Elegi Hati Si Cewek Jutek

Elegi Hati Si Cewek Jutek
Ssst..! nanti mami marah...!


__ADS_3

Selepas beradu argumen, Sheena dan dokter Hisyam pun tidak berucap apa apa sama sekali.


"Papi dokter pergi dulu ya, nanti papi dokter ke sini lagi jenguk Afran" Kata Dokter Hisyam sambil mengusap lembut pucuk kepala anak itu.


Sheena hanya menatap kepergian dokter itu dengan perasaan campur aduk.


"Karena mata itu mengingatkanku pada Mas Adhi, dan aku pun selalu tidak bisa mengontrol emosiku berada di dekatnya. takut hatiku akan menjadi lemah dan tak bisa berpikir jernih karena kerinduan yang mendalam pada Mas Adhi. Maaf ..." batin Sheena.


"Mi ..." Suara Ara mengejutkan Sheena.


"Eh iya Ra, Ada Apa?" Tanya Sheena.


"Opa sama Oma barusan telpon Ara.. Katanya Mau ke sini, Apa mami nggak bawa ponsel? Kata Oma sudah berkali kali menghubungi mami tapi nggak ada jawaban... " tanya Ara..


"Owh, itu... Ponsel Mami ketinggalan di tas!" jawab Sheena melangkah menuju ke sofa. Ia pun mengambil tas kecil yang berada di sana dan membukanya.


"iya.. Banyak sekali panggilan yang masuk dari oma.." kata Sheena sambil mengecek ponselnya.


" Mami telpon balik dulu ya Ra?" kata Sheena melangkah menuju ke arah balkon kamar tersebut.


Ara hanya mengangguk mengiyakan.


"Halo Mi?" Tanya Sheena.


"Gimana Keadan Ghufran? apa anak itu baik baik saja? kasihan sekali dia!" kata Mama Adhi khawatir dan dilanjutkan dengan mencecar banyak sekali pertanyaan mengenai Ghufran.


Sheena pun terlihat menjawab pertanyaan pertanyaan dari mertuanya itu dengan tenang. Tak lama setelahnya, Ia pun menutup panggilan tersebut. Mendesah pelan menatap kosong ke arah langit langit di balkon tersebut.


"Aku lelah mas... apa harus aku ikhlaskan saja semuanya...!" desah Sheena diikuti dengan air mata yang sudah hampir jatuh di pelupuk matanya.


Setelah pertengkaran di rumah sakit, Dokter Hisyam pun


jarang muncul kembali di depan Sheena, sampai akhirnya Ghufran pun di nyatakan bisa kembali pulang.


“Oma dan Opa sudah menejmput, Mi! cepetan !” kata Ara sambil


menenteng tas Maminya itu.


“Sabar kak! Ini mami juga sedang beres beres” sahut Sheena.

__ADS_1


“Afran keluar yuk!” kata Ara sambil mendorong kursi roda


tersebut. Anak itu tampak kewalahan antara membawa tas dan mendorong Ghufran.


“Kakak, tasnya Afran bantu yah?” tawar Afran.


“iya, ini” kata Ara memberikan tas tersebut ke pangkuan


Afran.


Ara mendorong Ghufran keluar dari kamar perawatan tersebut.


Di tengah perjalanan ia melihat Dokter Hisyam sedang berbincang bincang dengan rekan kerjanya.


“itu papi dokter!” kata Afran.


“Ssssttt! Nanti mami marah! Jangan keras keras..! ” ucap Ara


mengingatkan Adiknya itu.


Ara berhenti sejenak dan menatap dokter  hisyam begitu juga Ghufran. Namun sejurus kemudian mereka melanjutkan kembali perjalanan mereka menuju lift untuk turun ke bawah.


Ingin sekali ia menghampiri mereka berdua, namun karena takut terjadi kesalah pahaman lagi dengan ibu mereka maka dokter hisyam pun menghentikan niatnya.


“Maaf, Saya permisi sebentar ya!” pamit dokter Hisyam kepada rekan kerjanya itu.


Ia segera berlari menyusul kedua anak tadi. Entahlah, Ada perasaan khawatir terhadap kedua anak tersebut walaupun ia berusaha tidak peduli.


Dan benar dugaan dokter Hisyam, Anak itu ternyata kesulitan untuk memasuki lift rumah sakit. Dokter Hisyam pun


mendekati mereka.


“Sini Papi Dokter bantu!” kata Dokter Hisyam membantu mendorong kursi roda itu kedalam Lift.


“Papi dokter!” teriak Afran kegirangan.


“Kangen ya sama papi dokter?” tanya Hisyam melirik ke arah Ara.


“He'em! Kenapa papi dokter nggak pernah jenguk Afran di rumah

__ADS_1


sakit kemarin?” tanya Afran Sedih.


“papi sedang banyak pasien yang harus di tangani, banyak yang sakit karena cuaca seperti ini” Jawab Dokter Hisyam.


“Afran kira Papi dokter pergi juga kayak Papi!Ups!” Ucap Afran melirik ke arah kakaknya.


Ara pun memelototkan matanya tajam menatap Afran.


“Sudah Ah! Ini kalian mau ke lantai bawah kan?” tanya Dokter


Hisyam yang mengerti pertengkaran antara adik kakak itu lewat tatapan mata mereka. Dokter Hisyam pun membantu mereka memasuki lift tersebut dan Pintu Lift pun tertutup.


Hanya keheningan yang melanda  mereka bertiga.


“papi dokter nggak ada pasien?” tanya Ghufran.


“Ada, tapi nanti sekitar jam 1 siang” jawabnya.


Ting


Pintu lift pun terbuka dan dokter hisyam membantu mereka


keluar dari lift tersebut.


“baiklah, karena sudah sampai sini, papi dokter kembali ke


atas ya?” kata Hisyam kepada Afran.


Afran hanya mengangguk kecil


“Lagian sudah di tunggu sama opa dan oma! Kami permisi!” kata


Ara mendorong Adiknya itu menjauhi dokter Hisyam.


“Bye bye” kata Afran.


Dibalas dengan senyuman dan lambaian tangan oleh dokter


Hisyam. Ia pun kembali ke lift dan menuju ke lantai atas ruangan pribadinya.

__ADS_1


__ADS_2