Elegi Hati Si Cewek Jutek

Elegi Hati Si Cewek Jutek
Titik balik Sheena dan Ara.


__ADS_3

Di kamar utama, Sheena telah di periksa oleh Dokter Frans.


“Bagaimana keadaanya Frans?” tanya Bu Shinta.


“Selamat Tante...sepertinya Sheena tengah hamil muda..!


makanya jika terlalu stress akan memicu reaksi tubuhnya..!” kata Frans.


“Akan aku alihkan ke dokter Elmira untuk kedepannya... agar


bisa memeriksanya lebih lanjut..!” kata Frans kemudian.


“Lakukan yang terbaik untuknya..!” kata Bu Shinta.


“Tentu Saja...!  kalau


boleh tahu apa yang menyebabkan Sheena sampaimengalami shock seperti ini..?”


tanya Dokter Frans.


“Nanti saja kalau semua sudah pasti akan aku ceritakan..!”


kata Bu Shinta.


“Baiklah kalau begitu, Tante..!” kata Frans kemudian dia


pamit untuk mengabari dokter Elmira


Bu Shinta pun mendekati Sheena. Mengusap lembut kepala dan


tangannya.


“Yang kuat Nak...! aku tahu kamu pasrti kuat..!” kata Bu Shinta


sambil menahan isak tangisnya.


“Bunda kenapa Oma? Kenapa tidak bangun bangun...!” Tanya


Ara.


“Sini Nak..! “ kata Bu shinta memanggil Ara dan memeluknya


dengan erat.


“Bunda hanya butuh semangat dari kita..! Ara mau kan selalu


tersenyum dan membuat bunda tertawa..?!” kata Bu shinta.


“Tentu saja Oma..!” kata Ara.


Bu shinta pun mengusap air mata yang hampir jatuh di sudut


matanya.


Drrt drrt drrt


“Ara tunggu disini ya...! Tungguin samapai bunda sadar..!”


kata Bu Shinta.


“iya oma..” jawab gadis kecil itu.


Bu Shinta pun keluar menerima panggilan ponselnya.


“Halo pi... gimana... ada kabar dari Adhi....” tanay Bu Shinta


berharap suaminya membawa kabar baik untuknya.


Terdengar isak tangis yang tertahan dari Pak Atmaja.


“Pi...” tanya Bu Shinta.


“Adhi mi... Adhi kecelakaan..!!” kata Pak Atmaja terbata


bata.


“Itu tidak benar kan pi..? jangan bercanda..! ini nggak lucu


pi..!” kata Bu Shinta. Walaupun Bu shinta sudah menegtahui dari Adel tapi ada


rasa tidak percaya pada kenyataan yang ia terima.


“Mobilnya terbakar...! dan Adhi terjebak di dalamnya...!” lanjut


Pak Atmaja dengan suara berat.


“Tidak Pi... itu pasti bukan Adhi..! anak kita itu bukankah


sangat lihai mengemudikan mobil..! Nggak mungkin Pi..!” kata Bu Shinta.


“Mi..! papi harus bagaimana..!” kata Pak Atmaja sudah tidak


bertenaga. Ia tidak menyangka anak semata wayangnya akan pergi secepat itu.


“Papi harus lakukan otopsi pada mayat yang ada dalam mobil


tersebut..! Mami yakin itu bukan Adhi..!” kata Bu shinta.


“Papi telah lali menjaga anak kita satu satunya..!” kata


Papi Adhi terdengar Rapuh.


“Pi... jangan seperti ini..! kita harus kuat..! cari bukti


kalau itu memang bukan Adhi pi..! bukan Anaka kita..!” lanjut Bu SHinta menahan


tangisnya.


“Tidak Mi..! itu benar benar Adhi..! sudah dipastikan karena


ada cincin pernikahannya dengan Sheena..!” kata Papi Adhi lirih.


“KEnapa bisa seperti ini pi..!” kata Bu Shinta mulai


melemah.


“Tidak boleh seperti ini Pi..!kita adalah kekuatan untuk Ara


dan Sheena yang tengah hamil..!” kata Bu Shinta mencoba tegar.


“Apa maksud mami..!” kata Pak Atmaja.


“Iya pi... Sheena hamil..! Dokter frans baru saja


memeriksanya..!” kata Bu Shinta.


“Kenapa ini bisa terjadi mi..! bagaimana nasib anak itu


nanti tanpa ayah di sisinya..!” ucap Pak Atmaja.


“Papi... papi merasa gagal mi..!” kata Pak Atmaja.


“bangkit pi..! mereka membutuhkan kita...! jangan rapuh


seperti ini..!” kata Bu shinta.


