
Ketika jiwa kosong dan hampa
yang bisa mengisi hanya cinta dan kasih sayang.
Tak ada cinta yang membuat manusia memburu
Tak ada kasih yang menjadikan hidup menjadi kelabu
Jika itu terjadi maka tanyakan lagi pada cintamu itu
Karena mungkin saja itu hanya cinta yang semu.
***
Disinilah Adhi, di balkon kamarnya. Ia sedang menatap
angkasa luas yang terbentang itu. Hatinya mendadak perih, hatinya terlukai
bahkan rasa itu sangat menyesakkan didadanya hingga ia sulit bernafas.
“Mereka telah merampas kebahagiaan Sheena yang tak terbatas,
mereka telah menghancurkan kehidupan sheena yang penuh tawa bahagia, dan mereka
telah membuat sosok sheena mengalami trauma tak berujung...”
“Kali ini aku tidak boleh kalah dari Chandra...tidak boleh
hatiku menjadi lemah...Aku harus kuat berjalan mendampingi Sheena setiap
saat....Aku harus menemukan solusi untuk kesembuhan Sheena...!”
“Hah..!!apa yang harus aku lakukan agar traumanya
menghilang...”batin Adhi berucap sedih sambil membuang nafas kasar.
Ia kembali menatap bintang bintang itu. Cahayanya seakan tak
akan pernah padam. Dan itu indah ketika di malam yang gelap seperti ini.
“Aku juga ingin menjadi bintang didalam hatimu yang gelap Na...agar
hidupmu menjadi lebih indah dan berwarna...” desah Adhi lirih.
Setelah kejadian Sheena yang berteriak histeris, Adhi
memanggil dokter Raisa untuk datang ke rumahnya dan memeriksa Sheena.
Setelahnya Sheena di berikan obat penenang.
“Kau tidak masuk?” kata dokter Raisa menghampiri Adhi.
“Kau bisa masuk angin..kalau disini terus..!” lanjutnya.
“Kenapa masih disini..?” Tanya Adhi.
“Kau ini...tetap saja tidak berubah...!apa nanti istrimu itu
akan betah dengan kelakuanmu itu...!”ucap dokter Raisa.
“Sudahlah...apa yang ingin kau katakan..!”sergah Adhi tanpa basa basi.
“Pantas saja kau menduduki jabatan seorang CEO , daya tangkapmu
memang luar biasa...!” balas dokter Raisa.
“Sepertinya Sheena harus menjalani terapi lagi...!” kata Dokter Raisa.
“Apa maksudmu?” kata Adhi menatap intens pada dokter cantik tersebut.
“Dia telah mengalami pelecehan waktu kecil...dan memori itu masih
tercetak jelas dalam ingatannya...yang bisa kita lakukan adalah mensugesti dia
bahwa waktu kecil nya dia sangat bahagia...lama kelamaan kenangan buruk
tersebut akan hilang dengan sendirinya...!”kata dokter Raisa memberikan solusi
untuk menyembuhkan Sheena.
“Akan kupikirkan...!” jawab Adhi.
“Sebaiknya jangan di tunda tunda...segera lebih baik...mengingat orang yang membuatnya seperti ini, masih berkeliaran di luar sana...!” kata dokter Raisa.
“Dia hebat,..masih bisa bertahan sampai saat ini dengan
keadaan yang ceria walalupun di paksakan...!” kaat Dokter raisa.
“Maksudmu..?” tanya Adhi.
“Tidak bisakah kalau tanya itu dengan kata kata selayaknya
wali pasien dengan dokter...atau dengan kata lain dengan bahasa manusia bukan
bahasa ebruang kutub..!!” ucap Dokter Raisa kesal.
“Dari tadi yang keluar dari mulutmu itu hanya sepatah dua patah kata saja..!!”sindir Dokter Raisa.
“Ck..!bukankah dokter Raisa ini sudah tahu sifatku..!” kata Adhi kemudian.
“Baiklah...!jadi gini tuan Adhi yang terhormat...Sheena terlihat tegar di depan itu hanya casingnya saja...aslinya didalam hatinya, disini itu rapuh..!” kata Dokter Raisa sambil menunjuk ke hatinya.
“Dia butuh cinta dan kasih sayang yang besar dan dia harus
bisa menerima cinta dan kasih sayang dari orang lain...dengan begitu akan
membuat dia merasa diterima walapun dia bukan wanita sempurna...!” kata dokter
Raisa.
