
“Masih lapar Nay?” Tanya Gery.
“Masih... pakai banget malahan..!!pengen Batagor..!” jawab Naysa.
Ia pun turun dari tempat tidurnya dan hendak melangkah menuju ke depan pintu kamar.
“Mau kemana Nay..?” Tanya Gery.
“Ssst...! diem sebentar pak Boss jangan berisik..!” ucap Naysa.
Naysa pun membuka pintu kamar ruang rawat tersebut dengan hati hati.
Ceklek
Kepala Naysa melongok keluar mau melihat situasi di luar.
“Maaf Nona ada yang bisa saya bantu?” Tanya pengawal yang
ada di depan pintu mengejutkan Naysa.
“Ish...! Sheena..!!” teriak Naysa di ruangan tersebut sambil
menutup kembali pintu tersebut.
“Ada apa Nay?” tanya Gery.
“Eh, Pak Boss anda tahu nggak di luar ada apaan?” tanya Naysa.
“Ada apa memangnya?” tanya Gery.
“Ckckck! Pak boss ternyata juga nggak tahu..!” ucap Naysa kesal.
“Ada apa si Nay?” tanya Gery Lagi.
“Itu tu.. kerjaan Sheena pastinya... menaruh banyak pengawal
di depan Pintu..!” kata Naysa.
“Benarkah?” tanya Gery.
“lihat saja kalau nggak percaya...! menyebalkan..!” gerutu Naysa.
Gery pun ikut membuka pintu tersebut dan benar ternyata di
depan kamar tersebut sudah ada beberapa pengawal yang berjaga. Gery menutup
kembali pintu kamar tersebut.
“Banyak banget Nay, pengawalnya..!” kata Gery.
“Bener kaan..!” emang ya... Sheena itu lebaii..!” kata Naysa kesal.
“Itu karena Sheena khawatir sama kamu Nay..” Ucap Gery.
“Saya kan mau makan batagor di perempatan jalan di sebelah
Apartement pak boss...! batagornya muantepp..!!” kata Naysa membayangkan
batagor di tempat itu.
“Tapi pastinya nggak akan boleh sama Sheena...! nanti gue di
ceramahin dua jam berturut turut nggak selesai selesai..!” Gerutu Naysa.
“Pak boss bisa usir mereka nggak...!” tanay Naysa penuh
harap.
“Nggak bisa Nay..! apalagi itu suruhan nyonya..! mana berani
aku..!” kata Gery.
“Halah... Pak boss itu berkelahi jago, membobol situs jago,
tapi sama Sheena nggak berani..!” gerutu Naysa.
“Suaminya yang menggaji aku Nay..! kalau di pecat makan apa
coba..! mana cicilan masih banyak lagi..!” kata Gery.
“Nggak usah curhat... ! beban hidup saya sudah banyak
boss..!” Ucap Naysa.
Gery pun hanya melihat sekilas ke arah Naysa.
“Sebentar... Aku punya ide..!” kata Naysa tersenyum licik.
Naysa mengeluarkan ponselnya. Dan mengganti nama Pak bosnya
dengan nama suami Sheena.
“Nanti pak Boss ke kamar mandi... dan pura pura jadi Mas
Adhi..!” kata Sheena.
“Mas Adhi??!” kata Gery sedikit kesal.
“Iya... emangnya kenapa pak boss!” tanya Naysa tanpa rasa
__ADS_1
berdosa.
“kamu itu ya Nay.... sama saya saja panggilnya pak tua lah,
Pak boss lah, lhah itu tuan adhi? Bisa bisa nya kamu panggil dia MAS..!” kata Gery
“Ish.... Cemburu bilang boss..!” kata Naysa menggoda.
Gery pun hampir saja mengangkat tangannya hendak menjitak
kepala Naysa.
“Eits..! ini kepala pak boss..! bukan kelapa..!” Ucap Naysa
menghindar.
“Sudah ah..! ini nih rencananya..!” kata Naysa dengan nada
serius.
“Nanti pak boss pura pura jadi mas Adhi ketika ponselnya tak
kasih ke mereka, minta mereka mengecek ke lantai atas.. biar mereka pergi
semua..! Nah... kalau mereka sudah pergi, kita kan bisa keluar dari sini... !mengerti...!”
kata Naysa.
“Tapi Nay..!” kata Gery belum sempat melanjutkan omongannya.
“Mau bantu nggak? Awas nggak mau..! ini nih.. kepala saya
kena meja sampai berdarah darah gara gara siapa..!” kata Naysa mengintimidasi.
“Iya ... iya... saya bantu..!” jawab Gery.
“ Pak boss... kalau ngomong itu konsisten napa... kadang pakai
SAYA kadang pakai AKU... pusing pala barbie..!” kata Naysa.
Gery pun tidak meladeni omongan Naysa itu. karena ia sendiri masih kikuk berbicara santai dengan Naysa.
Gery pun mulai menekan nomor Naysa dan Naysa berlagak
mendapat panggilan dari Adhi Dharma.
