
"Ger... Kamu cari tahu data diri mengenai Sheena...! Dan laporkan ke saya segera..!" ucap Adhi di dalam. Mobil.
"baik pak..!" kata Gery.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan Sheena...Dia seperti kehilangan kesadaran.. "batin Adhi.
Adhi pun kembali ke kantor dengan wajah dingin. Ia kembali ke rutinitasnya mengerjakan semua urusan kantor. Namun hatinya tetap tidak tenang. Dia merasa janggal dengan keadaan Sheena.
Tok tok tok
Suara pintu diketuk dari luar.
" ya masuk..!" kata Adhi
Dengan membawa map berwarna hijau, Gery pun masuk ke ruangan Adhi.
"ini pak..data yang Anda minta..!" Gery meletakkan map tersebut di meja bosnya .
Adhi mengambil map itu dan dilihatnya dengan seksama. Di sana tidak ada kejadian yang aneh dan tidak ada riwayat apapun yang cukup serius.
"ini hanya perasaan saya saja pak...tapi saya belum menemukan buktinya.."kata Gery kemudian.
Adhi kembali menatap assistennya tersebut.
"apa yang kamu curigai?" kata Adhi sambil menjentikkan jari tangannya di atas meja.
"bukankah ini sangat aneh...di data nona Sheena terlalu biasa dan dengan riwayat seperti itu bagaiman dia bisa menjadi assisten kepercayan perusahaan perusahaan ternama di luar negeri.."lanjut Gery kemudian.
Adhi pun menatap tajam ke arah Gery seakan akan bertanya apa maksudnya.
"itu pak.... Data diri Nona Sheena terlihat begitu rapi tanpa celah... Dan disitu tidak disebutkan selama 5 tahun ini dia ada dimana dan bagaimana dia memperoleh pekerjaan pekerjaan yang mengagumkan di perusahaan perusahaan ternama seperti itu..seperti ada yang menyembunyikan data diri Nona Sheena yang asli.. "kata Gery.
"suruh anak buahmu mengawasi Sheena, Dan kerahkan kemampuanmu menyelidiki Sheena!"perintah Adhi kemudian.
Asisten Gery kemudian pamit undur diri. Adhi pun memutar kursi kebesarannya itu. Menatap langit seakan akan mencari sebuah jawaban tentang kehidupan Sheena. Wanita yang telah menempati hatinya sekian lamanya dan kembali menebalkan ukiran nama itu di relung hatinya kini.
Keesokan harinya, Sheena dengan rutinitas seperti biasa berangkat ke kantor. tidak ada gelagat aneh dan ingatan apapun yang ada pada diri Sheena. Namun, ia merasa telah melupakan hal yang penting.
"Put...loe Sudah sehat? Kemarin pak Bos panik sekali saat loe pingsan" cerocos Riska.
"hah..! Gue pingsan?? Kapan??" Tanya Sheena penuh keheranan.
"otak loe konslet apa setelah pingsan.." kata Riska sambil menjitak kepala Sheena.
"eh.. Ini kok malah loe Gue si ngomongnya...!" Tanya Sheena lagi.
__ADS_1
"hehe he... Lebih enak si Put...biar lebih deket gitu..."jawab Riska.
" tapi.. Beneran loe nggak inget kemarin Kan si Boss sampai gendong loe ke Mobil.. Kita semua sampai terbengong bengong lho Put... Bayangpun.. Boss kita Kan terkenal sereeem Put...!"lanjut Riska.
" serem dari Hong Kong! Yang ada menyiksa jiwa raga..! "keluh Sheena.
"ngomong apa Put..??" Tanya Riska.
"nggak...nggak papa..masak si gue pingsan.. Gue kok nggak inget ya..!" lanjut Sheena sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Karena terlalu asyik mengobrol.. Tanpa disadari di belakang mereka tengah berdiri orang yang dibicarakan.
"ehem.." dehem Pria angkuh itu.
sontak mereka berdua menoleh kebelakang dengan wajah terkejut. Wajah Riska sudah pucat pasi takut akan di pecat oleh bossnya tersebut. ia pun menundukkan kepalanya dan menyingkir memberikan jalan.
Pria tersebut beserta asistennya melewati mereka berdua, namun sesaat kemudian berhenti.
"segera ke ruanganku sekarang Na..!" kata Pak Adhi datar.
"eh.. Na...maaf pak siapa yang bapak maksud??" ucap Riska kebingungan.
Adhi hanya melihat tajam ke arah Sheena.
"eh Iya pak.. Sebentar..!" jawab Sheena.
