
“Kamu ini kebiasaan Nay..! sudah tahu kalau makan telat itu maag
kamu bisa kambuh lagi..!” kata Gery.
“Hehehe..! kan ada abang...! aman pokoknya kalau sama
abang...!” kata Naysa terkekeh.
“Aish...! orang dewasa ini ... ingat disini ada anak
kecil..!” kata Ara kesal.
“hahahah..!” Naysa pun tertawa melihat muka masam Ara.
“IyApa sebaiknya kalian segera menikah saja... akan lebih
baik seperti itu...!” kata Sheena.
“Sebenarnya gue udah ada rencana sih... sehabis peluncuran
produk G n A itu gue mau bicara sama loe Na rencananya...!” jelas Naysa.
“Lebih baik as soos as possible...! keburu di tempel sama
ulet bulu si dokter Annisa..!” kata Sheena menggoda Naysa.
“Ish... kagak level ya... gue di bandingin sama si Annisa...!”
kata Naysa.
“Bang...!” kata Naysa sambil menatap Gery tajam.
“Iya... iya... kamu yang paling segala galanya buat aku
Nay....!” kata Gery tersenyum.
“Waah... gila kamu ya Nay... mampu meruntuhkan es batu
seperti Gery..!” kata Sheena.
“Hebat kan..! makanya jangan main main sama Naysa...!
apalagi si ulet bulu, nenek sihir atau
apalah itu... hush hush..! kelaut aja dech..!” kata Naysa kesal.
“Tapi keren juga ya... dokter Annisa sampai rela saingan
sama loe yang nggak mutu..! hahaa..!” kata Sheena.
“Enak saja..!” kata Naysa menyenggol lengan Sheena.
Sementara di ruang dokter Hisyam. Dokter Hisyam sedang sibuk
memeriksa data data pasien yang masuk. Tiba tiba ruangannya di ketuk.
Tok Tok Tok
“Syam..! sudah selesai kan kerjaanya..?” tanya Rianti, Dokter
Spesialis kulit setingkat dengan Hisyam.
“Ada apa..!” Tanya Dokter Hisyam.
“Ayo pulang bareng...!” kata Dokter Rianti.
“Lebih baik kau duluan...! masih ada yang harus aku selesaikan
terlebih dahuliu..!” kata Hisyam.
“Besok ajalah Syam..! ayolah anterin aku pulang...” kata
Dokter Rianti.
“Kau tahu kan... batas waktu kerja kita...! aku harap kamu
juga bisa professional walau kita adalah teman...!”Kata dokter hisyam.
“Ya sudah..! aku tungguin Dech...!” ucap Dokter Rianti
memposisikan dirinya untuk duduk.
“Kalau kamu mau nunggu di situ nggak papa..! aku keluar dulu...!”
kata Dokter Hisyam.
“Lho kok gitu Syam..!” kata Rianti kesal.
“Bisa jangan ganggu saya...!! Ada urusan yang harus saya
selesaikan...! terimakasih..!” ucap Dokter Hisyam beranjak pergi dari
ruangnnya.
“Syam..! Hisyam Wicaknata...!” teriak Dokter Rianti namun
tidak di pedulikan oleh Hisyam.
Hisyam yang memang menghindari Dokter Rianti pun masuk ke
dalam lift untuk sekedar turun ke lantai 1 mengistirahatkan pikirannya sejenak
di café tepat depan rumah sakitnya.
“tunggu...!!” kata seorang wanita ketika lift akan tertutup.
Hisyam menekan tombol lift agar wanita tersebut bisa masuk.
“Eh, anda...!” kata Wanita itu.
“Ya Ampunn...! sepertinya dunia ini memang sempit sekali
ya..!” Cibir Sheena.
“Anda mau masuk atau tidak?” tanya Hisyam datar.
Dengan langkah kesal Sheena pun akhirnya masuk ke dalam lift
tersebut. Hanya keheningan yang ada di ruang lift itu. Tiba tiba lift terhenti sebelum samapi ke
lantai 1.
“Ini kenapa lagi...!” Gerutu Sheena.
