Elegi Hati Si Cewek Jutek

Elegi Hati Si Cewek Jutek
Gossip di Rumah Sakit...


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, mereka semua menuju ke kamar


masing masing. Hisyammerebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Sambil menatap langit


langit kamar Ia pun teringat dengan gadis cilik yang ia tenui tadi.


“Kasihan anak itu..! memangnya ayahnya kemana...? sepertinya


dia benar benar rindu kepada ayahnya itu..” batin Hisyam.


Hisyam pun mulai memejamkan matanya. Lelah sekali rasanya hari


ini.dan kemudian ia pun terlelap tidur.


Drrt drrrt drtt


Suara ponsel Hisyam berdering. Baru sebentar ia memejamkan


mata namun sudah ada panggilan dari rumah sakit.


“halo...” kata Hisyam menyandarkan tubuhnya ke dinidiing


kamarnya.


“Dok...! pasien yang anda tangani tadi mendadak kejang


dok...! dokter lainnya sedang ada operasi dan tugas lain Jadi kami kehabisan


dokter disini..!” kata perawat tersebut.


“Baiklah, saya akan segera ke sana...” kata dokter Hisyam


mengakhiri panggilannya.


Ia pun beranjak dari tidurnya, ke kamar mandi untuk membasuh


mukanya kemudian mengambil kunci yang ada di meja melangkah keluardari kamarnya.


“Mau kemana Syam...? “ tanya mamah Andita yang keluar untuk


mengambil air minum.


“Ada panggilan Mah dari rumah sakit...” jawab Hisyam.


“malam malam begini?” tanya mamah Andita lagi.


“Iya mah...! hisyam pergi dulu....” ucap Hisyam meraih


tangan mamahnya untuk pamit.


“Hati hati...!” kata mamah Andita.


Hisyam pun segera menyalakan mobilnya di garasi dan melaju


pergi ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Hisyam segera ke ruangannya


mengambil perlengkapan dan memakai jas kebesarannya itu. Kemudian ia segera


berlari menuju ke kamar Ghufran.


“Gimana kondisinya..?” kata Dokter Hisyam.


“Tadi sempat kejang dok...!” kata perawat tersebut.


Dokter Hisyam mengecek kondisi anak itu, anak itu terlihat


lemah dan pucat.


“Gimana dok keadaan anak saya...!” tanya Sheena khawatir.


“Tidak apa apa... semua nya normal...! akan saya ambil


sampel darahnya lagi...!” jawab dokter Hisyam.


Tiba tiba mata Ghufran terbuka pelan.


“Pi...!” ucapnya lemah.


Semua orang di kamar tersebut pun tercengang.


Dokter Hisyam pun tersenyum.


“Sudah bangun...?” tanya dokter Hisyam.


anak itu mengangguk.


“Pa-pi...pu-lang...” lanjutnya dengan nada yang teramat


lemah.


“Iya... makanya Kamu harus segera sembuh ya...! Afran anak


yang kuat kan...” kata Dokter Hisyam lembut mengusap kepala anak itu.


Anak itu pun kemabali mengangukkan kepalanya pelan.


“Sekarang tidur lagi... istirahat ya...! besok biar bisa


pulang...” tambah Dokter Hisyam.


Anak itu kemudian memejamkan matanya menuruti kata kata


dokter hisyam.


“ Apa benar anak saya tidak apa apa dok?” tanya Sheena.


“Menurut dugaan awal saya memang ada masalah dengan


pencernaanya... apa tadi ia makan sesuatu atau minum sesuatu dari luar?”Tanya


dokter Hisyam.


“Tadi minum Jus buah yang di beli Ara... tapi hanya


sedikit..!” jawab Sheena.


“Kalau anda ingin anak anda sehat, lebih perhatikan lagi


pola makannya...! karena lambungnya sangat sensitive... itu kalau anda memang


punya niat agar anak anda sembuh..!” kata dokter Hisyam menyakitkan hati


Sheena.


“Saya sedang tidak ingin bertengkar atau apapun...! jadi


Tuan Dokter yang terhormat terimaksih atas nasehatnya tadi, akan saya ingat dalam

__ADS_1


pikiran dan hati saya kata kata anda yang setajam belati itu!” umpat Sheena.


Dokter Hisyam pun melangkah pergi keluar dari ruang


tersebut. Belum sempat Ia membuka pintu ruang rawat tersebut tiba tiba tangisan


Ghufran terdengar terisak.


