Elegi Hati Si Cewek Jutek

Elegi Hati Si Cewek Jutek
Keluarga Dokter Hisyam


__ADS_3

Sesampainya di ruangan dokter Hisyam, Ara pun diminta masuk


ke dalam ruang tersebut.


“Duduk dulu...!” kata dokter Hisyam lembut.


“Tiba tiba Airmata Ara jatuh tak berhenti, mengalir begitu


saja. Ia pun mencoba untuk menahan air mata itu tapi tetap saja jatuh di kedua


pipinya.


Dokter Hisyam yang melihatnya, mengira itu adalah rasa sakit


akibat benturan di kepalanya. Dokter Hisyam menagmbil obat obatan untuk


membalut luka di kepala Ara.


“Apa sakit sekali...? tahan sebentar ya...! mungkin ini agak


terasa perih..!” kata dokter Hisyam.


Dokter Hisyam mulai mengobati Ara yang masih saja mencoba


menahan air matanya. Namun, hatinya menjadi semakin sedih ketika dokter Hisyam


melihat tidak ada ekspresi kesakitan di wajah Ara ketika dia membersihkan luka


dan memberikan obat di kepalanya.


“Anak ini sebenarnya kenapa...?” batin dokter Hisyam.


“Kenapa kamu menangis terus... ini lukanya sudah di


perban... nggak akan infeksi..!” kata Dokter Hisyam menatap anak itu.


Ara yang di pandangi dokter Hisyam seperti itu malah tambah


menangis sesenggukan pasalnya ia kini dapat melihat sorotan mata yang begitu ia


rindukan. Sorotan mata yang sangat ia tunggu selama 5 tahun ini. Tatapan mata


itu semakin membuatnya ingin memeluk sosok yang berada di depannya itu. Ia


butuh sosok yang mampu menopang segala kesedihannya.


“Dok- ter... hiks hiks... bo-leh  A-ra... peluk dok-ter..!” ucap Ara terbata


bata.


Dokter hisyam pun merangkul anak itu dengan sangat erat. Begitupun


Ara membalas pelukan dokter tersebut.


“Papi... Ara kangen papi... papi dimana pi...Ara kangenn...!


Ara sudah jadi kuat...sangat kuat... bisa melindungi diri sendiri... papi...


papi pulang pi...!!” kata Ara lirih dan sesenggukan mengucapkan kata kata


tersebut


Sosok yang begitu tegar dan kuat, menjadi rapuh untuk


sesaat. Ketegaran yang selalu ia tunjukkan kepada semua orang terkalahkan


dengan rasa rindu yang mendalam akan kehadiran sosok seorang papi yang menjadi


sandaran hidupnya. Rasa sesak didada Ara semakin menyiksa batinnya dan membuat


ia kesulitan untuk bernafas.


Mendengar rintihan suara gadis itu, Ada rasa tak menentu di


hatinya. Rasa sedih yang sangat mendalam terlihat dari mata gadis cilik ini.


Sekarang Dokter Hisyam tahu, tangisan itu bukan ditujukan untuk lukanya,tapi


rasa kesedihan yang mendalam yang ia tahan selama ini. Bahkan rasa sakit fisik


yang ia rasakan tidak berarti apa apa bagi gadis cilik ini.


“Penderitaan seperti apa yang dirasakan gadis ini..!” batin


Dokter Hisyam.


Setelah agak tenang, Ara merenggangkan pelukannya dan


mengusap air matanya. Ia menarik nafas panjang.


“Maaf dok..! terimakasih...! boleh Ara minta tolong ke


dokter..?” pinta Ara.


“Ada apa...?” tanay Dokter tersebut.


“Ara mohon jangan pernah katakana apapun pada bunda Ara ya


dok...!” terimaksih sekali lagi..!” kata Ara berdiri dan beranjak hendak pergi.


“Sebentar nak.. nama kamu Ara kan...?” tanya Dokter Hisyam


Ara hanya mengangguk.


“Tunggu sebentar ... om dokter sudah pesankan minuman yang


tadi tumpah...!” kata Dokter Hisyam lembut.


“Tidak usah Dokter..! jangan berpikir kalau kita dekat..!


saya tidak suka ada orang yang mengasihani saya..! terimakasih..!” kata Ara


berlalu pergi.


“Anak itu... keras kepala...! kehidupannya pasti sangat


keras hingga ia berubah menjadi gadis yang benar benar mandiri...!” gumam


Dokter Hisyam.


Tok tok tok


“Masuk..!” kata Dokter hisyam.


“Dokter Hisyam... ini pesanannya...!” kata OB tersebut.


“Bisa antarkan ke ruang Dahlia no. 2 pak...” kata Dokter


Hisyam.


“Oh iya dok..! bisa... permisi kalau begitu..!” kata OB


tersebut.


Drrt drrt drrt


“Halo..! ucap Dokter hisyam.


