
I need somebody to heal
Somebody to know
Somebody to have
Somebody to hold
It's easy to say
But it's never the same
I guess I kinda liked the way you numbed all the pain
Now the day bleeds
Into nightfall
And you're not here
To get me through it all
I let my guard down
And then you pulled the rug
I was getting kinda used to being someone you loved
Terdengar lagu Lewis Capaldi di kamar tersebut. Cahaya bulan yang mulai di selimuti kabut membuat malam Ini sungguh menyedihkan. Dengan meringkuk di samping kasur yang mewah, wanita itu menahan suara isak tangisnya. Airmatanya terus saja mengalir. Mungkin dari luar dia terlihat wanita yang sangat kuat namun ia begitu rapuh di dalam.
"apa yang harus aku lakukan mas..! Aku sendirian...! Tolong cepatlah kembali..." kata wanita itu terbata bata sambil memegang foto pernikahannya.
Keesokan harinya, Sheena sudah rapi, menjadi sosok wanita yang tegar kembali dan seakan akan kuat mengalahkan apapun yang ada di depannya nantinya. Ia pun kemudian turun untuk sarapan.
" Na.. Sabtu kamu kekantor? Bukannya libur?" tanya bu Shinta.
"Ada beberapa dokumen yang harus Sheena tanda tangani mi..." jawab sheena.
"ya sudah... Tapi jangan lupa nanti malam ada acara makan malam sama temennya papi mu... Habis maghrib harus sudah berada di rumah ya Na..." kata bu Shinta.
"iya mi..." jawab Sheena.
"Ara dan Afran mana mi.. Tumben nggak kelihatan..?" tanya Sheena.
"masih tidur... Mungkin kecapean... Biarkan saja... Toh hari libur juga... " jawab bu Shinta.
"papi?" lanjutnya.
__ADS_1
"Papimu sedang olahraga di belakang..." jawab Bu shinta.
Setelah mengambil sarapannya, mereka pun makan dengan tenang.
"kalau gitu Sheena berangkat dulu..." pamit sheena kepada bu Shinta.
"hati hati ya Na..." sahut bu shinta.
Sheena pun melajukan mobilnya ke arah kantor.
Sesampainya di kantor, Sheena langsung menuju ruangannya.
"Sudah kamu siapkan semuanya Ger?" tanya Sheena.
"Sudah nyonya..." jawab Gery.
"o iya... Segeralah nikahi Naysa... Jangan terlalu berfokus padaku dan keluargaku... Kalian juga harus bahagia.." kata Sheena.
"rencananya bulan depan kami mau cari cari WO yang cocok untuk kami..." jawab Gery.
"baguslah... Aku selalu mendukung kalian.." kata Sheena.
"Aries kemana? Tumben Batang hidungnya tidak nampak?" tanya Sheena.
"Dia ada urusan di luar kota untuk beberapa hari.. Nyonya.. " jawab Gery.
"ya sudah... Hari ini aku harus pulang cepat... Di rumah ada acara... Nanti sisanya tolong kamu handle ya Ger?" pinta Sheena.
Setelah berkutat dengan beberapa dokumen, Sheena pun melihat jam di tangannya.
"Ah.. Ternyata sudah jam segini..." desah Sheena sambil membereskan dokumennya dan beranjak untuk pulang ke rumah.
"Ger, aku pulang dulu..." ucap Sheena.
"baik Nyonya..." jawab Gery.
Sheena pun melangkah keluar kantor yang megah itu.
Di perjalanan ia mampir membeli kue kesukaan Ara dan afran sekalian untuk suguhan nanti untuk rekan kerja papinya.
Sesampainya di rumah, sudah terlihat mobil asing yang parkir di depan rumah Sheena.
"Apa mereka sudah datang..." batin Sheena. Ia pun memarkirkan mobilnya dan turun memasuki rumah.
"bunda..." teriak Afran dari arah belakang Sheena sebelum Sheena sempat membuka pintu.
"Ara, Afran...! Darimana memangnya kalian?" tanya Sheena penasaran.
__ADS_1
"habis Ashar tadi non Ara sama den Afran pengen makan ayam kriuk non... Terus akhirnya jalan jalan sebentar..." ucap Bi Inah.
"owh... Ini bunda juga bawain Kue kesukaan Ara sama Afran..." kata Sheena.
"Yeayyy...!" ucap Afran kegirangan.
"hsst... Pelan pelan... Opa sama oma ada tamu...!" kata Sheena pelan kepada anaknya.
Akhirnya mereka bertiga pun masuk bersamaan.
Mendengar suara ramai dari arah pintu, orang orang yang ada di rumah itu pun menoleh ke arah mereka.
"papi dokter...!" teriak Afran kegirangan dan berlari memeluk Dokter Hisyam.
Dokter Hisyam pun kaget, tidak menyangka teman ayah nya itu adalah kakek dan nenek dari kedua anak kecil yang selalu saja menghantui pikirannya selama ini.
"lho lho... Afran sudah kenal sama dokter Hisyam?" tanya Bu Shinta.
"iya oma.. Ini papi dokter yang Afran critain..." ucap Afran polos memeluk erat Dokter hisyam.
"papi dokter gendong..! Afran capek habis jalan jalan..!" pinta Afran.
"Afran..! Jangan manja...! " bentak Sheena.
Afran pun akhirnya bersembunyi di belakang dokter hisyam karena takut akan bentakan bundanya.
Melihat itu, dokter Hisyam pun mengangkat tubuh mungil itu.
"nggak papa... Nih sudah di gendong papi dokter kan.. " kata Hisyam sambil melirik ke arah sheena.
" Na.. Salim dulu sama om Haidar dan Tante Andita..." kata Bu shinta.
Sheena pun melangkah mengulurkan tangannya ke arah dokter Haidar dan istrinya.
" ini putranya, namanya Hisyam... Dia juga dokter lho... Kalian kayaknya sudah kenal.."lanjut Bu Shinta.
" kenapa orang ini bisa di sini... Ya Allah.. Dunia ini mengapa begitu sempit..!! " batin Sheena.
" dan ini putri dokter Haidar namanya Emily.. " tambah bu shinta.
Sheena hanya memaksakan senyumannya.
" kalau begitu Saya permisi ke atas dulu... Mau ganti baju... " pamit Sheena meninggalkan mereka semua.
" papi dokter... Ayo ke kamar Afran... Afran ada mainan yang mau Afran tunjukin sama papi dokter..." kata Afran masih dalam gendongan Dokter Hisyam
" Afran turun..! Nggak sopan..! " kata Ara tegas.
__ADS_1
" nggak mau... Weeekkk...! Kakak pasti iri kan.." kata Afran menggoda kakaknya.
Kedua keluarga itupun tersenyum melihat kelakuan dua bocah itu.