“Jaga Ucapanmu...!”
“istriku wanita paling sempurna yang pernah aku temui..!!”bantah
Adhi.
“Iya...iya... aku tahu...!dasar bucin..!” gerutu dokter Raisa.
“maksudku...Sheena harus bisa menerima dirinya sendiri yang
pernah terluka agar ia bisa merasakan kasih sayang dan cinta dari orang orang
yang tulus di sekitarnya...dengan seperti itu ia merasa bahwa dirinya itu tidak
cacat...tapi berharga dimata mereka...!” kata dokter Raisa.
“Kalau kau tidak mau membawanya terapi...selalu bahagiakan
saja hatinya....jangan biarkan dia sendirian dan melamun yang akhirnya akan
membawa ia dalam kesedihan..!”
“tapi saranku...bawa dia untuk terapi...!” kata Dokter Raisa
menepuk bahu Adhi dan berlalu dari hadapannya.
Adhi hanya menatap nanar menerawang jauh ke depan.
Tok tok tok
Suara pintu kamar Adhi di ketuk.
Adhi yang masih berdiri di balkon dengan enggan melangkahkan
kakinya ke depan pintu kamar. Di bukanya pintu kamar tersebut.
“Ada pa ?” tanya Adhi menelisik.
“Itu tuan ada paket untuk nyonya..” kata bik Tika
“Tapi paket tersebut sudah di amankan oleh Elina tuan..!” kata bik tika.
“Baiklah...saya akan segera turun..!” kata Adhi datar dan
kembali menutup pintu.
“Sepertinya memang ada yang ingin bermain main denganku..!” gumam Adhi.
Ia mengambil ponsel diatas meja dan memanggil seseorang.
“halo...Ger..!ada tugas untukmu...aku kirimkan datanya..kamu
selidiki dengan benar...!kerahkan seluruh anak buahmu kalau perlu...!” kata
__ADS_1
Adhi.
Kemudian ia menutup panggilan telponnya. Adhi berjalan ke
bawah melihat paket yang dikirim oleh orang yang tidak dikenal.
“Kalian sudah buka paketnya isinya apa?” kata Adhi mengintimidasi.
“Sudah tuan..!” kata Elina.
“Ini...!” Elina menyerahkan kotak hitam tersebut.
Adhi membuka kotak hitam tersebut dan matanya membelalak kaget.
Di dalamnya ada banyak sekali foto foto Sheena dari berbagai arah. Adhi
mengambil lembaran lembaran foto itu dan dilembar foto terakhir ia mengepalkan
tangannya karena tulisan yang ada di foto tersebut.
“MILIKKU SEORANG..!!”
Tulisan itu tercetak tebal dan besar di foto tersebut.
Rahang Adhi mengeras. Sepertinya para pelaku tersebut sudah
mengetahui keberadaan Sheena, Dan dia tidak akan bersembunyi lagi.
“Siapkan semua nya...!perketat perkawalan...dan ingat jangan
sampai mencurigakan..!” perintah Adhi.
“Elina...!!aku percaya padamu dan Gery..!” kata Adhi datar
dan dingin.
“Saya mengerti tuan..!’ jawab Elina mengundurkan diri.
Adhi pun kemabali ke kamar Sheena. dilihatnya Sheena masih
tertidur dengan selimut yang tebal. Gadis itu kelihatan sangat ayu sekali
ketika tidur saat ini. Adhi naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di
samping Sheena sambil memeluknya.
“Jangan pernah kalah dari orrang orang yang ingin
menghancurkanmu...!karena aku yang akan menjadi pelindungmu Na...!” gumam Adhi
lirih dan mengecup kening Sheena. Dan akhirnya Adhi pun terlelap dalam tidurnya.
Pagi harinya Sheena mengerjapkan mata. Setengah kaget ia
melihat Adhi yang berada di sampingnya, tidur dengan memeluk erat dirinya.
Tidak tega membangunkan suaminya tersebut, Ia akhirnya hanya
memandangi wajah tampan itu.
“Terimakasih...telah menjadikanku wanita yang paling bahagia....”
“Dan maaf...karena aku membuatmu susah dan terbebani...”
kata Sheena sambil mengusap lembut wajah tersebut.
“Siapa bilang kamu membebaniku?? Akulah yang bersyukur ada
kamu di sisiku...!” ucap Adhi seketika.
Sheena menutup mulut dengan tangannya. Terkaget karena pria
itu ternyata sudah banguan.
