
Sheena merasakan beban yang sangat berat di pundaknya. Ia hampir saja terjatuh kalau saja Adhi tidak cepat tanggap menangkap tubuhnya. Sheena yang merasa ada yang menjadi sandaran nya akhirnya melihat ke arah orang yang menangkap tubuhnya itu. Tapi sejurus kemudian ia melepaskan tangan Adhi.
“Aku bisa sendiri..!” kata Sheena.
Adhi hanya menatap Sheena dengan perasaan bersalah. Bagaimana ia dulu bisa meninggalkan gadis yang penuh luka tersebut.
Sheena berjalan menuju tempat tidur Arad an ternyata Ara sudah tertidur dengan Headset yang masih terpasang ditelinganya..
“Syukurlah..”kata Sheena menatap Ara sendu.
Ada kekhawatiran di wajah Sheena kalau yang dikatakan pada Amanda itu benar. Bahwa Ara bukan putri kandung Adhi.
“Tenang ya Nak….apapun yang terjadi…aku pastikan…kau akan tetap bersamaku…samapai kapanpun…” ucap Sheena sendu sambil memegang tangan Ara.
Ia beranjak naik ke ranjang Ara dan merebahkan dirinya. Dipeluknya tubuh Gadis kecil itu. Tanpa sadar Sheena pun akhirnya ikut terlelap.
“Papi sama mami pulang saja…biar Adhi yang jaga disini..!” kata Adhi kepada orang tuanya.
Papi Adhi menghela nafas panjang mengapa maslah ini semakin rumit dan kusut saja.
“Papi akan selidiki apa benar yang dikatakan Sheena…kalau Ara itu..”belum sempat papinya melanjutkan perkataannya, Adhi pun memotongnya.
“Ara adalah anakku…sampai kapanpun tetap akan menjadi anak dari seorang Adhi Dharma..!” tegas Adhi.
“Baiklah…papi hargai keputusanmu…!kali ini jangan sampai kau kehilangan Sheena lagi…!” kata Papi Adhi menggandeng istrinya untuk ikut keluar dari ruangan tersebut.
“Tidak Akan..!” Ucap Adhi tegas.
Ada senyuman bahagia di bibir kedua orang tua itu.
“sudah saatnya kamu bahagia Nak..” batin mami Adhi.
Setelah itu kedua orang tua itu pun pergi meninggalkan ruangan tersebut. Tinggal Adhi kini menatap sendu kedua perempuan yang tengah berbaring di ranjang rumah sakit itu. Adhi pun merebahkan dirinya di I sofa hingga ia pun terlelap tidur.
Drrt drrtt drrrt…
Suara ponsel Adhi membangunkannya. Diambilnya ponsel tersebut dan di lihatnya sudah pukul 6 pagi.
“Ya, ada apa?”Kata Adhi.
“Hari ini ada banyak pengajuan proposal saham yang butuh tanda tangan anda tuan..” kata Gery mengingatkan.
“Baiklah..Jemput aku jam 7 dan jangan lupa bawakan sarapan untuk Sheena…”kata Adhi.
“Baikl tuan..!” jawab Gery
“Tumben Tuan perhatian sama nona Sheena..sepertinya nona Sheena sudah banyak merubah tuan Adhi…syukurlah kalau gitu…tuian Adhi berhak bahagia…”batin Gery.
Tidak selang berapa lama Sheena dan Ara terbangun.
“Eh…anak Bunda udah bangun..??Nyenyak tidurnya?” Tanya Sheena.
“Huum bunda…tapi ini masih sakit..”keluh Ara.
“Sabaar ya…Ara anak hebat kok..iya kan?”kata Sheena sambil bangun dari tempat tidurnya.
“Anak papi udah bangun?”suara Adhi menegejutkan Ara.
Dijawab dengan anggukan kepala.
“Na…nanti Gery datang nganterin sarapan buat kamu…aku mau mandi dulu…gerah..dari kemarin belum mandi…!” ucap Adhi.
“Papi nggak mandi aja tetap wangi…ganteng lagi…iya kan bunda..?”ucap Ara.
__ADS_1
“masak si…”kata Sheena menggoda Ara.
“Dari dulu si Ra…emang papimu ini ganteng kaan…!” ucap Adhi terkekeh.
“Ish…siapa bilang ya…dulu aja nih ya…mas Adhi itu culunnya masyAllah…!” Ucap Sheena sambil tertawa.
“Beneran bunda…?”kata Ara penuh semangat.
“Huum…rambutnya di belah tengah kayak gini…terus nih…kancingnya selalu di kancingkan semua sampai atas kayak gini…terus…celananya sampai ke perut kaya gini…”ucap Sheena tanpa sadar mempraktekkan semuanya itu ke Adhi.
“Taraaaaaaa…” kata Sheena denga bangganya menunjukkan hasil karya nya kepada Ara.
“hahahhhaha…papi Lucu…!”ucap Ara tertawa sambil meringis menahan sakit.
“Apa an si Na..”Adhi kemudian merapikan kembali rambut dan pakaiannya itu.
“Culun culun gini nggak papa dech..asal yang inget kamu…!” kata Adhi mencoba menggoda Sheena.
“Ish…kan biasa mas…yang berbeda itu pasti diperhatikan..!”BantahSheena gugup.
“Pria ini kenapa jadi berubah aneh kayak gini?”batin Sheena.
“Sebentar sejak kapan…kamu tahu aku Adhi yang culun itu…perasaan aku nggak pernah ngasih tahu kamu..”Tanya Adhi mendekati Sheena.
“Eh…ada Ara disini mas…jangan macam macam ya…!”kata Sheena mundur ke belakang.
