
Sementara di luar rumah sakit itu,Adhi dan Sheena menuju ke
mobil mereka untuk mengistirahatkan tubuh mereka. Hari ini sungguh terasa
melelahkan.
Drrt drrt drrt
Tiba tiba ponsel Adhi berdering.
“Halo... Pak Rizal, ada apa?” kata Adhi di sambungan telpon
itu.
Selang beberapa saat Adhi berbincang bincang dengan partner
kerjanya itu, kemudian ia pun menutup sambungan telpon tersebut.
“Na... kamu nanti pulang di anter Pak sopir ya...! sudah ku
minta ke sini..! aku ada urusan sebentar ke kantor..!” kata Adhi.
“Ada masalah mas?” kata Sheena.
“hanya masalah kecil... o iya... selalu tunggu aku ya...
jaga hatimu itu hanya untukku... mengerti?” kata Adhi.
“Mas Adhi ini... gombalnya tingkat provinsi...!” kata Sheena
terkekeh.
”Mas Pergi dulu... hati hati...!titip Ara, mami dan papi
dulu...!” kata Adhi kemudian berlalu pergi.
Sheena pun melambaikan tangannya ketika mobil melaju pergi.
“Perasaanku kenapa
jadi tidak karuan seperti ini..! Mas adhi seperti mau pergi jauh sekali...!”
Batin Sheena.
Saat sedang melamun, Sheena di kejutkan oleh sopir
pribadinya.
“Maaf Nyonya... bisa
kita pulang sekarang?” tanyanya.
“Owh iya pak... maaf maaf..!” kata Sheena kemudian masuk ke
dalam mobil tersebut.
“Pak Adhi mau pergi ke luar kota kah nyonya?” tanya Pak
sopir tersebut.
“Gimana pak...?!” tanya Sheena kembali yang tidak fokus
dengan pertanyaan pak sopir tersebut.
“Apa pak Adhi mau pergi ke luar kota? Karena tumben pak Adhi
bicara banyak ke saya..!” kata Pak sopir tersebut.
“Memangnya mas Adhi bicara apa pak?” tanya Sheena.
“Aneh saja... biasanya nggak pernah seperti itu... katanya
tadi..Titip Istri dan anak saya ya pak sebentar... sampai saya kembali nanti...
terus jaga mami dan papi... sepertinya mereka sering ke rumah sakit untuk check
up... terus lagi... katanya...Bapak tetep harus berada di samping keluarga saya
ya pak... jaga mereka...!” katanya seperti itu nyonya.
“Saya pikir pak Adhi mau pergi ke luar kota..!” kata Pak
sopir tadi.
Sheena pun tersentak kaget, memang biasanya suaminya itu
tidak pernah banyak ngomong ke orang lain. Tapi tadi juga ia berkata seperti
itu, seperti mau pergi jauh.
“Nyonya..nyonya..!” Kata Pak sopir tersebut.
“Eh, iya pak...nggak kok... mas Adhi katanya mau ke kantor
sebentar..” jawab Sheena.
“Mampir ke toko kue sebentar pak, saya mau beliin Ara
kue...!” pinta Sheena.
“baik nyonya... ke tempat langganan seperti biasa kan
nyonya?” tanya Pak sopir itu.
“Iya pak..!” jawabnya.
Mobilpun melaju memecah keramaian kota dan berhenti tepat di
depan toko kue favorit Sheena dan Adhi.
Sheena membuka pintu mobil tersebut dan melangkahkan kakinya
menuju ke toko kue tersebut.
“Permisi ada yang bisa kami bantu?” kata Pelayan toko
tersebut.
“Mbak Sheena...!” ucap pelayan toko tersebut kaget.
Sheena hanya tersenyum menanggapi ucapan pelayan tersebut.
“Mas Adhinya mana mbak... tumben nggak bareng... biasanya
mas Adhi nempeeelll terus kayak perangko ke mbak Sheena..!” kata Pelayan toko
tersebut terkekeh.
“Lagi ada urusan di kantor..!” jawabnya.
“Pesen kue seperti biasa ya mbak... bungkusin 3 ... !” kata
Sheena.
“okay siaap...!” ucap pelayan itu.
