Elegi Hati Si Cewek Jutek

Elegi Hati Si Cewek Jutek
Hilang Kabar...


__ADS_3

Sementara di luar rumah sakit itu,Adhi dan Sheena menuju ke


mobil mereka untuk mengistirahatkan tubuh mereka. Hari ini sungguh terasa


melelahkan.


Drrt drrt drrt


Tiba tiba ponsel Adhi berdering.


“Halo... Pak Rizal, ada apa?” kata Adhi di sambungan telpon


itu.


Selang beberapa saat Adhi berbincang bincang dengan partner


kerjanya itu, kemudian ia pun menutup sambungan telpon tersebut.


“Na... kamu nanti pulang di anter Pak sopir ya...! sudah ku


minta ke sini..! aku ada urusan sebentar ke kantor..!” kata Adhi.


“Ada masalah mas?” kata Sheena.


“hanya masalah kecil... o iya... selalu tunggu aku ya...


jaga hatimu itu hanya untukku... mengerti?” kata Adhi.


“Mas Adhi ini... gombalnya tingkat provinsi...!” kata Sheena


terkekeh.


”Mas Pergi dulu... hati hati...!titip Ara, mami dan papi


dulu...!” kata Adhi kemudian berlalu pergi.


Sheena pun melambaikan tangannya ketika mobil melaju pergi.


“Perasaanku kenapa


jadi tidak karuan seperti ini..! Mas adhi seperti mau pergi jauh sekali...!”


Batin Sheena.


Saat sedang melamun, Sheena di kejutkan oleh sopir


pribadinya.


“Maaf Nyonya...  bisa


kita pulang sekarang?” tanyanya.


“Owh iya pak... maaf maaf..!” kata Sheena kemudian masuk ke


dalam mobil tersebut.


“Pak Adhi mau pergi ke luar kota kah nyonya?” tanya Pak


sopir tersebut.


“Gimana pak...?!” tanya Sheena kembali yang tidak fokus


dengan pertanyaan pak sopir tersebut.


“Apa pak Adhi mau pergi ke luar kota? Karena tumben pak Adhi


bicara banyak ke saya..!” kata Pak sopir tersebut.


“Memangnya mas Adhi bicara apa pak?” tanya Sheena.


“Aneh saja... biasanya nggak pernah seperti itu... katanya


tadi..Titip Istri dan anak saya ya pak sebentar... sampai saya kembali nanti...


terus jaga mami dan papi... sepertinya mereka sering ke rumah sakit untuk check


up... terus lagi... katanya...Bapak tetep harus berada di samping keluarga saya


ya pak... jaga mereka...!” katanya seperti itu nyonya.


“Saya pikir pak Adhi mau pergi ke luar kota..!” kata Pak


sopir tadi.


Sheena pun tersentak kaget, memang biasanya suaminya itu


tidak pernah banyak ngomong ke orang lain. Tapi tadi juga ia berkata seperti


itu, seperti mau pergi jauh.


“Nyonya..nyonya..!” Kata Pak sopir tersebut.


“Eh, iya pak...nggak kok... mas Adhi katanya mau ke kantor


sebentar..” jawab Sheena.


“Mampir ke toko kue sebentar pak, saya mau beliin Ara


kue...!” pinta Sheena.


“baik nyonya... ke tempat langganan seperti biasa kan


nyonya?” tanya Pak sopir itu.


“Iya pak..!” jawabnya.


Mobilpun melaju memecah keramaian kota dan berhenti tepat di


depan toko kue favorit Sheena dan Adhi.


Sheena membuka pintu mobil tersebut dan melangkahkan kakinya


menuju ke toko kue tersebut.


“Permisi ada yang bisa kami bantu?” kata Pelayan toko


tersebut.


“Mbak Sheena...!” ucap pelayan toko tersebut kaget.


Sheena hanya tersenyum menanggapi ucapan pelayan tersebut.


“Mas Adhinya mana mbak... tumben nggak bareng... biasanya


mas Adhi nempeeelll terus kayak perangko ke mbak Sheena..!” kata Pelayan toko


tersebut terkekeh.


“Lagi ada urusan di kantor..!” jawabnya.


“Pesen kue seperti biasa ya mbak... bungkusin 3 ... !” kata


Sheena.