“Kakaaaaak...!! kakak lupa apa ...! hari ini kan di minta ayah

__ADS_1


jemput aku di bandara..!” suara gadis itu memekakkan telinga.


“Ish..! bisa nggak, kamu nggak usah teriak teriak Em...!”


kata Dokter Hisyam.


“Kakakk....!! pokoknya sekarang cepat jempuuttt...! kalau


nggak kita putus hubungan..!!” Ucap Emily adik Dokter Hisyam satu satunya itu.


“Iya.. Iya...! tunggu sebentar lagi..!” kata Dokter Hisyam


dan menutup panggilan tersebut.


Dokter Hisyampun melepaskan jas kebesarannya itu, dan meraih


jaket kulitnya berlari ke arah mobilnya yang terparkir rapi di jajaran staf


rumah sakit. Ia kemudian melajukan mobilnya menjemput adik kesayangannya itu.


“Kamu dimana... kakak ada di gerbang kanan...!” kata Dokter


Hisyam menghubungi adiknya itu.


“Iya lihat...! kakak maju ke depan sedikit...! aku pakai


baju berwarna Pink...!” kata Emily.


“Okay...!” Jawab dokter Hisyam kemudian menepikan mobilnya


ke arah gadis yang memakai baju berwarna pink tersebut.


“Kak..! lama banget tahu..! kakiku dah kesemutan..!” gerutu


Emily, gadis berusia 23 tahun itu.


“Ini kakak juga udah ngepat ngepot Em...!” jawab Dokter


Hisyam tersenyum manis pada adiknya itu.


Emily pun masuk ke dalam mobil tersebut dan memasang


seatbeltnya.


“Ayah masih dinas atau ada di rumah...?” tanya Emily.


“Sepertinya sudah selesai dinasnya...!” jawab Dokter Hisyam.


“Wah... kak Hisyam harus traktir Emily ya... kan sekarang


sudah jadi Presdir di rumah Sakit Ayah..!” kata Emily.


“Bukan Em... kakak hanya menggantikan ayah sementara saja..!


lagian untuk urusan Bidang kedokteran mas tidak begitu mampu...!” jawab Dokter


Hisyam.


“Ya belajar dong Kak... kan udah lima tahun ini, kakak juga


di bimbing sama rekan rekan ayah yang sangat sangaat kompeten, agar ayah bisa


istirahat di masa tuanya...!” kata Emily.


“Kakak tunggu kamu sampai lulus saja... habis itu kamu yang


menggantikan posisi kakak..!” kata Dokter Hisyam.


“Nggak ah...! Nggak mau...!” jawab Emily.


“Kakak lebih tertarik ke dunia bisnis Em...! kakak aja


keteteran waktu belajar kedkterran di awal awal ketika di Singpura... kalau


agar bisa lulus di kedokteran ya nggak mungkin kakak sampai di sini..!” jelas


Dokter Hisyam.


“Lagian kakak juga punya bisnis restaurant... nggak mungkin


kakak tinggalkan...!”Tambahnya.


“Aku aja yang ngelola bisnis restaurant... kakak yang tetap


di rumah sakit... titik...!” kata Emily kesal.


“Kamu itu lho...!” ucap dokter Hisyam sambil mengacak ngacak


rambut adiknya itu.


Sesampainya di rumah, Emily langsung keluar dari mobil dan


berteriak teriak memangil mamanya.


“mah... mamah..! anak kesayangan mamah ini pulang lhoo...!!!”


teriak Emily memasuki rumah tersebut.


“Hei..! anak ini..! sukanya teriak teriak ..! mamahmu ini


bisa budek tahu...!!” ucap mama Andita.


“Ish..! anak perempuan baru pulang itu di sayang sayang..!


jangan dipukul kayak gini dong Mah..!” gerutu Emily.


“Mana ada sayang sayangan..! kamu aja nggak sayang sama


mamah kok..! ngabari kalau butuh duit saja..!!” ucap Mama Andita sambil memukul


kepala gadis itu.


“Siapa juga yang ngirim Emily belajar ke Singapura...! biaya


hidup mahal boss disana...!” jawab Emily.


“Kamu itu nggak kayak kakakmu itu..!dia aja bisa berhemat dan


tidak menghabiskan uang kayak kamu...!” Ucap Mamah Andita.


“Tuh kak..! di puji teruuss sama mamah tuh... jangan terbang


tinggi ya takut jatuh sakit..!!” Gerutu Emily.


“Nasib anak pungut itu ya seperti ini..!” lanjut Emily.


“Ish...! anak ini...! mulutnya...!” ucap Mamah Andita sambil


menutup mulut Emily.


“Kak... tolong kak..!! mamah kambuh penyakit kanibalnya...!


mau makan Emily ini..!” teriak Emily kepada Hisyam.


“Mah...! sudah ah...! Emily itu baru datang... kasihan kalau


di ajak gelut kayak gitu..!” kata Hisyam.


