Elegi Hati Si Cewek Jutek

Elegi Hati Si Cewek Jutek
the game will be started...


__ADS_3

Mereka bertiga akhirnya sampai di rumah sakit.  Adhi dan Sheena menuju ke ruangan dimana Ara


dirawat. Dilihatnya Disana  Ara masih bercanda dengan mami Adhi dan Mbok Minah.


“Assalamualaikum....” ucap Sheena bebarengan dengan Adhi.


“Walaikum salam...” sahut ketiga orang yang berada di ruangan tersebut.


“Papi sama bunda kok lama sih...!” kata Ara sambil mencebikkan mulutnya


“Itu... tadi bunda ketiduran...capek banget...!” ucap Sheena.


“Kok bunda capek...habis ngapain..?” tanya Ara.


“Mau buat Adiknya Ara...!” bisik Adhi di telinga Sheena.


Sheena kembali mencubit kecil pinggang Adhi yang berubah


jadi mesum seperti itu.


Melihat interaksi Adhi dan Sheena bu shinta pun tersenyum. Ia bahagia putranya kini bisa tersenyum kembali dan tersirat kebahagiaan di wajahnya.


“Bu...lebih baik bu Shinta pulang saja...biar saya dan mas Adhi yang nungguin Ara..” kata Sheena.


“Mami Na...!” sahut mami Adhi.


“iya nih mi...dibilangin nggak mau...!” kata Adhi bergelayut manja di tanagn maminya.


“Jangan mulai dech Mas...!’ kata Sheena.


“hihihi...papi sama Bunda bertengkar terus...kayak anak kecil..!”Kata Ara cekikikan.


“Sudah Ah...Mami mau pulang dulu...kasihan papimu nanti... nggak lihat istrinya yang cantik ini pulang...bisa marah marah..!” kata mami Adhi mengedipkan matanya.


Akhirnya mami Adhipun pulang diantar Gery dan tinggalah


Adhi, Sheena dan Ara diruangan tersebut.


“Ara istirahat ya...sini di peluk bunda...!” ucap Sheena naik ke ranjang Ara dan menidurkannya.


Sementara Adhi menuju ke sofa untuk memeriksa beberapa berkas dan email yang masuk .


Setalah dirasa Ara tertidur, Sheena bangkit dari ranjang Ara dan menuju sofa tempat Adhi serius bekerja.


“Ada yang bisa Sheena bantu Mas..?” tawar Sheena kepada Adhi.


“Tolong bantu check laporan yang masuk ya Na...!ini banyak


banget...karena dua hari aku nggak ke kantor..!” ucap Adhi.


“Salah sendiri nggak masuk kantor..!” gumam Sheena.


“Kan aku sama calon istri yang cantik ini...mana mungkin aku


bisa menjauh dari calon istriku yang satu ini..!”kata Adhi menggoda.


“Gombal....teruuusss....! nanti lama lama aku kenyang makan


gombalanmu mas..!” kata Sheena meledek.


“Sudah ah...ayo mana yang harus di check..!” sanggah Sheena.


Mereka kemudian sibuk dengan laporan laporan yang seabrek itu.


Sekilas Sheena melirik ke arah Adhi.


“Ternyata laki laki ini jika bekerja sangat serius...” batin Sheena.


Ia terkagum kagum dengan sosok Adhi yang jauh berubah dengan

__ADS_1


Adhi yang dulu. Ia pun tersenyum dan kembali  mengecek satu persatu laporan dan berkas yang


ada. Tiba tiba ponsel Sheena bergetar.


Drrt drrt drrrt


“Ya halo...” sapa Sheena.


“Akhirnya...aku menemukanmu juga Sayang...”ucap Suara yang


ada di seberang.


Deg deg deg..


Jantung Sheena seakan terbakar. Suara itu benar benar masih ia ingat dengan jelas dalam hati dan pikirannya. Suara yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Suara menjijikkan yang membuat tubuhnya bergetar.


Wajah Sheena pucat pasi. Ia memantapkan hatinya untuk siap dengan segala sesuatu namun ternyata ia tidak bisa menghadapinya langsung. Mendengar suaranya saja ia sudah lemas ketakutan. Apalagi kalau ia bertemu langsung


dengan pria itu.


Melihat Wajah Sheena yang memucat, Adhi merasa curiga dengan si penelpon.  Ia langsung meraih ponsel


Sheena dan mendengar apa yang dibicarakan orang yang berada di seberang.


“Kenapa diam sayang...rasanya aku sudah kangen dengan ******* desahanmu yang tidak bisa aku lupakan...suaramu itu masih terngiang ngiang di telingaku...”lanjut pria itu.


“Aku jadi penasaran...seberapa besar sekarang milikmu


itu...pasti akan lebih menggiurkan jika aku meremas milikmu itu...!Aaah...aku


sudah tidak tahan sayaaang...!” suara pria diseberang itu memancing emosi Adhi.


Tangan Adhi mengepal kuat. Emosinya sudah terbakar. Matanya memerah menahan


emosi yang ingin segera di lampiaskan kepada pria yang menelpon itu.


“Sekarang pasti desahanmu akan lebih seksi sayang...aku juga


hebatnya...dan rasanya...aku juga kangen dengan sentuhanmu itu sayang...sentuhanmu


itu yang bisa menegakkan milikku yang pastinya kau  akan suka dan ketagihan...” Tambah pria itu.


