Elegi Hati Si Cewek Jutek

Elegi Hati Si Cewek Jutek
Udang di balik Bakwan


__ADS_3

Di ruang kerja yang serba putih itu, Hisyam menyandarkan kepalanya ke kursi kebesarannya.


"anak anak itu...aku ingin selalu merangkulnya... Mendekapnya... Memberikan mereka harapan dan kehangatan..." batin dokter Hisyam.


Tok tok tok


Hisyam pun mencoba membenarkan posisi duduknya.


"ya masuk.." kata dokter Hisyam.


"nggak pulang Syam..?" tanya dokter Rianti


"sebentar lagi.. Masih ada yang harus dikerjakan.." jawab Hisyam berpura pura sibuk.


Hisyam tahu sebenarnya kalau dokter Rianti sangat menyukainya dan bahkan selalu mencari kesempatan untuk menarik hatinya. Namun, Hisyam hanya menganggap Rianti sebatas teman kerja tidak lebih dari itu.


" apa perlu aku bantu?" tawar dokter Rianti.


"tidak perlu... Pulang saja duluan.." jawab Hisyam.


"baiklah... Kalau begitu aku pulang dulu..!" kata dokter Rianti dengan nada kecewa meninggalkan Hisyam sendiri di ruangannya.


Sementara di dalam mobil yang di tumpangi Ara dan Afran terjadi perbincangan kecil antara pak Atmaja dan istrinya.


" o iya mi.. Mami tahu kan Haidar...teman sekolah papi dulu... Papi ada janji makan siang dengan Haidar... Kita mampir sebentar ya ke Restaurant Pelangi.." kata Pak Atmaja.


"Haidarnya Andita?" tanya Bu Shinta.


"iya... Mau ya..?" lanjut pak Atmaja.


"boleh boleh... Sudah lama juga nggak ketemu..." sahut Bu shinta.


"cucu cucu oma yang ganteng dan cantik juga manis tiada duanya.. Kita mampir makan siang dulu yuk...!" tawar Bu shinta.


"Waah.... Boleh oma...!" jawab Ara dan Afran kegirangan.


Mobil tersebut pun melaju ke restaurant pelangi, tempat Pak Atmaja dan Dokter Haidar bertemu.


"sudah lama menunggu?" kata pak Atmaja menepuk bahu sahabatnya itu.


"hei.. Bro...! Waah... Makin tua makin cakep aja.." ucap dokter Haidar.


"dari dulu kali cakepnya..!" sahut Bu shinta dari arah belakang.


"iya.. Iya.. Percaya.. Sampai sampai cewek populer di sekolah termehek mehek..!" gida dokter Haidar.


Mereka pun tertawa bersama melepas kerinduan setrlah lama berpisah.


"perkenalkan ini cucu cucuku.. Ara dan Afran.. Ayo cium tangan dulu sama opa dokter.." kata Pak Atmaja kepada Ara dan Afran.


Ara dan Afran pun mendekat dan mencium tangan lelaki paruh baya itu.


"waah... Enak ya kamu... Aku bahkan belum punya cucu..!" kata dokter haidar.


"hahaha.. Kamu kalah set sama Mas Atmaja kan..!" sindir Bu shinta.


"iya dech iya... Aku kalah...!" ucap Dokter haidar sambil menggaruk tengkuknya.

__ADS_1


" ayo duduk..." lanjut dokter Haidar.


Mereka semua duduk dengan tenang.


" bagaimana kabar anak anakmu?" tanya pak Atmaja.


" ya begitulah... Belum ada yang mau nikah...!" jawab Dokter Haidar.


" bagaimana putra tunggalmu... Sepertinya sekarang jarang sekali aku lihat dia di berita.." tanya Dokter Haidar.


Bu shinta memandang suaminya dengan tatapan sendu.


"dia sudah tidak ada.." jawab Pak Atmaja.


"apa maksudmu?" tanya Dokter Haidar kaget.


"sudah lima tahun lebih dia pergi..." lanjut Pak Atmaja.


"maksudmu? Adhi meninggal??!" tanya Dokter haidar lagi.


"iya... Kecelakan..!" jawab Pak Atmaja.


"Ya Allah...dan anak anak ini?" tanya Dokter Haidar untuk kesekian kali.


"Ara... Afran.. Main dulu ya di play ground sana... Nanti kalau makanan sudah datang... Nanti oma panggil.." kata Bu shinta.


"oke oma.." jawab ara.


"jangan luoa jagain Afran ya Kak..." lanjut Bu shinta.


"Mereka anak anak Adhi yang di besarkan tanpa sosok ayah di sampingnya..."jawab Bu shinta sedih.


" kasihan sekali...." ucap Dokter Haidar.


"mereka masih butuh sosok seorang ayah.." lanjutnya.


"andaikan menantuku mau menikah lagi... Pasti mereka juga tidak akan kekurangan kasih sayang... Tapi...kenyataannya... Menantuku bahkan belum menerima keadaan bahkan setelah 5 tahun lebih kepergian Adhi.." kata pak Atmaja sedih.