Akhirnya pak Atmaja pun menutup panggilan telponnya.


Disinilah bu Shinta yang terlihat kuat manangis sejadi


jadinya, dengan menahan suaranya.


“Oma..! papi kenapa?” tanya Ara yang tak sengaja mendengar


percakapann Bu shinta dan pak Atmaja.


“Sayang..!” kata bu Shinta memeluk Ara.


“Apa bener Oma.... papi kecelakaan?” tanya Ara mengusap air


matanya.


Bu Shinta hanya menangis dan menangis memeluk Ara.


“Papi pasti hanya pergi sebentar oma...! tadi malam


bilangnya seperti itu..! Ara harus jadi anak kuat untuk Bunda kalau Papi sedang


tidak ada di rumah..!”


“Pasti papi ingin melihat Ara menjaga bunda dengan baik


kan... makanya papi pergi sebentar..!”


“Oma jangan menangis..! papi akan segera kembali kok..!”


kata Ara terus mengusap airmatanya.


“Iya Nak... papimu pasti akan kembali...!” kata Sheena dari


belakang mereka berdua, ikut memeluk mereka dengan sangat erat.


“Sekarang Bunda sama oma jangan menangis...! papi pasti akan


kembali...! ia pasti akan menagih janji Ara nanti..!” kata Ara terus saja


terisak dengan berderai airmata.


“Ara juga jangan menangis ya...!”


“Kita berjuang bersama sama menunggu papi kembali..!” kata


Sheena menangkup wajah gadis kecil yang sangat tegar itu.


Mereka pun menangis bersama menguatkan.


“Sekarang ayo kita tunggu Opa di ruang tengah” kata Bu Shinta.


“Na.. kamu harus jaga kondisimu... kamu sedang hamil...!”


kata Bu Shinta mengingatkan.


“iya mi.. Sheena pasti akan jaga anak ini baik baik...!”


kata Sheena.


Mereka bertiga masih setia duduk terdiam di ruang tengah. Di


rumah itu semua terlihat murung dan sedih. Tidak ada canda tawa yang tersisa di


rumah itu. Semua terasa hampa menanti kabar yang mungkin saja akan membawa


keguncangan yang besar untuk keluarga itu.


Hari ini, di tengah kebahagian Gery dan Sheena, Sheena di


uji dengan kabar duka yang akan menjadi duka terbesar untuknya.


“Apapun yang terjadi... aku percaya kamu akan selalu


bertahan untuk kami mas..!”


“kamu akan selalu di hati kami selamanya..!”


“Aku akan menjadi kuat untukmu... sampai kamu tiba di


hadapanku..!”


“Aku sudah berjanji akan menjaga hatiku untukmu... aku akan


selalu menunggu kedatanganmu mas..!” Batin Sheena.


Dari arah pintu utama, terlihat Pak Atmaja dengan wajah yang


sangat lesu dan berantakan menghampiri mereka.


“Pi...” kata mami Adhi.


Papi adhi pun terduduk lesu dengan wajah yang sembab.


“Apa yang harus kita lakukan..!” kata pak Atmaja.

__ADS_1


Semua terdiam.


“Papi ingin melakukan otopsi dari mayat yang terbakar


itu...!” kata Papi Adhi.


“Tidak Pi... Sheena mohon jangan lakukan itu...!”


“Biarkan kami terus berharap kalau mas Adhi masih hidup...


dengan seperti itu kami  bisa mejalani


hidup dengan selalu berharap... walaupun tidak tahu sampai kapan kami bisa


bertahan... tapi paling tidak kami punya harapan yang bisa kami gantungkan..!”


kata Sheena.


“Walaupun Dunia berkata itu adalah Mas Adhi namun aku dan


Ara percaya.. bahwa MAs Adhi akan kembali ke sini nantinya..!” kata Sheena.


“Tapi Nak..!” Kata Papi Adhi tidak meneruskan perkataanya.


“Sheena hanya takut... Sheena tidak akan bisa hidup jika


mendapat kenyatan yang tidak Sheena harapkan..!” kata Sheena dengan mata


berkaca kaca.


“Baiklah... kami akan turuti maumu Nak..!” kata Papi Adhi.


“Terimakasih ya pi...” ucap Sheena.


“Sekarang kita lakukan pemakaman untuk Adhi...!” kata papi


Adhi.


“Papi akan siapkan pemakamannya... kalian tunggu saja di


rumah..!” kata papi Adhi.


“Hati hati ya Pi..!” kata Sheena.


Pak  Atmaja hanya diam


dan manatap Sheena dengan tajam. Dalam hatinya ia harus kuat demi mereka.


