
Para perawat pun membawa tubuh Gery ke ruang pemeriksaan.
Dokter Annisa memeriksa keadaan Gery dan memastikan ia mendapat perawatan yang
terbaik.
“Laki laki ini... tampan sekali...!” batin dokter Annisa.
“Arrrgh..! apa apaan aku ini...!” lanjutnya.
Ia pun segera memantau kondisi Gery yang masih tidak sadarkan diri itu. degup jantungnya berdetak sangat cepat melihat wajah yang sangat sempurna menurut dokter Annisa walaupun wajah tersebut penuh dengan luka lebam.
“Apa ada tanda tanda yang buruk dari tubuh pasien?” tanya Dokter Annisa.
“Tidak ada, Dok... semuanya normal..!” kata perawat yang mendampinginya.
“Baiklah dok... say permisi sebentar untuk mengambil obat
obatan yang di perlukan...!” kata perawat itu lagi.
Dokter Annisa hanya diam tidak menjawab. Setelah kepergian perawat tersebut, ia menatap intens seluruh tubuh Gery. Mulai dari wajah, bibir dan tubuhnya yang kekar dan tegap itu.
“Kamu laki laki yang sempurna...! walaupun banyak luka di tubuhmu...! namun tidak mengurangi ketampananmu...!” ucap dokter Annisa.
Ia mulai menyentuh wajah dan bibir Gery.
“Wajah yang bagus... Bibir yang memabukkan dan sepertinya...
aku benar benar menginginkanmu..!” kata Dokter Annisa.
"Kamu harus menjadi milikku...!” lanjutanya lagi.
Ia pun dengan berani mengecup bibir laki laki yang tidak
sadarkan diri itu.
“Kau tahu hei pria...! ada banyak orang yang menginginkanku
di rumah sakit saat ini...! namun aku hanya memilihmu...! dan aku tidak
mengijinkan kamu menolakku...! mengerti...!” gumam wanita itu. Ia pun asyik
menikmati wajah dan tubuh itu.
ceklek
Suara pintu kamar ruang tersebut terbuka. Seorang perawat
masuk dengan membawakan berapa obat obatan.
“Dok.. nanti siapa yang bertanggung jawab mengenai biaya
perawatannya..?” kata perawat tersebut.
“Orang ini tidak mempunyai wali... yang menemukannya pun
hanya membawanya kesini tidak memberikan info yang jelas..!” Tambah perawat itu.
“Bebankan ke tanggunganku sus..! Aku yang bertanggung jawab
atas diri pasien ini..!” kata Dokter Annisa.
“Anda yakin dok..? kita bahkan tidak tahu dia ini laki laki
yang baik atau jahat...!” kata perawat itu.
“Saya yakin dia bukan orang jahat...!” balas Dokter Annisa.
“Tapi dok...!” belum sempat perawat itu meneruskan kata
katanya sudah di balas dengan perkataan dokter Annisa yang tegas.
“Semua saya yang akan menangunggungnya..! jadi suster tidak
perlu khawatir...!” ucap Dokter Annisa.
“Anda memang baik Dok...! terlalu baik malahan...!” ucap Perawat
tersebut.
“Baiklah nanati saya akan urus semuanya..!” kata perawat itu
dan kemudian beranjak pergi
“Owh iya Sus... kosongkan jadwalku hari ini...! minta dokter
Rendra yang dinas hari ini...!” kata Dokter Annisa.
“baik Dok...!” jawab Suster tersebut.
Setelah kepergian Suster tersebut, Annisa mengunci
pintu ruang kamar tersebut. Ia melihat baskom air hangat yang di bawakan oleh
suster tadi. Di ambilnya baskom air hangat tersebut dan gejolak untuk melihat
tubuh Gery pun muncul.
“Aku akan membersihkan tubuhmu dulu ya... pria gantengku..!”
kata dokter Annisa.
Di bukanya baju kemeja Gery perlahan lahan dan akhirnya ia
bisa melihat tubuh yang berotot itu. Diambilnya kain washlap dan di
bersihkannya tubuh Gery dengan kain tersebut. Dokter Annisa sangat menikmati
perannya seperti itu.
“Ku harap kamu akan menjadi suamiku... dan aku akan
memanjakanmu selalu seperti ini...!”
“Aku bahkan rela meninggalkan pekerjaan ku agar kamu terurus
dengan layak...!”kata Dokter Annisa.
