Elegi Hati Si Cewek Jutek

Elegi Hati Si Cewek Jutek
Tatapan mata yang sama...


__ADS_3

“Jadi itu alasanmu untuk tidak melakukan otopsi pada mayat


Adhi..?” Tanya Fahri.


“Benar... karena selama aku masih berharap mas Adhi masih


hidup maka aku akan bisa hidup juga..!” kata Sheena.


“Terkadang hal seperti itu diperlukan agar bisa menghadapi


kerasnya kehidupan..!” ucap Fahri.


“Sudahlah... kamu masuk ke dalam.. nanti kamu sakit lagi


Na..! kamu kan sedang berbadan dua...! kalau kamu nyidam dan ingin makan


sesuatu bilang saja ke mas Fahri...! mas Fahri akan selalu standbye 24 jam


untukmu..! hehehe..” ucap Fahri.


 “Mas fahri bisa saja..!” kata Sheena.


“Baiklah... Kalau begitu aku masuk dulu...!” Pamit Sheena


dan berjalan meninggalkan  Fahri sendirian di gazebo tersebut.


Fahri merebahkan tubuhnya di gazebo dan memandang ke arah


bintang bintang yang berkerlap kerlip itu.


“Andai kehidupanku normal seperti pria kebanyakan... akankah


aku meminitamu untuk selalu bersamaku dan bersedia menikahiku? Andai kita tidak


di pertemukan di titik terlemah ku akankah aku akan memiliki keberanian untuk


bisa bersamamu..!”


“Ku harap kamu akan selalu bahagia dan selalu hidup dengan


baik..! karena itulah satu satunya yang bisa aku berikan kepadamu atas


bantuanmu kepadaku dan kepada keluargaku yang sangat besar..!”


“Aku berharap aku bisa menyimpan cintaku untukmu selamanya..


dan mencintaimu dalam diamku..!” batin Fahri mengingat kenangannya bersama


gadis cinta pertamanya.


Setelah itu ia pun beranjak kembali ke kamar tamu dan tidur


dengan perasaan yang tidak menentu. Malam itu pun di tutup dengan segala


ketidak pastian dari tabir gelap yang belum terungkap.


Keesokan harinya, Semua sudah berkumpul di meja makan.


“Kamu jadi ke kantor hari ini Na..?” tanya pak Atmaja.


“Iya pi.. banyak urusan yang harus Sheena kerjakan..!” Jawab


Sheena.


Mereka semua pun makan dalam diam tidak ada yang bersuara.


“Ara... kamu nanti idi anterin Bunda..! mulai sekarang bunda


yang antar kamu..!” kata Sheena.


“Okay bunda..!” Jawab Ara.


Setelah selesai makan, Ara pun bergegas untuk mempersiapkan


diri dan mengikuti Sheena dari belakang.


“Ayo...!” ucap Sheena mengulurkan tangannya kepada Ara.


Ara pun menyambut uluran tangan tersebut dengan hati


bahagia. Di dunia ini hanya mereka berdua yang akan saling menguatkan dan


mendukung satu sama lain.


“Apa Ara bahagia bersama bunda?” Tanya Ara.


“Ara akan selalu bahagia asal itu ada bunda..! dimana pun


itu..!” kata Ara memeluk pinggang Sheena.


Di depan rumah, mereka berdua sudah di sambut oleh Gery.


Gery dengan setia menyambut kedua orang berbeda usia itu dengan hati bahagia.


Ada rasa hangat yang terpancar di wajah keduanya. Walaupun


mereka menghadapi masa masa sulit, namun mereka tetap bahagia bisa bersama


seperti itu.


“Silahkan masuk Nyonya dan nona kecil ...!” kata Gery


menyapa Sheena dan Ara.


“Iya Ger... terimaksih...!” ucap Sheena datar.


“Om Gery jangan panggil Ara nona kecil..! Ara sudah besar..!”


protes Ara.


“baik Nona..!” Jawab Gery.


Gery pun menutup mobil tersebut dan melaju ke sekolah Ara.


“Bunda... Ara sekolah dulu...!” kata Ara mengulurkan


tangannya untuk mencium tangan bundanya itu.


Sheena pun mengulurkan tanganyya dan menatap anak itu dengan


intens.


“ hati hati ya Nak..!” kata Sheena kemudian. Ada secercah


rasa sedih melihat anak itu turun dan berlari ke gerbang sekolah. Ia kemudian


melambaikan tangannya sambil mulutnya mengucapkan kata “I love you bunda”. Saat


itu rasanya dunia Sheena mendadak runtuh, ia ingin berhenti dan membawa anak


itu jauh dari semua ini. Namun, di satu sisi dia harus menyelamatkan perusahaan


suaminya yang telah di rintis sejak lama.


“Jalan Ger...!” Kata Sheena. Kemudian mobil itu pun melaju

__ADS_1


pergi.