“Berarti kalau nggak ada Ara boleh macam macam..!” goda Adhi sambil berbisik.
“Dasar kurang kerjaan..!” umpat Sheena sambil memukul perut Adhi dan berlari menghindari Adhi.
“Ish..papi genit ah sama bunda..!” ucap Ara dan sontak saja muka Adhi memerah.
“Ya sudah..papi mandi dulu…!” kata Adhi melangkankan kakinya ke kamar mandi.
“untung dia nggak nanya nanya lagi aku tahu darimana…kalau ketahuan bisa gawat…!” batin Sheena.
Sebenarnya Sheena baru tahu kalau Adhi itu anak yang dulu pernah ditolongnya waktu SMP ketika menukar berkas tadi malam. Secara tidak sengaja ia melihat foto masa kecil Adhi di bingkai foto meja kerjanya yang
terselip di berkas.
“Bukankah Dunia itu sempit..!bagaimana mungkin kakka kelas ku dulu yang pendiam dan culun bisa berubah 360 derajat dan ganteng..!”Batin Sheena menatap ke arah pintu kamar mandi.
“cie cie cie…Bunda naksir ya sama Papi..” goda Ara.
“ini anak…kok ngomongnya gitu…nggak boleh tahu..!” Ucap Sheena sambil menarik pipi chubby anak itu pelan walapun kenyataanya ia tersipu malu.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu mengejutkan Sheena.
“Iya sebentar..” ucap Sheena sambil melangkahkan kakinya kepintu tersebut.
“Pak Gery…!”
“Silahkan Masuk…!”kata sheena mempersilahkan.
“Iya terimakasih nona…ini juga ada pesanan buat nona Sheena dari Tuan Adhi..” jawab Gery.
“Owh…lho kok cuman satu pak?” kata Sheena.
“Itu tuan Adhi biasanya kalau pagi jarang sarapan..!” jawab Gery.
Sheena hanya menaikkan satu alisnya dan mengambil bungkusan tersebut.
__ADS_1
“kalau bapak sudah makan?” Tanya Sheena curiga.
“Sudah non…”Sahut Gery.
Ceklek.
Suara pintu kamar mandi di buka.
“Ger..baju ku...!” Perintah Adhi.
“Ini tuan….!” Kata Gery menyerahkan paper bag coklat yang ada di tangannya.
Adhi pun kembali ke kamar mandi berganti pakaian. Ketika Adhi masih di kamar mandi Sheena berjalan mendekati Gery.
“Maaf Pak…boleh Tanya sesuatu..!”kata Sheena
“coba bapak cek lalu lintas dana yang ada pada Divisi perencanaan program…kemarin saya melihat ada yang aneh dari orang orang divisi tersebut..!” kata Sheena sambil berbisik.
“Tapi tolong jangan kasih tahu mas Adhi kalau aku yang minta menyelidikinya ya pak…please…!” kata Sheena.
Pintu kamar mandi pun terbuka secara reflek Sheena melihat kea arah pintu tersebut diaman Adhi sedang berdiri didepan pintu tersebut..
“Pria itu mau pakai apapun tetap aja cakepnya kebangetan…!mau pakai pakaian lecek mau pakai pakaian yang sudah rapi tetep aja cakep..!’ batin Sheena.
“Na…ngelamunin apa Na…!” Tanya Adhi yang melihat Sheena mengaguminya.
“Eh..ngggak…ini tadi mau ngucapin terimakasih sama Pak Gery..!”elak Sheena sambil berjalan menuju ke arah Ara.
“Sudah siap berangkat Tuan….!” Kata Gery.
“Sebentar..” sahut Adhi yang kemudian mendekati Ara dan mencium kening Ara.
“Hati hati ya pi….nanti ke sini lagi ya…”kata Ara senang papinya sekarang sudah lebih perhatian ke dia.
Kemudian Adhi melihat Sheena yang masih saja sibuk membelakanginya. Adhi hanya tersenyum simpul kemudian mendekap Sheena dari belakang.
“Eh..!”kata Sheena mencoba melepaskan pelukan tersebut.
“Tunggu aku pulang dari kantor ya…”ucap Adhi sambil menaruh wajahnya di pundak Sheena.
Sheena hanya diam saja.
“Ara…ini bunda Ara kan..” kata Adhi tersenyum licik.
“Tentu dong pi…!” ucap Ara bersemangat.
“Berarti nanti kalau Ara sudah baikan…kita bawa bundanya pulang ya..!”kata Adhi sambil mengeratkan pelukannya kepada Sheena.
“Horeee….”ucap Ara senang.
“Eh..ini..!” belum sempat Sheena melanjutkan kata katanya, Adhi segera memberikan kecupan singkat di bibir Sheena dan melepaskan pelukannya.
“Ayo Ger…” Adhipun melangkahkan kakinya keluar ruangan.
Sheena masih menutup mulutnya dengan tangan. Ia sangat kaget dengan perlakuan Adhi yang tiba tiba menciumnya
“pria itu sebenarnya kesambet apa coba..” batin Shena geleng geleng kepalanya.
Sementara Adhi hanya tersenyum simpul.
“Aku akan perlahan lahan menghapus rasa traumamu itu Na…orang orang yang telah menjamahmu…akan kuhilangkan bekas itu…sehingga hanya ada aku yang ada dalam pikiranmu dan perasaanmu…” batin Adhi.
Sedangkan Asistennya hanya bisa ngedumel didalam hati.
__ADS_1
“Tuan Adhi emang nggak berperasaan..masak pagi pagi sudah main nyosor aja…kasihan kan yang jomblo kayak aku ini…!” batin Gery.