Elegi Hati Si Cewek Jutek

Elegi Hati Si Cewek Jutek
Ara dan dokter Rianti


__ADS_3

“Kamu ini kebiasaan Nay..! sudah tahu kalau makan telat itu maag


kamu bisa kambuh lagi..!” kata Gery.


“Hehehe..! kan ada abang...! aman pokoknya kalau sama


abang...!” kata Naysa terkekeh.


“Aish...! orang dewasa ini ... ingat disini ada anak


kecil..!” kata Ara kesal.


“hahahah..!” Naysa pun tertawa melihat muka masam Ara.


“IyApa sebaiknya kalian segera menikah saja... akan lebih


baik seperti itu...!” kata Sheena.


“Sebenarnya gue udah ada rencana sih... sehabis peluncuran


produk G n A itu gue mau bicara sama loe Na rencananya...!” jelas Naysa.


“Lebih baik as soos as possible...! keburu di tempel sama


ulet bulu si dokter Annisa..!” kata Sheena menggoda Naysa.


“Ish... kagak level ya... gue di bandingin sama si Annisa...!”


kata Naysa.


“Bang...!” kata Naysa sambil menatap Gery tajam.


“Iya... iya... kamu yang paling segala galanya buat aku


Nay....!” kata Gery tersenyum.


“Waah... gila kamu ya Nay... mampu meruntuhkan es batu


seperti Gery..!” kata Sheena.


“Hebat kan..! makanya jangan main main sama Naysa...!


apalagi si ulet bulu, nenek sihir  atau


apalah itu... hush hush..! kelaut aja dech..!” kata Naysa kesal.


“Tapi keren juga ya... dokter Annisa sampai rela saingan


sama loe yang nggak mutu..! hahaa..!” kata Sheena.


“Enak saja..!” kata Naysa menyenggol lengan Sheena.


Sementara di ruang dokter Hisyam. Dokter Hisyam sedang sibuk


memeriksa data data pasien yang masuk. Tiba tiba ruangannya di ketuk.


Tok Tok Tok


“Syam..! sudah selesai kan kerjaanya..?” tanya Rianti, Dokter


Spesialis kulit setingkat dengan Hisyam.


“Ada apa..!” Tanya Dokter Hisyam.


“Ayo pulang bareng...!” kata Dokter Rianti.


“Lebih baik kau duluan...! masih ada yang harus aku selesaikan


terlebih dahuliu..!” kata Hisyam.


“Besok ajalah Syam..! ayolah anterin aku pulang...” kata


Dokter Rianti.


“Kau tahu kan... batas waktu kerja kita...! aku harap kamu


juga bisa professional walau kita adalah teman...!”Kata dokter hisyam.


“Ya sudah..! aku tungguin Dech...!” ucap Dokter Rianti


memposisikan dirinya untuk duduk.


“Kalau kamu mau nunggu di situ nggak papa..! aku keluar dulu...!”


kata Dokter Hisyam.


“Lho kok gitu Syam..!” kata Rianti kesal.


“Bisa jangan ganggu saya...!! Ada urusan yang harus saya


selesaikan...! terimakasih..!” ucap Dokter Hisyam beranjak pergi dari


ruangnnya.


“Syam..! Hisyam Wicaknata...!” teriak Dokter Rianti namun


tidak di pedulikan oleh Hisyam.


Hisyam yang memang menghindari Dokter Rianti pun masuk ke


dalam lift untuk sekedar turun ke lantai 1 mengistirahatkan pikirannya sejenak


di café tepat depan rumah sakitnya.


“tunggu...!!” kata seorang wanita ketika lift akan tertutup.


Hisyam menekan tombol lift agar wanita tersebut bisa masuk.


“Eh, anda...!” kata Wanita itu.


“Ya Ampunn...! sepertinya dunia ini memang sempit sekali


ya..!” Cibir Sheena.


“Anda mau masuk atau tidak?” tanya Hisyam datar.


Dengan langkah kesal Sheena pun akhirnya masuk ke dalam lift


tersebut. Hanya keheningan yang ada di ruang lift itu.  Tiba tiba lift terhenti sebelum samapi ke


lantai 1.


