
Hujan di luar seakan tidak berkompromi. Ia semakin deras saja mengalir dengan diiringi
petir yang bertalu talu.
“Menginap saja... kelihatannya
itu akan lama berhenti...!”kata Gery
Naysa menatap Pak bossnya dengan pandangan yang sulit di
artikan.
“Pak boss ingat ya... kalau jatuh cinta padaku... ingat di
depan gedung KY group!” kata Naysa mengingatkan.
“Jangan ke Ge-er an... itu karena kalau malam malam gini kalau
harus mengantarmu dan kembali lagi ke sini yang aku khawatirkan adalah
keselamatanku...!” kata Gery.
“Ish..! terserah..!” kata Naysa.
“Ini..!” Gery melemparkan selimut dan bantal.
“Maksudny apa ini pak bos?” kata Naysa mengerutkan
keningnya.
“Kamu tidur di sofa luar, aku di kamar..!” ucap Gery.
“Wah... baik sekali anda ya pak bos..!” kata Naysa
“Tentu saja..!” jawab Gery.
“Tidak..! Lady first..! Bos tidur di luar, saya di dalam..!” bantah Naysa.
“ini rumah siapa?” Tanya Gery kepada Naysa.
“Rumahnya Boss..!” balas Naysa.
“terus kamar, kamar
siapa?” tanya Gery lagi.
“Ya kamarnya Boss lah..!” lanjut Naysa.
“Terus Kenapa saya harus menyerahkan kamar saya kepadamu?”
tanya Gery Sinis.
“Orang ini kayaknya harus di ajari bagaimana bersikap dengan
wanita..!” gumama Naysa kesal.
“Jangan Mengatai saya..!1” kata Gery.
“ Bosss... saya bilangin ya boss... dimana mana itu Lady
first..! wanita yang di manjakan di lindungi...! bukan sebaliknya..!” kata
Naysa.
“Itu kan pemikiranmu..! aku punya pandangan yang berbeda
tentang seorang gadis bar bar..!” ucap gery lagi.
“Tuan rumah harus menghormati tamu..!” kata Naysa nggak
kalah sengit. Ia menghentak hentakakan kakinya ke lantai karena kesal.
“ Kalau tamu pasti aku hormati... sedang kamu?? Kan
karyawanku... jadi karyawan harus menuruti bossnya... mementingkan kenyamanan
bossnya..!” kata Gery.
“Ish... Nggak Bisa,...!! pokoknya laki laki yang harus ngalah..!” kata Naysa.
“Nggak bisa..!” kata Gery.,
Mereka pun saling tarik menarik mencoba untuk berlari ke dalam kamar.
“Ah..!!!! pak boss sialan..!! Badannya aja segedhe itu...ya
gue kalah lah...!!” kata Naysa kesal ketika bossnya sudah masuk dahulu ke
kamar.
Akhirnya ia merebahkan tubuhnya di sofa, menarik selimutnya
dan mencoba terlelap di malam itu.
Sementara Gery yang berada di dalam kamar tersenyum
tersenyum sendiri. Baru kali ini Ia bertingkah konyol di depan orang lain.
“Dasar gadis bar bar..! kata Gery. Akhirnya ia pun merebahkan dirinya di atas
kasur dan terlelap tidur.
Di Rumah Sheena, Ara sudah kembali ke rumah itu.
__ADS_1
“Ara... Ara sudah
baikan beneran kan?” kata Sheena.
“Iya bunda....” kata Ara.
“o iya Na... ini obatnya Ara... diminumkan rutin ya...!” kata Bu Shinta.
“Iya mi...” jawab Sheena.
“Ayo sayang kita ke atas..!” kata Shenea menuntun Ara ke lantai dua tempat kamarnya berada.
“ Gimana Dhi... urusanmu dengan orang orang itu? Sudah ada
titik terang? “ Tanya papi Adhi.
“Masih proses pi...” jawab Adhi.
“Hati hati dengan orang orang itu... jaringan mereka sudah
menggurita kemana mana..!” kata Papi Adhi.
“Kalau kamu butuh bantuan, katakana saja... papi akan senang
hati membantumu..” lanjutnya.
“Terimakasih pi...” kata Adhi.
“Yang terpenting segeralah buiat Adhi junior...! hahaha....”
Ucap Papi Adhi.
“Tenang saja pi... sedang diusahakan..!” jawab Adhi
tersenyum bangga.
“Kalau bisa kesebalasan juga tidak apa apa... papi bosen di rumah terlalu sepi..!” kata Papi.
“Apanya pi... yang kesebelasan...” tanya bu Shinta dari
lantai atas. Diikuti Sheena dari belakang.
“Ini mi... buat kesebelasan sepak bola atas nama Adhi
Junior..!” kata papi terbahak bahak. Sheena pun langsung merah merona wajahnya.
“Emangnya kalian sudah jebol gawang?” Tanya mami Adhi.
“Sudah dong mi..! baru satu kali si..!” kata Adhi.
Sontak saja hal itu membuat Sheena memelototkan matanya ke Adhi.
“ Ish... baru aja sekali bangga..!” cibir Bu Shinta
tokcernya satu kali doang,,!” ledek Adhi.
