Elegi Hati Si Cewek Jutek

Elegi Hati Si Cewek Jutek
Mulai menyelidiki


__ADS_3

Setelah sampai di luar gedung kantor tersebut, ia melihat sekeliling.


"Bang..." sapa seseorang dari belakang.


Gery pun menengok ke sumber suara.


"Clingak clinguk nggak jelas si bang..! Kayak takut ketahuan aja..! Hayooo jangan jangan punya simpanan ya... Hehehe" Goda Naysa.


Gery hanya memandang dengan tatapan tajam ke arah Naysa.


"Bercanda kali... Jangan di buat serius mulu..! Cepet ubanan..!" goda Naysa.


"Nay..!" kata Gery agak ketus.


"haduh...! Santaiii Boss...!" ucap Naysa terkekeh.


"ini nih... Dimakan ya bang... Di buat dengan penuh C-I-N-T-A itu...!" lanjut Naysa.


Gery menatap Naysa penuh kekaguman. Gadis itu benar benar telah merubah dunianya yang kaku menjadi lebih berwarna.


"O iya coba kamu hubungi Nyonya boss sepertinya tadi dia bilang mau menikah..." kata Gery.


"What the hell..! Are you serious??!" pekik Naysa.


"Iya, sepertinya tadi nyonya boss bilang seperti itu..!" lanjut Gery.


"Waah... Kagak bisa di biarkan ini..! Kok bisa dia menikah lagi tanpa minta pertimbangan sama sahabat terbaiknya the only one and the one..!" gerutu Naysa.


Gery pun tersenyum melihat tingkah Naysa itu.


"Oke bang..! Naysa akan segera menghubungi Sheena meminta klarifikasi..! " kata Naysa bersemangat.


" salim bang..! Mau pamit kerja dulu..! " kata naysa.


Gery memberikan tangannya dan disambut dengan uluran tangan Naysa mencium punggung tangan lelaki tegap itu.


"Senyum dikit dong bang... Calon istri mau pergi nih..." kelakar Naysa sambil mengedipkan sebelah matanya sambil meninggalkan Gery yang masih mematung memandangi kepergiannya.


Ia pun menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah Naysa yang absurb itu.


Tak selang beberapa lama Gery kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Marco.

__ADS_1


"Posisi?" tanya Gery.


"Ketemu di Cafe Zero jam 4 sore" jawab Marco singkat.


Gerypun mematikan sambungan ponselnya dan menatap langit langit kantor tersebut.


"Saya harap kecurigaan saya benar..." Gumamnya.


Sementara di gedung kantor, Hisyam menuju ke ruangan Sheena.


Tok tok tok


"Masuk Ger..!" kata Sheena


"Ara sama Afran sudah sampai ? Kalau sudah sampai aku akan segera ke bawah, sebelum dokter kepala batu itu datang..!" lanjutnya.


"Benar benar menyebalkan..!" tambahnya masih menandatangi berkas di atas mejanya tanpa melihat ke arah pintu siapa yang datang.


"Jadi menurutmu aku kepala batu dan menyebalkan..??" kata Hisyam. Sambil bersandar di depan pintu.


Sheena pun terperanjat kaget. Pasalnya ia mengumpat orang yang ternyata orang itu ada di depannya.


"Orang gila ini... Benar benar pandai mengintimidasi..!" batin Sheena.


"Apa anda ini seorang cewek? Sensi amat jadi orang..!" kata Sheena.


"kalau saya cewek berarti kita batalin saja pernikahannya..! Pernikahan sesama jenis bukannya tidak diperbolehkan agama.." sindir Hisyam.


"sudahlah..! Yang waras ngalah..! Saya minta maaf telah mengumpat anda langaung di depan anda...! Maaf..!" kata Sheena beranjak dari tempat duduknya.


"Jadi maksud anda saya gila? Dan apa itu tadi... Ucapan ambigu anda itu memungkinkan anda mengumpat saya di belakang bukan..!" kata Hisyam.


"ish...! Orang ini benar benar tidak bisa di tipu..!" batin sheena.


"Iya saya salah... Maaf dokter Hisyyam yang baik hati, tidak sombong rajin menabung dan suka menolong..." ucap sheena.


Hisyam hanya menampakkan wajah datarnya.


"Cepatlah..! Aku bosan menunggu..!" lanjut Hisyam.


"Baik tuan dokter yang terhormat..!" jawab Sheena setengah hati.

__ADS_1


Mereka berdua pun pergi menuju ke luar gedung kantor itu. Di sepanjang perjalanan menuju ke luar gedung kantor tersebut, Semua karyawan yang melihat berbisik bisik melihat nyonya bossnya berjalan dengan laki laki yang bisa di bilang sangat tampan. Karena selama ini nyonya boss mereka itu terkenal tidak dekat dengan laki laki manapun selain assisten pribadinya itu.


"Sepertinya akan ada gosip panas yang beredar di kantormu.." bisik Hisyam.


"tenang saja... Bukankah di rumah sakitmu juga gosip panas sudah biasa..!" balas Sheena.


Tidak ada pembicaraan lagi sampai mereka tiba di luar gedung oencakar langit tersebut.


"Papi dokter..!!"teriak Afran berlari menuju ke Hisyam.


Hisyam langsung memeluk anak kecil itu dengan kasih sayang. Menggendongnya dan mencium harum rambutnya yang wangi akan buah jeruk itu.


" Afran selalu kangen sama papi dokter... " kata Afran.


" Sama... Papi dokter juga selalu kangen sama Afran.." jawab hisyam tersenyum hangat.


"bagaimana mungkin ekspresinya bisa 360 derajat berubah seperti itu..! Dasar bunglon..!" umpat Sheena dalam hati.


Mereka berempat pun meluncur menuju butik yang telah di tentukan.


Di sebuah Cafe, Marco mengernyitkan dahinya mendengar penjelasan Gery.


"Apa kita melewatkan sesuatu.." kata Gery.


"sudah aku katakan dulu... Seperti ada yang tidak beres... Dan firasatku tidak mungkin salah..." kata Marco.


"Coba kau selidiki, Aku butuh Bukti... Karena kalau benar itu tuan Adhi bagaimana bisa ia tidak mengenali saya.." ucap Gery.


"baiklah.. Aku akan menyelidikinya dengan Aries..!" kata Marco.


"Apa kita tes DNA saja...! Siapa tahu tuan Adhi mengalami hilang ingatan....!" kata Gery.


"itu tidak mungkin Ger..! Kalau hilang ingatan wajah nya pun masih sama... Tapi kau bilang ia memiliki wajah yang berbeda.." jawab Marco.


"Betul juga..! Kenapa rumit sekali memecahkan teka teki ini..!" kata Gery.


"tenang saja... Aku akan berikan kabar setelah dapat info yang akurat.." ucap Marco lagi.


"Baiklah..! Kalau begitu aku pamit dulu..!" ucap Gery dan beranjak meninggalkan Marco sendirian di cafe tersebut.


"sebenarnya aku juga pernah bertemu dengan orang yang mirip dengan Adhi Dharma di Aussie, walaupun dari segi fisik jelas berbeda tapi dia benar benar seperti Adhi Dharma.. Apa itu orang yang sama yang Gery temui...." desahnya pelan.

__ADS_1


__ADS_2