“Mbak Sheena bisa duduk dulu...! kami siapkan yang baru..
fresh from the oven..!” kata pelayan tersebut.
Sheena pun duduk di sebuah kursi di sudut toko kue tersebut.
Semenjak kepergian Adhi tadi, hati Sheena seakan akan tidak
tenang. Ada rasa khawatir, cemas dan ketakutan melanda di hatinya.
“Perasaanku kenapa semakin tidak tenang saja..!”
“Ada apa ini sebenarnya..!” batin Sheena gelisah.
“Na... Sheena kan ya..!” kata sesosok wanita yang kini
berdiri di depannya.
Sheena memperhatikan wajah itu.
“Alana..!” kata Sheena kaget.
“Iya...ternyata kamu masih ingat juga..!” kata Alana.
“Perkenalkan ini anakku... Zyandru..!” kata Alana.
“Hai anak ganteng... !” sapa Sheena.
“Dan di sana suamiku... kamu pasti juga kenal kan... coba
tebak...!” kata Alana.
“Ehm....” sejenak Sheena berpikir dan mengingat ngingat.
“Bimantara..! bener kan? Itu Bimantara..!!” kata Sheena.
“ternyata ingatanmu kuat juga ya Na....!” kata Alana.
“Ayo duduk disini.. ngobrol ngobrol sebentar....!” Tawar
Sheena.
Alana dan putranya pun ikut duduk di sebelah Sheena.
“Bagaiman kabarmu Na..? baik?” tanya Alana.
“Baik Al...!” jawab Sheena.
“Udah nikah belum nih..! kamu itu kan sering nggak ada kabar
dulu... samapia sekarang pun masih... kadang datang kadang menghilang...hahaha..!”ucap
Alana.
“Ah kamu bisa saja...! aku sudah menikah... kebetulan
suamiku ada tugas di kamtornya... jadi nggak bisa nganter..!” kata Sheena.
“Sheena..! ini Sheena kan ya... beneran..!” kata Bimantara
yang sudah ikut bergabung dengan Sheena dan Alana.
“Iya... masih ingat Bim..?” tanya Sheena.
“Kata Istrimu kan aku suka menghilang dan datang nggak
jelas..!” sindir Sheena.
“hehehe... kan emang fakta Na..!” kata Alana.
Biama pun ikut dduduk dengan mereka.
“Sebentar Na... aku pernah lihat kamu itu di perusahan KY
group... waktu itu pak Adhi bilang kalau kamu itu istrinya waktu kamu nggak
turun dari mobil...! apa bener kamu istri dari pak Adhi Dharma pemilik KY
group..!” Tanya Bimantara.
“hemmm..!” Jawab Sheena.
“Sebentar dech mas...! maksud mas Bima itu pemilik
__ADS_1
perusahaan yang sekarang perusahaan itu di gadang gadang akan menjadi perusahan
nomor satu itu..?” tanya Alana.
“Benar...! aku pernah lihat dia soalnya... tapi aku nggak
yakin juga waktu itu... soalnya sheena kan menghilang tanpa kabar apapun..!”
kata Bimantara.
“Serius Na..?” kata Alana.
“Apaan sih...!” elak Sheena.
“hayo ngaku..! benar kamu itu istri dari Tuan Adhi Dharma..
duda ganteng beranak satu itu..!” kata Alana.
“iya.. iya...berisik ah..!” Ucap Sheena.
“Wah... seleramu Na... ternyata duda duda kaya..!
maantappp..!” kata Alana terkekeh.
“Kayak kamu nggak..!” timpal Sheena.
“Bedalah... dia masih belum duda... cuman lelaki depresi
yang beruntung bertemu aku..!” kata Alana.
“Dasar ya..!” ucap Bimantara sambil mencubit pipi istrinya
itu.
“Eh... tapi Pak Adhi kan sedang ngerjakan proyek maha
besar..! denger denger nih ya Na.. . banyak yang ingin menjatuhkan pak Adhi...!
karena proyek tersebut kalau deal pasti keuntungannya sangat besar...namun ya
itu... aku takutnya juga nyawa terancam...!” kata Bimantara.
“Memangnya kenapa sampai nyawa terancam?” Tanya Sheena.
“aku nggak terlalu tahu pastinya Na... tapi sudah banyak
korban yang berjatuhan...!”
