Elegi Hati Si Cewek Jutek

Elegi Hati Si Cewek Jutek
Bertemu Kembali


__ADS_3

“Nay, loe nggak papa?” tanya Aries.


“Nggak papa tenang saja..!” kata Naysa sambil mulutnya tetap


mengunyah makanan.


“Ish... kita khawatir setengah mati... loe malah asyik makan


kayak gitu..!” dengus Aries.


“Hahaha...  mana


mungkin aku mati tanpa mengabari kalian..!” ledek Naysa.


“Dasar gadis Gila..!” kata Marko yang tersenyum sinis.


“Kalau gue gadis gila... kalian berarti lebih gila dari


gue!!” balas Naysa.


“Itu perut apa tong sampah Nay!!” ucap Aries.


“Kalian tidak tahu ya..! gue kan habis operasi, ya laper


lah...!” kata Naysa.


“Ish... operasi apaan... cuman jahitan sedikit di kepala...


lebaiii!!” lanjut Marko.


“Sama aja dodol... yang namanya di jahit ya itu operasi..!”


Jawab Naysa.


“Ya tapi nggak usah lebaiii..!” timpal Aries.


“Sudah sudah... apa apan kalian ini..! bisa nggak akur


sebentar ...!!” kata Sheena.


“Lagian dia...! tadi malam aja, kita paniknya minta ampun..!


sampai berderai derai air mata ... lihat keesokan harinya... sudah kayak


gini..! nyesel gue nolongin loe..!!” umpat Aries.


“Ish... Orang habis operasi itu butuh asupan nutrisi biar


cepat sembuh... ngerti nggak sih..!! Butuh tenaga baru buat menghadapi kerasnya


cobaan hidup..!" sahut Naysa berapi api.


"Nutrisi apaan..! Cobaan hidup apaan..! Otak loe itu


kayaknya geser.. Setelah kebentur..!" kata Marko.


"Lagian, orang sakit itu di infus... bisanya tiduran di


kasur... lemes tidak bertenaga...!! Lhah loe?? infus aja nggak nempel..! udah


loncat sana loncat sini lagi..!! makan seember habis..! sakit apaan kayak


gitu..!”


“Terus gunanya loe di rumah sakit segedhe ini ngapain wooii...!


Pindah tidur..!!! " Ucap Adelia kekasih Marko.


Naysa tak menyahut sedikitpun, ia tetap asyik makan buah


yang ada di tangannya. Dengan jahilnya, Aries mengambil buah yang ada di tangan


Naysa dan membawanya lari ke luar kamar tersebut. Karena mereka berada di ruang


kamar yang ekslusif jadi hanya mereka saja yang berada di lantai itu. Jadi


seberisik apapun mereka tidak akan ada pasien yang terganggu. Naysa mengejar


Aries sampai ke luar ruangan.


" Nay...!! Loe itu masih sakit..!!" teriak Sheena.


Tapi teriakan Sheena tidak di dengar oleh kedua sahabat itu.

__ADS_1


Mereka berlari ke luar ruang perawatan. Berkejaran seperti anak kecil yang


rebutan permen. Saling mendorong dan mengunci pergerakan tidak ada yang mau


mengalah.


“Woii... Lepasin...! leher gue bisa patah..!” Teriak Aries.


“Biarain aja..! yang ganggu duluan siapa..! rasain ini..!!”


kata Naysa tak ada ampun.


“Na... tolongin gue ini..! Naysa mau bunuh Gue..!!” Teriak


Aries.


“Ehem ehem..” Suara deheman membuyarkan kelakuan bar bar


mereka.


“Ini rumah sakit woii..!! bukan pasar..!” bentak Marko


dengan menjitak kepala mereka berdua.


“Aduh..!” kata Mereka berdua.


Setelah itu Naysa pun sontak menoleh ke arah suara tadi.


“Mas Adhi..!” kata Sheena.


“Gery..! kamu sudah sembuh..!” tanya Sheena.


“Sudah baikan nyonya... terimakasih atas perhatiaanya..”


kata Gery yang masih memakai kursi roda.


“Hahahaha! Na.. ini beneran assisten suami loe yang galaknya


kayak singa..! ckckck..! bisa juga ya dia sakit..!” kata Naysa memecah


ketegangan Antara dirinya dan Gery.


