
Gery turun dari mobil hitam tersebut dan memasuki gedung
yang menjulang tinggi itu.
“Selamat pagi pak...!” sapa reseptionis yang berada di depan kantor.
Tanpa menjawab, Gery terus saja melangkah menuju ke
ruangnnya di lantai 3.
“Pak Gery itu...gantengnya masyAllah....” ucap para karyawan
yang berada disana.
“Tapi sikapnya...aduuh datar banget...!” kata yang lainnya.
“11-12 lah sama Boss kita...!” kata yang lainnya.
“Mau dong...jadi istrinya...simpanannya juga boleh...!” kata
pegawai yang berkerumun di sana.
“Sudah ah...ayo kembali bekerja...kita bisa di pecat sama atasan kalau ketahuan ngrumpi...!” ucap karyawan wanita yang sudah agak berumur disana.
Mereka pun kembali ke divisi masing masing.
Sesampainya di ruangannya, Gery melihat isi flashdisk yang
di berikan anak buahnya tadi. Ia membulatkan matanya, sungguh di luar dugaanya,
ternyata jaringan si Chandra ini memang hanya kedok membantu anak anak yang
kurang mampu. Tapi kebanyakan anak ank tersebut malah dianiaya dan dijual ke
perdagangan manusia.
Dia melihat dengan seksama data data orang orang yang
terlibat dengan perusahaan Chandra. Dan ia menemukan hal yang di luar dugaan.
Keterkejutannya semakin menjadi jadi ketika menyaksikan bukti bukti illegal
yang dilakukan oleh orang ini.
“Bagaimana bisa dia terlibat?” batin Gery.
Gery segera bertindak cepat. Ia menelpon anak buahnya yang
ada di singapura untuk memata matai sebuah perusahan yang terkait dengan
perusahan Chandra.
“Aku ingin kalian kirimkan hasilnya dalam dua hari...!” kata Gery dingin.
Kemudian ia menutup panggilan telpon tersebut.
“Ternyata bisnis perusahaan si brengsek itu telah mengular
bahkan sampai ke beberapa Negara...!bagiamana caranya bisa menghentikan mereka dan
membuat mereka hancur..!” kata Gery lirih.
“Pastinya ini akan sangat tidak mudah...!apalagi orang orang
yang bekerjasama dengan si brengsek itu adalah orang orang besar..”
“Aku harus mencari perusahaan perusahaan yang mau di ajak
bergabung dengan perusahaan si boss...untuk memperkuat pertahanan perusahaan
ini..!” batin gery menatap tajam data data tersebut.
Tok tok tok
Suara pintu kantor di ketuk.
“Masuk..!” ucap Gery.
Seorang gadis cantik dan seksi datang ke arahnya.
“Maaf Pak...hari ini anda ada janji ketemu dengan perusahan Amira Art and design untuk desain produk baru perusahaan ini...!” kata Alya, Sekretaris Gery.
“Hmm...pergilah...jam 9 kita berangkat..!” kata Gery dingin.
Alya pun mengundurkan diri dari ruangan Gery.
“Aku heran dech sama pak Gery...aku udah dandan maksimal
kayak gini...!udah seksi dan cantik kayak gini...malah nggak ngelirik
sedikitpun..!” ucap Alya kesal.
“Lihat saja nant...akan ku buat Anda benar benar bertekuk
lutut padaku..!” kata Alya kesal.
Sementara Gery masih sibuk dengan data data di flashdisk.
“lebih baik aku backup dulu data data ini..sebelum aku
mengaadakan meeting dengan Amira art and design!” gumam Gery.
Dengan kecepatan dan ketelitian Gery, Data data tersebut
sudah berhasil di backup dan di kunci agar tidak terjadi kebocoran dari dalam.
Kemudian ia melanjutkan memeriksa beberapa file perusahaan.
“kenapa file file ini banyak sekali...Boss Boss kemanakah
dirimu...!aku hampir mati dengan tumpukan berkas berkas ini..!” keluh Gery.
Setelah sekian lama berkutat pada berkas berkas, Gery pun
melihat jam tangannya. Pukul 08.17, masih ada sisa waktu sekitar 13 menit untuk
menyelesaikan berkas berkas sisanya setelah itu ia akan segera meluncur menumui
pemilik Amira art and design. Gery menekan gagang telpon di depannya.
“kita majukan jadwalnya..segera bersiap siap jam 08.30..!”
kata Gery ke sambungan telpon tersebut.
“Baik pak...!” jawab Alya.
Gery memulai menyiapkan berkas yang dipelukan. Ia tipe orang
yang tidak mudah percaya sama orang jadi dia sering mengecek kembali semua berkas
yang ia butuhkan.
Gery bangkit dari tempat duduknya dan melangkah membuka
pintu ruangannya.