“Tuh lihat kakakmu... kata katanya aja langsung

__ADS_1


Adem...nyesss...! nggak kayak kamu...! nyolot teruusss..!” gerutu Mamah Andita.


“belaaa teruuussss...!!” kata Emily.


“Em.. Sudah Em..! ayo ke atas ke kamar kamu...!!” kata Hisyam.


“siap Pak Bos...!” jawab Emily.


Emily pun beranjak membawa kopernya ke lantai atas.


“Kamu udah makan Syam...!” tanya Mamah Andita.


“Belum Mah... tadi mau makan malah ada kecelakaan kecil..!”


kata Hisyam.


“Kecelakaan? Kecelakaan apa...?” tanya mamah Andita.


“Itu... Rianti bertengkar sama anak kecil hingga mendorong


anak itu dan akhirnya kepala anak itu membentur meja dan berdarah...!” kata Hisyam.


“Ya ampun...!! wanita bringasan kayak gitu..! untung mamah


tolak jadi menantu...!” kata mamah Andita.


“Kamu kalau cari pasangan hidup itu yang baik ya Syam...!


jangan kayak Rianti...!! mamah nggak rela..!!” kata Mamah Andita


memperingatkan.


Dokter Hisyam hanya tersenyum mendengar kata kata mamah


andita.


“Ya sudah kamu ganti baju... bersih bersih kemudian makan...


jangan telat makan..! nanti sakit..! kan nggak lucu kalau dokter sakit..!” kata


mamah Andita.


“Dokter juga manusia Mah...! ya nggak papa kalau sakit ...!”


jawab Hisyam.


“Iya iya... buat anak gantengnya mamah si nggak papa...!”


ucap Mamah Andita mengarahkan anaknya ke kamar untuk membersihkan diri.


Setelah selesai membersihkan diri, Dokter Hisyam pun hendak


menuju ke ruang makan. Tiba tiba kepalanya mendadak pusing.


“Arrgh...!!!” teriaknya.


“Mamah Andita dan Emily yang mendenagrnya pun langsung


bergegas ke atas.


“Syam...!!” teriak Mamah Andita.


“Kakkak..!” teriak Emily.


Mamah Andita memapah Hisyam ke ranjangnya, sedang Emily mengambilkan


air hangat untuk kakaknya itu.


“Minum dulu Kak...!” kata emily.


Diambilnya air minum tersebut dan diminumnya secara


perlahan.


“Apa penyakitmu masih sering kambuh Nak...?” tanya mamah Andita


berkaca kaca. Ia terlihat sangat sedih melihat kondisi putranya yang lemah.


“Kak... kalau masih sakit... kakak istirahat aja...nggak


usah ke rumah sakit... papa itu kaya kok... nggak bakal habis uangnya...!” Ucap


Emily terisak dan menetskan airmatanya.


“Mah...Hisyam nggak papa...! hanya mungkin tadi agak


kecapean sedikit..! jadi fertigo Hisyam kambuh...!” kata hisyam.


Ia sering merasa aneh dengan keluarganya sendiri, ketika sakit


kepalanya kambuh, pasti keluarganya itu akan terlihat sangat panik dan sedih.


“Siapa sih kak... yang buat kakak capek...?! biar Emily


kasih pelajaran orang orang itu...!” kata Emily.


“Berani beraninya menindas kakak ku yang paling ganteng


sedunia...!” Ucap Emily sambil mengusap airmatanya.


Hisyam pun hanya tersenyum.


“Ayo makan...! kakak sudah sehat..!laper...!” kata Hisyam.


Dijawabi dengan anggukan oleh kedua wanita berbeda usia itu.


Mereka pun menuju ruang makan.


“Waah... waah...! makan nggak ngajak ngajak ayah ya...!”


kata Ayah Haidar yang datang dari arah depan.


“Ayah...! biasanya juga pulangnya malam...! ini kok


tumben...” kata mamah Andita.


“Kan ada anak perempuan kesayangannya mah...!!” ucap Emily


mengedip ngedipkan matanya ke arah ayahnya.


“Dasar anak ini...! kamu itu kapan manjanya hilang...! ingat


cari pasangan...!” kata mamah Andita.


“Nggak mau...! kakak dulu yang cari pasangan... udah tua


gitu...!” cibir Emily.


“Atau kalau nggak jodohin lah, sama anak temen ayah... kan


banyak tuuh..! biar kutub Utara ini bisa mencair...!” kata Emily.


“Emily...!” kata Pak Haidar tegas.


“bercanda yah...! iya kan kak...!” ucap Emily sambil


menyenderkan bahunya ke kakak tercintanya itu.


“O iya Syam..! gimana tadi di rumah sakit..?” tanya pak Haidar,

__ADS_1


pemilik rumah Sakit Medika Wicaknata.


“Seperti biasa Yah...! nothing special..” Jawab Hisyam.


__ADS_2