“okay siaap...!” ucap pelayan itu.


“Mbak Sheena bisa duduk dulu...! kami siapkan yang baru..


fresh from the oven..!” kata pelayan tersebut.


Sheena pun duduk di sebuah kursi di sudut toko kue tersebut.


Semenjak kepergian Adhi tadi, hati Sheena seakan akan tidak


tenang. Ada rasa khawatir, cemas dan ketakutan melanda di hatinya.


“Perasaanku kenapa semakin tidak tenang saja..!”


“Ada apa ini sebenarnya..!” batin Sheena gelisah.


“Na... Sheena kan ya..!” kata sesosok wanita yang kini


berdiri di depannya.


Sheena memperhatikan wajah itu.


“Alana..!” kata Sheena kaget.


“Iya...ternyata kamu masih ingat juga..!” kata Alana.


“Perkenalkan ini anakku... Zyandru..!” kata Alana.


“Hai anak ganteng... !” sapa Sheena.


“Dan di sana suamiku... kamu pasti juga kenal kan... coba


tebak...!” kata Alana.


“Ehm....” sejenak Sheena berpikir dan mengingat ngingat.


“Bimantara..! bener kan? Itu Bimantara..!!” kata Sheena.


“ternyata ingatanmu kuat juga ya Na....!” kata Alana.


“Ayo duduk disini.. ngobrol ngobrol sebentar....!” Tawar


Sheena.


Alana dan putranya pun ikut duduk di sebelah Sheena.


“Bagaiman kabarmu Na..? baik?” tanya Alana.


“Baik Al...!” jawab Sheena.


“Udah nikah belum nih..! kamu itu kan sering nggak ada kabar


dulu... samapia sekarang pun masih... kadang datang kadang menghilang...hahaha..!”ucap


Alana.


“Ah kamu bisa saja...! aku sudah menikah... kebetulan


suamiku ada tugas di kamtornya... jadi nggak bisa nganter..!” kata Sheena.


“Sheena..! ini Sheena kan ya... beneran..!” kata Bimantara


yang sudah ikut bergabung dengan Sheena dan Alana.


“Iya... masih ingat Bim..?” tanya Sheena.


“Kata Istrimu kan aku suka menghilang dan datang nggak


jelas..!” sindir Sheena.


“hehehe... kan emang fakta Na..!” kata Alana.


Biama pun ikut dduduk dengan mereka.


“Sebentar Na... aku pernah lihat kamu itu di perusahan KY


group... waktu itu pak Adhi bilang kalau kamu itu istrinya waktu kamu nggak


turun dari mobil...! apa bener kamu istri dari pak Adhi Dharma pemilik KY


group..!” Tanya Bimantara.


“hemmm..!” Jawab Sheena.


“Sebentar dech mas...! maksud mas Bima itu pemilik

__ADS_1


perusahaan yang sekarang perusahaan itu di gadang gadang akan menjadi perusahan


nomor satu itu..?” tanya Alana.


“Benar...! aku pernah lihat dia soalnya... tapi aku nggak


yakin juga waktu itu... soalnya sheena kan menghilang tanpa kabar apapun..!”


kata Bimantara.


“Serius Na..?” kata Alana.


“Apaan sih...!” elak Sheena.


“hayo ngaku..! benar kamu itu istri dari Tuan Adhi Dharma..


duda ganteng beranak satu itu..!” kata Alana.


“iya.. iya...berisik ah..!” Ucap Sheena.


“Wah... seleramu Na... ternyata duda duda kaya..!


maantappp..!” kata Alana terkekeh.


“Kayak kamu nggak..!” timpal Sheena.


“Bedalah... dia masih belum duda... cuman lelaki depresi


yang beruntung bertemu aku..!” kata Alana.


“Dasar ya..!” ucap Bimantara sambil mencubit pipi istrinya


itu.


“Eh... tapi Pak Adhi kan sedang ngerjakan proyek maha


besar..! denger denger nih ya Na.. . banyak yang ingin menjatuhkan pak Adhi...!


karena proyek tersebut kalau deal pasti keuntungannya sangat besar...namun ya


itu... aku takutnya juga nyawa terancam...!” kata Bimantara.


“Memangnya kenapa sampai nyawa terancam?” Tanya Sheena.


