
“Nay, loe nggak papa?” tanya Aries.
“Nggak papa tenang saja..!” kata Naysa sambil mulutnya tetap
mengunyah makanan.
“Ish... kita khawatir setengah mati... loe malah asyik makan
kayak gitu..!” dengus Aries.
“Hahaha... mana
mungkin aku mati tanpa mengabari kalian..!” ledek Naysa.
“Dasar gadis Gila..!” kata Marko yang tersenyum sinis.
“Kalau gue gadis gila... kalian berarti lebih gila dari
gue!!” balas Naysa.
“Itu perut apa tong sampah Nay!!” ucap Aries.
“Kalian tidak tahu ya..! gue kan habis operasi, ya laper
lah...!” kata Naysa.
“Ish... operasi apaan... cuman jahitan sedikit di kepala...
lebaiii!!” lanjut Marko.
“Sama aja dodol... yang namanya di jahit ya itu operasi..!”
Jawab Naysa.
“Ya tapi nggak usah lebaiii..!” timpal Aries.
“Sudah sudah... apa apan kalian ini..! bisa nggak akur
sebentar ...!!” kata Sheena.
“Lagian dia...! tadi malam aja, kita paniknya minta ampun..!
sampai berderai derai air mata ... lihat keesokan harinya... sudah kayak
gini..! nyesel gue nolongin loe..!!” umpat Aries.
“Ish... Orang habis operasi itu butuh asupan nutrisi biar
cepat sembuh... ngerti nggak sih..!! Butuh tenaga baru buat menghadapi kerasnya
cobaan hidup..!" sahut Naysa berapi api.
"Nutrisi apaan..! Cobaan hidup apaan..! Otak loe itu
kayaknya geser.. Setelah kebentur..!" kata Marko.
"Lagian, orang sakit itu di infus... bisanya tiduran di
kasur... lemes tidak bertenaga...!! Lhah loe?? infus aja nggak nempel..! udah
loncat sana loncat sini lagi..!! makan seember habis..! sakit apaan kayak
gitu..!”
“Terus gunanya loe di rumah sakit segedhe ini ngapain wooii...!
Pindah tidur..!!! " Ucap Adelia kekasih Marko.
Naysa tak menyahut sedikitpun, ia tetap asyik makan buah
yang ada di tangannya. Dengan jahilnya, Aries mengambil buah yang ada di tangan
Naysa dan membawanya lari ke luar kamar tersebut. Karena mereka berada di ruang
kamar yang ekslusif jadi hanya mereka saja yang berada di lantai itu. Jadi
seberisik apapun mereka tidak akan ada pasien yang terganggu. Naysa mengejar
Aries sampai ke luar ruangan.
" Nay...!! Loe itu masih sakit..!!" teriak Sheena.
Tapi teriakan Sheena tidak di dengar oleh kedua sahabat itu.
__ADS_1
Mereka berlari ke luar ruang perawatan. Berkejaran seperti anak kecil yang
rebutan permen. Saling mendorong dan mengunci pergerakan tidak ada yang mau
mengalah.
“Woii... Lepasin...! leher gue bisa patah..!” Teriak Aries.
“Biarain aja..! yang ganggu duluan siapa..! rasain ini..!!”
kata Naysa tak ada ampun.
“Na... tolongin gue ini..! Naysa mau bunuh Gue..!!” Teriak
Aries.
“Ehem ehem..” Suara deheman membuyarkan kelakuan bar bar
mereka.
“Ini rumah sakit woii..!! bukan pasar..!” bentak Marko
dengan menjitak kepala mereka berdua.
“Aduh..!” kata Mereka berdua.
Setelah itu Naysa pun sontak menoleh ke arah suara tadi.
“Mas Adhi..!” kata Sheena.
“Gery..! kamu sudah sembuh..!” tanya Sheena.
“Sudah baikan nyonya... terimakasih atas perhatiaanya..”
kata Gery yang masih memakai kursi roda.
“Hahahaha! Na.. ini beneran assisten suami loe yang galaknya
kayak singa..! ckckck..! bisa juga ya dia sakit..!” kata Naysa memecah
ketegangan Antara dirinya dan Gery.