“Sudah siap?!” kata Gery datar.
“Sudah pak..!” jawab Alya.
Mereka berdua akhirnya menuruni kantor dan masuk ke mobil.
Sebelum Gery sempat mengemudikan mobilnya, tiba tiba Alya menerima pesan masuk.
“Pak...ini dari pihak Amira mengubah tempat pertemuannya..”
kata Alya.
“Berani beraninya mereka mengatur jadwal sesuka hati
mereka..!” kata Gery tersirat amarah di wajahnya.
“Katanya, Ada trouble dengan mobil pemilik Amira...jadi
mereka memilih tempat terdekat dengan posisi mereka..!”tambah Alya.
“Cih...!besok kedepannya, jangan pakai jasa Amira Art and
design..!” kata Gery tajam memperingatkan.
“Baik pak...!” kata Alya.
Alya merasa senang karena ia bisa bersama sama dengan Pak
bossnya itu. Ia benar benar tergila gila dengan bossnya itu.
“Kalau terus terus begini juga nggak papa...aku diajak
kemanapun oke oke aja pak...ayo lah bawa aku kemana gitu pak...jangan kerja
teruus...!” kata Alya dalam hati.
Gery tidak memperhatikan sekretarisnya itu. Ia tetap focus
opada jalanan yang lumayan ramai dan padat.
Sekitar 30 menit mereka sudah sampai di tempat yang di
tentukan oleh pemilik Amira. Gery turun dari mobilnya diikuti oleh
sekretarisnya itu.
“Katanya meja no. 9 pak...” kata Alya.
“Permisi pak buk...ada yang bisa kami bantu..?” kata pelayan
café tersebut.
__ADS_1
“Kami sudah ada janji di meja no.9” kata Alya.
Gery hanya diam mengendarkan seluruh pandangannya ke café
tersebut.
“Baik bu..kami akan tunjukkan mejanya..!” kata pelayan tersebut.
Gery dan Alya mengikuti pelayan tersebut, ruangan VVIP itu
memang berada jauh masuk di dalam café.
“Ini pak...tempatnya...silahkan masuk...!” kata pelayan tersebut.
“Terimakasih mbak...!” ucap Alya.
Gery dan Alya membuka pintu ruang tersebut. Seketika itu Gery
terkejut karena didalam ruangan tersebut sudah duduk seseorang yang begitu di
kenalnya. Yang di lihat tidak menyadari kedatangan Gery. Ia masih sibuk dengan
laptopnya. Gadis itu berpakaian berbeda dari biasanya. Bahkan terkesan lebih feminine.
“Ehem ehem..” Gery berdehem menyadarkan dua orang yang
sedang asyik dengan laptopnya.
Mereka berdua menoleh ke arah pintu tepat dimana sosok pria bertubuh
tegap dan berkulit putih itu berdiri.
“Pak tua..?!!” kata Naysa.
Reita menyenggol lengan Naysa.
“Itu Assisten perusahan KY group yang terkenal
itu...bersikaplah yang sopan...!” kata Reita mengingatkan.
“Bisa bahaya kalo kita tidak mendapatkan job dari perusahan
itu..”. lanjut Reita
Naysa langsung terdiam menundukkan kepalanya menghormati
pria tua tersebut.
“Ish...kalau saja dia bukan orang yang berkuasa...kagak sudi
aku berbaik baik kayak gini..!” ucap naysa dalam hati.
“Jangan mengumpat Nona...!!anda tahu kan akibatnya..!” Suara
bariton itu mengagetkan semuanya.
“dasar Pria tua...!! dia itu cenayang apa apa si...bisa baca
pikiran orang..!” gerutunya dalam hati.
Naysa hanya mencebikkan mulutnya, meratapi nasibnya yang
bagaikan makan buah simalakama.
Mau melawan takut tendernya tidak disetujui, kalau tidak
melawan laki laki tua ini pasti akan menginjak injaknya.
“HUH..!!!” desah Naysa.
Gery kemudian duduk ke kursi yang berada di hadapan dua
gadis itu diikuti dengan Alya.
“Bagaiman nona..ada yang ingin anda sampaikan..?!” kata Gery
mengintimidasi Naysa.
“O iya pak...ini kami sampaikan model rancangan yang telah
kami desain..” kata Reita
“Saya ingin dia yang menjelaskan desainnya..!” ucap Gery
tegas.
“Eh..!” mbak Reita melihat ke arah Naysa dengan tatapan
tanda tanya.
“Sepertinya dia orang baru...dari penampilannya mungkin
butuh pengetahuan yang lebih agar bisa memenangkan kerja sama ini...!” Kata
Gery menunjuk ke arah Sheena.
tenggelam dech...!!!” batin Naysa menjerit.