“Susah memang kalau rumah sakit kecil seperti ini..!
semuanya tidak mematuhi standar operasional..!” Lanjut Sheena.
“Hei nyonya..! anda tahu rumah sakit ini merupakan rumah
sakit pusat di daerah ini..! dan jangan karena masalah sepele seperti ini anda
menyamaratakan pelayanannya..! ini adalah kendala teknis..! apa anda perlu saya
jelaskan apa itu kendala teknis..! sepertinya anda lebih berpengalaman dari
pada saya..!” kata Dokter Hisyam.
“tapi kenyatannya memang seperti itu..!” balas Sheena.
“Bahkan di rumah sakit besar pun pasti pernah mengalami
kendala teknis..!” tambah Dokter Hisyam.
“Berisik..!!” Umpat Sheena.
“Sepertinya anda memang orang yang tidak tahu bagaimana cara
bersopan santun..! saya jadi penasaran bagaimana anda mengajari anak anda
bersopan santun jika ibunya saja tidak bisa berlaku sopan..!” ucap Dokter
Hisyam tegas.
“Permisi Tuan Dokter yang terhormat..! apa anda sudah selesai
bicara..! tolong cepat hubungi siapapun yang bisa mengeluarkan kita dari
sini..! ponsel saya tertinggal...!” kata Sheena.
“Ck..!” Dokter Hisyam pun akhirnya mengambil ponselnya dan
__ADS_1
menghubungi seseorang lewat pesan karena sinyal yang jelek di dalam lift yang
tidak memungkinkan ia untuk menelpon seseorang.
“Puas..!” Kata Dokter Hisyam.
Sheena hanya melirik sinis ke arah dokter tersebut. Ia pun
duduk di pojok lift tersebut dan menunggu bantuan datang. Beebrapa saat
kemudian terdengar bunyi gaduh dari luar.
“sepertinya bantuan sudah datang..!” kata Dokter hisyam.
“hmm...!” jawab Sheena.
Akhirnya pintu Lift pun terbuka dan mereka pun di sambut
oleh para teknisi yang membuka pintu Lift tersebut.
“Maaf pak...nanti akan kami cek lagi keadaan lift yang
lain...!” kata salah satu teknisi tersebut.
“Kalau terjadi seperti ini lagi...! kalian akan saya
pecat...! dan jangan harap dapat pesangon dari sini..! kalian yang harus ganti
rugi atas kemalangan korban..! mengerti..!” kata DOkter Hisyam tegas.
“wuihh... orang ini..! sama sama galaknya..!” batin Ansha.
“Minta maaf sama nyonya yang disana .. karena kecerobohan
kalian... dia hendak memindahkan anaknya dari rumah sakit yang katanya tidak
kompeten ini...!” Lanjut Dokter Hisyam kemudian berlalu pergi.
“Eh..! orang ini..! melimpahkan kekesalannya kok ke aku
sih..! dasar..!!” umpat Sheena dalam Hati.
“Nyonya... Maafkan kami nyonya... saya harap nyonya tidak
memindahkan anak nyonya dari rumah sakit ini..! kami masih butuh makan untuk
keluarga kami nyonya.. kami mohon..!” kata para teknisi tersebut.
“Eh, I-ya..i-ya.. tidak akan saya pindahkan... tenang
saja..!” kata Sheena terbata bata padahal dalam hatinya mengumpat dan memaki dokter
tersebut.
“Terimakasih nyonya...! terimaksih..!” kata para teknisi
tersebut.
Sheena pun berlalu pergi dari sana dan menyusul dokter Hisyam
“hei... Dokter..! dokter Hisyam...!! berhenti..!’ Ucap
Sheena agak Keras.
Dokter Hisyam yang di panggil pun menoleh ke belakang.
“Ada apa lagi..!” kata Dokter Hisyam jengah.
“Tunggu...! apa maksud dokter berkata seperti itu kepada
Para pegawai tadi...!” Tanya Sheena penuh Selidik.
“Kenapa? Anda tidak terima? Bukankah memang tadi anda yang
berkata seperti itu..! ingin memindahkan anak anda ke Rumah sakit yang tidak
mengalami gangguan teknis..!Ucap Dokter Hisyam menegaskan.