“Apa kamu tidak mau menyentuhnya seperti dulu


sayang...Aaah...membayangkanmu saja aku sudah bergairah sayang...bagian mana


dari tubuhmu itu yang tidak aku sentuh...semua sudah sayang...bahkan aku cicipi


manisnya milikmu yang berharga itu...tapi sayang...kamu belum mencicipi


keperkasaanku...!” tambah psikopat gila itu.


Adhi masih terdiam. Ia ingin mendengarkan ocehan bajingan yang ada di telpon itu.


“Aaah...!enak sekali sayang...aku yakin Adhi si culun itu


tidak akan bisa membawamu kedalam syurga dunia...kemarilah sayang biar aku


cicipi tubuhmu itu...biar Adhi hanya dapat bekas dariku...!ya...!dia hanya


pantas dapat bekasnya saja..!seperti Amanda..!” kata pria tersebut.


Adhi langsung membanting ponsel Sheena. Kemarahannya sudah


tidak terelakkan. Sedang Sheena masih kaku tidak merespon apapun. Ia ketakutan


setengah mati dan air matanya sudah mengalir deras tanpa ada suara.


Adhi yang takut Sheena akan mengalami trauma kembali , memeluk Sheena dengan erat. Kemudian menangkup wajah Sheena dengan tangannya, Memandangnya dengan sendu.

__ADS_1


“Na...lihat Aku...hanya lihat aku Na..” kata Adhi terisak.


“Aku benci tubuhku..!!!bersihkan tubuhku ini...!!aku tidak ingin ini..!!!” kata Sheena sambil menggosok gosokkan tubuhnya dengan tangannya hingga kemerah merahan.


Adhi yang melihatnya seperti itu., mencoba memeluk kembali tubuh yang bergetar itu.  Namun Sheena


tetap saja berontak dan menggosok gosokkan tubuhnya itu hingga lecet dan berdarah.


Adhi yang bingung, akhirnya mencium Sheena dengan Lembut.


“aku akan membersihkan semua bekas yang ada di tubuh mu Na...kamu tenang saja...hanya aku yang akan kamu ingat nantinya...!” ucap Adhi sambil menitikkan air matanya.


Ia mencium seluruh wajah Sheena. Menciumi  tangannya yang berdarah.


“Lihatlah...hanya ada tanda dariku Na...Tidak ada yang lain...!” kata Adhi.


Sheena yang melihat itu, kembali ke kesadarannya dan manangis sesenggukan memeluk Adhi.


“Aku tidak bisa...mengapa tubuhku selalu seperti ini..!aku benci ini semua..!” kata Sheena.


“Besok kita ke KUA....kita menikah disana dulu...setelah itu akan aku hapus semua tanda yang mereka berikan padamu...!” kata Adhi membalas erat pelukan Sheena.


Sheena hanya bisa mengangguk pasrah.


Adhi bersyukur, Sheena tidak menjadi gila akibat perbuatan bejat orang orang tersebut. Adhi berharap Sheena bisa kembali seperti dulu lagi. Adhi mengetatkan rahangnya dan berjanji tidak ada yang akan bisa menyakiti gadis itu lagi.


“Besok aku harus bertemu dengan mas Fahri agar kami bisa menikah di KUA terlebih dahulu...aku takut Chandra akan mulai mengusik Sheena..bisa berakibat fatal jika memeng Chandra bertemu Sheena sekarang..karena mentalnya ternyata belum siap menghadapi Chandra yang sekarang..!” batin adhi.


Setelah Sheena sudah tenang, Ia mengelus punggung Sheena lembut.


“tidurlah...aku akan selalu di sini...!” kata Adhi.


Adhi mengangkat tubuh Sheena ke sofa dan menidurkannya. Menggenggam


erat wanita itu. Wanita yang penuh luka hatinya dan bahkan luka itu akan


membekas di hatinya selamanya.


Melihat Sheena yang sudah terlelap,  Adhi pun ikut terlelap sambil memegang tangan


Sheena dan duduk di bawah lantai yang dingin itu.


Keesokan paginya, Adhi yang terbangun terlebih dahulu,


membangunkan Sheena karena hari ini mas Fahri akan datang ke kota ini. Adhi


berniat menjemputnya secara langsung tanpa Sheena tahu. Ia telah membelikan


ponsel baru untuk Sheena juga. Adhi sudah menghubungi assisten Gery untuk


mengurus semuanya.


“Mas Adhi sudah bangun..?” kata Sheena.


“iya...mau ke kantor mengurus sesuatu..!’ kata Adhi sambil tersenyum mengusap lembut wajah Sheena.


“Nanti Mbok Minah ke sini...kamu di temani mbok Minah terlebih dahulu ya...!” kata Adhi.


Sheena menganggukkan kepalanya.


“Jangan kemana mana...jangan bertemu sispapun..tetap disini sampai aku datang..!” tegas Adhi.


“Siaap boss..!!” Ucap Sheena.


Adhi pun pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan wajah tegang


dan tidak bersahabat ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit itu.


“Sekarang saatnya kalian harus merasakan sakit yang Sheena rasakan

__ADS_1


juga selama ini..!” batin Adhi tersenyum licik.  


__ADS_2