“Sering ingatkan pak Adhi untuk berhati hati..!” kata
Bimantara.
“kamu nggak ambil proyek tersebut?” Tanya Sheena.
“Aku di tawari sama pak Adhi... tapi... aku urungkan... aku
mundur saja... karena nyaliku tidak sebesar itu..!” kata Bimantara.
“Aku maish sayang sama istri dan anakku..!” Tambah
Bimantara.
“tapi seperyinya pak Adhi punya dukungan yang bagus dari
berbagai pihak...! jadi aman..!” kata Bimantara memecah ketegangan dari raut
wajah Sheena.
Tiba tiba pelayan toko kue tersebut datang.
“Maaf nyonya... tuan... ini pesanannya..!” kata pelayan toko
kue tersebut.
“iya mbak... silahkan..!” kata Alana.
Pelayan tersebut meletakkan pesanan mereka di atas meja
tersebut.
“Kamu nggak pesen Na... mau aku pesenkan..!” kata Alana.
“Aku sudah pesen... tapi di bawa pulang kok..!” jawab
Sheena.
“Umur anakmu berapa tahun Al..?” tanya Sheena.
“Sekitar 7 tahun..!” kata Alana.
“Ih mama mah kebiasaan..! umurku itu 7 tahun 6 bulan..!”
kata Zyan.
“Iya.. iya tuan muda... hamba ini memang sudah tua jadi
sering lupa...!” kata Alana.
“Punya anak satu gini amat ya... !” kata Alana terkekeh.
“lha kamu dulu nyidamnya apaan Al..!” Tanya Sheena.
“Malah nggak nyidam sama sekali..! semua masuk pokoknya..!”
kata Alana.
“ Iya lho Na..! kalau rata rata wanita itu teller karena
kehamilan mereka, namun wanita satu ini malah makaaan terus...!” kata
Bimantara.
“Ya malah bagus ya mas..! kan mas Bima bisa bekerja dengan
“Iya.. tapi habis itu kamu langsung shopping kayak orang
gila..! hahaha..!” kata Bima.
“Ya memang seperti itu... mas kerja.. istri yang menghabiskan..!”
kat Alana juga ikut tertawa.
“Mama sama papa ini berisik sekali si..!” protes Zyan.
“Haduuh.. Anak ini...! !” kata Alana mencubit kecil pipi
anak gembulnya itu.
Sheena yang melihat interaksi mereka berdua pun tersenyum.
Mungkin ini perasaan yang dirasaakan oleh Naysa melihat kebucinan Sheena dan
Adhi. Tapi Sheena bahagia, teman temannya masih mengingatnya walaupun dia
jarang berinteraksi dengan mereka.
“Mbak Sheena.. ini pesanannya sudah selesai di bungkus..!”
kata pelayan toko tersebut menghampiri Sheena.
”Iya mbak... makasih ya..!” kata Sheena.
“Eh, Na.. gimana rasanya jadi istri sultan?” tanya Alana.
“Ya gitu dech..!”jawab Sheena.
“kenapa memangnya..?” tanya Sheena lagi.
“Ya nggak... kalau kayak di tipi tipi itu kan horang kaya
bebas...mau apa tinggal cring crang cruung... ada di didepan mata semua..!”
kata Alana.
“Memangnya apaan ..!” kata Sheena.
“Ya nggak gitu amat... tapi ya semua ada.. dan bisa di
beli..!” kata Sheena.
“Tapi nggak enaknya banyak pelakor bermunculan ... harus
sekuat baja dan setegar batu karang..!! kamu mau? Yakin kuat?” kata Sheena.
“Nggak agh... terimakasih..! gini aja aku sudah Happy kok..!
punya anak yang tampan dan pinter... punya suami yang baik hati...!”ucap Alana.
“Bim... awas jangan terbang tinggi tinggi di atas itu ada
atap... kena kepala sakit lho..!” goda Sheena.
“Hahahah..!” mereka pun tertawa lepas.
Sheena pun melihat Jam tanagn yang ada di tangannya.
“Sudah jam segini... aku pulang dulu ya..!” pamit Sheena.
“lhah kok cepet amat si Na...! aku minta nomor ponselmu
dong..!” kata Alana.