“Anda jangan memutar balikkan fakta..! bukankah saya sudah
berniat memindahkan anak saya itu sebelum kita terjebak di dalam Lift...!” kata
“Sebentar nyonya..! anda tadi turun untuk apa coba...!
kenapa masih berada di sini...!” balas Dokter Hisyam.
“Jangan menaglihkan pembicaraan...!”
“Eh, i-ya... Adelia... Adelia menunggu di tempat parkir..!”
kata Sheena yang terkaget kalau ia melupakan janjian ketemu dengan Adelia di
tempat parkir. Ia kemudian berlari menuju tempat parkir di rumah sakit
tersebut, tapi sejurus kemudian ia berbalik dan menarik lengan dokter Hisyam hingga
menghadap ke arahnya.
“Kali ini anda beruntung... awas lain kali...!” kata Sheena
yang kemudian berlalu pergi.
“Dasar wanita Aneh...!” gerutu Dokter Hisyam dan kemudian ia
berbalik pergi.
Sementara di tempat parkir, Adelia sudah menunggu Sheena
lama sekali.
“Adel..!” teriak Sheena dari belakang.
“Ya elah ni orang... udah tua juga kelakuan kayak ABG..!
ngapain teriak teriak..!” kata Adelia.
“nggak papa si Del...! pengen Aja...!” kata Sheena.
“Nih... data yang kamu butuhkan...!” kata Adelia.
“Para investor banyak yang menanamkan modal ke kita...
jangan sampai kita mengecewakan mereka..” Kata Adelia.
“Iya .. iya Bawel...!” kata Sheena.
“Terimaksih ya Del... akan gue pelajari lebih dulu
dokumennya..” kata Sheena.
“Oke... kalau begitu gue permisi dulu ya..! ada urusan..!” pamit Adelia.
“Loe sendirian..? Marco kemana?” tanya Sheena penasaran.
“Emang pacaran itu harus ya... nempel terus kayak
perangko...! kayak loe sama suami loee itu... lengkeeeet aja kayak uler
keket..!” kata Adelia reflek.
Sheena pun terdiam.
“Eh, maaf Na... ! gue
nggak bermaksud seperti itu..!” Ucap Adelia sedih.
“Nggak papa...! sudah sana ...! pasti loe juga banyak urusan
kan....” kaat Sheena mengembangkan senyumannya.
“Bye...!” ucap Mereka bersama sama.
Ada rasa sedih di hatinya, ketika ternyata para sahabatnya
pun masih saja mengingat Adhi Dharma , suaminya itu. Ia menarik nafas panjang
dan ia pun berlari menuju ruang perawatan Ghufran. Disana Ghufran sudah bangun
dan sudah asyik tertawa dengan Gery dan Naysa.
“Sudah ketemu Adelia nyonya?” tanya Gery.
__ADS_1
“Sudah... Berkasnya
banyak banget kayak gini...!” Keluh Sheena.
“Mau saya bantu nyonya..?” tawar Gery kepada Sheena.
“Nggak perlu Ger... Aku sudah banyak merepotkanmu...! nanti
aku check sendiri aja...!” kata Sheena meletakkan berkas berkas itu di meja.
“Gimana Nak... sudah baikan...?” tanya Sheena sambil
menggendong anaknya itu.
“Sudah bunda...!” tapi masih sedikit sakit di belakang sini
ini..!” kata Ghufran menunjuk kepala bagian belakang.
“Nanti kita check up lagi ya...! biar sembuh...!” kata
Sheena mengusap lembut punggung anaknya.
Ghufran pun mengangguk dan tersenyum kepada sheena.
“O iya Na... kita pamit dulu ya ...! masih ada yang harus
kami urus...!” kata Naysa.
“Owh... oke.. terimakasih tante sama om sudah nengokin
Ghufran...!” kata Sheena menirukan ucapan anak kecil.
“Harus sehat ya...!” ucap Naysa mengusap kepala Anak itu.
“ingat ...! besok hati hati kalau lari lari...!” tambah
Naysa.
