
Sesampainya di ruangan dokter Hisyam, Ara pun diminta masuk
ke dalam ruang tersebut.
“Duduk dulu...!” kata dokter Hisyam lembut.
“Tiba tiba Airmata Ara jatuh tak berhenti, mengalir begitu
saja. Ia pun mencoba untuk menahan air mata itu tapi tetap saja jatuh di kedua
pipinya.
Dokter Hisyam yang melihatnya, mengira itu adalah rasa sakit
akibat benturan di kepalanya. Dokter Hisyam menagmbil obat obatan untuk
membalut luka di kepala Ara.
“Apa sakit sekali...? tahan sebentar ya...! mungkin ini agak
terasa perih..!” kata dokter Hisyam.
Dokter Hisyam mulai mengobati Ara yang masih saja mencoba
menahan air matanya. Namun, hatinya menjadi semakin sedih ketika dokter Hisyam
melihat tidak ada ekspresi kesakitan di wajah Ara ketika dia membersihkan luka
dan memberikan obat di kepalanya.
“Anak ini sebenarnya kenapa...?” batin dokter Hisyam.
“Kenapa kamu menangis terus... ini lukanya sudah di
perban... nggak akan infeksi..!” kata Dokter Hisyam menatap anak itu.
Ara yang di pandangi dokter Hisyam seperti itu malah tambah
menangis sesenggukan pasalnya ia kini dapat melihat sorotan mata yang begitu ia
rindukan. Sorotan mata yang sangat ia tunggu selama 5 tahun ini. Tatapan mata
itu semakin membuatnya ingin memeluk sosok yang berada di depannya itu. Ia
butuh sosok yang mampu menopang segala kesedihannya.
“Dok- ter... hiks hiks... bo-leh A-ra... peluk dok-ter..!” ucap Ara terbata
bata.
Dokter hisyam pun merangkul anak itu dengan sangat erat. Begitupun
Ara membalas pelukan dokter tersebut.
“Papi... Ara kangen papi... papi dimana pi...Ara kangenn...!
Ara sudah jadi kuat...sangat kuat... bisa melindungi diri sendiri... papi...
papi pulang pi...!!” kata Ara lirih dan sesenggukan mengucapkan kata kata
tersebut
Sosok yang begitu tegar dan kuat, menjadi rapuh untuk
sesaat. Ketegaran yang selalu ia tunjukkan kepada semua orang terkalahkan
dengan rasa rindu yang mendalam akan kehadiran sosok seorang papi yang menjadi
sandaran hidupnya. Rasa sesak didada Ara semakin menyiksa batinnya dan membuat
ia kesulitan untuk bernafas.
Mendengar rintihan suara gadis itu, Ada rasa tak menentu di
hatinya. Rasa sedih yang sangat mendalam terlihat dari mata gadis cilik ini.
Sekarang Dokter Hisyam tahu, tangisan itu bukan ditujukan untuk lukanya,tapi
rasa kesedihan yang mendalam yang ia tahan selama ini. Bahkan rasa sakit fisik
yang ia rasakan tidak berarti apa apa bagi gadis cilik ini.
“Penderitaan seperti apa yang dirasakan gadis ini..!” batin
Dokter Hisyam.
Setelah agak tenang, Ara merenggangkan pelukannya dan
mengusap air matanya. Ia menarik nafas panjang.
“Maaf dok..! terimakasih...! boleh Ara minta tolong ke
dokter..?” pinta Ara.
“Ada apa...?” tanay Dokter tersebut.
“Ara mohon jangan pernah katakana apapun pada bunda Ara ya
dok...!” terimaksih sekali lagi..!” kata Ara berdiri dan beranjak hendak pergi.
“Sebentar nak.. nama kamu Ara kan...?” tanya Dokter Hisyam
Ara hanya mengangguk.
“Tunggu sebentar ... om dokter sudah pesankan minuman yang
tadi tumpah...!” kata Dokter Hisyam lembut.
“Tidak usah Dokter..! jangan berpikir kalau kita dekat..!
saya tidak suka ada orang yang mengasihani saya..! terimakasih..!” kata Ara
berlalu pergi.
“Anak itu... keras kepala...! kehidupannya pasti sangat
keras hingga ia berubah menjadi gadis yang benar benar mandiri...!” gumam
Dokter Hisyam.
Tok tok tok
“Masuk..!” kata Dokter hisyam.
“Dokter Hisyam... ini pesanannya...!” kata OB tersebut.
“Bisa antarkan ke ruang Dahlia no. 2 pak...” kata Dokter
Hisyam.
“Oh iya dok..! bisa... permisi kalau begitu..!” kata OB
tersebut.
Drrt drrt drrt
“Halo..! ucap Dokter hisyam.
“Kakaaaaak...!! kakak lupa apa ...! hari ini kan di minta ayah
__ADS_1
jemput aku di bandara..!” suara gadis itu memekakkan telinga.