“Pi... pa-pi...” ucapnya lirih seraya melihat ke arah Dokter


Hisyam.


Dokter Hisyam melihat kea rah Ara.  Anak itu memandang dokter Hisyam  dengan wajah yang penuh Harap agar dokter Hisyam mau menemani adiknya terlebih dahulu. Pandangan mata Ara membuat dokter Hisyam kalah dalam menolak permintaan hati anak itu walaupun tanpa ada kata terucap di mulutnya.


“Sebenarnya... apa yang terjadi dengan keluarga ini..! mereka


kelihatan memiliki semuanya namun batin mereka sangat kosong...!” batin Dokter


Hisyam.


“Dok... sepertinya anak itu...” belum sempat perawat


tersebut melanjutkan ucapannya sudah lebih dahulu di potong oleh Dokter Hisyam.


“Sebaiknya suster pergi dahulu... biar saya disini


sebentar...!” perintah dokter Hisyam.


Perawat itu pun meninggalkan dokter Hisyam.


Ia pun mendesah pelan.  Dokter Hisyam kemudian berbalik dan melepaskan jas dokter kebanggannya


itu.  Di taruhnya jas tersebut di tepi


ranjang. Kemudian Ia pun duduk di kursi dekat ranjang pesakitan itu. Di usapnya


kepala anak itu dan dicium tangannya.


“Tenang saja Nak... tidur lagi... papi temani Afran di


sini...!” kata Dokter Hisyam lembut.


Seakan akan tersihir dengan omongan tersebut, Ghufran pun


tertidur kembali. Ada airmata di sudut matanya. Menandakan rasa rindu yang


teramat kepada sosok yang di panggilnya papi.


“Kalian tidurlah...! biar saya yang menjaga Afran...!” kata


Dokter Hisyam.


“Tapi anda...” ucap Sheena terpotong.


“Tolong jangan berdebat... anda juga butuh istirahatr begitu


juga dengan saya...!” kata Dokter Hisyam.


Sheena pun tak lagi membalas perkatan dokter Hisyam, ia


kemudian merebahkan dirinya di sofa begitu  juga Ara. Mereka pun terlelap tidur karena


kelelahan. Dokter Hisyam yang masih terjaga memandangi keluarga tersebut.


“Apa ayah mereka meninggal atau pergi?” batin Dokter  Hisyam.


“Dim... tolong bantu saya bawakan dua selimut di ruangan


saya...! bawa ke ruang Dahlia no.2 ya...!” kata Dokter Hisyam.


“Baik Pak dokter..!” kata Dimas.


Dokter Hisyam kemudian menunggu di luar, karena takut akan


menganggu mereka bertiga kalau mendengar ketukan suara pintu.


“Dokter... ini selimutnya...!” kata Dimas.


“Terimakasih ya Dim...!”


“Sama sama pak dokter...!” kata Dimas. Dimas pun berbalik


meninggalkan dokter Hisyam.


“Tumben dokter Hisyam perhatian sekali sama pasiennya...!”


batin Dimas.


Dokter Hisyam pun melangkah ke ruangan dan menyelimutkan


selimut tadi ke tubuh Sheena dan Ara.


Dipandanginya kedua wanita itu, ada desiran aneh di hatinya


namun segera ia tepis. Ia pun mengarahkan pandangannya ke ranjang Ghufran. Dilihatnya


Ghufran terbangun lagi.


“Ada apa nak...! ada yang sakit..?” tanya Dokter Hisyam.


“dok-ter, Apa dokter beneran papi Afran?” tanya Ghufran


kepada dokter Hisyam.


“Kalau menurut hatinya Afran, gimana?” tanya Dokter hisyam.


“Hmmm...” anak itu nampak berpikir.


“Boleh tidak Dokter jadi papinya Afran..? biar Kak Ara dan


bunda nggak sedih lagi...!” kata Afran.


“Kalau Afran mau... boleh kok...!” kata dokter Hisyam.


“Apa boleh Afran panggil Papi..?” tanyanya mulai terlihat


lemah lagi.


“Boleh...! asal Afran harus sembuh...! nanti Papi dokter


ajak jalan jalan Afran...!” ucap dokter Hisyam.


“Janji..?” tanya Afran.


“Iya janji...!” jawab Dokter Hisyam mengaitkan jari


kelingking mereka. Kemudian Ghufan pun tertidur kembali diikuti oleh dokter


Hisyam yang juga terlelap di sebelah Ghufran.