“Ini kenapa lagi...!” Gerutu Sheena.


“Susah memang kalau rumah sakit kecil seperti ini..!


semuanya tidak mematuhi standar operasional..!” Lanjut Sheena.


“Hei nyonya..! anda tahu rumah sakit ini merupakan rumah


sakit pusat di daerah ini..! dan jangan karena masalah sepele seperti ini anda


menyamaratakan pelayanannya..! ini adalah kendala teknis..! apa anda perlu saya


jelaskan apa itu kendala teknis..! sepertinya anda lebih berpengalaman dari


pada saya..!” kata Dokter Hisyam.


“tapi kenyatannya memang seperti itu..!” balas Sheena.


“Bahkan di rumah sakit besar pun pasti pernah mengalami


kendala teknis..!” tambah Dokter Hisyam.


“Berisik..!!” Umpat Sheena.


“Sepertinya anda memang orang yang tidak tahu bagaimana cara


bersopan santun..! saya jadi penasaran bagaimana anda mengajari anak anda


bersopan santun jika ibunya saja tidak bisa berlaku sopan..!” ucap Dokter


Hisyam tegas.


“Permisi Tuan Dokter yang terhormat..! apa anda sudah selesai


bicara..! tolong cepat hubungi siapapun yang bisa mengeluarkan kita dari


sini..! ponsel saya tertinggal...!” kata Sheena.


“Ck..!” Dokter Hisyam pun akhirnya mengambil ponselnya dan

__ADS_1


menghubungi seseorang lewat pesan karena sinyal yang jelek di dalam lift yang


tidak memungkinkan ia untuk menelpon seseorang.


“Puas..!” Kata Dokter Hisyam.


Sheena hanya melirik sinis ke arah dokter tersebut. Ia pun


duduk di pojok lift tersebut dan menunggu bantuan datang. Beebrapa saat


kemudian terdengar bunyi gaduh dari luar.


“sepertinya bantuan sudah datang..!” kata Dokter hisyam.


“hmm...!” jawab Sheena.


Akhirnya pintu Lift pun terbuka dan mereka pun di sambut


oleh para teknisi yang membuka pintu Lift tersebut.


“Maaf pak...nanti akan kami cek lagi keadaan lift yang


lain...!” kata salah satu teknisi tersebut.


“Kalau terjadi seperti ini lagi...! kalian akan saya


pecat...! dan jangan harap dapat pesangon dari sini..! kalian yang harus ganti


rugi atas kemalangan korban..! mengerti..!” kata DOkter Hisyam tegas.


“wuihh... orang ini..! sama sama galaknya..!” batin Ansha.


“Minta maaf sama nyonya yang disana .. karena kecerobohan


kalian... dia hendak memindahkan anaknya dari rumah sakit yang katanya tidak


kompeten ini...!” Lanjut Dokter Hisyam kemudian berlalu pergi.


“Eh..! orang ini..! melimpahkan kekesalannya kok ke aku


sih..! dasar..!!” umpat Sheena dalam Hati.


“Nyonya... Maafkan kami nyonya... saya harap nyonya tidak


memindahkan anak nyonya dari rumah sakit ini..! kami masih butuh makan untuk


keluarga kami nyonya.. kami mohon..!” kata para teknisi tersebut.


“Eh, I-ya..i-ya.. tidak akan saya pindahkan... tenang


saja..!” kata Sheena terbata bata padahal dalam hatinya mengumpat dan memaki dokter


tersebut.


“Terimakasih nyonya...! terimaksih..!” kata para teknisi


tersebut.


Sheena pun berlalu pergi dari sana dan menyusul dokter Hisyam


“hei... Dokter..! dokter Hisyam...!! berhenti..!’ Ucap


Sheena agak Keras.


Dokter Hisyam yang di panggil pun menoleh ke belakang.


“Ada apa lagi..!” kata Dokter Hisyam jengah.


“Tunggu...! apa maksud dokter berkata seperti itu kepada


Para pegawai tadi...!” Tanya Sheena penuh Selidik.