“Ish..! bisa nggak, kamu nggak usah teriak teriak Em...!”
kata Dokter Hisyam.
“Kakakk....!! pokoknya sekarang cepat jempuuttt...! kalau
nggak kita putus hubungan..!!” Ucap Emily adik Dokter Hisyam satu satunya itu.
“Iya.. Iya...! tunggu sebentar lagi..!” kata Dokter Hisyam
dan menutup panggilan tersebut.
Dokter Hisyampun melepaskan jas kebesarannya itu, dan meraih
jaket kulitnya berlari ke arah mobilnya yang terparkir rapi di jajaran staf
rumah sakit. Ia kemudian melajukan mobilnya menjemput adik kesayangannya itu.
“Kamu dimana... kakak ada di gerbang kanan...!” kata Dokter
Hisyam menghubungi adiknya itu.
“Iya lihat...! kakak maju ke depan sedikit...! aku pakai
baju berwarna Pink...!” kata Emily.
“Okay...!” Jawab dokter Hisyam kemudian menepikan mobilnya
ke arah gadis yang memakai baju berwarna pink tersebut.
“Kak..! lama banget tahu..! kakiku dah kesemutan..!” gerutu
Emily, gadis berusia 23 tahun itu.
“Ini kakak juga udah ngepat ngepot Em...!” jawab Dokter
Hisyam tersenyum manis pada adiknya itu.
Emily pun masuk ke dalam mobil tersebut dan memasang
seatbeltnya.
“Ayah masih dinas atau ada di rumah...?” tanya Emily.
“Sepertinya sudah selesai dinasnya...!” jawab Dokter Hisyam.
“Wah... kak Hisyam harus traktir Emily ya... kan sekarang
sudah jadi Presdir di rumah Sakit Ayah..!” kata Emily.
“Bukan Em... kakak hanya menggantikan ayah sementara saja..!
lagian untuk urusan Bidang kedokteran mas tidak begitu mampu...!” jawab Dokter
Hisyam.
“Ya belajar dong Kak... kan udah lima tahun ini, kakak juga
di bimbing sama rekan rekan ayah yang sangat sangaat kompeten, agar ayah bisa
istirahat di masa tuanya...!” kata Emily.
“Kakak tunggu kamu sampai lulus saja... habis itu kamu yang
menggantikan posisi kakak..!” kata Dokter Hisyam.
“Nggak ah...! Nggak mau...!” jawab Emily.
“Kakak lebih tertarik ke dunia bisnis Em...! kakak aja
keteteran waktu belajar kedkterran di awal awal ketika di Singpura... kalau
agar bisa lulus di kedokteran ya nggak mungkin kakak sampai di sini..!” jelas
Dokter Hisyam.
“Lagian kakak juga punya bisnis restaurant... nggak mungkin
kakak tinggalkan...!”Tambahnya.
“Aku aja yang ngelola bisnis restaurant... kakak yang tetap
di rumah sakit... titik...!” kata Emily kesal.
“Kamu itu lho...!” ucap dokter Hisyam sambil mengacak ngacak
rambut adiknya itu.
Sesampainya di rumah, Emily langsung keluar dari mobil dan
berteriak teriak memangil mamanya.
“mah... mamah..! anak kesayangan mamah ini pulang lhoo...!!!”
teriak Emily memasuki rumah tersebut.
“Hei..! anak ini..! sukanya teriak teriak ..! mamahmu ini
bisa budek tahu...!!” ucap mama Andita.
“Ish..! anak perempuan baru pulang itu di sayang sayang..!
jangan dipukul kayak gini dong Mah..!” gerutu Emily.
“Mana ada sayang sayangan..! kamu aja nggak sayang sama
mamah kok..! ngabari kalau butuh duit saja..!!” ucap Mama Andita sambil memukul
kepala gadis itu.
“Siapa juga yang ngirim Emily belajar ke Singapura...! biaya
hidup mahal boss disana...!” jawab Emily.
“Kamu itu nggak kayak kakakmu itu..!dia aja bisa berhemat dan
tidak menghabiskan uang kayak kamu...!” Ucap Mamah Andita.
“Tuh kak..! di puji teruuss sama mamah tuh... jangan terbang
tinggi ya takut jatuh sakit..!!” Gerutu Emily.
“Nasib anak pungut itu ya seperti ini..!” lanjut Emily.
“Ish...! anak ini...! mulutnya...!” ucap Mamah Andita sambil
menutup mulut Emily.
“Kak... tolong kak..!! mamah kambuh penyakit kanibalnya...!
mau makan Emily ini..!” teriak Emily kepada Hisyam.
“Mah...! sudah ah...! Emily itu baru datang... kasihan kalau
di ajak gelut kayak gitu..!” kata Hisyam.