“Tubuhnya sangat kekar.. lihat tangan mu ini... pasti berada
di pelukanmu sanagt menenangkan...!” lanjut Dokter Annisa.
Dokter Annisa menjadi tidak menentu pikirannya. Ia benar
benar tergila gila dengan sosok Gery.
Setelah selesai, ia merapikan kemejanya kembali. Ada rasa ingin segera mengganti kemeja yang lusuh itu ke yang baru. Tapi ai tidak punya gantinya. Ia pun menurungkan niatnya.
“Nanti akan ku belikan untukmu kemeja yang pas buatmu..!”
kata Dokter Annisa sambil tersenyum.
Setelah semua membaik, Gery pun di pindahkan ke kamar
pasien. Gery yang sudah lama pingsan pun mulai tersadar. Ia membuka matanya
perlahan lahan dan mendapati dirinya berada di ruang perawatan itu.
“Dimana aku..” batin Gery mencoba menggerakkan tubuhnya.
“Kamu sudah sadar ..?” kata wanita cantik yang ada di
sebelahnya.
Gery mencoba duduk sambil memegangi kepalanya yang terasa
sakit. Dokter Annisa pun dengan sigap membantu Gery untuk duduk di ranjang
tersebut.
“Dimana Aku..?” tanya Gery.
“Tenang dulu... kamu ada di rumah sakit..kemarin kamu terkapar di jalanan dan tidak ada tanda pengenal apapun..!” kata wanita itu lagi.
“Apa anda seorang dokter?” kata Gery memperhatikan
penampilan wanita tersebut.
“Menurutmu?” kata Wanita tersebut.
“Panggil saja Annisa..kalau kamu?” Tanya Annisa.
“Gery..! Panggil saja Gery..!” Jawab Gery.
“Wah mirip temennya sponegbob..hhehhehe..!” kata Wanita itu.
Tidak ada tanggapan dari Gery.
"Orang ini sangat kaku dan datar...! tapi aku suka..!" menarik...!" batin Dokter Annisa
“Sudah berapa lama aku disini..!” kata Gery.
“Baru sehari... ada apa? Ada yang mau kamu hubungi..?” tanya
wanita itu.
“Boleh pinjam ponselnya..?” kata Gery kepada wanita itu.
“Iya... sebentar... nanti saya ambilkan...! ponsel saya
ketinggalan di ruangan saya."
“Ada hal lain yang kamu butuhkan?’ kata dokter Annisa.
“Sementara saya hanya butuh ponsel..!” kata Gery.
“Baik ... Baik... tunggu sebetar saya ambilkan...!” kata
Dokter Annisa.
Dokter Annisa pun berjalan ke luar dan menuju ke ruangnanya. Ia
mengambil ponselnya dan mulai ekmbali ke ruangan Gery.
Ceklek
“Ini... ponselnya... siapa yang mau kamu hubungi?” Tanya dokter
Annisa.
“Teman saya...!” kata Gery.
“Tanganmu akan susah di gerakkan.. biar aku saja yang
menghubunginya.. kau tinggal sebutkan nomornya..!” kata Annisa.
“Baiklah..!” jawab Gery.
Gery pun menyebutkan nomor Naysa dan dokter Annisa pun menghubunginya.
Drrt drrt drrt
“Halo..!” kata Naysa.
“Nay... ini Gery..” kata Gery lirih.
“Pak Boss...! pak boss Kemana aja bikin orang khawatir..!” Cerosos Naysa
"Siapa perempuan yang di telponnya..." batin Dokter Annisa
__ADS_1
“Aduh..!”kata Gery mengaduh ketika tangannya tersentuh oleh
Annisa.
“Apa sakit?” kata dokter Annisa.
“Lumayan...!” jawab Gery
Sementara yang berada di sambungan telpon sudah sangat emosi
mendengar suara perempuan dari seberang sana.
“halo Pak Boss..! anda menghubungi saya ada perlu apa?”
tanya Naysa kesal.
“Eh, i-tu Nay..! bisa sampaikan ke tuan Adhi saya baik baik
saja...” kata Gery.
“Kalau saya tekan seperti ini... Apa sakit?”
tanya Dokter Annisa ketika sambungan telpon masih menyala.
“Nggak papa...!” Kata Gery.
“Apa anda sudah selesai? Tangan saya pegal sekali...!” kata
Dokter Annisa.
