
Beberapa saat setelah Adhi dan Sheena mengobrol, Sheena pun di Landa kejenuhan.
“ini kok pesanannya lama sekali ya mas..!” Lanjut Sheena.
“Iya... entahlah..! tapi nggak papa lah.. jarang jarang kita bisa bersantai kayak gini...!” kata adhi.
“Nanti kalau Gery dan Naysa kelaparan gimana mas..?” kata Sheena.
“tidak usah kahqatir.. Kalo Gery pasti sudah dapt jatah dari Rumah sakit... Nah.. Kalau Naysa, aku yakin.. Dia pasti lebih gercep soal perut lapar..!” balas Adhi.
"Ish... Mas Adhi ini lho ya..!" gerutu Sheena.
"Kasihan Naysa nya... Sebenarnya ada yang mau aku omongin tentang Naysa ke Mas Adhi.." ucap Sheena.
“Ada apa?” tanya Adhi penasaran.
“Sebenarnya waktu di rumah sakit, Naysa itu tidak hanya dapet luka fisik... Tapi juga dia mengalami keguguran.." keluh Sheena.
Adhi langsung memelototkan matanya. Ia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
“Apa? Jangan bercanda Na..!” kata Adhi.
“Aku Nggak bercanda ya mas..! beneran..! saksinya Gery..!” kata
Sheena menjelaskan.
"Serius Na...!" kata Adhi masih tidak percaya.
"Iya... Serius...!" kata Naysa.
"Sebentar.. Kok Naysa bisa hamil... Lalu siapa yang menghamilinya..??!" Tanya Adhi.
"Aku juga tidak tahu Mas...!! Makanya aku bingung harus ngomong ke Naysa seperti apa..!" kata Sheena.
"Apa dia pernah deket sama seseorang?" Tanya Adhi.
“Nggak ada..!nggak ada sama sekali..!” kata Sheena.
“makanya aku curiga.. sebenarnya apa yang terjadi..!” kata Sheena.
“Kamu sudah tanya siapa gitu..! Aries atau Adelia mungkin... ” kata Adhi.
“mana aku berani bertanya hal hal sensitive seperti itu ke
anggota group Mas..! mereka itu care namun juga tidak mau mengurusi orang
lain..! mereka punya pemikiran kalau hidup mereka adalah tanggung jawab mereka
sendiri..!” kata Sheena.
“Kalau seperti itu.. kira kira kamu berani nggak Tanya langsung ke Naysa..!” Tanya Adhi.
“Nah... itu... aku takutnya malah menyinggung perasannya
Mas..!” kata Sheena.
"siapa Pria brengsek yang sudah mencelakai Naysa sampai seperti itu..!!" geram Adhi.
"Untungnya... Dia wanita yang kuat...!" ucap Sheena.
"Sudahlah... nanti kita cari tahu pelan pelan saja...!” kata Adhi.
Ketika mereka sedang asyik mengobrol tentang Naysa tiba tiba seseorang muncul dan mengagetkan Adhi.
“Adhi..!Adhi Dharma kan ya...!” kata perempuan itu.
Adhi memperhatikan sekilas perempuan yang menyapanya.
“Maaf tidak kenal...!” kata Adhi.
“Eh...!” kaat Sheena manaikkan satu alisnya.
“Ini aku Dhi...! temen kuliah dulu...! Erika...!” kata perempuan itu lagi.
“Maaf tapi saya benar benar tidak ingat Erika atau
siapapun... lebih baik anda segera pergi dari sini karena saya sedang menikmati
hari ini dengan istri saya...!” kata Adhi.
“Sombong bener dhi sekarang..!” kata Erika.
"tapi walaupun dari dulu kamu seperti itu... Ketampananmu tidak berubah... Malah semakin tampan...!" kata wanita itu Manja dan ikut duduk di sebelah Adhi.