Mereka berdua pun berpamitan pergi.
“Bunda... Aku mau ke kantin dulu ya... mau beli jus buah...!”
kata Ara.
“Jangan lupa beliin mbak Jum ya..!” jawab Sheena.
“Siappp bunda... Bunda mau?” tanya Ara lagi.
“Cooffe latte aja kalau bunda...!” jawab Sheena.
“Okay... di tunggu ya bun...!” kata Ara berlalu pergi.
Ara pun pergi dengan riangnya menuju kantin Rumah sakit.
Setelah mengantri cukup panjang, Ara pun akhirnya
mendapatkan pesanannya. Karena kurang hati hati ia pun menabrak seseorang
ketika hendak pergi dari kantin rumah sakit itu.
“Hei..! anak kecil..! punya mata nggak..!” bentak wanita
itu.
“Eh..! Anda seharusnya yang saya tanya..! punya mata nggak..!”
balas Ara.
“Masih kecil aja nggak punya sopan santun..!! orangtuamu apa
nggak ngajarin cara berbicara yang sopan dengan orang tua..!!” bentak wanita
itu.
“Jangan bawa bawa orang tua saya ya tante..!! urusan tante
itu sama saya bukan sama orang tua saya..!” kata Ara tak kalah emosi.
“Lagian saya akan sopan dengan orang yang sopan..! kalau
nggak..! jangan harap saya akan berlaku sama..!!” kata Ara.
“hei..! anak kecil..! bisa nggak jangan ngebantah orang tua
kalau ngomong..! dasar anak urakan..! ibumu pasti tidak mendidik dengan
benar..!” kata Wanita itu.
Ara pun membuang Jus dan coffe tersebut tepat ke arah wanita
itu.
“Hei..! kurang ajar ya kamu..!!” kata wanita tersebut tak kalah
emosi dan hendak memukul Ara.
Namun Ara menahan tangan wanita itu dan mencengkeramnya
dengan kuat.
“Ingat..! jangan sebut ibuku tak becus mendidikku...! kau
tidak tahu apa yang kami alami..! sekali lagi kau hina ibuku, aku bisa
mematahkan tangan mu ini wanita jelek..!” Umpat Sheena dengan tetap menggenggam
erat tangan wanita itu.
“Kurang ajar kau..! cepat lepaskan..! lepaskan..!” teriak
Wanita itu yang mengundang kehebohan.
“Lepaskan dokter Rianti..!” Suara bariton itu mengejutkan
Ara.
“papi..!” gumam Ara dan berbalik menoleh ke arah belakang.
“Pa...!” ucapan Ara terhenti.
Ia tidak menemukan sosok papinya itu. Ia hanya melihat
seorang laki laki dengan memakai jas dokter dengan perawakan yang mirip dengan
papinya.
Ketika Ara menoleh, kesempatan itu di gunakan Dokter Rianti
untuk mendorong Ara dengan keras.
“Dasar anak tidak tahu sopan santun..!” Umpat dokter Rianti.
Ara yang tidak ada persipan terlebih dahulu pun terjatuh dan
kepalanya membentur salah satu meja di café itu.
“Riantiiii...!!!!” teriak Dokter Histyam dengan menatap
tajam ke arah dokter Rianti.
Dokter Hisyam pun berlari ke arah Ara. Di papahnya tubuh
mungil itu.
“Sikapmu itu tidak mencerminkan tindakan seorang dokter
Rianti..! akan kuadukan ke ketua nantinya..!” kata Rianti.
“Tapi kan aku sedang bebas bertugas Syam.. dan dia dulu yang
mulai...!” bantah Dokter Rianti.
”Siapapun yang mulai...! dia masih anak anak..! apa
pantas... kamu orang dewasa berkelahi dengan Anak kecil...! nggak waras kamu
ya..!” kata dokter Hisyam dengan tatapan tajam penuh emosi.
“Tapi Syam..! Syam...!!” kata dokter Rianti memanggil dokter
Hisyam yang sudah memapah Ara melewati kerumunan tersebt menuju ke ruangannya.
__ADS_1