“Pak Bos..! memangnya pak boss ada dimana..!” tanya Naysa
sedikit curiga.
“Nanti saya akan kirimkan lokasinya..!” kata Gery kemudian
menutup telponnya.
“Maaf... kalau saya merepotkan..!” kata Gery.
“Jangan terlalu formal...! panggil saja Annisa dan saya
akan panggil anda dengan Gery saja...!” kata dokter Annisa.
“Eh i-ya..!” kata Gery.
“Baiklah... Sini aku perbankan bahumu yang luka itu..! tadi belum sempat di
perban...!” lanjut Dokter Annisa.
“Tidak usah dokter...!” kata Gery merasa canggung kalau
harus bertelanjang dada di depan wanita itu.
“Tidak perlu malu...! aku sudah biasa mengobati pasien..!
jangan berpikiran yang macam macam...!” kata dokter Annisa.
“Eh iya dokter..!” kata Gery gugup karena sejujurnyaia tidak
pernah sedekat ini dengna perempuan keculai Nyasa.
“Jangan panggil dokter..! panggil Nisa saja lebih akrab...!”
kata dokter Annisa.
“Ba-iklah..!” kata Gery.
Dokter Annisa pun membuka baju Gery dan memulai memperban
luka bahunya. Dokter tersebut sangat telaten dalam mengobati Gery.
Sementara itu, Naysa segera mengirimkan lokasi Gery kepada
Sheena dan Adhi. Sheena pun menghubungi
Naysa segera setelah mendapat pesan tersebut.
“Halo Nay... itu informasi bisa di percaya kan?” kata
Sheena.
“Bisa Nay...! Gery sendiri yang menririmkan alamatnya..!
tadi dia sempat telpon...” kata Naysa.
“Soalnya lokasi sangat jauh dari tempat ini.. gue takutnya
hanya jebakan batmen..hehehe..!” kata Sheena.
“Baiklah... terimakasih... aku kan segera kesana bersama mas
Adhi..!” lanjut Sheena.
“Na... aku boleh ikut...!” tanya Naysa.
“Kamu kan belum pulih Nay... nggak usah ikut..!” jawab
Sheena ketus.
“Ayolah Na... aku suntuk disini...! kelihatannya tempatnya
juga adem.. Bagus untuk refreshing..!” kata Naysa.
“ Nggak ya nggak Nay..! jangan membantah...!” lanjut Sheena.
“Ayolah Na... sekali ini saja...! Aku janji nggak akan aneh
aneh..!” kata Sheena.
“Ayolah Na..! boleh ya...! boleh ya...!”bujuk Naysa.
“Ya baiklah...! tapi kamu harus hati hati..! mengerti?” kata
Sheena.
Akhirnya Adhi dan Sheena juga Naysa pun menyusul Gery. Selama perjalanan mereka bertiga bertanya
tanya dalam pikiran mereka masing masing, apa yang sebenarnya yang terjadi dengan Gery.
“Apa Gery memberitahumu alasan dia berada di sana Nay?”
tanya Gery.
“Tidak Mas ...! dia hanya meminta mengabari mas adhi lokasi
posisinya saat ini..!” kata Naysa.
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan Gery..!” gumam Sheena.
“Kita hanya bisa pastikan kalau kita sudah bertemu dengan
Gery..!” kata Adhi.
Adhipun menambah kecepatannya agar segera sampai ke Rumah
sakit yang di tuju.
Sesampainya di rumah Sakit, mereka pun segera turun dan menuju
ke kamar perawatan yang telah dikirimkan oleh Gery.
“Ger..!” kata Adhi tergesa gesa dan membuka ruang perawatan
itu.
Gery dan dokter Annisa pun terkejut. Posisi mereka saat ini
terlihat intim karena dokter Annisa sedang membalut luka Gery di punggung dan
Gery pun bertelanjang dada saat ini karena kemejanya harus dilepaskan.
“Tuan Adhi..!” kata Gery.
“Eh.. lah iya... kita paniknya minta ampun... malah kamu
enak enakan di sini Ger..!” kata Adhi sinis.
“I-tu Tuan... dia dokter Annisa... !” kata Gery.
“Dia yang merawat saya di sini..!” kata Gery canggung karena
ia melihat Naysa juga ikut serta.
“Halo...!perkenalkan saya dokter Annisa..!” kata dokter
Annisa.