Di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi, Sheena


menapaki gedung tersebut dengan tegas dan berdarah dingin.


“Sudah siap semuanya untuk Rapat Ger?” tanya Sheena.


“Sudah nyonya...!” ucap Gery.


“Baiklah antarkan aku ke sana...!” kata Sheena.


Gery pun memandu Sheena untuk pergi ke ruang rapat yang


telah di jadwalkan.


Ketika di depan pintu ruang tersebut, Sheena menghela nafas


panjang dan memantapkan hatinya untuk masuk. Di sana ia melihat semuanya sudah berkumpul.


Para petinggi petinggi besar dari perusahaan itu pun semua sedang menatap


Sheena seolah olah meragukannya.


“Disini ternyata tekanannya terlalu berat.. dan Mas Adhi


mendapatkan tekanan itu setiap hari...! dia memang sosok yang luar biasa..!”


“Akupun juga harus bisa seperti itu..!” kata Sheena dalam


Hati.


“Selamat pagi semuanya ... saya Sheena pengganti  Tuan Adhi Dharma ... mulai sekarang setiap


apapun yang akan kalian lakukan harus dengan persetujuanku..!” kata Sheena


tegas menatap semua orang.


“Maaf Nona, Apa sebaiknya anda tidak perlu terlalu mengurusi


perusahaan ini... ada yang lebih kompeten dari sekedar anak muda yang


kebanyakan kurang pengalaman...!” kata Pak Dirham slaah satu pemilik saham


terbesar di KY group.


“Maksud anda yang muda yang kurang berpengalaman itu SAYA??!”


tegas Sheena.


“lalu apakah pemimpin itu harus seperti anda yang bisanya


hanya duduk manis dan memaki kalau terjadi kesalahan...! lagian sebentar lagi


juga anda sudah bau tanah...!” kata Sheena dingin.


“Kau..!”


“Maaf .. saya rasa anda harus menjaga sikap anda dengan


saya...! kalau tidak silahkan anda keluar..! dan akan kami kembalikan semua


investasi anda ke perusahaan ini..! karena saya jamin, setelah itu akan banyak perusahaan


perusahaan yang lain yang akan berminat ke perusahaan ini... dan anda tidak


akan memiliki kesempatan untuk masuk lagi..!” kata Sheena.


Semua yang di ruangan tersebut mendadak tidak berkutik. Aura


yang dimiliki Sheena sama seperti boss sebelumnya yaitu adhi dharma.


masing divisi.


“Aku ingin semua segera melaporkan kegiatan akhir akhir ini


mengenai proyek bermasalah itu..!” kata Sheena kepada Gery.


“Baik nyonya..!” jawab Gery.


Seminggu telah berlalu, semenjak Sheena memutuskan kemabali


ke perusahaan masih tidak ada bukti yang valid mengenai permasalahan proyek


tersebut. Sebulan hingga tiga bilan berlalu dan keadaan proyek tersebut


mendadak membaik.


Setelah lama berkutat dengan semua kertas kertas tersebut,


Sheena pun mengistirahatkan pikirannya dan menatap ke luar jendela.


“Sepertinya kita akan susah mengungkapkan fakta yang


menyebabkan suamimu kecelakaan dan proyek bermasalah itu semkarang menjadi semakin


membaik... apakah ini ada konspirasi dengan petinggi petinggi di daerah itu?” kata


Aries.


“Entahlah... susah sekali menemukan celahnya...!” kata Sheena.


“Sepertinya hanya Tuan Adhi dharma yang tahu mengenai


kejanggalan yang ada di proyek tersebut... karena itu kemungkinan Tuan adhi


dharma di singkirkan..!” kata Gery


“Lalu apa yang akan kita lakukan setelah ini? Semua sudah


berjalan normal...! dan sangat aneh...! dalam waktu sekejap setelah kematian


Adhi semuanya terlihat baik baik saja..!” tambah Fahri.


“Sudahlah... lebih baik kita tangani proyek seperti


biasanya..! kita tidak bisa mengungkapkan apapun...! mereka sudah mengunci


pergerakan kita..!” kata Marco.


“Bagaimana Na... kita menyerah saja... yang penting


perusahaan dalam kondisi stabil..! kita focus untuk mengembangkan perusahaan di


bidang yang lain..!” kata Naysa.


Sheena tidak merespon apapun, ia hanya terdiam memandangi


langit yang berwarna kemarahan.


“Kalian semua keluarlah..! aku butuh waktu untuk


sendirian..!” kata Sheena.


Mereka semua keluar dari ruangan itu. Sebenarnya mereka

__ADS_1


tidak tega meninggalkan Sheena sendirian di dalam ruangan tersebut. Namun mereka


sadar, Sheena butuh waktu untuk berpikir.