"helloooo.... What the angel..!loe kenapa dipanggil seperti itu Sama si Boss si Put... Aduuuh... Co cweeeet bangeeet...!" kata Riska kemudian.
"udah dech..gak usah bikin gosiip..!males tau..!" Tambah Sheena.
"eh, beneran lho Put.. Cerita donk..!" rengek Riska.
"gue Kan udah di suruh cepet cepet ke ruangan Si Boss songong itu Ris... Gimana sich..! Bisa di pecat gue..! Udah dulu ah..!" kata Sheena kemudian.
Riska menarik tangan Sheena.
"loe uttang penjelasan ke gue lhoo..!" kata Riska.
"Sana Sana gih...babang tamvan sedang menunggu.." ledek Riska.
"ish.. Apaan sich.. Gak jelas banget..!"kata Sheena melangkahkan kakinya pergi menjauhi Riska.
setibanya di depan ruangan Adhi, Sheena mendadak menciut nyalinya. ia teringat omongan Riska tadi.
haduuh..kenapa gue nggak ingat apa apa si...dasar penyakit sialan..."umpat sheena dalam hati.
__ADS_1
"masuk..nggak..masuk..nggak...masuuk..ah tau ah..masuk aja lah.." gumam sheena.
Tok tok tok..
" Masuk" kata Adhi.
Sheena membuka pintu ruangan tersebut.
"maaf pak.. Bapak manggil saya ada perlu apa ya pak?" Tanya Sheena.
Yang di tanya, hanya diam saja sibuk dengan laptop dan handphonenya.
Ish... Orang songong itu..! Menyebalkan sekali..! Heran.. Kok Orang songong kayak dia bisa jadi CEO di sini..! Gerutu Sheena.
Sheena kemudian menuju sofa yang ada di pojok ruangan tersebut. Menempelkan bokongnya Dan mengistirahatkan kakinya yang capek berdiri.
"enak ya... Atasan sedang sibk..bawahan duduk duduk santai..!". Sindir Adhi sejurus kemudian.
"ish...loe itu tadi kan udah gue tanya si..!"kesal Sheena.
Adhi menatap Sheena tajam.
" eh.. Itu pak.. Maaf..."ucap Sheena terkekeh sambil berdiri dari tempat duduknya.
Adhipun bangkit dari duduknya dan menghampiri Sheena. Sheena yang masih berdiri di dekat sofa tersentak kaget. Adhi mengungkung Sheena dengan tangannya. Tubuh Sheena akhirnya mau tidak mau jatuh ke sofa.
"apa sudah sehat??" kata Adhi menatap Sheena sendu.
Ini orang kesambet lagi apa si... Kenapa tiba tiba kayak gini... Haduuuh... Jantung Jantung... Tolong dikondisikan... Batin Sheena.
Adhi berjongkok di depan Sheena.
Eh ini orang mau ngapain.. Jerit Hati Sheena.
" Kalo masih sakit.. Nggak usah berangkat kerja dulu.." ucap Adhi mengelus rambut Sheena.
Ini orang bener bener kesambet kali ya...
"eh.. Itu... Gue eh Saya sehat pak.. Tolong bapak bisa berdiri.. Ini Saya jadi takut lho.. Merinding...."kata Sheena sambil clingak clinguk ke kanan dan kiri ketakutan.
Adhi mencubit kecil pipi Sheena.
"pikiranmu itu selalu saja tentang hal hal mistis..!" kata Adhi sambil tersenyum.
Entah mengapa rasa kesal benci kepada gadis itu melunak begitu saja melohat dia terluka. Rasa yang sudah seharusnya Ia tahan, karena Ia tahu, keadaan ini situasi ini tidak benar adanya. Tapi logikanya mengalahkan hati yang selalu saja mendekat ke arah gadis itu selalu dan selalu. Bukan tidak pernah Ia mencoba menghindar, namun kenyataannya wajah teduh nan lembut itu bisa membuat hatinya kembali melangkah ke jurang masalah. Jurang yang mungkin nantinya akan membuat dia merasakan sakit lagi. Jurang yang semestinya Ia hindari dan melangkah pergi, namun apa daya, ia seakan akan malah mencoba melompat ke jurang itu sekali lagi. Walaupun dia tahu itu akan membawa kesengsaraan bagi hatinya, akan membuat Ia kembali mengecap rasa putus Asa namun apalah daya, kekuatan hatinya yang ingin selalu melindungi gadis di depannya ini membuatnya berani mengambil resiko sebesar itu.
__ADS_1
"Apakah nanti aku sanggup akan kehilanganmu lagi jika sekali lagi kau akan menghilang dari pandangan mataku Sheena? "Batin Adhi.