“aku nggak terlalu tahu pastinya Na... tapi sudah banyak


korban yang berjatuhan...!”


“Sering ingatkan pak Adhi untuk berhati hati..!” kata


Bimantara.


“kamu nggak ambil proyek tersebut?” Tanya Sheena.


“Aku di tawari sama pak Adhi... tapi... aku urungkan... aku


mundur saja... karena nyaliku tidak sebesar itu..!” kata Bimantara.


“Aku maish sayang sama istri dan anakku..!” Tambah


Bimantara.


“tapi seperyinya pak Adhi punya dukungan yang bagus dari


berbagai pihak...! jadi aman..!” kata Bimantara memecah ketegangan dari raut


wajah Sheena.


Tiba tiba pelayan toko kue tersebut datang.


“Maaf nyonya... tuan... ini pesanannya..!” kata pelayan toko


kue tersebut.


“iya mbak... silahkan..!” kata Alana.


Pelayan tersebut meletakkan pesanan mereka di atas meja


tersebut.


“Kamu nggak pesen Na... mau aku pesenkan..!” kata Alana.


“Aku sudah pesen... tapi di bawa pulang kok..!” jawab


Sheena.


“Umur anakmu berapa tahun Al..?” tanya Sheena.


“Sekitar 7 tahun..!” kata Alana.


“Ih mama mah kebiasaan..! umurku itu 7 tahun 6 bulan..!”


kata Zyan.


“Iya.. iya tuan muda... hamba ini memang sudah tua jadi


sering lupa...!” kata Alana.


“Punya anak satu gini amat ya... !” kata Alana terkekeh.


“lha kamu dulu nyidamnya apaan Al..!” Tanya Sheena.


“Malah nggak nyidam sama sekali..! semua masuk pokoknya..!”


kata Alana.


“ Iya lho Na..! kalau rata rata wanita itu teller karena


kehamilan mereka, namun wanita satu ini malah makaaan terus...!” kata


Bimantara.


“Ya malah bagus ya mas..! kan mas Bima bisa bekerja dengan


“Iya.. tapi habis itu kamu langsung shopping kayak orang


gila..! hahaha..!” kata Bima.


“Ya memang seperti itu... mas kerja.. istri yang menghabiskan..!”


kat Alana juga ikut tertawa.


“Mama sama papa ini berisik sekali si..!” protes Zyan.


“Haduuh.. Anak ini...! !” kata Alana mencubit kecil pipi


anak gembulnya itu.


Sheena yang melihat interaksi mereka berdua pun tersenyum.


Mungkin ini perasaan yang dirasaakan oleh Naysa melihat kebucinan Sheena dan


Adhi. Tapi Sheena bahagia, teman temannya masih mengingatnya walaupun dia


jarang berinteraksi dengan mereka.


“Mbak Sheena.. ini pesanannya sudah selesai di bungkus..!”


kata pelayan toko tersebut menghampiri Sheena.


”Iya mbak... makasih ya..!” kata Sheena.


“Eh, Na.. gimana rasanya jadi istri sultan?” tanya Alana.


“Ya gitu dech..!”jawab Sheena.


“kenapa memangnya..?” tanya Sheena lagi.


“Ya nggak... kalau kayak di tipi tipi itu kan horang kaya


bebas...mau apa tinggal cring crang cruung... ada di didepan mata semua..!”


kata Alana.


“Memangnya apaan ..!” kata Sheena.


“Ya nggak gitu amat... tapi ya semua ada.. dan bisa di


beli..!” kata Sheena.


“Tapi nggak enaknya banyak pelakor bermunculan ... harus


sekuat baja dan setegar batu karang..!! kamu mau? Yakin kuat?” kata Sheena.


“Nggak agh... terimakasih..! gini aja aku sudah Happy kok..!


punya anak yang tampan dan pinter... punya suami yang baik hati...!”ucap Alana.


“Bim... awas jangan terbang tinggi tinggi di atas itu ada


atap... kena kepala sakit lho..!” goda Sheena.


“Hahahah..!” mereka pun tertawa lepas.


Sheena pun melihat Jam tanagn yang ada di tangannya.


“Sudah jam segini... aku pulang dulu ya..!” pamit Sheena.