“Mas.. Udah Ah.! Malah ngomongin begituan...!” ucap Sheena
kesal
“Nah Na... harus buat yang banyak ya... biar rumah papi sama
mamimu ini tidak sepi..!” kata Bu shinta.
Sheena pun bingung haru menjawab apa.
“Eh- itu..!” ucapan Sheena tidak di teruskan namun dipotong
oleh Adhi.
“Tenang saja mi... setiap detik, menit, jam pokoknya hajaaarr..!” kata Adhi.
Sheena tambah malu dengan kelakuan suaminya itu yang terang
terangan tanpa malu sama sekali.
“ Kalau begitu papi sama mami pamit pulang dulu ya.. ingat
pesan mami..!” kata mami mengedipkan mata. Dan melangkah keluar dari rumah
mewah tersebut.
“ Emangnya mami pesen apa?” tanya Adhi pada Sheena.
“Ada dech... urusan wanita..!” kata Sheena tersenyum
menggoda.
“Ayo apa katakana..!” kata Adhi sambil mengelitiki Sheena.
Sheena pun berlari ke dalam rumah. Adhi mengejar Sheena
dengan sangat antusias. Sesekali mengodanya dan membuat wajahnya merah merona.
Sementara itu, di gedung yang menjulang tinggi seorang wanita
sedang kesal dan mengumpat di sepanjang jalan melewati lorong gedung itu. Ia
membuka pintu kantor tersebut dengan kasar. Dan merabahkan tubuhnya di sofa.
“Kamu kenapa baby?” tanya Chandra.
“Susah sekali menjangkau Adhi..!” kata Indira kesal.
__ADS_1
“Jangan kesal seperti itu..! masih banyak Cara
mendapatkannya..!” kata Chandra.
“Aku benar benar kesal...! tidak ada yang tidak kumiliki..!
tapi dia seakan akan tak tersentuh oleh tanganku..!”
kata Indira.
“Tenang baby... masih ada kesempatan ... aku akan membuat
kesempatan itu agar kamu bisa bertemu dengan Adhi...” kata Chandra.
“ Terimakasih sayang...” kata Indira.
“Aku akan memberikan servis terbaik kali ini...!” kata
Indira.
“Mereka akhirnya melakukan hal itu berkali kali hingga
keduanya lemas tak bertenanga di kantor itu
Setelah selesai melakukan hal yang nikmat bagi mereka itu,
Indira kembali ke Apartemennya. Sedang Chandra masih tanpa balutan kain merebahkan
tubuhnya di sofa. Chandra mengambil
handphonenya dan menekan nomer anak buahnya.
“Urus Adhi..! buat dia bertemu dengan Indira...” kata
Chandra. Setelah itu ia menutup kembali panggilan ponselnya.
Tok tok tok
Suara pintu di ketuk.
“Masuk” kata Chandra.
“Maaf tuan di luar ada gadis yang di bawa oleh Andre..!” kata Salah satu pengawal Chandra.
“Suruh masuk..!” kata Chandra.
Seorang gadis yang sederhana masuk. Ia terkejut dengan
pemandangannya saat ini. Secara spontan ia pun menutup matanya dengan tangannya.
“Jangan kau tutup matamu itu..!” kata Chandra.
“Maaf tuan... kata mas Andre saya akan di beri pekerjaaan
...!” ucapnya ketakutan dan masih menutup wajahnya dengan tangannya.
“Kalian pergilah..!” kata Chandra kepada pengawalnya.
“Kau tahu kalau kau menutup mata seperti itu maka andre itu
akan membuat keluargamu menderita di desa..!” ucap Chandra sinis.
Gadis itu pun akhirnya memberanikan diri membuka matanya.
“Bagus..! kemarilah..!” kata Chandra.
Gadis itu pun ragu ragu namun karena ketakutan akhirnya ia
tetap mendekat. Pemandangan di depan matanya adalah yang pertama baginya.
“Duduklah dii bawah sofa ini..!” kata Chandra
mengintimidasi.
Gadis itu pun menuruti perkataan Chandra.
“Sekarang lihatlah dengan jelas jangan menunduk...! apakah
kau ingin aku memuaskanmu dengan ini..!” kata Chandra menyeringai.
‘ti-ti-dak tuan... ma-af ini bukan pekerjaan yang aku
inginkan..!” kata gadis itu terbata bata.
“cih...sok suci..!” Umpat Chandra
Gadis itu mencoba bangkit dan berlari keluar. Namun sebelum
ia berlari keluar suara bariton Chandra mengintimidasinya.
“Kau pilih saja memberikannya padaku, atau kau akan kuberikan
kepada bawahanku yang ada di luar.. mungkin sekitar 7 orang..! baru kau bisa
pergi..!” kata Chandra.
Tubuh gadis itu bergetar hebat, airmatanya mengalir deras.
Pekerjaan yang di janjikan bukanlah pekerjaan seperti ini.
Chandra mendekat dan ******* bibir gadis itu, masih ranum
dan manis.
__ADS_1
“Kalau kau menurut aku akan bermain lembut...” kata Chandra.