“oh iya, saya Adhi, dan ini Istri saya, Sheena dan ini
sahabtnya Naysa..!” kata Adhi.
“Hai..! salam kenal...!” kata Dokter Annisa berbasa basi.
Naysa yang melihat itu pun ada rasa tidak suka di hatinya.
“Dokter ini kenapa seperti kegatelan sih sama Pak Boss..!
menyebalkan...!” batin Naysa.
“Sudah selesai..! hati hati jangan banyak gerak..!” perintah
dokter Annisa.
“Kalau begitu, aku keluar dulu... jangan banyak gerak...
nanti lukanya terbuka lagi..!” kata Dokter Annisa.
“Baiklah... terimakasih...!” kata Gery.
“Never mind..!” kata dokter Annisa.
“Kalau begitu aku pamit dulu..! Nanti saya ke sini lagi
membawakan obat obat yang harus diminum Gery...” Ucap Dokter Annisa.
Dokter cantik itupun berlalu keluar ke ruangan Gery.
“Ciee... Gery... waah ini mah namanya musibah membawa
berkah..!” goda Sheena.
“Iya betull Na..!” kata Adhi.
“Panggilnya aja mesra gitu...! udah move on kayaknya si
gunung es yang satu ini...!” sindir Sheena.
“Nyonya bisa saja..! dia tadi hanya mengobati luka saya yang
tiba tiba masih kerasa sakit... makanya ia putuskan untuk memperbannya...!”
elak Gery.
Ada Rasa khawatir kalau Naysa salah paham dan akhirnya mereka akan
saling menjauh.
Sheena dan Adhi pun tertawa melihat Gery yang salah tingkah. Sedang Naysa hanya tertawa kecut melihat
__ADS_1
itu semua.
“O iya, sipa yang mencelakaimu sampai seperti ini..!” tanya Adhi.
“Apa ada hubungannya dengan orang orangnya Chandra..!” lanjutnya.
“Kurasa tidak tuan..! mereka hanya preman biasa..!” jawab Gery.
“Kamu tahu siapa pelakunya..?” kata Adhi.
“Sepertinya...! biar aku urus ..! ini urusan pribadi saya
Tuan..!” kata Gery.
“Baiklah kalau begitu..!” balas Adhi.
“Kalau kamu butuh batuan katakana saja..!” ucap Adhi.
“Oh iya.. aku akan beli makanan di sekitar sini... kami
belum makan sama sekali... ! karena mencemaskanmu..!” kata Adhi.
“Nay..! kamu disini saja.. kamu kan juga habis sakit..!”
kata Sheena.
“Baiklah..!” jawab Naysa.
“Kamunya sih.. bandel..! dibilangin nggak usah ikut..malah
mau ikut..!” kata Sheena.
“hehehe..!” jawab Naysa terkekeh.
“Aku kan capek Na... tiduran terus...!” elak Sheena.
“Ya sudah... kamu disini saja...! aku dan mas Adhi akan
keluar..! oke?” ucap Sheena.
“ Siaapp Bu boss..!” kata Naysa.
Adhi dan Sheena pun melangkah pergi keluar ruangan tersebut.
Setelah itu, rasa cnggung pun menghampiri Naysa dan Gery.
“Pak Boss nggak papa?” tanya Naysa.
“Nggak apa apa... hanya luka sedikit..!” kata Gery.
“Tapi kelihatannya Sakit..!” kata Naysa.
“nggak papa Nay... Kamu gimana keadaanmu..? sudah baikan..!
seharusnya kamu nggak ikut ke sini kalau masih sakit...” kata Gery lembut.
“Lumayan sudah baikan... dari pada di kasur terus juga nggak
enak pak Boss..!” kata Naysa.
tok tok tok
“Maaf mengganggu...!” kata Dokter Annisa.
“Ini Obatnya Ger.. diminum dulu..!” kata Dokter Annisa.
“Oh iya..!” jawab Gery.
Dokter annisa pun memberikan obat tersebut dan meminta Gery
untuk meminum obat tersebut.
“Kamu harus banyak istirahat Ger.. sepertinya lukamu
cukup parah..!” kata Dokter Annisa.
“Sebentar dok... apa anda nggak punya jadwal ke pasien
lain..?” tanya Naysa.
“Sepertinya.. anda sangat perhatian sama boss saya ini...!”
kata Naysa kesal.
