Elegi Hati Si Cewek Jutek

Elegi Hati Si Cewek Jutek
Bertemu Annisa


__ADS_3

Sheena menyelimuti Naysa yang sedang berbaring lemah tersebut. Sedang Gery mengambil ponsel dari sakunya dan menelpon Tuannya.


“Halo Tuan...  apakah


semua baik baik saja...!” tanya Gery.


“Semua aman terkendali..! para sandera sudah bisa di temukan


dan di bebaskan..!” kata Adhi.


“Sekarang kami sedang mengejar Para sindikat yang terlibat..! nanti akan di bawa oleh Aries dan kawan kawan..!” kata Adhi.


“Baiklah kalau begitu..!” kata Gery.


“bagaimana keadaanmu..!” tanya Adhi dharma.


“Baik tuan... namun Naysa yang tidak baik..! ” kata Gery.


“Sekarang dia berada dimana?” tanya Adhi dharma.


“Di rumah sakit bersama Sheena dan saya..!” Jawab Gery.


“Setelah selesai aku akan segera ke sana..!” ucap Adhi.


“Terimakasih Tuan..!” balas Gery.


“Jaga Naysa baik baik..!” Kata Adhi.


Adhi kemudian menutup panggilan ponsel tersebut.


“Mas Adhi Ger?” tanya Sheena.


“Iya nyonya..!”  jawab Gery.


“Apa ada pesan dari mas Adhi? Gimana penangkapannya di dermaga?” tanya Sheena lagi.


“katanya berhasil nyonya... sebentar lagi juga akan segera ke sini setelah mengurus beberapa hal..” jawab Gery.


“Baguslah..!” kata Sheena.


“O iya... apa Naysa pernah berhubungan dengan Orang lain?


Maksudku pacar mungkin?” kata Sheena.


“Ah..! tapi mana mungkin kamu tahu ya Ger..! kamu kan jarang berinteraksi dengan Naysa..!”kata Sheena.


“Aku hanya penasaran kenapa Naysa bisa hamil..!” tanya Sheena.


“Ya.. walaupun Sebenarnya aku kesal juga.. karena dia lebih dahulu merasakan hamil dari pada aku yang setiap hari bekerja keras tapi belum


ada tanda tanda kehamilan..! huft..” ucap Sheena.


“Nyonya... sebenarnya ada yang mau saya  sampaikan..!” Kata Gery


“Ada apa katakan saja..!” kata Sheena.


“Sebaiknya kita bicara di luar..!” Kata Gery.


Sheena hanya manaikkan satu alisnya dan kemudian mengalah mengikuti Gery keluar.


“Nah... sekarang.. Apa yang ingin kamu sampaikan Ger..!” kata Sheena ketika sudah sampai di luar ruangan.


“Sebelumnya saya minta maaf nyonya..! kata Gery.


“Sebenarnnya ada apa..? katakan saja..!”ucap Sheena.


“i-tu.. mengenai kehamilan Naysa.. sebe-nar-nya... i-tu...” kata Gery terputus putus.


“Apa Ger.. jangan membuatku bingung...” kata Sheena.


“Sebenarnya... yang menghamili Naysa sebe-narnya...” Kata Gery terjeda.


“Na..! Bantu aku ke kamar mandi...!” kata Naysa yang tiba tiba membuka pintu ruang kamarnya .


“Nay... loe itu bagaimana bisa langsung turun dan berjalan


kayak gitu..! loe  itu masih belum pulih


Nay..!” kata Sheena.


“hehehe.. Amaan.. Na..!” kata Naysa terkekeh.


“Ngomongnya di lanjutkan nanti ya Ger... Aku bantu Naysa dulu..!” kata Sheena.


“Ehmm.. i-ya nyonya..!” kata Gery.


Naysa dan Sheena pun masuk kembali ke ruang tersebut sedang


Gery terduduk di kursi didepan kamar tersebut. Perasaan Gery pun tak menentu.


“Apa yang harus aku lakukan?” gumam Gery.


