Elegi Hati Si Cewek Jutek

Elegi Hati Si Cewek Jutek
The final decision


__ADS_3

Hisyam pun melangkah menuju kamar mandi untuk menenangkan sejenak pikirannya.


"Apa yang telah aku lakukan...! Ah..! Sial...!!" Umpatnya.


Sheena pun masih terdiam mematung di halaman belakang. Tubuhnya bergetar hebat dan dadanya kian sesak.


"Bukan Mas Adhi.. Bukan..! Dia bukan Mas Adhi..!!" ucapnya getir. Sheena pun mencoba melangkahkan kakinya kembali ke ruang keluarga.


Di sana ia tidak melihat adanya dokter Hisyam di antara mereka.


"Kemana dia..?!" batin Sheena.


"Ah..! Terserahlah..!" gumam Sheena.


Sheena pun ikut bergabung di tengah tengah dua keluarga tersebut.


Hisyam yang menampakkan gurat wajah yang lelah dan kusut datang dari arah belakang.


"Kak Hisyam... Darimana saja sih... Lama amaat...!" gerutu Emily.


" tadi ada panggilan dari rumah sakit..." elak Hisyam.


"duduk Syam...!" kata Ayah Hardian.


"Afran sama Ara sama mbok Sumi dulu ya ..." bujuk Bu Shinta.


"Ayo den, non.." kata Mbok Sumi.


Afran dan Ara pun mengikuti mbok Sumi pergi ke halaman belakang.


Setelah kepergian Afran dan Ara, Pak Atmaja pun memulai pembicaraan.


"Begini Nak Hisyam... Sebenarnya tujuan kami bertemu malam ini bukan hanya karena kangen ingin bernostalgia atauoun sekedar bersilaturahmi... Namun ada sesuatu yang ingin Om sampaikan.." kata Pak Atmaja.


"Sebenarnya.. Kami ingin nak Hisyam dan Sheena bisa lebih mengenal satu sama lain... Kami tahu pasti putri kami memiliki banyak sekali kekurangan di banding dengan Nak Husyam... Dan saya harap nak Hisyam mau berkenan menerima Sheena kedepannya.." kata Pak Atmaja.


"Maksudnya apa pi..?" tanya Sheena terkejut.

__ADS_1


"Iya Om... Maaf kalau saya gagal paham dengan maksud om.." tambah Hisyam


"ya elah... Ini orang, udah tua juga kagak paham maksudnya....ya maksudnya kalian diminta menikah lhah...! Apalagi..!Gitu aja nggak paham..! Sudah Emily duga.. Pasti ada udang di balik bakwan... Hehehe.. ! " ucap Emily.


"Diam kamu Em..!" tegas Bu Andita.


"Begini Syam... Kami sudah berteman baik dengan Keluarga Atmaja... Jadi Ibu kasihan melihat Ara dan Afran tanpa Ayah seperti itu... Mereka butuh pelindung untuk nantinya kalau mereka besar..."


" tapi bu... Bagaimana Hisyam bisa masuk ke keluarga yang sudah utuh... Sudah ada bunda dan papinya... Mereka semua menyayangi papinya bu... Dan tidak mungkin Hisyam Menghancurkan kenangan indah itu...!" tolak Hisyam.


" Itu karena mereka belum bisa menerima kenyataan kalau papinya sudah meninggal... Anak kami sudah meninggal... dan kami tidak ingin mereka kecewa dengan menantikan kedatangan orang yang sudah meningggal Nak..! Tante takut mereka malah membenci papinya yang ternyata tidak datang saat mereka membutuhkan pelukan... Tante takut akan merusak kebahagiaan mereka bersama kenangan papinya nanti... Hiks hiks hiks " ucap Bu Shinta sambil berderai Air mata.


" Apa karena status Sheena yang menjadikan Nak Hisyam merasa keberatan..? " tanya Pak Atmaja.


" Demi Allah bukan itu Om... Saya hanya merasa bahwa saya telah masuk ke dalam dunia yang seharusnya tidak ada saya di dalamnya.." kata Hisyam.


"Na.... Katakan sesuatu Na... Apa kamu tidak setuju dengan keinginan mami ini...? Apa mami terlalu memaksamu untuk melakukan ini...? Mami sangat sayang sama kalian.. Bahkan kalau bisa mami ingin menggantikan posisi Adhi.. Biar mami saja yang mati dari pada harus melihat kalian yang selalu saja diikuti dengan bayang bayang Adhi yang jelas jelas sudah tidak ada... Hiks hijs hiks... " ucap Bu Shinta terbata bata.


"kami sudah tua... Siapa yang akan menjaga kalian nantinya... Afran masih kecil... Masih butuh sosok Ayah yang akan dia banggakan... Yang akan jadi panutan hidupnya.. Dan Ara.. Apa kau tahu Na.. Cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya... Dan Ara, anak yang malang itu.. Cinta pertamanya telah hilang dari dunia ini... Jadi tolong berikan ia Ayah yang baik agar cinta itu bisa bertahan di hatinya... " ucap Bu Shinta bersimpuh di kaki Sheena.


" Mi... Jangan begini Mi...! " Jawab sheena mengangkat tubuh wanita paruh baya tersebut.