“Bukankah suamimu ini tampan sekali kaan....” goda Adhi
kepada Sheena.
“Ish...Mas adhi kepedean..!” jawab Sheena sambil
mengerucutkan mulutnya.
Adhi membuka matanya, ia malah mengeratkan pelukannya kepada Sheena.
“Mas...aku nggak bisa bernafas ini lho...!” kata Sheena.
Sheena pun membalas pelukan Adhi. Ia mendekatkan kepalanya
ke dada Adhi. Ada rasa tenang di hatinya.
“Mas...Aku sangaat sangat sangat dan sangaat mencintaimu...!” kata Sheena.
Adhi kemudian tersenyum. Dan mengecup pucuk rambut Sheena.
“Apalagi aku Na...nggak bisa kehilanganmu lagi...!kau itu
nafasku...jantungku...tanpa kamu ak nggak bisa melihat dunia yang indah dan
kehidupan yang bahagaia...!’ kata Adhi meresapi perasaanya kepada gadis yang
baru kemarin sah menjadi istrinya.
Adhi kemudian menangkup wajah Sheena dengan tangannya.
“Janji padaku...kamu harus kuat...tidak boleh takut kepada
Apapun...dan siapapun...termasuk orang orang yang menyakitimu...!” kata Adhi.
Sheena hanya mengangguk, merasakan betapa khawatir suaminya
tersebut.
Sementara itu Gery sedang sibuk mencari informasi yang
diminta oleh Adhi. Ia mengerahkan anak buahnya untuk menyelidiki satu persatu
orang yang terlibat dengan perusahaan Chandra.
Ia menemui anak buahnya di sudut jembatan kota agar tidak
diketahui oleh siapapun terutama anak buah Chandra.
“Gimana...informasinya?” kata Gery kepada salah satu anak
buahnya.
“Ini boss...semua data ada didalam sini...!” kata orang
tersebut memberikan flashdisk kepada Gery.
“Oke...aku akan check...dan terus awasi gerak gerik
mereka...!”
“Aku tidak mau kecolongan lagi...!” kata gery tajam kepada
salah satu anak buahnya itu.
“Baik boss...!”kata laki laki itu dan berlalu pergi.
Gery kemudian melangkahkan kakinya ke mobil yang terparkir
agak jauh dari tempat pertemuannya itu. Ketika samapai didepan mobilnya, ia
terkaget karena ternya ban mobilnya kempes dan ponselnya pun mati.
“Sial...!kembali ke kantornya gimana ini...!” batin Gery
mengumpat kesal.
Dari arah berlawanan, Naysa melihat Gery yang sedang
celinguk an nampak gelisah.
“Eh...pak tua itu ngapain di situ...! apa cari mangsa
baru...!tapi masak ia mau jadi gigolo si...! perawakannya bagus...lumayan
tampan...!”
“Oh my God...jangan jangan beneran dia itu punya pekerjaan
sampingan...pagi pagi buta sudah ada disini...! Pasti Sedang menunggu tante tante girang...! Apalgi
__ADS_1
di kawasan seperti ini..!!
“Ini tidak bisa di biarkan...!Sheena bisa nggak tenang
hidupnya...! Jangan jangan di kantor gebetannya Sheena di jadikan target lagi
sama si pria jadi jadian ini...!” gumam Sheena dan memutar motornya tersebut ke
arah berdirinya Gery.
Tin tin tin...
Suara klakson motor Sheena mengagetkan Gery. Gery menoleh
suara tersebut dan betapa terkejutnya ia karena gadis bar bar itu sedang tersenyum
sinis duduk di atas motornya.
“Cobaan apa lagi ini...!bagaimana aku bisa bertemu dengan
gadis bar bar ini lagi...!” kata gery
“Hey..pak Tua...lagi ngapain disini...!” teriak Naysa.
Gery tidak merespon. Ia masih mencoba menghidupkan hapenya
dan tidak memperdulikan kedatangan Naysa.
“Ish...pak Tua ini...!” umpat Naysa kesal.
Naysa pun turun dari motornya dan mendekati gery.
“Halo bapak tua yang terhormat?ada gerangan apakah anda
disini..?” ucap Sheena meledek Gery.
Gery masih diam saja tidak merespon ucapan Naysa.
“Ish...orang ini di kasih mulut tapi tidak menjawab...!” gerutu naysa.
“Assalamualaikum....!” kata Naysa.
Gery hanya memelototkan matanya.
