sheena dengan tersenyum
getir. Ia tidak menyangka Seorang Ara mampu memahami kondisi saat ini dan
menjadi dewasa sebelum waktunya.
“Oke... sekarang kalian bisa kembali ke tempat masing
masing...! mulai besok pindahkan semua peralatan yang di butuhkan di ruang
kantor mas Adhi... kita akan bekerja dari sini..!” kata Sheena.
“As you wish Na..!” kata Aries.
Mereka semua akhirnya kembali ke posisi semula. Pekerjaan
yang berat akan menanti merekake depannya.
Selepas kepergian sahabat sahabtanya, Sheena masih duduk
termenung di sofa tersebut.
__ADS_1
“Kamu yakin Na... melakukan ini semua?” Tanya Pak Atmaja.
Tidak ada jawaban dari Sheena, ia hanya menerawang jauh
menatap langit langit rumah tersebut.
“Kamu bisa saja memilih hidup bahagia dengan Ara dan anakmu
nantinya... tidak perlu membuat dirimu semakin terjatuh ke dalam bisnis yang
sangat keras dan kejam..!” Ucap Pak Atmaja.
“Tidak Pi, Sheena tidak ingin hidup seperti itu tanpa mas
Adhi..! Sheena akan menjalankan amanat mas Adhi.. dan menunggunya kembali..!”
jawab Sheena.
“Apa sebaiknya tidak kau pikirkan lagi Nak...!” tanya bu Shinta.
“Tidak bu... Sheena sudah yakin akan melakukannya.. Sheena
akan menghakimi orang orang yang telah bermain curang dan culas..!” Jawab Sheena.
Tiba tiba suara pelayan mengejutkan Sheena dan yang lainnya.
“Permisi Nyonya..! ada yang ingin bertemu... katanya orang
tua nyonya Sheena..!” ucap Mbok Minah.
“Ayah dan ibuk?” kata Sheena tidak percaya.
“Iya nyonya..!” jawab Mbok Minah.
“Baiklah suruh masuk saja Mbok..!” Ucap Bu Shinta memberikan
iin.
“Baik... akan saya minta mereka untuk masuk..!” kata mbok
minah kemudian pamit undur diri.
Di depan pintu masuk, Sheena melihat ayah, ibuk dan juga mas
Fahri.
Sheena pun menghampiri mereka dengan setengah berlari kecil
karena saat ini ia harus waspada dengan kondisinya yang tengah hamil muda.
“Ayaah...ibuk...!” ucap Sheena bahagia dan memeluk kedua
orang tersebut.
“Sheena kangen sekali dengan ayah dan ibuk..!” lanjutnya.
“Kami juga kangen sama kamu Na...! kamu nggak papa kan..!
kamu kuat kan ya..!” Tanya Ibuk Sheena.
Sheena merenggangkan pelukannya dan menatap kedua
orangtuanya dengan penuh Kasih.
“Sheena kuat buk..! tenang saja..! lagian ada bayi kecil di
rahim Sheena....!” Jawab Sheena.
“Kamu hamil Na..?” tanya Fahri.
“Iya mas...!” balas Sheena.
Sebenarnya ada perasaan sedih di mata kedua orang paruh baya
itu saat mengetahui Sheena hamil, ia mengkhawatirkan bayi yang ada dalam
kandungan Sheena. Betapa sedihnya jika anak tersebut harus lahir tanpa adanya
sosok figure seorang ayah.
“Ayah.. ibuk... ayo masuk dulu..!” Ucap Sheena.
Mereka bertiga pun masuk ke rumah tersebut. Diruang tengah mereka
sudah di sambut oleh bu Shinta dan dan Pak Atmaja.
“Maaf bu shinta.. baru bisa ke sini..! kalau kami tidak
dikabari fahri pasti kami tidak tahu apa yang terjadi..!” kata Ibu Sheena.
“Iya nggak papa besan...! kami sudah ikhlas kok..!” balas Bu
Shinta.
... tapi malah terjadi seperti ini..!” keluh Ibuk Sheena penuh rasa menyesal.
“Sudahlah... kalian pasti lelah... istirahatlah terlebih
dahulu..!” kata Bu Shinta mempersilahkan mereka masuk ke kamar tamu.
“Iya buk... istirahatlah dulu... besok baru kita bicarakan
lagi... “ ucap Sheena.
“Sebenarnya banyak yang ingin ibu tanyakan kepadamu Na..!
tapi ya sudahlah... besok saja..!” kata Ibuk Sheena.