“lhah kok cepet amat si Na...! aku minta nomor ponselmu


dong..!” kata Alana.


“Owh iya... “ kata Sheena sambil mengeluarkan ponselnya dan


membacakan nomor ponselnya ke Alana.


“Okay udah tak save.. nanti tak whatsApp ya..!” kata Alana.


“Oke.. aku tunggu dech..!” kata Sheena melangkah ke luar


dari toko kue tersebut.


Sheena pun masuk ke mobil dan menempatkan kue kue tadi di


sebelahnya.


“Pak... jalan pak..!” kata Sheeena.


“Baik nyonya...!” kata Pak Sopir itu.


Mobil itupun melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke arah


mansion Adhi dharma.


“Sebenarnya apa yang sedang di kerjakan mas Adhi..!”


“Proyek apa yang ia ambil hingga Sekelas Bima saja tidak berani mengambilnya..!”


“Aku akan tanyakan ke papi... mungkin papi tahu tentang proyek ini...!”


“perasaanku jadi tambah tidak tenang..!” batin Sheena


“Pak... cepat sedikit ya..!” kata Sheena.


“Baik nyonya..!” jawab Pak sopir itu.


Setelah sampai di rumah tersebut, Sheena pun masuk dan melihat


maminya sedang bermain dengan Ara.

__ADS_1


“Bunda...!” teriak Ara sambil berlari ke arahnya.


“Halooo sayang...!” kata sheena membalas pelukan anak itu


dan mendekapnya sangat erat.


“lho kok bunda nangis..?” Tanya Ara mengusap air mata yang


jatuh sendiri dari pelupuk mata Sheena.


“Eh iyakah...ini pasti karena bunda seneng banget ketemu


Ara...!” kata Sheena.


“ini Bunda bawakan apa cooba..!” Lanjutnya.


“Waah... enak enak bunda... kue kesukaan Ara...!” kata Ara.


“Betull sekali..! ini minta sama mbak.. untuk menyajikan di


ruang tengah... agar kita bisa segera makan kuenya..!” kata Sheena.


“Oke bunda...!” kata Ara.


Ara pun berlari ke dapur menemui mbak disana.


“Kamu kenapa Na..! kok kelihatan sedih gitu..!” kata Bu


Shinta.


“Papi ada nggak mi?” kata Sheena.


“Ada di ruang kerja Adhi..!” jawab Bu shinta.


“Aku mau menemui papi dulu...! perasaanku nggak enak dari


tadi..!” kata Sheena.


“Ya sudah... ayo mami antar temui papimu..!” kata Bu Shinta.


Mereka pun ke ruangan Adhi Dharma.


Tok tok tok


“Masuk..!” suara papi Adhi terdengar lesu.


“Owh.. kamu Na... ada apa..?” tanya Papi Adhi.


Sheena dan maminya pun menutup pintu tersebut rapat.


“Pi... ada yang mau Sheena tanyakan...!” kata Sheena.


“Ada apa...? tanyakan saja..!” jawab Papi Adhi.


“Apa yang sedang di kerjakan mas Adhi..! proyek apa yang


sedang ia tangani..!” tanya Sheena.


Papi Adhi pun menghela nafas panjang.


“Darimana kau tahu? Apa dari Adhi..!” kata Papi Atmaja


“Bukaan... mas Adhi tidak pernah mengatakan hal hal kantor


kepada sheena..!” jawab Sheena.


“Cepat ceritakan Pi... hatiku berasa tidak tenang..!” kata


Sheena.


“Sebenarnya... itu adalah proyek tentang pembangunan jalan


di daerah sekitar sengketa..! Adhi sudah tidak mau mengambil proyek tersebut...


namun entah siapa yang membuat kekacauan sehingga Adhi terpaksa harus menerima


menandatangi proyek itu.”


“Ia sudah berusaha untuk mencari dukungan dari perusahaan


lain... agar ia tak sendiri menghadapi proyek tersebut... tapi nyatanya tidak


ada perusahaan yang berani menanganinya..!”


“Karena itu ia bekerja sendiri... mempertaruhkan segala


hal... perusahaan, nyawanya dan juga keluarganya..! jika ia berhasil mungkin


akan untung besar..! namun jika tidak..papi takut itu akan membahayakan


nyawanya sendiri..!” jelas papi Adhi.