Setelah pak Atmaja menghilang dari balik pintu, mereka bertiga


kembali ke kamar masing masing. Mereka sedang menerawang jauh ke depan,


bagaiman kehidupan mereka nantinya setelah kepergian Adhi. Perasaan gelisah


cemas dan duka menghampiri mereka dan itu bukan hanya sekedar mimpi. Seandainya


waktu bisa di putar kembali, mungkin Sheena tidak akan mengijinkan suaminya itu


pergi ke kantor saat itu.


“Mas... kuatkan aku dan anak kita untuk selalu


menunggumu...! sampai kapanpun itu..!” kata Sheena.


Tak sengaja, kita bertemu


Hari-hariku sejalan denganm


Kau selalu ada saat kubutuh kamu


Kau pergi, ku sendiri


Tak tahu apa yang harus kulakukan tanpamu


Tapi ku tau, hatimu untukku


Kupercaya itu


Ku disini merindukanmu sangat rindu


Apakah engkau juga begitu oh sayangku


Bukan berarti ku disini meragukanmu


Oh sayangku jangan kau lupakan aku (jangan kau lupakanku)


Tapi ku tau, hatimu untukku


Kupercaya itu


Ku disini merindukanmu sangat rindu


Apakah kau juga begitu oh sayangku


Bukan berarti ku disini meragukanmu


Oh sayangku jangan kau lupakan aku


Musik itu terus berputar dan tidak terasa Sheena pun


terlelap dalam tidurnya. Melepaskan semua beban perasaanya.


“Mas.. kamu dimana?” kata Sheena.


“Na...!” ucap Adhi dari belakang Sheena.


“Mas..! aku rindu sekali denganmu mas..!” kata Sheena.


“Ayo segera pulang... mami, Ara dan papi juga menunggumu


mas..!” kata Sheena.


“Tidak sekarang Na... Aku tidak bisa pulang sekarang..!”


kata Adhi.


“Kenapa mas..! papi mami dan ara akan sangat senang sekali..!


“Tidak Na... tolong tunggu aku... dan jaga semuanya


untukku...! aku titipkan semuanya kepadamu Na sekarang...! jangan kecewakan Aku


ya..!” kata Adhi sambil mengusap kepala Sheena.


“Nggak  mas... aku


nggak bisa.. mas Adhi harus kembali..! ayo ikut aku Mas..!!”teriak Sheena


ketika Adhi mulai melangkah pergi meninggalkannya.


“Mas..! mas Adhi..!!” teriak sheena.


“Nyonya..!nyonya..! bangun..!”  ucap Mbok Minah membangunkan Sheena.


“Mas Adhi..!” teriak Sheena seketika itu dan terbangun.


Nafasnya tidak teratur, keringat dingin keluar dari


keningnya, dan matanya terlihat sembab.


“nyonya...! nyonya harus kuat..! jangan seperti ini


nyonya..!” kata Mbok minah yang merasa kasihan dengan majikannya itu.


“Tadi aku bermimpi Mas adhi datang menghampiriku


Mbok..!”cerita Sheena.


“Itu hanya bunga tidur nyonya..! jangan terlalu di


pikirkan..! makan dulu... kasihan dedek bayinya kalau nyonya tidak makan..!”


kata mbok Minah membujuk Sheena.


“Baiklah mbok... aku cuci muka dulu..!” kata Sheena.


Sheena pun melangkah menuju kamar mandi dan membersihkan


dirinya. Dari pantulan cermin di dalam sana, wajahnya terlihat sangat tidak terawat


dan juga kucel sekali.


“Mas... Aku akan menjaga semuanya sampai kamu kembali...!


tenang saja ya mas..!” kata Sheena.


Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Sheena pun berjalan


ke ruang makan. Disana sudah ada mami dan juga Ara yang tampak tidak


bersemangat makan.


“ ayo makan semuanya..! kita harus sehat dan kuat.. ketika


mas Adhi datang maka kita bisa meyambutnya dengan bahagia..!” kata Sheena.


“Benar..! ayo makan dulu..!” kata Bu shinta berpura pura


baahagia.


Mereka pun makan tanpa ada suara sedikitpun. Hanya bunyi


benturan sendok dan piring yang terdengar.


Sementara di rumah sakit tempat Gery di rawat, Gery sangat


kaget dengan berita yang di dapat Naysa tentang Adhi dharma dari Aries.


“Tidak Mungkin Nay..! Tuan Adhi tidak mungkin meninggal..!


aku tahu bagaimana tuan Adhi..!” kata Gery tidak percaya dengan apa yang baru


saja di dengar.


“Aku juga begitu... bukankah baru saja dia dari sini..!”


kata Naysa.