“ Apa Naysa akan menolakku nantinya jika aku beritahukan kebenarannya pada tuan Adhi dan nyonya..!” batin Gery,.


“Aya... Apa yang harus aku lakukan..! apa benar aku telah jatuh cinta pada adikmu itu..? atau hanya sekedar rasa kasihan kepadanya..?” lanjut Gery.


Dari arah kanan seorang laki laki tampan tergesa gesa menuju


ke arah Gery.


“Gimana Ger..? semuanya baik baik saja?” Tanya Adhi.


“Iya tuan... Baik baik saja..!” kata Gery.


“Aku akan masuk ke dalam...!” kata Adhi.


Gery pun mengikuti Adhi dari arah belakang.


“Na... ! “ kata Adhi dan langsung memeluk istri kesayangannnya itu..


“Mas Adhi..!” kata Sheena.


“Kamu nggak papa... nggak ada yang terluka..! mana yang


sakit?” ucap Adhi beruntun melihat ke seluruh tubuh Sheena.


 “Nggak papa mas..! baik baik saja..! ini malah Naysa yang banyak terluka...” kata Sheena.


Adhi pun melihat ke arah Naysa.


“Kamu nggak papa Nay..!” tanya Adhi.


“Masih bisa berdiri dan berjalan... berarti I’m Okay...!” kata Naysa.


“Kamu pasti lelah kan Na... kamu istirahat saja di rumah..!” kata Adhi.


“Nggak papa mas...  lagian aku mau menemani Naysa dulu..!” kata Sheena.


“Ya elah Na... santai kali... pulang dulu sana... ganti baju biar nggak bau... Nih.. Bau nya sudah sampai sini..!” ledek Naysa.


“Tapi Nay..!” kata Sheena terpotong.


“Biar Gery yang menemani Naysa...!” kata Adhi.


“Ger.. kamu bisa atau nggak! “ tanya Adhi sinis.


“Iya boss..!” kata Gery.


“Awas kalau kejadian yang kemarin terulang lagi..!” kata Adhi tegas.


“Saya mengerti...!” kata Gery.


Setelah itu Sheena dan Adhi pun beranjak pergi untuk pulang ke rumah mereka.


“Kamu mau aku bantu ke ranjang Nay..?” kata Gery.


“Eh, pak boss dari kemarin kayaknya Ada yang aneh dengan Pak Boss dech...!”


“Tiba tiba jadi baik gini..! perasaan saya jadi nggak enak..!” kata Naysa.


“Sudah Nay.. saya nggak mau bertengkar ya..!” kata Gery.


“Ish... Percaya Diri banget..! siapa juga yang mau bertengkar dengan pak


Boss?”  kata Naysa.


“Sudah Ah Nay..! ayo sini aku bantu..!” kata Gery memapah Naysa.


“Pak boss tangannya di kondisikan..! geli tahu..!” kata Naysa.


“Lha terus harus ditaruh dimana Nay..! kalau saya lepas kamu jatuh... ” kata Gery.


“Eh, pak boss... bisa nggak si ngomongnya santai gitu...!”


kata Naysa sambil berjalan ke arah ranjangnya.


“Maksudnya..?” tanya Naysa.


“nggak jadi dech..! gunung es mana bisa cair..!” gerutu Naysa.


Gery pun tak menanggapi omongan Naysa. Setelah memposisikan


Naysa dengan baik, Gery mencoba mengajak Naysa berbicara.


“Nay.. ada yang ingin saya omongkan ke kamu..!” kata Gery.


“Apa itu boss...! jangan menakutiku..!” kata Naysa.


“Sebenarnya... tapi kamu jangan kaget dan jangan shock ya..!” kata Gery.

__ADS_1


“Iya iya... ada apa..!” tanya Naysa.


“Itu... kamu mengalami keguguran..!” kata Gery.


“Hellooo pak Boss..! kalau mau ngeprank lihat kondisi


dong..!” kata Naysa mencebikkan mulutnya.


“itu yang sebenarnya Nay..! ” kata Gery serius.


Naysa yang melihat Gery berwajah serius akhirnya paham


kondisinya sejak kemarin yang mengalami sakit di perutnya.