"Ish.. Wanita jadi jadikan ini dari mana si datangnya..! Dasar kegatelan..!" batin Sheena
"Mbak.. Maaf... Kayaknya ini bukan tempat yang baik untuk Anda duduk di sini..!" kata Sheena tegas.
"Apaan sih...! Saya bukan mbakmu ya...! Dan hanya ngobrol sebentar sama temen lama apa salahnya sih..! Posesif banget jadi wanita..!" kata wanita itu.
"Dasar nenek lampir..!! Awas aja.. Kalau sampai menguji batas kesabaranku...! Jangan harap bis a keluar hidup hidup..!" umpat Sheena dalam hati.
“Anda tahu pintu keluar bukan? Atau saya suruh satpam disini
menyeret anda keluar?” kata Sheena ketus namun masih memasang senyumnya yang penuh makna.
“Istrimu ini bawel Amat si Dhi... Yakin kamu betah sama dia..! Dan seleramu sekarang... Aduuh... Masak kayak gini si Dhi... Wanita biasa..! " ledek Erika.
Adhi hanya diam memperhatikan apa yang akan di lakukan oleh istrinya itu.
" mbak... Mumpung saya masih berbaik hati kali ini ya mbak... Bisa tolong pergi baik baik..!!" ucap Sheena menahan amarahnya.
" Memangnya.. Mau apa kalau saya tidak mau pergi..! Jadi Istri itu.. ya jangan ngekang suaminya berteman dengan siapapun... Bisa kaburr suaminya nanti... Akibat Stress..!!" balas Erika.
"Mak lampir ini... Ruoanya mau main main sama Sheena..! Awas kau ya wanita jadi jadikan..!"batin Sheena.
" Maaf mbak Mas.. Ini pesanannya.. Maaf menunggu lama.. " kata Pelayan tersebut.
" Owh l... Makasih mbak... " jawab Sheena.
" Mbaknya mau minum... Katanya mau mengobrol... Mau makan juga boleh kok...! " kata Sheena tersenyum Manis.
" Nah.. Gitu... Jadi istri yang baik..! " tegas Erika.
Namun... Secara sengaja akhirnya Sheena menuangkan minuman ke kepala Erika.
" Hei.. What the hell...!! " Umpat Erika.
" katanya mau minum..! Sudah di kasih minum malah Marah Marah..!" kata Sheena.
" Kau...! " tunjuk Erika.
Namun saat itu juga sepiring spaghetti langsung mendapat cantik ke muka Erika.
"Aaarrrgghhhh...!! Dasar Gila..!!" kata Erika berlalu pergi.
“Na... tidak baik ah bersiap seperti itu kepada orang..!” kata Adhi.
“Aku hanya tidak ingin member celah orang lain untuk masuk
ke dalam hubungan kita mas..! Jangan jangan Mas Adhi juga tergoda sama si nenek lampir itu...!! ” kata Sheena ketus.
"Maksudku... Balesnya jangan mengotori tanganmu kayak gitu.. Langsung saja cabut sahamnya..! Beress...!!" kata Adhi.
“Tidak perlu... percaya saja
dengan kemampuan istrimu mengusir para pelakor yang mendunia sekarang ini..!” kata Sheena.
“Iya... Iya..! percaya dech...!” balas Adhi.
Sementara di sebuah apartemen , seseorang sedang mengamuk
dan melempar beberapa barang barang.
“Bodoh...! bodoh..! bagaimana mereka tidak menghabisinya
sekalian..!” kata laki laki itu.
“Aku pasti akan mendapatkanmu Nay...! kamu hanya boleh mencintaiku...! bukan yang lain...!” kata laki laki tersebut.
__ADS_1
“Aku pastikan... kamu pasti menjadi milikku entah bagaimanapun caranya...!” ucap ya lagi.