“Aku harus kembali ke Rumah tuan Adhi..!” kata Gery dengan


tergesa gesa.


“Aku sudah meminta Aries untuk menjemput kita di sini..!


karena hari ini juga Tuan Adhi di makamkan..! kita segera ke pemakamannya..!”


“yang paling aku khawatirkan adalah Sheena dan Ara..”


“bagaimana nasib mereka setelah ini..!” kata Naysa sedih.


“kita harus bisa menguatkan mereka...! “


“Nay...Kamu tidak apa apa kan kita tunda pernikahan kita


terlebih dahulu... Aku tidak mungkin bisa berdiam diri saja melihat semua


ini..! lagian pasti aku akan lebih sibuk kali ini..! mengingat banyak yang


harus di kerjakan oleh tuan Adhi..!” kata Gery.


“Sudahlah bang... Nggak papa... lagian aku juga tidak


mungkin bersenang senang di saat sahabat terbaikku sedang berduka...!” jawab


Naysa.


“Terimaksih ya Nay...! maaf aku belum bisa


membahagiakanmu..!” kata Gery memeluk Naysa.


“Sudah ah... ayo kita segera keluar dari sini..! kita

__ADS_1


langsung ke pemakaman..!” kata Naysa.


Gery memnta anak buahnya untuk mengurus semua yang


dibutuhkan agar ia bisa keluar dari sana.


“Kalian sudah siap?” tanay Aries ketika bertemu Naysa dan Gery


di tempat parkir.


“Iya sudah...! ayo masuk mobil..! kita bicara di dalam..!”


kata Aries.


Mereka bertiga pun masuk mobil warna hitam itu.  Dan melaju menuju tempat pemakaman.


“Apa kau yakin itu adalah Mas Adhi Ar..!” tanya Naysa ke


aries.


“Menurut sinyal terakhir memang tidak ada tanda tanda


perlawanan dan sebagainya..!” kata Aries.


“Tidak mungkin..!tuan adhi adalah orang yang paling bisa


menjaga dirinya..!” kata Gery.


“Nah.. kalau begitu pasti ada yang tidak beres..!” kata


Aries.


“Cuman bukti bukti menunjukkan bahwa tidak ada factor dari


pihak luar.. itu murni kecelakaan..!” kata Aries.


“Tapi...” kata Aries terhenti.


“Entahlah... sepertinya kita melewatkan sesuatu...!” kata


Aries.


“Apa maksudmu...?” tanya Naysa.


“Di titik A mobil Adhi sempat berhenti.. namun hanya


beberapa menit saja..!” kata Aries.


“Kalau ia di jebak atau di todong..! itu butuh waktu


banyak..! dan tidak mungkin hanya kurang lebih 5 menit..!” lanjut Aries.


“Tapi ketika kami menyelidiki tempat itu.. tidak ada apapun..!


bukankah ini aneh..!”


“kalau ia mengalami kerusakan mesin.. pasti juga butuh waktu


untuk memeriksanya..!” kata Aries.


“lalu menurutmu...bagaimana..!” tanya Naysa.


“Entahlah..! yang pasti setelah ini kita harus membantu


Sheena menangani proyek yang telah di kerjakan oleh Adhi..! karena kalau


menurut firasatku.. kematian Adhi dharma ada hubungan nya dengan kasus proyek


tersebut.


“Maksudmu proyek pembangunan jalan tersebut?” tanya Gery.


“Benar Tuan Gery..! sepertinya ada masalah yang terselubung


dengan proyek tersebut..!” kata Aries.


“Kenapa masalah datang bertubi tubi... belum sempat kita bernafas


gara gara masalah Chandra.. sekarang muncul masalaah lainnya..!” keluh gery.


“ Yang terpenting kita focus untuk pemulihan Sheena dan


perusahana Adhi..! takutnya ada pihak pihak tertentu yang memanfatkan situasi


seperti ini..!” kata Aries.


“Untuk itu.. aku rasa kau butuh bantuan kalian lagi..! aku


tidak mungkin bisa menanganinya sendiri..!” kata gery.


“tenang saja..kami pasti akan membantu kalian.. Sheena sudah


kami anggap sebagai keluarga sendiri..!” kata Aries.


Mobil hitam itu pun menuju ke arah pemakaman. Setibanya mereka


di sana, Sheena, Ara bu shinta dan pak Atmaja sudah berdiri di barisan depan.


“Maaf saya terlambat..!” ucap Gery dan Naysa.


“Tidak apa apa..! “ kata Pak Atmaja.