Raut sedih pun terpancar di wajah Naysa.


“Apa benar pak Boss...?” kata Naysa mulai menurunkan suaranya.


“Maaf Nay..! aku tidak bisa menjagamu dengan baik..!” kata Gery.


Naysa pun mulai terisak.


“Aku benar benar tidak tahu kalau ternyata...!” kata Naysa


akhirnya tak kuat menahan tangisnya.


“Maaf Nay..! andai saja aku bisa lebih menjagamu..! maafkan


aku..!” kata Gery yang kemudian memeluk Naysa erat.


“Pak Boss...!” kata Naysa sambil menangis.


“Sudah tidak apa apa Nay...!” kata Gery mencium kepala Naysa.


“Tidak perlu disesali... semua sudah terjadi... kedepannya kamu harus hati hati..! oke?” kata Gery melepaskan pelukannya dan mengusap


airmata Naysa.


“Pak Boss...!ayo di peluk lagi...!! butuh sandaran nih..!” kata Naysa.


 “Kamu itu...!” Ucap Gery tersenyum kecil dan mencubit hidung Naysa.


“Sakit Pak Boss..!” kata Naysa.


“Tapi Bo’ong..!” kata Naysa sambil kembali memeluk Gery.


Mereka pun terlarut dalam pelaukan yang menghangatkan.


Drrt drrt drt


Suara ponsel Gery pun berbunyi.


”Sebentar Nay.. aku angkat


dulu ya  telponnya..!” kata Gery.


Gery pun mengambil ponsel dari sakunya dan berjalan menuju


ke luar ruang rawat tersebut.


Setelah kepergian Gery, Rio pun datang menjenguk Naysa,


“halo Nay..!” kata Rio.


“Eh, yo..!” kata Naysa.


“Gue dengar loe masuk rumah sakit... makanya gue ke sini..!” kata Rio.


“hehehe.. hanya luka kecil..!” kata Naysa.


“loe bawa apa itu..! sepertinya enak...! ” kata Naysa.


“Ini... kesukaan loe..!” jawab Rio.


“Batagor ya..!” kata Naysa.


“Iya... tahu aja si loe..!” ucap Rio.


“Ayo sini sini...gue mau makan ..!” kata Naysa bersemangat.


“Nih... gue bukain ya..!” kata Rio


Mereka pun makan bersama.


“Eh loe tahu darimana kalau gue sakit..?” tanya Naysa.


“Dari Sheena..!” jawab Rio.


“Oh..!” kata Naysa.


“Loe nanti ke apartment gue aja... biar gampang gue njagaain loe..!” kata Rio.


“lhah kalau loe di apartment sendiri.. gue khawatir Nay...!" kata Rio.


“Tumben khawatir?? Biasanya aja nggak..!” kata Naysa.


“Mulai dech,..!” kata Rio kesal.


“Nanti dech gue pikirin lagi...!” kata Naysa.


“Ngapain si dipikirin... ! udah ikut aja..!” kata Rio.


“Ye elah... maksa banget si...!” kata Naysa.


Ceklek


Pintu itupun terbuka. Gery melihat Naysa yang sedang asyik


dengan Rio. Sebenarnya ia merasa kesal dan ingin menghabisi pemuda itu. Namun ia


tahan karena ia tau akan melukai Naysa lagi. Gery pun hanya  masuk dan duduk di ruang tersebut.


Naysa pun merasa canggung dengan situasi tersebut.


“Nay.. gimana .. mau ya?” tanya Rio.


“Nanti gue pikirin lagi..! “ kata Naysa sambil melirik ke arah Gery.


“Ayo Nay.. makan lagi... yang banyak biar sembuh...!”kata  Rio.


“eh, i-ya..!” jawab Naysa.


Gery pun beranjak dari duduknya.


“Aku keluar dulu Nay..!” kata Gery datar.


Belum sempat ia menjawab, Gery sudah melangkah ke luar ruangan tersebut.