Dia adalah Rio yang telah menyewa beberapa preman untuk
menculik dan melukai Gery. Rio merasa sangat tidak suka ketika gadis yang
selalu mencintainya, berbalik mencintai orang lain dan tidak memperhatikannya
lagi. Rio merasa marah dan kesal. Perasaan egoisnya merajai hatinya. Walaupun dulu, ia tidak ada perasaan apa apa ke Naysa. Namun semenjak Naysa dekat dengan Gery perasaan itu entah mengapa selalu muncul. Perasaan kesal, sedih dan tidak mau kehilangan menghantuinya selalu. Bahkan setiap malam ia mengalami
mimpi buruk dengan selalu memimpikan Naysa hidup bahagia bersama Gery.
“Tidak..! aku tidak akan membiarkannya..!”
“Naysa hanya untukku...! hanya milikku satu satunya...!” kata Rio.
“tunggu Nay...! aku kan segera mendapatkanmu lagi...!” lanjutnya.
Namun, yang sedang di celakai malah asyik berdua an di rumah sakit tersebut.
“Pak Boss ... apa bener nggak sakit itu?” kata Naysa.
“ Ya sakit Lhah Nay...!” Jawab Gery.
“Kamu udah baikan?” tanya Gery.
“Naysa si selalu kuat Pak Boss... tahan banting pokoknya...!” kata Naysa.
“Kamu itu...!” kata Gery sambil mencubit hidung Naysa.
“Itu tangan kenapa si selalu saja nyubit hidung...! Sudah tahu kali kalau memang hidung Naysa ini kurang Mancung..!” Gerutu Naysa.
“Kamu jadi tinggal di Apartemen Rio?” Tanya Gery.
“Nggak kayaknya Pak boss...! nggak enak juga...!” kata Naysa.
“terus..? mau senidrian di apartemenmu...?” tanya Gery.
“Kemungkinan besar itu...!” kata Naysa.
“Kalau Mau... tinggal di apartemenku gimana Nay..?” tawar Gery.
“Ah... nggak mau..! nanti aku di tindas terus sama pak boss..!” kata Naysa.
“Nggak akan...! aku khawatir saja dengan keadaanmu...! kalau
sudah sembuh misal kamu mau balik ke apartemenmu nggak papa...!” kata Gery
Lagi.
“Emmm... gimana ya pak Boss... Aku nggak enak sama Rio
aslinya... kan aku sudah nolak tawarannya, masak aku menerima tawaran dari Pak boss...” kata Naysa.
“Ya bilang aja... diminta Bossmu...!” kata Gery mendesak Naysa.
“Aku nggak mau kenapa kenapa lagi denganmu Nay...! lagian Nayaka pasti sedih kalau aku tidak menjagamu..!”
lanjut Gery.
“Ish... kenapa si bawa bawa kak Nayaka... Maaf ya kak...
bukannya aku nggak mau mengingat kakak... namun... aku rasanya tidak rela
berbagi perhatian dari Pak boss...!” batin Naysa.
“Ya okelah kalau gitu...!” jawab Naysa.
Baguss...! nanti aku akan sampaikan ke Tuan dan Nyonya...!” kata Gery.
“Pak Boss... boleh tanya sesuatu...!” kata Naysa.
“Apa Nay... tanya Aja.. kalau bisa jawab nanti aku jawab..!” kata Gery
“Pak Bos kenapa nggak tanya aku hamil sama saiapa?” tanya Naysa.
“Beneran...?!” tanya Naysa.
“Iya...! nggak percaya?!” kata gery.
“Di rumahku itu ada cctvnya Nay... mana mungkin ada kegiatan
yang luput dari pengamatan CCTV..!” kata Gery.
“What the... Eh, ups..!! "
“Maksudnya...! pak Boss tahu kalau itu kita...” kata Naysa tidak melanjutkan perkatannya.
“Hmm..!” jawab Gery SIngkat.
“Aduh Mati gue..!” gumam Naysa.
“itu pak Boss... sebenarnya saya salah...! ampuni saya ya pak Boss..! Pak boss kan baik hati...! waktu itu saya salah ambil obat...! beneran dech..! berani sumpah...!” kata Naysa.