Prosesi pemakaman pun berlangsung sakral.  Sheena dan Ara bahkan tidak menunjukkan


adanya kesedihan dan ataupun air mata di mata mereka. Tatapan mereka hanya


kosong. Menatap nanar pemakaman tersebut.


“Bunda... aku yakin papi masih hidup... itu bukan papi


kan..?” kata Ara lirih kepada bundanya itu.


“Iya.. bunda juga sama... bunda yakin Papi akan kembali lagi


ke tengah tengah kita..!” kata Sheena.


“kita harus kuat..! dukung bunda terus untuk menjadi


kuat...!” kata Sheena.


“aku janji bunda... aku juga akan menjadi anak yang kuat


kedepannya..! agar aku bisa dengan bangga bertemu papi lagi..!” kata Ara.


Mereka saling mengeratkan genggaman mereka. Saling


menguatkan dan menopang satu sama lain.


Setelah acara pemakaman selesai, semua orang pun kembali


hanya tersisa Sheena, Gery pak Atmaja, bu Shinta sheena dan Ara di tempat itu.


Sebelum semuanya pulang, Sheena pun mengtakan sesutau yang


membuat semua orang tercengang.


“Pi.. mulai sekarang.. uruisan mas Adhi tentang proyek


tersebut akan aku ambil alih...!!” kata Sheena tegas.


“kamu jangan macam macam Nak..! kamu sedang mengandung..!


tidak baik jika kamu terlalu banyak tekanan..!” kata Bu Shinta sedih.


“tenang Mi... aku akan jaga anak ini sampai kapanpun...! aku


tidak akan membiarkannya terluka sedikitpun.. karena aku yakin.. suatu saat


nanti mas Adhi akan datang..!” jawab Sheena.


“Na..! kamu jangan Gila..!” kata Naysa.


“Tidak seperti ini cara kamu menghilangkan rasa sedihmu..!!”


kata naysa.


“Aku dan Ara tidak pernah bersedih.. kalianlah yang sedang


berduka..! karena aku dan Ara yakin mas adhi akan datang suatu saat nanti..!


jadi aku akan mengambil alih semuanya..! itu pesan terakhir mas Adhi..!” lanjut


Sheena.


“Na.. kamu tidak tahu ..betapa bahayanya mereka itu..! lihat


saja Anak kami sudah menjadi korban..! papi tidak mau kehilangan kamu juga


Na..!” kata papi Adhi.


“tidak..! aku akan bisa menjaga diri.. asalkan teman teman


saya juga mau membantu..!” kata Sheena menatap gery dan Naysa juga aries.


“Tenang Na.. Aku selalu ada di pihakmu..! tidak perlu khawatir..!”


kata Aries.


“Na..! pertimbangkan keputusanmu..!” kata Naysa kembali.


“Aku sudah memikkirkannya matang matang..! dan aku tidak


akan pernah mundur lagi..!” kata Sheena.


“Nak... tanah kuburan Adhi saja masih merah... bagaimana


kamu bisa berkata seperti itu..! jangan Nak.. jangan libatkan dirimu dengan


proyek tersebut..! kami tidak akan sanggup lagi jika terjadi apa apa denganmu


Nak..!” kata Bu Shinta mengiba.


“ibu percaya saja sama Sheena..! Sheena akan berhati hati..!


aku hanya ingin tahu siapa yang sudah menjebak Mas Adhi dan membuat mas Adhi


harus terpisah dari kami..!”


“Aku.. tidak bisa membiarkan mereka bersenang senang


sementara kita berduka..! tidak..! aku tidak akan membiarkan itu..!” kata


Sheena tajam.


“Akan kubalas satu per satu orang yang telah berani mengusik


kelaurga..! bagaimanapun caranya..! walaupun dengan cara keji sekaligus..! aku


sama sekali tidak peduli..!” lanjutnya.


“Benar bunda... mereka harus merasakan apa yang dirasakan


oleh papi saat ini..!” kata Ara.


Tidak ada sahutan dari semuanya. Sheena dan Ara pun


meninggalkan pemakaman itu dengan wajah tajam menahan amarahnya.


“Semua tidak akan sama lagi..! Mereka yang sudah membuat


keluargaku hancur pasti akan menerima balasannya..! lihat saja malaikat


kematian akan menjemput kalian satu persatu..!” batin Sheena.


“Kalian semua salah memilih lawan..! mengusik keluargaku


sama saja membangunkan harimau yang sedang tidur..! lihat saja apa yang akan


aku lakukan untuk membantu bunda memuluskan rencananya..!” batin Ara.


Sepertinya musuh musuh mereka akan menemui dewi dewi kematian

__ADS_1


mereka secara perlahan.


__ADS_2