Sheena sendiri tidak mungkin membantah mertuanya, namun ini juga terlalu cepat. Ia tidak bisa mengiyakan begitu saja. Adhi Dharma tetaplah cinta yang akan bersemayam dalam hatinya sampai kapanpun. Ia tidak ingin mengkhianati cinta itu.


"Boleh Sheena bicara berdua dengan... nya..! Nanti setelah itu Sheena akan memberikan jawaban.." kata Sheena.


Akhirnya kembali lagi mereka berada pada keadaan yang dingin dan mencekam. Dua orang yang saling menolak namun tidak kuasa untuk membantah.


"Apa kamu tahu tentang hal ini..! Jangan bohong katakan sejujurnya..!" tanya Sheena.


"Sudah berapa kali aku katakan, aku tidak tahu apa apa..!" jawab Hisyam dingin.


"Arrggghhh...! Kenapa aku jarus terjebak di sini...!" kata Hisyam kesal mengacak ngacak rambutnya.


"Yang kesal bukan hanya kamu... Aku juga.. Dan jika aku menerima perjodohan ini sama saja aku mengkhianati suamiku..!" ucap Sheena menahan emosinya.


"Aku hanya ingin mencintai sekali dan menikah pun sekali... Perjuangan cinta kami bahkan begitu berat dan kami baru saja merasakan sebentar saja kebahagiaan itu... Tapi... Kenapa... Kenapa...!!" ucap Sheena terhenti menagkup tangannya di wajahnya dan menangis tersedu sedu.

__ADS_1


Hisyam merasa iba pada hidup Sheena. Ia tahu pasti Wanita itu sangat mencintai suaminya.


" Apa aku harus menolaknya?" tanya Hisyam kepada Sheena.


Sheena pun mulai mereda dari tangisnya. Ia menatap Lelaki itu dengan intens. Ia menyadari kalau laki laki itu tidak salah apapun. Hanya keadaan yang menjadikan situasi yang tidak berujung.


Sejenak mereka terdiam, dan mencoba berpikir jernih.


"kalau kau menolak... Maka akan ada lelaki lain yang akan di jodohkan kepadaku lagi... Aku tahu mereka sangat menyayangiku... Niat mereka baik...hanya saja aku belum bisa membuka hati..." jelas Sheena.


"Kalau begitu, Aku akan menerima pejodohan ini, aku tidak tahu apa nanti tanggapanmu dan anak anak itu.. Tapi ak tidak bisa membuat ayah dan ibuku bersedih... Sepertinya mereka punya hutang budi yang sangat besar kepada mertuamu..." kata Hisyam.


"Terserah padamu.... Kalau mau menolak katakan saja di depan mereka... Aku tidak mau ikut campur...!" tambah Hisyam.


Sejenak Sheena berpikir keras.


"Baiklah... Demi mami, papi, Ara dan juga Afran aku juga akan bersedia... Afran sangat dekat denganmu... Begitu juga Ara.. Sebenarnya ia juga sering memperhatikanmu... Itu mungkin lebih baik dari pada orang lain yang menjadi ayah mereka... " ucap Sheena.


"Kau tahu kan kalau pernikahan itu sakral.. Setelah kita menjadi suami istri, kamu akan sangat berdosa kalau memikirkan laki laki lain selain aku... Dan tidak menunaikan kewajibanmu sebagai istri... Apa kamu yakin itu..??!" tanya Hisyam.


"ini adalah pernikahanku yang pertama dan aku harap ini juga yang terakhir untukku... Jadi aku tidak ingin ada kata perceraian atau perselingkuhan...!" lanjut Hisyam.


"Kau harus menerimaku apa adanya.. Namun jika ada sifat yang buruk dariku tolong ingatkan aku... Aku akan memperbaikinya... Begitu juga aku... Aku akan menerimamu apa adanya... Namun kamu harus mau aku ingatkan kalau kamu memang salah..." lanjut hisyam.


"Ah...! Kenapa malah jadi seperti ini sih...! Andai saja kita bisa nikah kontrak atau nikah pura pura malah lebih baik...! Aku benar benar tidak ingin mengkhianati mas Adhi..!" keluh Sheena berkaca kaca.


"Kalau ingin nikah kontrak lebih baik cari orang lain saja... Karena aku jelas tidak mau... Yang pertama membohongi keluarga besar, dan aku tidak mau hidup dalam kebohongan.. Dan yang kedua kita akan lebih banyak berbuat dosa jika terikat dalam pernikahan kontrak.." jawab Hisyam.


"Tapi rasanya..." Sheena tidak melanjutkan kata latanya.


"Tenang saja... Aku tahu aturan... Tapi pada saat aku menginginkannya aku harap kamu harus menerimaku dan bukan bayangan orang lain..!" kata Hisyam tegas.


"Karena aku juga lelaki yang normal yang butuh akan pelampiasan...!" lanjut Hisyam.


"Kalau misal aku tidak bisa?!" tanya Sheena ragu ragu.


"Apa kamu ingin mengujiku unyuk melihat kemarahanku..??!!!" jawab Hisyam tajam dengan mata mengintimidasi. Kilatan amarah terlihat jelas. Ia bisa terlihat sangat baik dan sopan namun terkadang ia seperti orang yang tidak kenal ampun terhadap lawan.

__ADS_1


"sungguh menakutkan..!" umpat Sheena.


__ADS_2