“Jadi ini yang membuatku tidak tenang dari tadi..!”


“aku merasa ada yang salah dengan keberangkatan mas Adhi ke


kantor...!” kata Sheena.


“Adhi ke kantor?” tanya Pak Atmaja.


“Iya... setelah dari rumah sakit.. tadi dia di telpon sama


pak rizal sepertinya..!” kata Sheena.


Pak Atmaja mengerutkan keningnya.


“Yakin itu Pak rizal?” tanay Sheena.


“Iya.. tadi mas Adhi bilangnya seperti itu ketika menerima


telpon..!”jawab Sheena.


Pak Atmaja kemudian mengambil ponselnya dan bergegas hendak


pergi.


“Ada apa pi..!” tanya bu Shinta.


“Pak Rizal, baru saja di temukan dalam keadaan tewas..!”


kata pak Atmaja.


“Apa..!!” kata Sheena kaget.


“Papi harus segera bergerak... nanti papi  kabari lagi..! jaga Sheena dan Ara..!” kata


pak Atmaja.


“Pi... bawa mas Adhi kembali dengan selamat ya pi..!” kata


Sheena menahan airmatanya.


Pak atmaja hanya diam dan melangkah keluar.


“Aku tidak bisa berdiam diri..!” batin Sheena.


Ia pun menghubungi Aries dan kawan kawannya meminta bantuan


untuk melacak posisi suaminya terakhir.


Drrt drrt drrt


“Halo Ada apa Del..! gimana..! dapet lokaisnya..!” tanya


Sheena beruntun.


“Na...  Maaf... tapi


lokaisnya berada di dalam jurang di sekitar kota X..! sinyal ponselnya di


temukan sudah dari 15 menit yang lalu..!” jelas Adel.


“Tidak... tidak...! itu pasti hanya mobilnya..! “ jawab


Sheena.


“Na.. kami sudah meminta orang ke sana... dan...”


“Dan apa..!!!! katakan...!!!” jerit Sheena.


“Mobilnya mengalami kecelakan dan terbakar habis... hanya di


temukan satu mayat laki laki di sana..!” kata Adel.


“Tidak...! tidaak..! itu bukan mas Adhi del..! loe bohoing


kaan..! dia baru saja memintaku menunggunya di rumah..!” kata Sheena sudahj


terjatuh ke lantai.


“Tidak Del..! loe bohong..!!” Jerit Sheena sudah tak terdengar


lagi suaranya. Tertahan di tenggorokannya.


Melihat itu Bu shinta pun berlari memeluk Sheena.


“Ada apa Na..! ada apa..!” tanya Bu Shinta.


“Mi... mas Adhi mi..! mas Adhi...!!!” teriaknya histerius


kemudan dia pun hilang kesadarannya.


“Na... Naa..!” Ucap bu Shinta panik.


“Bik... bik..!! tolong Sheena bik..!” teriak bu shinta.


Para pelayan pun berdatangan.


“Nyonya...! !”


“ayo  cepat angkat ke kamar..!” Perintah bu Shinta.


Para pelayan itu pun mengangkat tubuh Sheena ke kamar dan


membaringkannya. Sedang bu Shinta mengambil ponsel Sheena.


“halo..! katakan ada pa..!” kata Bu Shinta.


“Sheena tidak apa apa kan bu..?” tanya Adel.


“katakan ..! apa yang terjadi..!” tanyanya dengan nada keras.


“Suami Sheena.. mengalami kecelakaan dan mobilnya terbakar


hangus hanya di temukan satu mayat laki laki di sana..!”jelas Adel.


“Itu tidak mungkin kan..!!” kata Bu Shinta. Ia hendak saj


terjatuh.


“Tidak...! aku harus kuat..! aku tidak boleh lemah..! ada Sheena dan Ara...!” batin Bu Shinta


menguatkan.


“Aku tutup telponnya..!” kata bu shinta.


Ia pun menangis terisak tak terdengar suaranya... hatinya


sakit... putra satu satunya tidak mungkin meninggalkannya.

__ADS_1


“Nak... kamu pasti bertahan kan..! jangan tinggalkan mami


nak..! mami mohon..!” kata Bu Shinta denagn airmata yang terus mengalir.


__ADS_2