Bu Shinta meraih tangan suaminya untuk menguatkannya.


Melihat kesedihan di wajah kedua sahabatnya itu, dokter haidar pun tidak tega melihatnya.


"Kalau boleh... Aku punya seorang putra... Dan dia belum menikah... Apa menurut kalian jika kita jodohkan akan baik kedepannya?!" kata Dokter Haidar.


Ia pernah kehilangan seorang putra dan ia tahu betul kesedihan yang di alami sahabatnya itu.


"bukan aku mengorbankan putraku... Tentu saja kalau kedua belah pihak tidak setuju... Aku pun akan mundur... Hanya saja aku kasihan dengan anak anak itu dan..." kata dokter haidar terjeda. Ia pun menghela nafas berat.


dan aku sangat kasihan dengan kalian yang bahkan nampak lebih kusut dan lelah.." batin Dokter haidar.


"tapi menantuku dan cucuku yang besar sangatlah keras kepala..." timpal bu Shinta.


"kita pertemukan saja mereka lebih dulu... Biar mereka yang menentukan langkah kehidupan mereka nantinya... Dan semoga mereka berjodoh sampai akhir.." kata Dokter Haidar.


" aaamiin..." jawab bu shinta dan Pak atmaja bersamaan.


"tapi bukankah agak egois kalau kita menjodohkan anak kamu Dar, yang notabenya kan masih single... Sedangkan putri kami bahkan sudah punya buntut dua.." kata pak Atmaja.

__ADS_1


"aku tidak ingin putri kami satu satunya tersakiti lagi..." lanjut Pak Atmaja.


"karena itu.. Kita berikan kesempatan mereka untuk mengenal lebih dahulu..." jawab dokter Haidar.


Ketiga orang tua itupun akhirnya menatap ke arah dua anak kecil yang sedang asyik bermain.


Setelah selesai makan dan berbincang bincang, ketiga sahabat itu pun berpisah melaju ke rumah masing masing.


***


Di kediaman Dokter Haidar, Emily membantu ibunya di dapur untuk membuat kue kesukaan ayah dan kakaknya itu.


"itu suara mobil ayah dan kakak kayaknya bu... Kok bisa bareng bareng gitu datangnya ya.." ucap Emily.


"ya mungkin selesai kerjanya bareng..." jawab bu Andita.


"aneh... Kalau gitu ngapain coba pakai mpbil sendiri sendiri...!" gerutu Emily.


"memangnya kenapa Em..?" tanya suara laki laki paruh baya dari belakang.


"eh ayah... Ya nggak papa sih yah... Tapi kan dilihat orang seperti anak sama bapak lagi perang dingin di rumah...! Kagak akur gitu..!" jawab emily.


"kagak akur gimana Em.. Kamu itu ada ada saja menghayalnya... Jangan halu lah..!" kata bu Andita.


"ih ibu ini... Kagak gaul ah... Ya kali... Satu rumah berangkat sendiri sendiri, pulang sendiri sendiri.. Ibuk nggak takut ayah tiba tiba di jalan di godain sama cabe cabean..!" kata emily kesal.


"hust..! Kamu itu kalau ngomong ngasal..!" kawab bu Andita.


"ya kan pengennya Emily, kita kelihatan seperti keluarga yang harmonis bu di depan karyawan..." lanjut Emily.


"Nah.. Itu Em yang salah.." sahut Hisyam sambil melonggarkan kerah kemejanya yang baru saja masuk ke rumah.


"jangan hanya terlihat... Tapi yang sebenarnya lah yang penting... Karena sebuah keluarga itu yang harus ada di dalamnya adalah kasih sayang dan kehangatan, bukan sebatas kamuflase kulit luar saja..." jelas Hisyam kepada adiknya itu.


"ish.... Ceramah lagi... ceramah lagi..!" gerutu Emily sambil memanyunkan bibirnya.


"Syam.. Bawakan karet gelang... Itu buat ngucir mulut adikmu ini..!" sahut Bu andita terkekeh.


"kayaknya aku itu lahir di rahim yang salah ya..! Nggak ada yang belain..!" gumam Emily.


Semua anggota keluarga pun tertawa melihat tingkah Emily.


" o iya Syam... Malam Minggu nanti tolong kosongkan jadwalmu ya.... Ayah ada acara makan malam di rumah teman Ayah... Sudah lama tidak ketemu... " Kata Dokter Haidar.


" kok tumben Yah..? Hayooo... Pasti ada udang di balik bakwan...!" ledek Emily.


"Hust..! Anak kecil diem aja...!" sahut Bu Andita.


"Baik Yah.. Nanti Hisyam Usahakan.." jawab hisyam.


"Harus ya...! Kalau nggak.. Ayah malu nanti... Soalnya udah janji juga bawa keluarga.." lanjut Ayah.


"cie cie... Roman romannya beneran nih... Ada ehem ehem..!" goda Emily lagi.


"haishhh... Anak ini..!" kata Ibu sambil menjewer kuping Emily.


"ampun bu... Ampun...!" teriak Emily mengguncang rumah tersebut.

__ADS_1


__ADS_2