Sebenarnya dari tadi Naysa merasa kikuk saat pertama kali
tahu bahwa ternyata ada Gery di belakangnya. Ia pun bingung harus bersikap seperti apa. Karena ia sendiri tidak
sana. Ada rasa khawatir dan sedih menyelip di hatinya ketika melihat pak
bossnya yang berada di kursi roda tersebut. Namun, ia mencoba menata hatinya,
ia juga tidak ingin membebani pak bossnya itu karena mungkin cintanya juga
tidak akan bersambut.
Sementara Gery yang sudah berada di sana dari tadi menatap tajam interaksi kedua orang tersebut dengan
perasaan tidak suka. Ia juga kaget ketika mendengar Naysa di bawa ke rumah
sakit. Ada rasa khawatir di hatinya semenjak pertengkaran mereka semalam. Rasa
was was takut kehilangan entah mengapa selalu mengisi hati dan pikirannya.
Untung saja Adhi mengajaknya menjenguk naysa. Namun, Ketika melihat gadis bar
bar itu ternyata sangat sehat dan hanya kepalanya berbalut perban, hatinya
menjadi lega tapi juga terbesit rasa
sesak di hatinya ketika melihat interaksi Naysa dan laki laki yang ada di
dekatnya.
“Manusia juga bisa sakit dodol..!!” kata Aries kemudian menjitak
kepala Naysa.
“Ish... Kepala gue bener bener bisa geser gara gara loe loe
berdua..!” kata Naysa ketus.
“Maaf pak... memang otak wanita ini kadang sedikit ada masalah..!
jadi kadang tidak bisa bertindak dan berkata dengan benar..!” timpal Aries.
__ADS_1
Naysa pun menginjak kaki aries saat itu juga.
“Aduh Na..!! loe emang..!!” kata Aries mengaduh kesakitan.
“Apa..!! berani sama gue...!!” ancam Naysa.
“Yang waras Ngalah..!” kata Aries.
“Terus gue gila??” ucap Naysa jengkel.
“lama kelaman gue nikahin beneran si kalian... biar kagak ribut
melulu..!” kata Sheena menengahi.
“Kamu nggak papa Nay..?” tanya Adhi dharma.
“Aaamaan pak...! cuman lecet dikit kepalanya...!” jawab
Naysa.
“Selama jantungnya masih berdetak... dia sih aman..!” kata
Adelia menyindir.
“Kalian itu emang sahabat durjana..!” kata Naysa cemberut.
“Itu mulutnya di kondisikan... kalau tidak mau gue iket ama
karet gelang..!!” kata Aries.
“Auah...!!” ucap Naysa.
“Gadis bar bar itu
setelah kejadian kemarin malam bahkan tidak ada rasa yang berbeda dengannya..
masih santai dan tidak ada rasa sedih ataupun marah..” batin Gery.
Tiba tiba terdengar suara dari pengeras suara yang ada di
rumah sakit. Sebuah lagu yang tidak
asing di telinga Naysa.
“lagu itu..! sialan..!” kata Naysa kemudian berlari ke arah
lift tanpa memperdulikan kepalanya yang sedang sakit. Karena tidak hati hati ia
pun menabrak kursi di depan ruang rawat dan terjatuh.
“Nay..!” teriak Aries dan yang lainnya.
“Cepat ke ruangan Kontrol Suara..!!! Cepaat..!!” teriak
Naysa dengaa mata memerah.
Aries, Marko Adel dan
Sheena pun mengerti, mereka langsung bergeags berpencar ke arah ruang kontrol
suara tersebut.
Adhi dan Gery yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi
masih kebingungan dengan tingkah mereka.
“Ah..!!” Kata Naysa mengaduh kakinya di seret dan mencoba
mengamati ruangan rumah sakit itu.
“Sebentar ruang kontrol suara ada di Lantai dua ini... jadi
... dia akan keluar dari ..!” belum sempat Naysa melanjutkan kata katanya. Ia
pun beranjak dari tempatnya dan mencoba kembali ke ruang perawatannya dengan
menahan rasa sakit di kakinya. Naysa mengambil senjata tajam yang tersimpan
rapi di tasnya dan juga senjata api yang telah di beri peredam dan di selipkan
di kakinya tertutup oleh celana kain seragam pasien rumah sakit itu.
Gery yang melihat Naysa seperti itu menjadi sedikit curiga.
__ADS_1
Bahkan wajahnya yang tadi cegengesan mendadak berubah menjadi wajah yang bengis
dan sadis namun terselip kesedihan di matanya.