“Owh iya... “ kata Sheena sambil mengeluarkan ponselnya dan
membacakan nomor ponselnya ke Alana.
“Okay udah tak save.. nanti tak whatsApp ya..!” kata Alana.
“Oke.. aku tunggu dech..!” kata Sheena melangkah ke luar
dari toko kue tersebut.
Sheena pun masuk ke mobil dan menempatkan kue kue tadi di
sebelahnya.
“Pak... jalan pak..!” kata Sheeena.
“Baik nyonya...!” kata Pak Sopir itu.
Mobil itupun melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke arah
mansion Adhi dharma.
“Sebenarnya apa yang sedang di kerjakan mas Adhi..!”
“Proyek apa yang ia ambil hingga Sekelas Bima saja tidak berani mengambilnya..!”
“Aku akan tanyakan ke papi... mungkin papi tahu tentang proyek ini...!”
“perasaanku jadi tambah tidak tenang..!” batin Sheena
“Pak... cepat sedikit ya..!” kata Sheena.
“Baik nyonya..!” jawab Pak sopir itu.
Setelah sampai di rumah tersebut, Sheena pun masuk dan melihat
maminya sedang bermain dengan Ara.
__ADS_1
“Bunda...!” teriak Ara sambil berlari ke arahnya.
“Halooo sayang...!” kata sheena membalas pelukan anak itu
dan mendekapnya sangat erat.
“lho kok bunda nangis..?” Tanya Ara mengusap air mata yang
jatuh sendiri dari pelupuk mata Sheena.
“Eh iyakah...ini pasti karena bunda seneng banget ketemu
Ara...!” kata Sheena.
“ini Bunda bawakan apa cooba..!” Lanjutnya.
“Waah... enak enak bunda... kue kesukaan Ara...!” kata Ara.
“Betull sekali..! ini minta sama mbak.. untuk menyajikan di
ruang tengah... agar kita bisa segera makan kuenya..!” kata Sheena.
“Oke bunda...!” kata Ara.
Ara pun berlari ke dapur menemui mbak disana.
“Kamu kenapa Na..! kok kelihatan sedih gitu..!” kata Bu
Shinta.
“Papi ada nggak mi?” kata Sheena.
“Ada di ruang kerja Adhi..!” jawab Bu shinta.
“Aku mau menemui papi dulu...! perasaanku nggak enak dari
tadi..!” kata Sheena.
“Ya sudah... ayo mami antar temui papimu..!” kata Bu Shinta.
Mereka pun ke ruangan Adhi Dharma.
Tok tok tok
“Masuk..!” suara papi Adhi terdengar lesu.
“Owh.. kamu Na... ada apa..?” tanya Papi Adhi.
Sheena dan maminya pun menutup pintu tersebut rapat.
“Pi... ada yang mau Sheena tanyakan...!” kata Sheena.
“Ada apa...? tanyakan saja..!” jawab Papi Adhi.
“Apa yang sedang di kerjakan mas Adhi..! proyek apa yang
sedang ia tangani..!” tanya Sheena.
Papi Adhi pun menghela nafas panjang.
“Darimana kau tahu? Apa dari Adhi..!” kata Papi Atmaja
“Bukaan... mas Adhi tidak pernah mengatakan hal hal kantor
kepada sheena..!” jawab Sheena.
“Cepat ceritakan Pi... hatiku berasa tidak tenang..!” kata
Sheena.
“Sebenarnya... itu adalah proyek tentang pembangunan jalan
di daerah sekitar sengketa..! Adhi sudah tidak mau mengambil proyek tersebut...
namun entah siapa yang membuat kekacauan sehingga Adhi terpaksa harus menerima
menandatangi proyek itu.”
“Ia sudah berusaha untuk mencari dukungan dari perusahaan
lain... agar ia tak sendiri menghadapi proyek tersebut... tapi nyatanya tidak
ada perusahaan yang berani menanganinya..!”
“Karena itu ia bekerja sendiri... mempertaruhkan segala
hal... perusahaan, nyawanya dan juga keluarganya..! jika ia berhasil mungkin
akan untung besar..! namun jika tidak..papi takut itu akan membahayakan
nyawanya sendiri..!” jelas papi Adhi.