“Eh.. anak kecil..! kelihatannya kamu sedang sakit...
wajahmu sangat pucat..! mau aku periksa?” kata Dokter Annisa.
“Ish... aku bukan anak kecil tahu..!” gerutu Naysa.
“Sudahlah Dokter... Dia akan marah kalau di goda seperti
itu..!” kata Gery melirik kea rah Naysa dengan tersenyum
“Sini Nay... duduk di sebelah sini..!” kata Gery menepuk
ranjang itu.
Naysa hanya menurut saja sambil mencebikkan mulutnya berkomat kamit.
“ Terimakasih ya Dok... !” kata Gery mengeratkan rangkulannya
ke pinggul Naysa.
“Eits...! kalian..?” kata Dokter Annisa.
“Aku benar benar heran sama tuan Gery ini.. sukanya sama cabe
cabean..!” kata Dokter Annisa terkekeh.
“hei..! aku bukan cabe cabean..!” ucap Naysa kesal.
“Lihatlah Ger... cabe cabeanmu itu sepertinya sedang
kesal..!” ledek Dokter Annisa.
“Sudahlah... Dok...! saya baik baik saja... anda bisa urus
orang lain...! saya sudah ada yang mengurus..!” kata Gery melirik ke arah Naysa.
“iya... iya... percaya dech...!” seru dokter Annisa
melangkah pergi.
Naysa sangat senang ketika pak bossnya itu mengakui keberadaanya.
Di depan pintu ruang kamar tersebut dokter Annisa
mencengkeram kuat tempat obat untuk Gery tadi.
“Enak saja anak kecil itu... aku yang menyelamatkan Gery...
bisa bisa nya dia yang mendapatkan simpati..!” gerutu dokter Annisa.
“Aku tidak akan kalah dengan anak kecil itu..!” kata dokter
Annisa.
“lihat saja nanti..!” lanjutnya.
Sementara di sebuah Resto di dekat rumah sakit itu, Adhi dan
Sheena sedang menikmati suasana luar kota.
“Mas... sepertinya dokter Annisa cocok dengan Gery..!” kata
Sheena.
“Tapi laki laki dingin itu susah ditaklukkan..!” kata Adhi.
“Ish.. kayak situ nggak... mas adhi sama Gery itu sebelas
dua belas lah..!” Ucap Sheena.
“Masak si Na..!” tanya Adhi.
“iya..! aku aja heran.. kok bisa mas Adhi bisa berpartner dengan
Gery..!” kata Sheena.
“Gery itu ada saat aku masih nol dalam menjalankan
perusahaan papi..!”
“Banyak yang meremehkanku..! dan menganggap aku tidak pecus
dalam mengelola perusahaan..!”
“Namun saat itu sosok Gery muncul sebagai penguat dan
pelindungku..!”
“Entah mengapa ketika kau bersamanya seakan akan semua
masalah menjadi mudah dan selalu ada jalan keluar..!”
“Karena itu, dulu aku sangat bergantung padanya... hingga
suatu hari.. ia tiba tiba berkata agar aku juga bisa mengandalkan kemampuanku
sendiri..!”
“bshksn ia berkata jangan terlalu bergantung kepadanya..! dan untuk membuat
aku percaya diri ia meninggalkan Negara ini...!”
“Awalnya sangat susah aku bisa berdiri sendiri diatas kakiku
sendiri..! tanpa embel embel nama belakang papi..! namun akhirnya setelah
perjuangan yang tidak mudah aku berhasil dan saat itulah ia kembali ke Negara
ini dan tetap ingin menjadi assistenku..!
“Padahal papi sudah memberikannya sebuah perusahaan untuk ia
kelola namun ia menolak dan ingin tetap bekerja denganku...!” akhir cerita
Adhi.
“Apa Gery sudah tidak mempunyai orang tua?” tanya Sheena.
“Ia yatim piatu dan di angkat anak oleh papi dan mami..!”
kata Adhi.
“tapi aku salut sama Gery.. bisa menghadapi orang keras
kepala kayak mas Adhi..!” kata Sheena meledek.
“Kau Ini Na..!” kata Adhi sambil mengacak ngacak rambut
Sheena.
“mas Adhi ah..! nanti jadi berantakan tahu..!” ucap Sheena
kesal.
“Lagian siapa yang mau di kecengin sih Na..! udah laku gitu..!”
__ADS_1
kata Adhi
“Eh, iya juga sih..!” kata Sheena terkekeh.