Fahri dan keluarganya pun di antar ke kamar tamu oleh
pelayan yang ada di rumah itu.
“ Fahri... kamu harus selalu jagain Sheena... kasihan anak
itu... kenapa hidupnya selalu saja menderita..!” kata Ibuk Sheena duduk di
kasur yanga ada di kamar itu.
“Tenang saja buk... Fahri Akan selalu menjaga Sheena, karena
dia adalah adik fahri satu satunya.. kalau perlu Fahri korbankan nyawa Fahri
untuk melindungi Sheena...!” kata Fahri menghampiri ibunya dan menggenggam erat
tangan ibunya tersebut.
“Jangan berkata seperti itu Nak.. kami tidak ingin kalian
celaka..!kami hanya ingin kalian selalu bersama dan bahagia selamanya...!” kata
ayah Sheena.
“Iya .. Fahri paham..! sekarang Ayah dan ibuk istirahat saja
dulu... Fahri akan keluar sebentar..!” kata Fahri pamit dari hadapan kedua
orang tua itu.
“Mau kemana kamu Nak..?” tanya Ibuk Sheena.
“Ada urusan sebentar buk... ! nanti Fahri segera kembali..!”
ucap Fahri dan berlalu pergi.
Fahri menghubungi seseorang ada rasa penasaran dengan
kejadian yang telah terjadi.
“Bisa bertemu sebentar?” kata Fahri.
“Iya.. baiklah..!” sahut seseorang yang ada di sambungan
telpon tersebut.
“Kita bertemu di halaman belakang..!”lanjutnya.
“Oke... aku tunggu..!” kata Fahri.
Kemudian ia menutup sambungan telpon tersebut dan melangkah
menju ke halaman belakang.
“Ada apa mas..?” kata Sheena yang sudah dulu berada di
halaman belakang.
Fahri masih tidak menjawab ia kemudian duduk di Gazebo dan
menatap langit langit.
“Sebenarnya apa yang terjadi Na..?” tanya Fahri membuka
pembicaraan.
Sheena pun ikut duduk bersama dengan Fahri.
“Semua terjadi begitu cepat... bahkan kami saja belum sempat
istirahat dan bersantai..!” kata Sheena memulai ceritanya.
__ADS_1
“Setelah dari rumah sakit menjenguk Gery yang di culik dan
di pukuli hingga babak belur..mas Adhi menerima panggilan telpon dari Pak Rizal
dan diminta ke kantor..!”
“Setelahnya, tiba tiba mas Adhi di temukan kecelakan jatuh
kedalam jurang dan mobilnya terbakar..!”
“Pada saat itu Mas Adhi sedang menandatangi proyek
pembangunan jalan yang menjadi sengketa itu.. menuurt firasatku.. ada hubungan
antara kecelakaannya mas Adhi dengan proyek tersebut..!” ucap Sheena menerawang
jauh.
“Proyek itu bukankah tidak jadi diberlakukan..!” Kata Fahri.
“Benar.. aslinya Mas Adhi tidak mau menandatangani proyek
tersebut.. entah mengapa ia tiba tiba menandatanganinya dan ternyata banyak
perusahaan investor yang mengundurkan diri dari proyek tersebut..!” Tambah
Sheena.
“Proyek tersebut harusnya sudah di cancel..! pasti ada orang
yang ingin mengkambing hitamkan perusahaan Adhi dan menggulingkannya..!” kata
Fahri.
“Terus apa tindakanmu selanjutnya..?” tanya fahri.
“Aku akan menangani proyek tersebut dan memastikan apa saja
yang terjadi sebenarnya...!” kata Sheena.
“Jangan gila kamu Na..! itu terlalu berbahaya..! aku saja
mengundurkan diri untuk menangani proyek tersebut..!” kata Fahri.
“Tidak Mas.. Aku tidak bisa mundur..! ada jutaan karyawan
yang bergantung di perusahaan itu..! dan juga aku harus mengungkapkan apa
sebenarnya yang terjadi dengan mas Adhi..! mengapa ia sampai kecelakan..! dan
siapa yang membodohi mas Adhi dengan menggunakan nama Pak rizal.. padahal pak Rizal
sudah meninggal beberapa jam sebelumnya..!” ucap Sheena dengan tatapan tajam.
“Kamu yakin Na..! kamu sedang mengandung..! kasihan anak
kamu jika terlalu stress..!” Lanjut Fahri.
“Saya akan menjaga anak ini selalu mas.. hanya dia yang bisa
aku lihat dari mas Adhi..! aku tidak mungkin mencelakainya... aku tahu
batasanku..!” kata Sheena.