__ADS_1


Keesokan paginya, Sheena terbangun lebih dahulu.  Dilihatnya selimut yang menutupi tubuhnya dan


juga Ara. Sedangkan Ia melihat ke arah Ghufran, ternyata dokter Hisyam masih


tertidur di sebelah anaknya itu.


“Dokter itu ternyata masih menunggu Ghufran...!” gumam


Sheena.


Ia pun melangkahkan kakinya menuju ranjang Ghufran sambil


membawa selimut. Di selimutkannya selimut tersebut kepada dokter Hisyam.


“Sebaiknya aku akan membeli sarapan di bawah..!” Gumam


Sheena.


Ia pun menuju kelantai bawah untuk membeli makanan di kantin


rumah sakit tersebut.


Sepanjang perjalanan, ia merasa aneh karena setiap perawat dan


dokter menghormatinya dan berbisik bisik aneh.


“Ini ada apa ya... kok jadi aneh gini sikap orang orang..!”


batin Sheena.


Ia pun terus berjalan menuju kantin. Setibanya di kantin,


Sheena memesan beberapa makanan dan minuman.


“ini Nyonya...!” kata Pegawai tersebut.


“ Berapa mbak semuanya...!” Tanya Sheena.


Mbak pegawai tersebut pun bingung menjawabnya. Ia bahkan


melihat ke arah partnernya yang lain.


“Berapa mbak..?” tanya Sheena lagi.


“Eh, i-tu... gratis nyonya...!” kata mbak pegawai tersebut.


“Mbak... masak ini gratis ...! mbaknya jangan bercanda ah..!


ini uangnya... ambil saja kembaliannya...!” kata Sheena.


“Nyonya...! nyonya...! maaf nyonya...! jangan pecat saya...!


saya masih punya keluarga..!”kata karyawan tersebut menyusul Sheena.


“Eh, siapa yang mau memecat mbak... “ tanya Sheena bingung.


“Iya nyonya jangan pecat dia nyonya... dia orang baru...


belum tahu kalau anda adalah istri dari dokter Hisyam pemilik Medical Wicaknata..!”


kata pegawai yang satunya.


“Astaga...!!! jadi ini  yang menjadikan semua orang menatap aneh ke dirinya tadi..! luar


biasa...! dari mana mereka dapat gossip seperti itu..!” sial...!!” batin Sheena


kesal.


“Nggak mbak..! nggak akan di pecat..! permisi ...!” kata Sheena


kemudian berlalu pergi menuju ke kamar Ghufran.


Dibukanya kamar tersebut dengan penuh emosi. Dilihatnya


Dokter Hisyam sedang bercanda dengan Ghufran di ranjangnya. Sheena meletakkan


makanan dan minuman tadi di atas meja.


“Maaf dok..! bisa bicara sebentar..?” kata Sheena.


Dokter Hisyam hanya menaikkan satu alisnya. Penasaran dengan


wanita satu ini.


“Iya.. baiklah..!” kata Dokter Hisyam.


“Sebentar ya...!” pamit Dokter Hisyam ke Ghufran.


Mereka pun menuju balkon ruang rawat inap tersebut kemudian


menutup pintu rapat.


“Ada apa..!” tanya Dokter Hisyam.


“Anda tahu apa yang terjadi di luar?” kata Sheena menahan


emosi.


“Apa..? saya belum keluar sama sekali..!” jawab Dokter


Hisyam.


“Ck..!! Mereka mengira saya ini adalah istrinya dokter


Hisyam..!! gila aja...! bagaimana bisa rumor cepat menyebar seperti itu..!”


umpat Sheena.


“Maksudmu aku yang menyebarkan...!!” balas Dokter Hisyam tak


kalah sengit.


“Dengar ya nyonya...! justru saya yang di rugikan..! kenapa?


Malam malam saya datang ke sini mau istirahat saja nggak bisa masih harus jaga


Afran dan di rumorkan dengan anda..! ckk..! di kira saya ini lelaki simpanan..!


memperistri bini orang..!”kata Dokter Hisyam tegas.


“Kau..!”ucap Sheena tercekat di tenggorokannya.


“Nyonya..! tolong jangan selalu menghadapi sesuatu dengan


emosi..! pikir dengan otak yang jernih..!” Lanjut dokter Hisyam.


“Hei..! kalau dengan anda otak dan pikiran saya sangat sangat


tidak bisa jernih..!” balas Sheena.

__ADS_1


__ADS_2