Sebenarnya dari tadi Naysa merasa kikuk saat pertama kali


tahu bahwa ternyata ada Gery di belakangnya.  Ia pun bingung harus bersikap seperti apa. Karena ia sendiri tidak


sana. Ada rasa khawatir dan sedih menyelip di hatinya ketika melihat pak


bossnya yang berada di kursi roda tersebut. Namun, ia mencoba menata hatinya,


ia juga tidak ingin membebani pak bossnya itu karena mungkin cintanya juga


tidak akan bersambut.


Sementara Gery yang sudah berada di sana dari tadi menatap tajam  interaksi kedua orang tersebut dengan


perasaan tidak suka. Ia juga kaget ketika mendengar Naysa di bawa ke rumah


sakit. Ada rasa khawatir di hatinya semenjak pertengkaran mereka semalam. Rasa


was was takut kehilangan entah mengapa selalu mengisi hati dan pikirannya.


Untung saja Adhi mengajaknya menjenguk naysa. Namun, Ketika melihat gadis bar


bar itu ternyata sangat sehat dan hanya kepalanya berbalut perban, hatinya


menjadi lega tapi juga  terbesit rasa


sesak di hatinya ketika melihat interaksi Naysa dan laki laki yang ada di


dekatnya.


“Manusia juga bisa sakit dodol..!!” kata Aries kemudian menjitak


kepala Naysa.


“Ish... Kepala gue bener bener bisa geser gara gara loe loe


berdua..!” kata Naysa ketus.


“Maaf pak... memang otak wanita ini kadang sedikit ada masalah..!


jadi kadang tidak bisa bertindak dan berkata dengan benar..!” timpal Aries.

__ADS_1


Naysa pun menginjak kaki aries saat itu juga.


“Aduh Na..!! loe emang..!!” kata Aries mengaduh kesakitan.


“Apa..!! berani sama gue...!!” ancam Naysa.


“Yang waras Ngalah..!” kata Aries.


“Terus gue gila??” ucap Naysa jengkel.


“lama kelaman gue nikahin beneran si kalian... biar kagak ribut


melulu..!” kata Sheena menengahi.


“Kamu nggak papa Nay..?” tanya Adhi dharma.


“Aaamaan pak...! cuman lecet dikit kepalanya...!” jawab


Naysa.


“Selama jantungnya masih berdetak... dia sih aman..!” kata


Adelia menyindir.


“Kalian itu emang sahabat durjana..!” kata Naysa cemberut.


“Itu mulutnya di kondisikan... kalau tidak mau gue iket ama


karet gelang..!!” kata Aries.


“Auah...!!” ucap Naysa.


“Gadis bar bar itu


setelah kejadian kemarin malam bahkan tidak ada rasa yang berbeda dengannya..


masih santai dan tidak ada rasa sedih ataupun marah..” batin Gery.


Tiba tiba terdengar suara dari pengeras suara yang ada di


rumah sakit.  Sebuah lagu yang tidak


asing di telinga Naysa.


“lagu itu..! sialan..!” kata Naysa kemudian berlari ke arah


lift tanpa memperdulikan kepalanya yang sedang sakit. Karena tidak hati hati ia


pun menabrak kursi di depan ruang rawat dan terjatuh.


“Nay..!” teriak Aries dan yang lainnya.


“Cepat ke ruangan Kontrol Suara..!!! Cepaat..!!” teriak


Naysa dengaa mata memerah.


Aries, Marko  Adel dan


Sheena pun mengerti, mereka langsung bergeags berpencar ke arah ruang kontrol


suara tersebut.


Adhi dan Gery yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi


masih kebingungan dengan tingkah mereka.


“Ah..!!” Kata Naysa mengaduh kakinya di seret dan mencoba


mengamati ruangan rumah sakit itu.


“Sebentar ruang kontrol suara ada di Lantai dua ini... jadi


... dia akan keluar dari ..!” belum sempat Naysa melanjutkan kata katanya. Ia


pun beranjak dari tempatnya dan mencoba kembali ke ruang perawatannya dengan


menahan rasa sakit di kakinya. Naysa mengambil senjata tajam yang tersimpan


rapi di tasnya dan juga senjata api yang telah di beri peredam dan di selipkan


di kakinya tertutup oleh celana kain seragam pasien rumah sakit itu.


Gery yang melihat Naysa seperti itu menjadi sedikit curiga.

__ADS_1


Bahkan wajahnya yang tadi cegengesan mendadak berubah menjadi wajah yang bengis


dan sadis namun terselip kesedihan di matanya.


__ADS_2