“Kamu itu Lho Nay...!” kata Gery dengan kembali mencubit
hidung Naysa.
“Aduh pak Boss...! sakit tahu...! ” kata Naysa.
"Makanya kalau mau ngerjain orang... Lihat lihat dulu..!" jelas Gery.
“tapi... Jadi gimana di maafkan ya?” kata Naysa.
“Tapi ada saratnya...!” kata Gery.
“ya elah Pak boss... pakai syarat aja...! pak bos itu sudah
kaya tujuh turunan... buat Apa syarat syarat segala si...!” gerutu Naysa.
“Syaratnya bukan materi Nay...!” kata Gery.
“terus apa?” Tanya Naysa.
“Jadi kekasihku...!” Kata Gery.
“What..??!” teriak Naysa.
“tidak menerima penolakan...!” kata Gery.
“Waaah... jadi pak boss sudah mengakui kan... jatuh cinta
sama aku... Hayooo ngaku...!” kata Naysa terkekeh.
Gery kemudian menangkup wajah Naysa yang berada tepat di
depan wajahnya.
“Pak Bosss tangannya sakit lho..! jangan kayak gini..!” kata Naysa gugup.
“Kalau aku jatuh cinta padamu... terus kamu gimana Nay?”
kata Gery mendekatkan wajahnya ke Naysa.
“emm... aku... aku...!” kata Naysa gugup.
“Aku apa Nay..?” tanya Gery terus mendekatkan wajahnya itu.
“Aku...!” kata Naysa tak melanjutkan ucapannya melihat
intens ke arah pak Bossnya itu dan jangan di tanya lagi, jantungnya sekarang sudah berdebar tidak
karuan.
Gery dengan tersenyum liciknya kemudian ******* bibir mungil
itu. Naysa pun membelalakkan matanya. Ini dia dalam keadaan sadar melakukan ciuman tersebut.
“Arrghh..!” teriak naysa mendorong tubuh Gery dan berlari keluar.
__ADS_1
“Aduuh..! jantungku..! ayo jangan seperti ini...!” kata Naysa sambil memukul mukul Dadanya pelan.
“Tidak tidak...! kesadaranku harus di kembalikan..!” kata Naysa.
“Eh, tapi dia tidak mengerjaiku kan...?” Batin Naysa.
“Bagaimana kalau dia hanya ngeprank doang..! haduh bodoh
bodoh...! kenapa jantung ini tidak bisa di kendalikan si...!”gerutu Naysa sambil
memukul mukul ringan kepalanya.
“Nay... Kamu kenapa?” tanya Sheena yang datang bersama dengan Adhi.
“Eh. I-tu... ng... aku mau ke kantin dulu..” kata Naysa bingung dan Salah tingkah melihat Sheena sudah ada di depan pintu kamar.
“kenapa ke kantin... ini sudah aku belikan makanan... banyak
juga nih...! takutnya nggak habis...!” kata Sheena.
“Eh. I-tu... aduh... aku lupa mau beli pembalut... iya
pembalut... mau ganti...” kata Naysa mengalihkan pembicaraan.
“Oh, okelah kalau gitu..! hati hati ya...!” kata Sheena.
Naysa pun segera pergi dari sana menghindari pertanyaan
pertanyaan yang akan muncul dari Sheena.
“Kenapa dengan Naysa si Mas..! kok aneh gitu..!” kata Sheena.
Adhi pun hanya mengangkat bahunya tidak tahu.
“Ya sudah ayo masuk..!” kata Sheena.
Adhi dan Sheena pun akhirnya masuk ke ruangan tersebut.
“Ger... kamu tahu Naysa kenpa? Kenapa jadi aneh gitu
kayaknya..!” kata Sheena ketika melihat Gery yang terduduk di ranjang pesakitan itu.
“kenapa.. saya tidak tahu nyonya..!” kata gery pun menutupi
semuanya. Padahal dalam hatinya kini tengah berbunga bunga.