“Kenapa? Anda tidak terima? Bukankah memang tadi anda yang


berkata seperti itu..! ingin memindahkan anak anda ke Rumah sakit yang tidak


mengalami gangguan teknis..!Ucap Dokter Hisyam menegaskan.


“Anda jangan memutar balikkan fakta..! bukankah saya sudah


berniat memindahkan anak saya itu sebelum kita terjebak di dalam Lift...!” kata


“Sebentar nyonya..! anda tadi turun untuk apa coba...!


kenapa masih berada di sini...!” balas Dokter Hisyam.


“Jangan menaglihkan pembicaraan...!”


“Eh, i-ya... Adelia... Adelia menunggu di tempat parkir..!”


kata Sheena yang terkaget kalau ia melupakan janjian ketemu dengan Adelia di


tempat parkir. Ia kemudian berlari menuju tempat parkir di rumah sakit


tersebut, tapi sejurus kemudian ia berbalik dan menarik lengan dokter Hisyam hingga


menghadap ke arahnya.


“Kali ini anda beruntung... awas lain kali...!” kata Sheena


yang kemudian berlalu pergi.


“Dasar wanita Aneh...!” gerutu Dokter Hisyam dan kemudian ia


berbalik pergi.


Sementara di tempat parkir, Adelia sudah menunggu Sheena


lama sekali.


“Adel..!” teriak Sheena dari belakang.


“Ya elah ni orang... udah tua juga kelakuan kayak ABG..!


ngapain teriak teriak..!” kata Adelia.


“nggak papa si Del...! pengen Aja...!” kata Sheena.


“Nih... data yang kamu butuhkan...!” kata Adelia.


“Para investor banyak yang menanamkan modal ke kita...


jangan sampai kita mengecewakan mereka..” Kata Adelia.


“Iya .. iya Bawel...!” kata Sheena.


“Terimaksih ya Del... akan gue pelajari lebih dulu


dokumennya..” kata Sheena.


“Oke... kalau begitu gue  permisi dulu ya..! ada urusan..!” pamit Adelia.


“Loe sendirian..? Marco kemana?” tanya Sheena penasaran.


“Emang pacaran itu harus ya... nempel terus kayak


perangko...! kayak loe sama suami loee itu... lengkeeeet aja kayak uler


keket..!” kata Adelia reflek.


Sheena pun terdiam.


“Eh, maaf  Na... ! gue


nggak bermaksud seperti itu..!” Ucap Adelia sedih.


“Nggak papa...! sudah sana ...! pasti loe juga banyak urusan


kan....” kaat Sheena mengembangkan senyumannya.


“Bye...!” ucap Mereka bersama sama.


Ada rasa sedih di hatinya, ketika ternyata para sahabatnya


pun masih saja mengingat Adhi Dharma , suaminya itu. Ia menarik nafas panjang


dan ia pun berlari menuju ruang perawatan Ghufran. Disana Ghufran sudah bangun


dan sudah asyik tertawa dengan Gery dan Naysa.


“Sudah ketemu Adelia nyonya?” tanya Gery.

__ADS_1


“Sudah...  Berkasnya


banyak banget kayak gini...!” Keluh Sheena.


“Mau saya bantu nyonya..?” tawar Gery kepada Sheena.


“Nggak perlu Ger... Aku sudah banyak merepotkanmu...! nanti


aku check sendiri aja...!” kata Sheena meletakkan berkas berkas itu di meja.


“Gimana Nak... sudah baikan...?” tanya Sheena sambil


menggendong anaknya itu.


“Sudah bunda...!” tapi masih sedikit sakit di belakang sini


ini..!” kata Ghufran menunjuk kepala bagian belakang.


“Nanti kita check up lagi ya...! biar sembuh...!” kata


Sheena mengusap lembut punggung anaknya.


Ghufran pun mengangguk dan tersenyum kepada sheena.


“O iya Na... kita pamit dulu ya ...! masih ada yang harus


kami urus...!” kata Naysa.


“Owh... oke.. terimakasih tante sama om sudah nengokin


Ghufran...!” kata Sheena menirukan ucapan anak kecil.


“Harus sehat ya...!” ucap Naysa mengusap kepala Anak itu.