“Tuh lihat kakakmu... kata katanya aja langsung
__ADS_1
Adem...nyesss...! nggak kayak kamu...! nyolot teruusss..!” gerutu Mamah Andita.
“belaaa teruuussss...!!” kata Emily.
“Em.. Sudah Em..! ayo ke atas ke kamar kamu...!!” kata Hisyam.
“siap Pak Bos...!” jawab Emily.
Emily pun beranjak membawa kopernya ke lantai atas.
“Kamu udah makan Syam...!” tanya Mamah Andita.
“Belum Mah... tadi mau makan malah ada kecelakaan kecil..!”
kata Hisyam.
“Kecelakaan? Kecelakaan apa...?” tanya mamah Andita.
“Itu... Rianti bertengkar sama anak kecil hingga mendorong
anak itu dan akhirnya kepala anak itu membentur meja dan berdarah...!” kata Hisyam.
“Ya ampun...!! wanita bringasan kayak gitu..! untung mamah
tolak jadi menantu...!” kata mamah Andita.
“Kamu kalau cari pasangan hidup itu yang baik ya Syam...!
jangan kayak Rianti...!! mamah nggak rela..!!” kata Mamah Andita
memperingatkan.
Dokter Hisyam hanya tersenyum mendengar kata kata mamah
andita.
“Ya sudah kamu ganti baju... bersih bersih kemudian makan...
jangan telat makan..! nanti sakit..! kan nggak lucu kalau dokter sakit..!” kata
mamah Andita.
“Dokter juga manusia Mah...! ya nggak papa kalau sakit ...!”
jawab Hisyam.
“Iya iya... buat anak gantengnya mamah si nggak papa...!”
ucap Mamah Andita mengarahkan anaknya ke kamar untuk membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri, Dokter Hisyam pun hendak
menuju ke ruang makan. Tiba tiba kepalanya mendadak pusing.
“Arrgh...!!!” teriaknya.
“Mamah Andita dan Emily yang mendenagrnya pun langsung
bergegas ke atas.
“Syam...!!” teriak Mamah Andita.
“Kakkak..!” teriak Emily.
Mamah Andita memapah Hisyam ke ranjangnya, sedang Emily mengambilkan
air hangat untuk kakaknya itu.
“Minum dulu Kak...!” kata emily.
Diambilnya air minum tersebut dan diminumnya secara
perlahan.
“Apa penyakitmu masih sering kambuh Nak...?” tanya mamah Andita
berkaca kaca. Ia terlihat sangat sedih melihat kondisi putranya yang lemah.
“Kak... kalau masih sakit... kakak istirahat aja...nggak
usah ke rumah sakit... papa itu kaya kok... nggak bakal habis uangnya...!” Ucap
Emily terisak dan menetskan airmatanya.
“Mah...Hisyam nggak papa...! hanya mungkin tadi agak
kecapean sedikit..! jadi fertigo Hisyam kambuh...!” kata hisyam.
Ia sering merasa aneh dengan keluarganya sendiri, ketika sakit
kepalanya kambuh, pasti keluarganya itu akan terlihat sangat panik dan sedih.
“Siapa sih kak... yang buat kakak capek...?! biar Emily
kasih pelajaran orang orang itu...!” kata Emily.
“Berani beraninya menindas kakak ku yang paling ganteng
sedunia...!” Ucap Emily sambil mengusap airmatanya.
Hisyam pun hanya tersenyum.
“Ayo makan...! kakak sudah sehat..!laper...!” kata Hisyam.
Dijawabi dengan anggukan oleh kedua wanita berbeda usia itu.
Mereka pun menuju ruang makan.
“Waah... waah...! makan nggak ngajak ngajak ayah ya...!”
kata Ayah Haidar yang datang dari arah depan.
“Ayah...! biasanya juga pulangnya malam...! ini kok
tumben...” kata mamah Andita.
“Kan ada anak perempuan kesayangannya mah...!!” ucap Emily
mengedip ngedipkan matanya ke arah ayahnya.
“Dasar anak ini...! kamu itu kapan manjanya hilang...! ingat
cari pasangan...!” kata mamah Andita.
“Nggak mau...! kakak dulu yang cari pasangan... udah tua
gitu...!” cibir Emily.
“Atau kalau nggak jodohin lah, sama anak temen ayah... kan
banyak tuuh..! biar kutub Utara ini bisa mencair...!” kata Emily.
“Emily...!” kata Pak Haidar tegas.
“bercanda yah...! iya kan kak...!” ucap Emily sambil
menyenderkan bahunya ke kakak tercintanya itu.
“O iya Syam..! gimana tadi di rumah sakit..?” tanya pak Haidar,
__ADS_1
pemilik rumah Sakit Medika Wicaknata.
“Seperti biasa Yah...! nothing special..” Jawab Hisyam.