“Tapi...rekan kerja saya ini...” belum sempat Reita
menjelaskan, pandangan Gery sudah tajam menatap Reita seakan akan ingin
menelannya hidup hidup.
“Baik pak...” jawab Reita sambil menelan ludah kasar.
Ia pun menyerahkan laptopnya ke Naysa untuk di presentasikan.
Sedang Alya merasa was was kenapa Pak Boss nya tiba tiba berubah seperti itu.
Biasanya dia hanya akan peduli pada presentasinya bukan orang yang memaparkannya.
“Baiklah...oke fine..!gue jelasin nih ya..!tapi awas aja
kalo tender ini tidak di kasihkan ke gue..!!gue tonjok sampai bonyok kau wahai
pria tua..!” kata kata tersebut hanya ia sembunyikan dalam hati tidak berani
terucap oleh mulut Naysa.
“Apakah nona ini hobi mengumpat orang dalam hati?” kata Gery
mengalihkan pandangannya ke Naysa.
“Pria itu mungkin utusan mak lampir kali ya...bisa tahu
pikiran dan hati gue..!” gerutu Naysa dalam hati.
“Tidak pak...baik akan saya coba jelaskan konsepnya...” hanya
itu yang terucap dari mulut Naysa.
Naysa pun mulai memaparkan konsep dari rancangan desain
produk tersebut. Butuh waktu hampir dua jam untuk menanggapi pertanyaan
pertanyaan yang terlontar dari Gery.
Memang diakui Naysa, bahwa pria tua itu ternyata sangat
teliti dan hati hati dalam memilih suatu konsep rancangan desain. Apalagi ini
berkaitan dengan perusahaan yang adi daya di Negara ini.
Setelah Naysa mempresentasikan konsepnya, mereka pun menikmati makanan yang disajikan.
“Sejak kapan Pak Gery mau makan setelah meeting...biasanya
langsung tancap gas nggak mau tahu urusan selanjutnya” batin Alya.
“Pak..maaf pak..mau tanya...ini bapak nggak ada meeting lagi
ato apa gitu...ke proyek mana gitu...?!” kata naysa yang sudah jengah karena
ketiga perempuan itu jadi kikuk karena ada assisten Gery. Mereka makan seakan
akan nyangkut di tenggorokan dan nggak bisa kenyang.
“Kamu ngusir saya..?!!” tanya Gery sinis.
“ Nggak lah pak...mana berani saya...nasib saya, mbak Reita
dan puluhan karyawan kami berada di tangan bapak sekarang..!” kata Naysa sinis.
Ia menutup mulutnya. Ia benar benar tidak bisa mengontrol
mulutnya itu jika berhadapan dengn pria di hadapannya sekarang.
Mbak Reita sudah memelototinya dan mencubit pelan lengan Naysa.
“Maaf...bisa tinggalkan kami sebentar...!” kata Gery datar.
“Alhamdulillah...!ucap Naysa buru buru mengambil tasnya
hendak pergi.
“Kamu tetap disini..!yang lainnya keluar...!” ulang Gery
lagi.
“Mampus...!!!ya Allah tolongin gue hari ini...biar tidak di
kirim ke neraka sama pria tua ini..!” jerit hati Naysa.”
Alya yang melihat reaksi itu benar benar kaget. Kenapa
bossnya bisa berubah 180 derajat menjadi orang yang tidak ia kenal selama ini.
__ADS_1
“Kamu...pesan taksi online saja langsung ke kantor..!” kata
Gery tajam ke arah Alya.
“Dan Anda?apakah anda bawa mobil sendiri nona?” tanya Gery
pada Reita.
“Iya Pak...saya bawa mobil...tapi nanti Naysa...” belum
sempat Reita meneruskan omongannya, Gery memotong perkatan Reita.
“Nanti gadis bar bar ini biar sama saya..!” ucap Gery
tersenyum licik.
“Ish...orang ini maunya apa coba...seneng banget lihat gue
menderita...!menyebalkan..!” gumam naysa pelan.
“Saya paling tidak suka orang yang mengumpat saya..!” kata Gery.
Naysa hanya bisa terdiam sambil menahan amarahnya. Sedang
Alya dan Reita sudah mengundurkan diri dari ruangan tersebut.
“Duduk...!” perintah pria itu.
“Duduk ya duduk si...nggak usah ngegass..!!” ucap Naysa
kesal.
“Kamu tahu kesalahanmu apa..?” Tanya Gery.
“Ya elah pak...kalau menurut saya si saya tidak punya salah
apa apa...!dari tadi juga gini gini aja...!” kata Naysa menahan emosi.
“Bapak kali yang bermasalah...dari tadi bawaannya ngegas
teruuss..!” tambah Ansha.
“Jadi...menurutmu aku yang salah?” kata Gery.