Naysa melihat itu menjadi sedikit sedih. Ada rasa tidak rela melihat Pak bossnya pergi begitu saja.


“Nay..kamu keluar kapan?” kata Rio.


“Kurang tahu Yo..!” jawab Naysa sudah tidak bersemangat.


“Aduh... mendadak kepalaku agak pusing... aku ingin


istirahat dulu ya..! “ kata Naysa.


“Baiklah... nanti aku kesini lagi... aku ke kantor dulu ya..!” kata Rio.


“Oke..! Hati hati..!” kata Naysa.


 Rio pun beranjak pergi dari kamar Naysa. Di depan ia melihat Gery yang sedang bermain dengan ponselnya.


“Tetap kan... yang bisa menjaga Naysa itu aku..!” kata Rio kepada Gery.


“Aku akan membawanya tinggal di apartemenku..! lebih baik


kau jangan mengganggu..!” kata Rio.


Gery masih tidak merespon apapun. Ia hanya sibuk memainkan ponselnya.


“Awas saja kalau nanti kau ikut campur..!” kata Rio mengintimidasi dan kemudian meninggalkan Gery.


“Setelah Kepergian Rio, Gery mencengkeram ponselnya kuat dan


membantingnya.


“Sial..!” umpatnya.


Gery akhirnya meminta anak buahnya untuk menjaga Naysa


sedangkan ia pergi menenangkan diri. Disinilah ia ditengah danau Senja. Danau yang menjadi kenangannya bersama Nayaka.


“Aya.. Bagaimana kabarmu disana? Apakah kau bahagia meninggalkanku disini..!” kata Gery.


“Maaf... aku yang tidak bisa menjagamu... dan kini apakah


kau ijinkan aku untuk menjaga adikmu itu..?”kata Gery.


“Apa kau akan marah kalau aku ingin melindungi adikmu itu..!”gumam Gery.


“Aku sangat merindukanmu Aya... sangat...!”


Di setiap air mataku


Selalu ada kamu


Di setiap kataku

__ADS_1


ku sampaikan cinta ini


Cinta kita


Ku tak akan mundur


Ku tak akan goyah


Meyakinkan kamu mencintaiku


Tuhan ku cinta dia


Ku ingin bersamanya


Ku ingin habiskan nafas ini berdua dengannya


Jangan rubah takdirku, satukanlah hatiku dengan hatinya


Bersama sampai akhir


Gery pun duduk disana sambil mendengarkan lantunan lagu tersebut.


“apakah aku harus memaksanya bersamaku?”


“Apa ia tidak akan terluka lagi bersamaku?”


“Tapi mengapa hatiku selalu saja tidak rela jika mereka bersama”


“Apa yang harus aku lakukan padamu Nay..!”


******* nafas Gery terasa berat. Tiba tiba dari arah belakang Gery dipukul oleh seseorang.


Sementara itu di Rumah Sakit, Naysa selalu melirik ke arah pintu.


“Sebenarnya kemana Pak boss ini..!” kata Naysa.


“Tiba tiba hangat tiba tiba berwajah datar dan dingin...! aarrgggh... masa bodoh ah..!” kata Naysa.


“Bagaimana  sebenarnya perasaanmu pak Boss..!” batin Gery


Tapi tetap saja pandangannya tidak bisa dialihkan dari pintu kamar tersebut.


Drrrt drrt drrt


Suara ponsel Naysa bergetar.


“Halo..!” ucap Naysa.


“halo Na.. ada apa?” kata Naysa.


“Apa Gery ada di situ..! aku mencoba menghubungi ponselnya


tapi tidak aktif...!” kata Sheena.


“Sebentar Na...” kata Naysa melangkah menuju keluar kamar. Disana


ia melihat anak buah Gery sedang berjaga jaga.


“Apa pak boss kalian tidak ada..!” kata Naysa.


“Tadi dia pergi nona...! ” kata salah satu anak buahnya itu.


“Oh, baiiklah...!” kata Naysa.


“Nggak ada Na.. katanya keluar.. mungkin saja sedang makan


atau ada urusan..!” kata Naysa.