“ingat ...! besok hati hati kalau lari lari...!” tambah


Naysa.


Mereka berdua pun berpamitan pergi.


“Bunda... Aku mau ke kantin dulu ya... mau beli jus buah...!”


kata Ara.


“Jangan lupa beliin mbak Jum ya..!” jawab Sheena.


“Siappp bunda... Bunda mau?” tanya Ara lagi.


“Cooffe latte aja kalau bunda...!” jawab Sheena.


“Okay... di tunggu ya bun...!” kata Ara berlalu pergi.


Ara pun pergi dengan riangnya menuju kantin Rumah sakit.


Setelah mengantri cukup panjang, Ara pun akhirnya


mendapatkan pesanannya. Karena kurang hati hati ia pun menabrak seseorang


ketika hendak pergi dari kantin rumah sakit itu.


“Hei..! anak kecil..! punya mata nggak..!” bentak wanita


itu.


“Eh..! Anda seharusnya yang saya tanya..! punya mata nggak..!”


balas Ara.


“Masih kecil aja nggak punya sopan santun..!! orangtuamu apa


nggak ngajarin cara berbicara yang sopan dengan orang tua..!!” bentak wanita


itu.


“Jangan bawa bawa orang tua saya ya tante..!! urusan tante


itu sama saya bukan sama orang tua saya..!” kata Ara tak kalah emosi.


“Lagian saya akan sopan dengan orang yang sopan..! kalau


nggak..! jangan harap saya akan berlaku sama..!!” kata Ara.


“hei..! anak kecil..! bisa nggak jangan ngebantah orang tua


kalau ngomong..! dasar anak urakan..! ibumu pasti tidak mendidik dengan


benar..!” kata Wanita itu.


Ara pun membuang Jus dan coffe tersebut tepat ke arah wanita


itu.


“Hei..! kurang ajar ya kamu..!!” kata wanita tersebut tak kalah


emosi dan hendak memukul Ara.


Namun Ara menahan tangan wanita itu dan mencengkeramnya


dengan kuat.


“Ingat..! jangan sebut ibuku tak becus mendidikku...! kau


tidak tahu apa yang kami alami..! sekali lagi kau hina ibuku, aku bisa


mematahkan tangan mu ini wanita jelek..!” Umpat Sheena dengan tetap menggenggam


erat tangan wanita itu.


“Kurang ajar kau..! cepat lepaskan..! lepaskan..!” teriak


Wanita itu yang mengundang kehebohan.


“Lepaskan dokter Rianti..!” Suara bariton itu mengejutkan


Ara.


“papi..!” gumam Ara dan berbalik menoleh ke arah belakang.


“Pa...!” ucapan Ara terhenti.


Ia tidak menemukan sosok papinya itu. Ia hanya melihat


seorang laki laki dengan memakai jas dokter dengan perawakan yang mirip dengan


papinya.


Ketika Ara menoleh, kesempatan itu di gunakan Dokter Rianti


untuk mendorong Ara dengan keras.


“Dasar anak tidak tahu sopan santun..!” Umpat dokter Rianti.


Ara yang tidak ada persipan terlebih dahulu pun terjatuh dan


kepalanya membentur salah satu meja di café itu.


“Riantiiii...!!!!” teriak Dokter Histyam dengan menatap


tajam ke arah dokter Rianti.


Dokter Hisyam pun berlari ke arah Ara. Di papahnya tubuh


mungil itu.


“Sikapmu itu tidak mencerminkan tindakan seorang dokter


Rianti..! akan kuadukan ke ketua nantinya..!” kata Rianti.


“Tapi kan aku sedang bebas bertugas Syam.. dan dia dulu yang


mulai...!” bantah Dokter Rianti.


”Siapapun yang mulai...! dia masih anak anak..! apa


pantas... kamu orang dewasa berkelahi dengan Anak kecil...! nggak waras kamu


ya..!” kata dokter Hisyam dengan tatapan tajam penuh emosi.


“Tapi Syam..! Syam...!!” kata dokter Rianti memanggil dokter


Hisyam yang sudah memapah Ara melewati kerumunan tersebt menuju ke ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2