“Hukumnya wajib menjawab Salam...!” goda Naysa.
“Gadis ini...! benar benar menyebalkan...!” batin Gery.
“Waalaikumsalam..!” ucap Gery ketus.
“Ish...bapaknya udah tua...cemberut dan marah marah
mulu...kagak takut ubannya tambah banyak gitu pak...!” ucap Naysa.
“Umur saya masih 30 tahun...!dan umur segitu sudah dikatakan
matang...ingat M-A –T-A-N-G..!!!bukan Tua..!” sahut Gery.
“Ya elah pak...sama saja kale...!itu kata lain dari T-U-A..!”
balas Naysa nggak kalah sengit.
“Terserah..!” kata Gery.
“Gini nih...niat hati si baik tadi...penegn nolongin
gitu...!tapi apalah daya..yang ditolong kagak mau..!” lanjut Naysa.
“memang bisa nolong..!gaya saja...!” kata Gery sengit.
“Ish...menghina...!gini gini...saya itu cewek pekerja
keras..!” ucap Naysa ketus.
“Mana...ada ban Serep nggak...!sama peralatannya..!” tambah Naysa
“Yakin...?!” kata Gery meremehkan.
“Lihat saja si pak tua...!pokoknya nanti terima beres...!” sahut Naysa.
“Daripada orang ini disini nunggu tante tante girang,,,dengan dalih bannya kempes...mending tak bantu saja lhah ya...biar segera pergi dari sini...!”
“aku kok merinding...baru ngebayangin pak tua itu sedang bermesraan sama tante tante,,,hi,,,!” batin Sheena yang mendadak jijik membayangkan adegan yang iya iya di fikirannya.
Melihat Gadis bar bar itu seperti memikirkan sesuatu, Gery
pun bertanya tanya dalam hatinya.
“Gadis ini...seperti punya kelainan jiwa...!”
“Tadi senyum senyum tidak jelas..!marah marah..!dan sekarang
malah kayak orang ketakutan..!”
“Perlu hati hati ini..!jagan jangan ia kerasukan jin dari
mana gitu..!” batin Gery.
Gery mengambilkan ban serep dan peralatanya di garasi mobil.
Ia mencoba membantu Naysa membongkar ban mobil tersebut. Naysa yang terlihat
terampil membuat Gery terkagum kagum.
“Yse...beres..!” kata Naysa.
“Kenapa pak tua..? Speechless ya...lihat perempuan bar bar
ini bisa ganti Ban..!’ kata Naysa sinis.
“Ish...memang pantas..!aku si tidak kaget..!” jawab Gery
yang menutupi kekagumannya.
“Sudahlah...ngaku saja...memang anda kagum kaan sama
saya..??”Goda Naysa.
Gery hanya mencebikkan mulutnya.
“Mana bayarannya..?” kata Naysa seketika.
Gery masih bengong mendengar ucapan gadis itu.
“Ish...!ini nggak gratis ya pak tua..!” lanjut Naysa.
“Lihat...aku sudah dandan cantik cantik kayak gini...jadi
kotor semua...!” keluh Naysa.
“Tadi yang bilang bantu siapa?jadi saya tidak punya
hutang..!” jawab Gery.
Sebetulnya dia mampu untuk mengeluarkan uang, namun ia ingin
mengerjai gadis bar bar itu.
“Dasar..!! sudah tua..!pelit lagi..!”gerutu Naysa menatap
jengah ke arah Gery.
“Aku tidzk pelit...hanya saj akalo ada rezeki ...ditawari
lagi...kenapa tidak mau?” bantah gery.
“Ish...susah emang kalau debat sama orang Tua..!” Umpat Naysa.
“Apalagi sama bocil...kayak kamu..!bisa stress..!” sahut
Gery yang membuat Naysa menahan emosinya sampai ke ubun ubun.
“Terserah deh...!” aku mau pergi dulu..!” kata Naysa.
“Hati hati ya pak...disini apalagi pagi pagi gini... ada
banyak penunggunya di kanan dan kiri...!lihat disekeliling bapak...banyak pohon pohon besar kan ya...!”
“Apalagi kalau sendirian...beuuuhhh...nggak tanggung si
ya...!”kata Naysa menakut nakuti sambil meninggalkan Gery dengan senyuman nya
yang licik.
__ADS_1
“Apa bener kata Gadis bar bar itu..! Aku jadi merinding...!”
Batin Gery yang kemudian masuk ke dalam mobil dan melajukan kendarannya itu.