“tapi nggak seperti biasanya..!” gumam Sheena.


“Baiklah... aku akan cek dari sini..!” kata Sheena.


“loe istirahat saja..!” kata Sheena.


“ iya... terimaksih..!” lkata Naysa.


Naysa pun menutup panggilan tersebut.


“Kemana ini Pak bos?”Batin Naysa.


Perasaan Naysa menjadi tidak tenang dan kacau.  Naysa mencoba menghubungi Gery lagi, namun tetap


tidak ada jawaban.


“Sebenarnya kemana ini pak boss...?” kata Naysa.


***


Byurrr


“Bangun..!” kata orang yang berada di depan Gery.


Gery perlahan lahan membuka matanya, ia melihat beberapa


orang disana dan tidak ada satupun yang mereka kenal.


“Siapa kalian..!” kata Gery.


“Kamu tidak perlu tahu siapa kami..! yang pasti kami tahu


siapa anda..!” kata Preman tersebut.


Gery yang dalam keadaan terikat tangan dan kakinya tidak mampu berkutik. Ia di pukul habis habisan dengan balok kayu hingga meninggalkan bekas luka di tubuhnya.


“Kalian atas suruhan siapa hah..!” teriak Gery.


“atas suruhan dewa kematianmu..!” kata preman berbaju hitam itu.


“Kalau berani satu lawan satu..!” kata Gery yang sudah babak


belur.


“Tidak semudah itu..!” kata pemimpin preman tersebut.


“Pukul dia sampai semua tulangnya patahpun tidak apa apa..!” kata preman berbaju hitam itu.


Anak buahnya pun akhirnya membabi buta memukul Gery hingga


ia jatuh tak sadarkan diri.


“Bawa dia dan buang dia di jalanan..!” kata Preman berbaju


hitam itu.


Tubuh Gery pun di seret ke dalam mobil dan di buang di jalanan.


Sementara Adhi dan anak buahnya akhirnya mencari keberadaan


Gery yang tiba tiba menghilang tanpa jejak.


“Mobilnya terparkir di dekat danau Senja Tuan..!” kata Anak


buah Adhi.


“tapi keberadaannay tidak diketahui..!”


“Tuan gery seperti menghilang tanpa jejak...” lanjut anak buah Gery.


“cari sampai ketemu..!” kata Adhi.


“Bagaimana mas? Apa gery sudah di ketemukan..?” tanya Sheena.


“Nihil..! hanya mobilnya yang terlacak tapi orangnya tidak di ketahui keberadaanya..!” jelas Adhi.


“lalu dimana Gery sebenarnya?” Tanya Sheena.


“entahlah Na..!” ucap Adhi dengan helaan nafas yang kasar.


Drrt drrt drrt


“Halo Na...! Pak Boss, eh Tuan gery sudah ketemu?” tanya Naysa.


“Belum Nay...! entahlah...! kami sedang berusaha menacarinya..!” kata Sheena.


“Apa tidak ada petunjuk apapun?” kata Naysa.


“Ponselnya tidak aktif dan tidak ada tanda tanda apapun dari


Gery..!” kata Sheena.


“Sepertinya kamu khawatir sekalinya...!”tanya Sheena.


“ngg-nggak kok...! soalnya tadi aku lihat dia belum makan..!” elak Naysa.


“Ya sudah aku tutup dulu ya Na..! ” kata Naysa.


Panggilan telponpun terputus.


“Aku tidak bisa berdiam diri seperti ini..! perasaanku mengapa tidak enak seperti ini..!” kata Naysa.


Sementara itu tubuh Gery yang sudah babak belur dan terikat ditemukan oleh warga dan di bawa ke rumah sakit terdekat.


“Siapa orang ini..! sepertinya ia korban penganiyayaan..!” kata Dokter Annisa.


“Mereka menemukannya di semak semak jalan menuju kemari


Dok..!” kata salah satu perawat tersebut.


“Segera bawa ke ruang pemeriksaan, akan aku tangani sendiri

__ADS_1


secara langsung..!” kata Dokter Annisa.


__ADS_2