“Jadi ini yang membuatku tidak tenang dari tadi..!”
“aku merasa ada yang salah dengan keberangkatan mas Adhi ke
kantor...!” kata Sheena.
“Adhi ke kantor?” tanya Pak Atmaja.
“Iya... setelah dari rumah sakit.. tadi dia di telpon sama
pak rizal sepertinya..!” kata Sheena.
Pak Atmaja mengerutkan keningnya.
“Yakin itu Pak rizal?” tanay Sheena.
“Iya.. tadi mas Adhi bilangnya seperti itu ketika menerima
telpon..!”jawab Sheena.
Pak Atmaja kemudian mengambil ponselnya dan bergegas hendak
pergi.
“Ada apa pi..!” tanya bu Shinta.
“Pak Rizal, baru saja di temukan dalam keadaan tewas..!”
kata pak Atmaja.
“Apa..!!” kata Sheena kaget.
“Papi harus segera bergerak... nanti papi kabari lagi..! jaga Sheena dan Ara..!” kata
pak Atmaja.
“Pi... bawa mas Adhi kembali dengan selamat ya pi..!” kata
Sheena menahan airmatanya.
Pak atmaja hanya diam dan melangkah keluar.
“Aku tidak bisa berdiam diri..!” batin Sheena.
Ia pun menghubungi Aries dan kawan kawannya meminta bantuan
untuk melacak posisi suaminya terakhir.
Drrt drrt drrt
“Halo Ada apa Del..! gimana..! dapet lokaisnya..!” tanya
Sheena beruntun.
“Na... Maaf... tapi
lokaisnya berada di dalam jurang di sekitar kota X..! sinyal ponselnya di
temukan sudah dari 15 menit yang lalu..!” jelas Adel.
“Tidak... tidak...! itu pasti hanya mobilnya..! “ jawab
Sheena.
“Na.. kami sudah meminta orang ke sana... dan...”
“Dan apa..!!!! katakan...!!!” jerit Sheena.
“Mobilnya mengalami kecelakan dan terbakar habis... hanya di
temukan satu mayat laki laki di sana..!” kata Adel.
“Tidak...! tidaak..! itu bukan mas Adhi del..! loe bohoing
kaan..! dia baru saja memintaku menunggunya di rumah..!” kata Sheena sudahj
terjatuh ke lantai.
“Tidak Del..! loe bohong..!!” Jerit Sheena sudah tak terdengar
lagi suaranya. Tertahan di tenggorokannya.
Melihat itu Bu shinta pun berlari memeluk Sheena.
“Ada apa Na..! ada apa..!” tanya Bu Shinta.
“Mi... mas Adhi mi..! mas Adhi...!!!” teriaknya histerius
kemudan dia pun hilang kesadarannya.
“Na... Naa..!” Ucap bu Shinta panik.
“Bik... bik..!! tolong Sheena bik..!” teriak bu shinta.
Para pelayan pun berdatangan.
“Nyonya...! !”
“ayo cepat angkat ke kamar..!” Perintah bu Shinta.
Para pelayan itu pun mengangkat tubuh Sheena ke kamar dan
membaringkannya. Sedang bu Shinta mengambil ponsel Sheena.
“halo..! katakan ada pa..!” kata Bu Shinta.
“Sheena tidak apa apa kan bu..?” tanya Adel.
“katakan ..! apa yang terjadi..!” tanyanya dengan nada keras.
“Suami Sheena.. mengalami kecelakaan dan mobilnya terbakar
hangus hanya di temukan satu mayat laki laki di sana..!”jelas Adel.
“Itu tidak mungkin kan..!!” kata Bu Shinta. Ia hendak saj
terjatuh.
“Tidak...! aku harus kuat..! aku tidak boleh lemah..! ada Sheena dan Ara...!” batin Bu Shinta
menguatkan.
“Aku tutup telponnya..!” kata bu shinta.
Ia pun menangis terisak tak terdengar suaranya... hatinya
sakit... putra satu satunya tidak mungkin meninggalkannya.
__ADS_1
“Nak... kamu pasti bertahan kan..! jangan tinggalkan mami
nak..! mami mohon..!” kata Bu Shinta denagn airmata yang terus mengalir.