“Baiklah.. kalau menurutmu itu baik... aku akan membantumu
kalau begitu..!” kata fahri.
“Serius Mas?” tanya Sheena.
“iya..! aku akan membantumu mengungkapkan apa yang
sebenarnya terjadi.. dan memberimu ruang untuk berpikir jernih..!” kata Fahri.
“Apa maksud mas Fahri?” tanya Sheena.
“Kamu harus bisa berpikir jernih dan menerima kepergian
Adhi..! begitu juga Ara.. jangan kau racuni pikirannya dengan berharap bahwa
Adhi masih hidup..!” kata Fahri.
“Tidak.. memang mas Adhi masih hidup.. dia akan kembali..
aku yakin itu..!” Jawab Sheena.
“Na.. buka matamu Na..! di sana sudah ada bukti cincin
nikahanmu dan data diri Adhi yang masih tersisa..!” kata Fahri.
“Tidak mas..! sudah aku tidak mau dengar..! aku yakin mas
Adhi masih hidup dan dia akan kembali..!” kata Sheena sudah menahan emosinya.
Melihat Sheena yang seperti itu, akhirnya Fahri pun
menyerah. Ia tidak mungkin memancaing emosi Sheena yang sedang hamil itu. Fahri
khawatir itu akan mempengaruhi janinnya.
“Baiklah Na...! terserah padamu..! yang pasti aku akan
membantumu kali ini..!” kata Fahri.
“Ingat Na.. apapun masalahmu... aku akan selalu berada di
sampingmu..! jangan pernah merasa sendirian..!” kata Fahri mengusap lembut kepala
Adiknya itu.
“Dan jangan selalu mencoba terlihat tegar..! karena
terkadang terlihat rapuh juga tidak masalah..!” kata Fahri.
Sheena hanya menatap kakaknya itu. Ada perasaan yang hangat menyeruak
di hatinya.
“Mas Fahri juga harus bahagia... jangan selalu mengurusi
Sheena.. menikahlah dan punya anak yang banyak... jalani kehidupan mas Fahri
dengan bahagia juga...!” kata Sheena.
“Mas fahri bukan hanya sosok kakak buatku..! namun juga
sosok sahabat buat Sheena..! jadi berbahagialah..!” lanjut Sheena.
“Aku bahagia jika kamu juga bahagia Na..! Ayah dan ibuk
bahagia..! itu keingainan terbesarku..!” kata fahri.
“Dan jujur aku tidak menyangka kita kan berada pada titik
ini..! titik dimana kita harus berurusan dengan dunia seperti ini.. padahal
dulu impianku adalah bisa hidup tenang dan damai bersama sama keluarga kita..”
kata Fahri sendu.
“Andai bisa ku ulang waktu aku tidak ingin berada di sini...
aku akan selalu melindungimu agar kamu tidak mengalami hal hal yang
menyakitkan...Aku akan bekerja lebih keras lagi agar kehidupan keluarga kita
bahagia...” Lanjut Fahri.
“Kadang aku merasa gagal menjadi tulang punggung keluarga
ini...! Aku benar benar orang yang tidak bisa diandalkan untuk keluarga kita..!
bahkan menjaga adik semata wayang saja aku tidak bisa..!” keluh Fahri.
“mas.. sudahklah... jangan menyesali atas apa yang
terjadi... mungkin ini adalah takdir kita..! takdir yang harus kita lewati
sebelum kita mendapat kebahagian yang sangat besar..!”
“Percayalah.. ini pasti akan ada akhirnya.. akan ada ujung
pemberhentian dari semua masalah yang kita hadapi... dan ketika kita berhenti
itu adalah titik dari kebahgiaan yang paling sempurna buat kita..!” balas Sheena.
“Terkadang aku berharap memiliki kehidupan normal, seperti
layaknya orang orang kebanyakan.. memiliki keluarga yang hangat dan bahagia...
berlibur ke pantai saat libur kerja.. bermain bersama keluarga kita...! pergi
keluar kota dan berjalan jalan bersama..! tapi bayangan ku tidak seindah kenyataanya..!”
kata Fahri.
“Tidak ada orang yang tidak memiliki masalah... semua punya
masalah.. hanya bagaimana kita menghadapinya dan menaklukkannya..! yang terpenting
__ADS_1
ketika kita masih punya harapan untuk bertahan hidup dan berjuang jagan pernah berhenti
dan menyerah..!” kata Sheena