Naysa membuka pintu ruang tersebut kembali.
“Maaf tuan tuan.. ada panggilan dari Pak Adhi... ini tolong
di terima..!” kata Naysa.
“Kalian tolong cek lantai atas semua... ada orang yang
mencurigakan..! di kamar tersebut sudah ada Pak Gery.. Biar pak Gery yang
menjaga gaidis itu..” kata orang yang berada di panggilan tersebut.
“Baik pak..!” Jawab Pengawal itu.
“Bagaiaman ada apa?” tanya Naysa pura pura tidak tahu.
“Maaf nona, kami semua diminta untuk menegcek lantai atas...
tuan Gery akan menjaga anda di sini terlebih dahulu..!” jelas pengawal itu.
“Oke oke.. dimengerti..!” Jawab Naysa manggut manggut.
Akhirnya semua pengawal itupun naik ke atas dan melihat
situasi di atas.
Setelah melihat para pengawal itu pergi, Naysa pun memanggil
Gery dan pergi mengendap endap dari kamar tersebut. Merekakenudian berlari ke basement sambil bergandengan tangan tanpa sengaja.
“Ayo pak Boss.. mobilnya mana?” tanya Naysa terburu buru.
“ Itu yang warna silver..!” kata Gery.
Merekapun masuk ke dalam mobil tersebut dan melajukan mobil
dengan kecepatan tinggi.
“Yes yes yes.. berhasil..!” kata Naysa senang sekali.
“Kamu itu Nay, bikin spot jantung saja..! kali ini pasti saya
akan di marahi nyonya boss.!” Kata Gery.
“Tenang... nggak akan...! santai pak boss..!” kata Naysa.
Naysa pun menyalakan lagu dan mendengarkannya sambil membuka
kaca jendela mobil tersebut. Menikmati semilir angin yang menembus kulit
wajahnya. Rasanya sangat menenangkan apalagi diiringi dengan alunan musik yang
menambah kesan bahagia dihatinya.
__ADS_1
Bahagiaku bersamamu
Senang bila dekat denganmu
Kamu mahluk yang aku tuju
Yang lainnya ku tidak mau
Genggam erat tanganku sayang
Dan jangan pernah kau lepaskan
Karena aku butuh bimbingan
Cinta ku jangan kau lewatkan
Bahagia aku bila bersamamu
Tenang hatiku dalam pelukanmu
Tetap denganku hingga kau menua
Hingga memutih rambutmu
Senang hatiku hidup bersamamu
Belahan jiwa jagalah diriku
Karena denganmu damai lah hatiku
Menualah bersamaku
(song by Haico)
Gery pun menghayati lagu tersebut sambil tersenyum memandang
Naysa. Rasa seperti ini sangat sulit untuk di lukiskan. Perasaan bahagia yang
bukan hanya sekedar bahagia.
“Jadi makan batagor Nay?” tanya Gery.
“Jadi dong pak boss...!”jawab Naysa.
Gery pun berbelok ke arah tukang batagor tersebut.
“Pak Boss mau tidak? Kalau mau saya pesenkan sekalian..!” kata Naysa.
“Boleh deh... satu..!” kata Gery.
“Ya iyalah satu... emang mau berapa porsi pak bos?” tanya Naysa meledek bossnya tersebut.
Naysa pun membuka pintu mobil dan menuju kea rah gobrak yang
terlihat terawat dan bersih itu.
“Bang Batagor dua ya..!” kata Naysa.
“Oke neng...!” kata Abang tukang Batagor itu.
Naysa dan Gery pun duduk saling berhadapan.
“Ini Neng batagornya..!” kata abang batagor tersebut.
“Terimakasih ya bang...!” jawab Naysa.
“Waah... suaminya perhatian sekali neng... mau nganter malem
malem gini istrinya yang nyidam...!” kata abang tukang batagor itu.
“Sudah berapa bulan neng? Trisemester awal ya...! dulu istri
saya mintanya malah macem macem neng...! yang paling tidak masuk akal itu minta
mangga yang baru metik dari pohon mangga yang di halaman rumahnya... padahal
rumahnya itu harus menempuh 6 jam perjalanan dari sini..! benar benar menguras
emosi..!” cerita Abang tukang batagor tersebut.
“Semoga dedek bayinya nggak kayak gitu ya Neng....!!” lanjut abang itu.
Naysa dan Gery saling berpandangan. Mereka tersentak kaget
dengan omongan abang tukang Batagor itu.
“Apa mungkin... Naysa hamil...! tapi waktu itu bukannya aku
hanya sekali melakukannya..!” Batin Gery yang sekarang sudah tidak menginginkan
Batagor di depannya. Perutnya mendadak kenyang. Pikirannya kemana mana.
Sementara Naysa pun berpikiran yang sama.
“Apa mungkin... ah.. tidak tidak..! ini kan hanya
keinginannku saja kan karena lapar..!” batin Naysa.
“Tidak..! dia itu kekasih kak Nayaka..! ingat itu Nay..!”
__ADS_1
Batin Naysa menguatkan hatinya.