“Ya mana berani saya pak...bisa bisa bisnis gue End..!!” gerutu Naysa.
“Sebenarnya aku sudah memutuskan untuk tidak memilih Amira
Art and Desin untuk konsep produk perusahaan kami..tapi karena kami berbaik
hati saja kami memberikan kesempatan kepada kalian...!”ucap Gery sinis.
“Ckckck...!!kejam amat..!nasib karyawan saya itu tergantung
sama keputusan Bapak..!kalau bapak punya masalah dengan saya ya jangan bawa
bawa yang lainnya pak..!” ucap Naysa kesal.
“Bisa di pertimbangkan...tapi dengan satu syarat..!” kata
Gery menyeringai licik.
“Ish..perasaan gue kagak enak ini...sumpah...!lihat wajah
bapak kayak gitu aja gue udah merinding...kayak ada hawa makhluk halus di
sekitar gue...sensasinya itu....hiiii...sereemmm...!” cerocos Naysa.
Gery hanya menatap malas ke arah Naysa.
“Ya udah pak...syaratnya apa?” kata Naysa mantap.
Gery sejenak berpikir dan akhirnya ia mempunyai ide dimana
gadis itu akan di tempatkan.
“Apa pak...ayo cepetan...!nih ya pak...Bapak orang
kaya...sedang saya itu harus banting tulang buat makan...!!jadi jangan sita
waktu saya yang berharga ini Bapak gery yang terhormat..!” Kata Naysa tidak
sabar.
“Aku ingin anda menjadi penanggung jawab untuk konsep dan keseluruhan
proses peluncuran sampai promosi untuk produk baru kita..! gimana??”tanya Gery.
“Kita..??? anda saja kaleee...!!nggak.. nggak bisa gitu donk
pak...saya ini masih amatiran...kerja aja belum bener...nanti kalau ada
kesalahan saya nggak kuat nanggung beban ganti ruginya pak...beban hidup saya
saja sudah banyak..!!” ucap Naysa yang sangat kesal dengan tawaran Gery.
“Cih...ternyata anda memang tidak peduli sama nasib
karyawanmu...!” kata Gery.
“hey..!!! Jaga bicara anda ya ...!!”
“Justru saya yang paling peduli dengan mereka..!”
“Buktikan..!!” tambah Gery.
“Ya Allah... kenapa Kau ciptakan orang seperti dia..!!” kata
Naysa geram.
Gery masih tenang dan datar dalam menghadapi Naysa, padahal
Naysa sudah emosi tingkat dewa.
“Ske fine..!!setuju..deal..!!” kata Naysa yang tersulut
emosinya.
“Baiklah nona...aku butuh kepastian agar kau tidak lari
tanggung jawab...!” lanjut Gery.
“Ish...kalaupun saya lari...saya bisa lari kemana tuan
Gery??saya yakin tangan dan mata mata anda dimana dimana bukaan??” sindir
Naysa.
Gery pun memanggil pelayan membawakan materai dan selembar
kertas. Dia pun menuliskan isi kontrak perjanjian itu.
“Tanda tangani ini...!” kata Gery.
“Ish...permisi ya tuan...saya baca dulu...!saya tidak mau di
kibulin oleh otak anda yang jenius itu..!” kata Naysa.
“Jadi anda mengakui saya jenius??” tanya Gery.
“Salah ucap Tuan...mulut saya kesleo..!” elak Naysa.
Naysa membaca perlahan lahan isi kontrak tersebut. Kemudian
membubuhkan tanda tanagn ke kertas tersebut.
“ Sekarang boleh saya pulang Bapak Gery yang tampan dan baik
hati seperti malaikat..!!” kata Naysa.
Gery tersenyum.
“Sepertinya...hari ini anda sudah mulai bekerja..!” kata
Gery sambil berdiri.
“Silahkan ikuti saya..!” lanjutnya.
“Eitss...!!!apa apan ini..!nggak ada dalam surat perjanjian..!” kilah Naysa.
“Lihat baik baik nona...poin no. 3..”kata gery sambil menyodorkan kertas perjanjian itu.
Pihak kedua akan segera mulai bekerja setelah menandantangani surat perjanjian
“Apa apaan ini..!” kata Naysa.
“Bukankah anda sudah membacanya dengan teliti..!” kata Naysa.
“Dasar Licik..!!kau..!!” kata Naysa terhenti.
“Ingat nona...saya disini Bossnya..!apakah anda tidak takut
dengan nasib karyawan anda..? bukankah tadi ada yang bilang kalau ada yang
paling peduli sama karyawannya..!” kata Gery dengan seringaian Licik.
Naysa hanya berdecak kesal dan menggerutu dalam hatinya.
Jangan lupa tekan like, commnet and votenya dan dijadikan favorit ya kak....terimaksih atas dukungannya...
__ADS_1