Di dalam ruangan tersebut, Sheena memandangi foto Suaminya


yang terpampang di atas meja.


“Mas... apa yang harus aku lakukan...meneruskan penyelidikan


ini atau berhenti sampai disini saja..?, aku takut akan membawa kemalangan


untuk perusahaanmu nantinya jika aku meneruskan penyelidikan ini...! apa kau


tidak akan marah padaku jika aku menghentikannya...?! Cepatlah kembali... aku


sangat merindukanmu...! aku sudah sangat lelah menunggumu mas..! cepatlah pulang..!”


kata Sheena sembari mengelus perutnya.


***


Lima tahun telah berlalu, Setelah kejadian proyek sengketa


itu. Akhirnya Sheena memutuskan untuk untuk menghentikan penyelidikannya. Gery dan


Aries menjadi kepercayaan Sheena mengelola perusahaan pusat. Naysa di minta


Sheena untuk mengurus salah satu anak cabang bersama Adelia dan Marco.  Adhi masih tidak ada kabar keberadaanya. Di mansion Sheena itu hanya terpampang foto Adhi yang sangat besar, berharap dia


akan segera kembali. Namun lima tahun sudah berlalu dan tidak ada tanda tanda Adhi kembali.


Di sebuah Café, tiga orang sahabat sedang mengadakan pertemuan kecil.


“Bagaimana mengatakan kepada Sheena kalau Adhi memang sudah


meninggal..! sudah lima tahun berlalu... dan Sheena masih berharap kalau Adhi


itu Masih hidup dan akan kembali..!” kata Gery kepada Aries dan Naysa.


“Benar sekali... Sheena masih berharap Adhi akan kembali...


kasihan Ara dan Ghufran mereka akan selalu di bayangi oleh Adhi dharma... yang


tidak mungkin akan kembali...” Keluh Naysa.


“Ghufran mirip sekali dengan tuan Adhi ya...” kata Aries.


“Benar..! wajahnya sangat mirip dengan Tuan Adhi Dharma...!”


tambah Gery.


“ O iya kapan kalian akan menikah? Seharusnya kalian sudah


merencanakan sebuah pernikahan..!” kata Aries.


“Mungkin Setelah Proyek G n A selesai, kami akan mulai


membicarakannya dengan Sheena..!’ kata Naysa.


“Produk barukah?” kata Aries.


“Iya... produk kecantikan yang ramah anak... namanya pun di


ambil dari Ghufran dan Ara sebagai ikon..!” jelas Naysa.


“Sekarang perusahaan KY group semakin besar..!” kata Aries.


“Dan kita ada di dalam perusahaan itu... bukankah suatu hal


yang tidak di sangka sangka..!” kata Aries.


“benar...!!” jawab Naysa.


Mereka pun akhirnya mengakhiri pembicaran mereka dan menuju


ke lokasi masing masing.


Di mansion Sheena, Ara yang sedang asyik bermain ponselnya di


kejutkan oleh teriakan Mbak Jum.


“Den Ghufran...!!” teriak mbak Jum.


Ara yang mendengarnya langsung panik dan berlari ke kamar


atas.


“Ada apa mbak Jum..!” tanya Ara.


“Den Ghufran... den Ghufran... terpeleset tadi habis dari


kamar mandi dan tidak sadarakan diri..!” kata mbak Jum panik berada di sebelah


tubuh tuan mudanya itu.


“Cepat hubungi Bunda..!” kata Mbak Jum.


Ara yang masih memegang ponselnya akhirnya langsung menghubungi


bundanya.


“Halo Bunda...Ghufran..! Ghufran terpeleset dan tidak


sadarkan diri..! ini kami bawa ke rumah sakit terdekat ya bun..! bunda cepat


kesana..!” kata Ara panik dan segera mematikan ponselnya.


Mbak Jum dan Ara membawa Ghufran ke rumah sakit. Sesampainya


di sana ia di bawa ke ruang gawat darurat.


“Keluarga pasien mohon tunggu di luar..!” kata perawat


tersebut.


Ara dan Mbak jum pun khawatir dan cemas menunggu di luar.


“Ibunya mana..?” kata dokter dengan perawakan tinggi itu


dari belakang hendak memasuki ruang gawat darurat itu.


“Itu... masih dalam perjalanan..!” kata Mbak Jum.


“Orang tua zaman sekarang, malah lebih mementingkan pekerjaan


dari pada nyawa anaknya..!” kata dokter tersebut dingin.


Ara memandang dokter tersbut dengan penasaran. Wajahnya di


tutupi oleh masker hanya terlihat tatapan matanya.


“Papi..!” ucap Ara Lirih.


“Tidak... tidak mungkin kan itu papi...! tatapan matanya

__ADS_1


sangat mirip dengan papi...! tapi kalau papi tidak mungkin tidak mengenali Ara...!”


Batin Ara.


__ADS_2