“In makan Ger... saya sudah bawakan banyak...!” kata Sheena.
“Iya nyonya... terimakasih..!” kata Gery.
“O iya Ger... kelihatannya dokter Annisa cocok dengan mu Ger..!” goda Sheena.
"Apa perlu aku sampaikan biar kalian saling terbuka...!” lanjutnya.
“Maaf Nyonya... Tapi saya benar bnar tidak tertarik dengan
dokter Annisa..!” kata Gery tegas.
“yakin ger.. cantik Lhooo...!” kata Sheena.
“iya nyonya..!” ucap gery.
Karena ada yang lebih cantik dari dia nyonya... bahkan dia
sangat imut..” batin Gery tersenyum penuh arti.
Sementara di kantin, Naysa juga bingung ingin memilih menu apa, karena ia sendiri tidak ingin ke ruangan itu dahulu. Ia sangat grogi dan malu.
“Mbak... pesan Jus Mangga satu ya mbak...!’ kata Naysa.
kemudian ia duduk menyendiri di kantin tersebut.
“Eh, ada anak kecil... di sini juga?” kata Annisa.
“Aku bukan Anak kecil...!” kata Naysa.
“Wah... kebetulan sekali... kita disini..!" kata Annisa.
“Ini mbak pesanannya... !” kata pelayan itu dengan sopan ke Naysa,
“Sekalian ya mbak... aku pesan sama satu lagi..!” kata Dokter Annisa.
“Sepertinya seleramu dan seleraku sama..!” kata Dokter Annisa.
“Tapi kelihatannya aku yang mendapatkan nya duluan..!”kata
Naysa ketus.
“tapi aku bisa mendapatkannya dengan sangat mudah juga..!”
lanjut Dokter Annisa.
“Sebenarnya ... anak kecil sepertimu akan sulit berhadapan
denganku...!” kata dokter Annisa.
“lagi pula... kau pasti tidak akan tahu bagaimana manisnya
bibir yang telah menyatu...!” kata Dokter Annisa.
“bagaimana mungkin seorang dokter ingin bersaing dengan anak kecil...?” kata Naysa lagi.
“Aku memang tidak ingin bersaing karena anak kecil itu bukan
levelku..! akan mudah aku menyingkirkannya..” kata Dokter Annisa.
“sial orang ini, dari segala galanya memang dia memiliki
semuanya, dia bukan lawan yang cocok buatku..!Auranya juga sulit untuk di
taklukkan... sebenarnya dia itu siapa... dan kenapa sepertinya, dia memang ingin
menjadi kekasih dari pak Boss..!”
“wah... tidak bisa di biarkan ini...! bisa bisa aku tergeser
kalau ada perempuan ini terus membayang bayangi pak boss...! tapi apa yang harus aku lakukan..!”
“Ah bukannya pak boss menawariku tinggal di apartemenya,
itu akan memudahkan aku untuk memantau wanita ini..!” Batin Naysa.
“Kalau mau mengumpatku katakan saja... jangan dipendam dalam
hati..!” kata Dokter Annisa.
“Dokter percaya diri sekali kalau aku akan mengumpat dokter..!” balas Naysa.
“Dari wajahmu saja aku sudah tahu... aku pandai menebak
wajah anak anak sepertimu yang masih labil..!” ucap Dokter Annisa.
“Dokter ini hanya menebak nebak saja... tapi kepastiannya
juga tidak tahu...! kata Naysa.
“Siaapa bilang aku tidak tahu...aku bahkan sudah merasakan
bibir yang manis itu...!” tantang Doter Annisa.
“Kau..!” Kata Naysa sudah emosi.
“Sebaiknya kau lepaskan saja...! kau sangat tidak pantas
bersanding dengan nya..! kau tahu kaan...! perbandingannya sangat besar..!” kata dokter Annisa.
“lalu apakah dokter yang pantas..!” tanya Naysa.
“it coul be..!” kata dokter Annisa.
__ADS_1